Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 60


__ADS_3

Keesokan harinya Fahmi datang lagi ke rumah Yudha untuk pergi berbelanja bersama Aryana. Kali ini Yudha dan Yasmin sedang berada di rumah.


"Assalamualaikum!" ucap Fahmi


"Waalaikumsalam!" jawab seseorang dari dalam rumah.


"Eh mas Fahmi, mau cari non Aryana?" tanya bik Marni


"Iya, Bi."


"Kalau begitu masuk dulu mas, monggo silahkan duduk!" pinta bik Marni.


Fahmi kemudian duduk di sofa ruang tamu, sedangkan bik Marni ke dapur untuk membuatkan minuman.


Tak lama bik Marni datang membawa minuman untuk Fahmi, bersamaan dengan Yudha dan Yasmin yang keluar untuk menemui Fahmi setelah tadi Yudha melihat kedatangan Fahmi dari balkon kamarnya.


"Oh kamu Fahmi, cari Aryana?" tanya Yudha lalu mendudukkan dirinya ke sofa, begitu juga Yasmin yang duduk disebelah Yudha.


"Hari ini nggak tugas pak Yudha?" tanya Fahmi yang membuat Yudha sedikit heran.


"Tidak lagi libur tapi kamu bilang apa tadi, pak?" tanya Yudha.


"Iya, 'kan sebentar lagi kamu jadi orang tuaku juga, jadi tidak mungkin aku hanya memanggil nama, bagaimanapun aku tahu tata krama juga kearifan lokal yang ada di negara ini meski aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri," jawab Fahmi.


"Baguslah kalau begitu, aku harap kamu bisa menganggap ku seperti orang tuamu sendiri meski umur kita hampir sama," ucap Yudha.


"Sebentar, tapi kalau panggil mas Yudha pak kelihatanya agak aneh deh dengernya, kan Aryana panggilnya ayah," sela Yasmin.


"Lalu aku harus panggil kalian apa?" tanya Fahmi bingung.


"Panggil ayah bunda saja sama kaya aku," seloroh Aryana yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah.


Uhuk...uhuk...


Yudha yang sedang meminum tehnya menjadi tersedak mendengar ucapan Aryana yang tiba-tiba.


"Ayah, hati-hati dong minumnya," ucap Yasmin sambil mengelus punggung suaminya untuk membantu menenangkan.


"Jangan panggil kami ayah bunda, kedengarannya aneh," ucap Yudha setelah reda dari batuknya karena tersedak.


"Terus Fahmi suruh panggil kita apa, Yah?" tanya Yasmin lembut.


"Iya Yah, masa aku panggil kalian ayah bunda, honey panggil kalian bapak, ibu, bukannya itu malah kedengaran tambah aneh," sahut Aryana.


Yudha sendiri sebenarnya juga bingung tentang panggilan apa yang cocok untuk Fahmi kepadanya dan Yasmin, mereka hampir seumuran, kalau setelah Fahmi menikah dengan Aryana, Fahmi hanya memanggil Yudha dan Yasmin seperti teman rasanya tak enak kalau sampai di dengar orang.


"Ayah..., kalau nanti honey sudah terbiasa memanggil ayah dan bunda sama kalian lama kelamaan tidak akan terdengar aneh," sahut Aryana.


"Baiklah, kamu boleh memanggil aku dan Yasmin ayah dan bunda mulai sekarang, tapi jika kita sedang bicara berdua saja atau bertiga saja dengan Yasmin jangan panggil kami ayah bunda, panggil kami biasa saja seperti teman," ucap Yudha dengan menampilkan wajah tidak rela.


"Nah gitu dong, itu baru ayahku tersayang," ucap Aryana manja sambil memeluk ayahnya dari samping dan hal itu membuat Fahmi menatap Aryana dengan pandangan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Sayang, lepaskan pelukanmu dari ayah, lihatlah dokter bucinmu sudah mau menerkam ayah!" pinta Yudha seraya berbisik pada Aryana yang masih dengan posisi memeluknya.


Mendengar ucapan ayahnya, Aryana langsung melepas pelukannya dan kembali duduk di tempatnya semula.


"Honey, berangkat sekarang aja yuk, nanti keburu siang panas!" ajak Aryana.


"Baikalah sayang, ayah, bunda kami pergi dulu, dan jangan khawatir princes kalian akan aku kembalikan secara utuh," ucap Fahmi pada Yudha dan Yasmin sambil tertawa geli di dalam hatinya harus memanggil wanita yang pernah ia sukai juga rivalnya dengan sebutan ayah bunda.


Yasmin yang mendengar ucapan Fahmi hanya terkikik geli sedangkan Yudha memasang muka cemberut namun dimata Yasmin wajah sang suami justru terlihat lucu.


Fahmi dan Aryana akhirnya meninggalkan rumah Yudha menuju pusat perbelanjaan dan beberapa toko ternaman yang belum sempat mereka datangi kemarin.


"Sayang besok kita harus bersiap buat prewed di Bandung, jadi hari ini jangan kecapean ya, aku tidak mau wajahmu terlihat lelah di foto nanti!" pinta Fahmi.


"Ya Honey, kita hanya akan membeli beberapa barang saja," ucap Aryana.


Mobil Fahmi pun terus membelah jalanan kota S yang sudah cukup ramai untuk menuju toko yang dininta oleh Fahmi, ya Fahmi menggunakan supir selama ia di kota S agar ia tidak terlalu lelah dan juga ia tidak terlalu tahu jalanan di kota S.


Setelah selesai berbelanja mereka mampir makan di sebuah resto yang menyajikan menu masakan khas kota S.


"Ayo honey, kita masuk, ini adalah salah satu resto favorit keluargaku jika sedang makan di luar bersama!" ajak Aryana sambil mengandeng tangan Fahmi untuk masuk ke resto.


"Sayang, apa masakan disini enak, aku merasa asing dengan nama menunya?" tanya Fahmi.


"Mana menu yang tidak kamu mengerti honey?" tanya Aryana.


Fahmi lalu menunjuk nama menu yang masih terasa asing namanya.


"What!, mengerikan sekali nama masakannya, yakin makanan seperti itu bisa dimakan?" tanya Fahmi sedikit bergidik ngeri dengan menu masakan yang terdengar aneh, membuat Aryana rasanya ingin tertawa terpingkal-pingkal.


"Ya tentu saja bisa dimakanlah honey, kalau gitu kita pesan ayam goreng kampung saja ya sama lalapan dan menu yang kamu angap mengerikan itu," ucap Aryana.


Aryana kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan dan tak lama pesanan merekapun datang. Aryana lalu menunjuk salah satu menu yang diangap aneh oleh calon suaminya.


"Honey ini lho menu makanan yang namanya trancam," ucap Aryana sambil menunjuk satu piring makanan yang terdiri dari irisan sayuran mentah terdiri dari mentimun, kemangi, kacang panjang, kecambah, daun keningkir yang dicampur dengan sambal dari parutan kelapa.


"Apa ini enak, Sayang?" tanya Fahmi ragu.


"Enak lah, aku suapi ya," tawar Aryana yang diyakan oleh Fahmi meski ia sangsi dengan rasa makanan dengan nama aneh itu, tapi karena Aryana yang menyuapi, ia takkan melewatkan moment romantis ini.


"Ayo ha..,honey!"


Fahmi membuka mulutnya untuk menerima suapan langsung dari tangan Aryana. Fahmi mengunyah pelan rasa makanan itu, sambil merasakan tastenya. Nasi bercampur suiran ayam kampung dan trancam, pertama rasanya agak aneh di lidah Fahmi namun lama-lama rasanyan mulai menyatu dengan lidahnya.


"Enak 'kan, honey?" tanya Aryana setelah melihat Fahmi berhasil menelan makanan dengan menu yang ia angap aneh.


"Enak juga, lumayan," jawab Fahmi.


"Sebagai dokter kamu pasti tau 'kan honey makanan trancam ini menu sehat lho semuanya serba mentah, cuma bumbu sambel kelapanya yang harus di masak biar lebih awet tidak gampang basi, dan kelapa yang digunakan untuk bumbu sambel ini akan lebih enak kalau menggunakan kelapa muda," ucap Aryana menjelaskan tentang makanan yang bernama terancam.


"Wow, hebat benar calon istri kecilku ini, sepertinya kamu sekolah chef saja ya dari pada kedokteran," ucap Fahmi menggoda Aryana.

__ADS_1


"Ah nggak, aku cuma tau masak masakan tradisional aku nggak minat bikin masakan western atau masakan yang aneh-aneh," ucap Aryana menolak tawaran Fahmi.


"Aku bercanda Sayang, yuk habiskan makanannya lalu kita pulang besok kita akan berangkat ke Bandun!" pinta Fahmi.


Mereka pun segera menyelesaikan acara makan siang di resto favorit keluarga Yudha. Setelah Fahmi langsung mengantar Aryana pulang ke rumahnya tanpa kurang suatu apapun sesuai janjinya dengan Yudha dan Yasmin.


Keesokan harinya Aryana dan Fahmi berangkat ke Bandung untuk prewed sekaligus melihat perkembangan pembangunan Aryana Hotel yang hampir selesai seratus persen. Tentu saja Aryana tak sendiri kakaknya Afwa mendampingi sang adik pergi ke Bandung, selain untuk menjaga Aryana, Afwa punya misi penting lainnya, apalagi kalau bukan menemui pujaan hatinya.


"Ah akhirnya sampai juga di Bandung," ucap Aryana setelah sampai di bandara


"Kita nostalgia lagi ya, Dek," ucap Afwa menimpali membuat Fahmi menatapnya tajam


"Sama calon kakak ipar sendiri cemburu, huft benar-benar dokter bucin," gerutu Afwa.


Mereka langsung menuju hotel yang dekat dengan tempat prewed agar Aryana tidak kecapean, kalau harus ke rumah Aryana yang dulu jaraknya terlalu jauh.


"Ini hotel milikmu, honey?" tanya Aryana.


"Bukan ini hotel milik rekan bisnisku pak Sony," jawab Fahmi.


"Kenapa kita tidak pilih hotelmu atau punyanya opa?" tanya Aryana.


"Hotel Pratama group dan DW group jauh dari sini Sayang, aku nggak mau kamu kecapean," jawab Fahmi sambil membelai kepala Aryana.


"Eh udah dong mesra-mesraannya, kamarku dimana nih?" tanya Afwa sewot.


"Oh maaf, kami sampai melupakanmu kakak ipar, kamarmu di 105 dan Aryana di sebelahmu 106 sedangkan aku di 107," jawab Fahmi, kemudian mereka bertiga menuju resepsionis untuk mengambil kunci kamar hotel.


"Sesekali menginap di hotel orang lain nggak apa-apa kan, sayang?" tanya Fahmi pada Aryana.


"Tidak apa-apa,'" Jawab Aryana


Kemudian mereka bertiga memasuki ruang kelasnya masing-masing untuk membersihkan diri dan istrirahat. Setelah dua jam beristirahat Fahmi dan Aryana juga Afwa berangkat ke tempat prewed, tak lupa Afwa menghubungi Kirana untuk datang ke tempat prewed setelah Afwa memberi alamat dan sharelock lokasi. Fahmi, Aryana dan Afwa tiba di lokasi prewed yaitu di Orchid Forest setelah menempuh satu jam perjalanan. Di sana mereka sudah disambut tim prewed yang sudah dihubungi asisten Joan.


Fahmi dan Aryana langsung berganti kostum untuk pemotretan dibantu oleh tim. Aryana mempunyai selera yang sama dengan sang bunda menyukai sesuatu yang berbau alam maka ia memilih tempat prewed bernuansa alam outdoor. Melihat sesi foto sang adik hati Afwa berdesir aneh, pikirannya mengahalu entah kemana. Ia membayangkan kapan akan berpose prewed seperti itu bersama Kirana, sampai sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Afwa dari lamunanya.


"Sayang!" kamu kapan datang?" tanya Afwa.


"Baru saja," jawab Kirana sambil mengambil tempat duduk di sebelah Afwa.


"Ah Aryana terlihat cantik banget pakai baju itu, keliahatan lebih dewasa dari umur yang sebenarnya, pantas Om Fahmi bucin habis sama adik kembarmu, Kak," komentar Kirana melihat sesi foto prewed Aryana dan Fahmi.


"Kapan ya Sayang kita seperti mereka?" tanya Afwa tanpa melepaskan pandangannya pada sesi foto prewed sang adik.


"Kamu pingin, Kak?"


_______________________________________


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2