Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 153


__ADS_3

Afwi mengantar Nayla pulang sebelum ia kembali melaksanakan tugasnya, hatinya berbunga-bunga akhirnya Nayla menerima cintanya, sekarang ia harus mencari cara mengatakan pada Nayla profesinya yang sebenarnya.


"Aku pamit ya, Dek, kalau kamu mau balik ke Bandung kabari aku!" pinta Afwi saat sudah sampai mengantar Nayla ke rumahnya.


"Iya, Bang, aku pasti kabari abang, aku akan di sini dulu menyelesaikan revisi skripsiku, sekalian buat pemberkasan wisuda," ucap Nayla.


"Ya sudah, semoga semuanya berjalan lancar," ucap Afwi kemudian ia segera meninggalkan rumah Nayla.


Nayla kemudian masuk ke dalam rumah, ia langsung masuk ke kamar, ia meletakkan tas buku juga buket coklat dari Afwi di meja belajarnya. Ia lalu membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, bibirnya menyunggingkan senyuman mengingat pertemuannya dengan Afwi tadi siang.


"Bang Afwi, baru saja aku berpisah darimu, aku sudah merasa rindu, apa ini yang di sebut bucin ya?" gumam Nayla dalam hati.


Sedangkan Afwi sudah sampai di Polda Semarang, ia langsung menghadap komandan bagian reserse. Afwi dan beberapa perwira polisi memasuki sebuah ruang pertemuan, mereka membicarakan tentang beberapa tindak kejahatan yang semakin meraja lela di berbagai wilayah, terutama di kota-kota besar di Jawa.


Setelah tiga jam rapat bersama rekan-rekannya sesama anggota kepolisian, Afwi kembali ke hotel tempat ia menginap. Afwi berencana mengunjungi panti asuhan yang di kelola bunda Nana, tak lupa Afwi membawa beberapa bingkisan untuk anak-anak panti. Selepas ashar Afwi melajukan mobilnya ke panti asuhan bunda Nana. Sampai di sana Afwi di sambut hangat oleh bunda Nana, memang beberapa kali Afwi menyambangi panti asuhan tersebut.


"Assalamualaikum," ucap Afwi.


"Waalaikumsalam," jawab bunda Nana yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Apa kabar bunda?" sapa Afwi sambil menyalami bunda Nana dengan takzim.


"Alhamdulillah nak Afwi, ayo masuk, silahkan duduk!"


"Terima kasih, Bunda."


"Ada angin apa tiba-tiba ke sini dari Bandung?" tanya bunda Nana yang terlihat heran melihat kedatangan seorang donatur yang meminta idenitasnya di rahasiakan dari siapapun termasuk Nayla.


"Saya kebetulan ada tugas di Semarang, Bunda, besok saya sudah kembali lagi ke Bandung, tapi sebelum saya pulang saya ingin menemui ibu dan kakak kembar saya yang bertugas di kodam," jawab Afwi yang membuat bunda Nana sedikit terkejut ketika Afwi mengatakan memiliki kakak kembar.


"Jadi kamu kembar!" pekik bunda Nana.


"Iya, bunda tepatnya kembar tiga, tapi adik kembar saya perempuan, sudah menikah dan tinggal di Singapura bersama suaminya, dan anak-anak dari adik saya juga kembar tiga," ucap Afwi yang membuat bunda Nana makin terkejut dan kagum.


"MasyaAllah, keluarga kalian hebat bisa punya keturunan kembar lebih dari dua, itu anugerah yang luar biasa," ucap bunda Nana.


"Iya Alhamdulillah, Bunda, semua karunia dari Allah."

__ADS_1


"Sebenarnya kedatangan saya kesini ada yang ingin saya bicarakan dengan, bunda Nana," lanjut Afwi.


"Hal apa yang ingin nak Afwi sampaikan?" tanya bunda Nana lembut membuat Afwi yakin bahwa bunda Nana bisa membantunya.


"Begini, Bunda, saya mencintai Nayla dan saya sudah mencintainya sejak empat tahun yang lalu, namun baru kemarin saya menyatakan cinta padanya. Saya mencintai Nayla dalam diam selama empat tahun, jadi empat tahun itu Nayla bahkan tak kenal dengan saya, mungkin bunda mengangap saya ini tidak waras, namun itulah adanya perasaan saya terhadap Nayla."


"Memangnya Nak Afwi pertama bertemu Nayla dimana sampai jatuh cinta di pandangan pertama?" tanya bunda Nana sambil mengulas senyum manis.


"Saya pertama bertemu Nayla saat saya diajak teman saya membeli lumpia."


"Lalu setelah itu bagaimana?" tanya bunda Nana yang masih belum mengerti alur percintaan pria tampan di hadapannya ini.


Afwi lalu menceritakan semua perasaannya terhadap Nayla dari awal sampai akhir, tak ada yang terlewat. Bunda Nana mendengarkan curahan hati dari kekasih anak angkatnya itu dengan penuh minat. Terbersit rasa kagum bunda Nana pada sosok Afwi, namun ia menyayangkan kenapa Afwi harus menyembunyikan profesinya sebagai seorang polisi pada Nayla.


"Bunda senang kamu mencintai Nayla dengan tulus tapi kenapa kamu harus menyembunyikan profesi kamu sebagai seorang polisi?"


"Saya takut Nayla tak akan mau menerima saya jika ia tahu profesi saya sama dengan papanya."


Mendengar alasan Afwi, bunda Nana menghembuskan nafas kasar, memang Nayla sepertinya sangat anti pati terhadap profesi berbau militer. Kurangnya kasih sayang sang papa membuat Nayla seolah tak ingin mengulang nasib yang sama dengan mamanya. Walaupun seluruh dunia pun tahu resiko menjadi istri seorang abdi negara adalah harus siap di nomor sekian kan.


"Memang, Nayla tak ingin punya pendamping seorang polisi atau militer, statusnya sebagai anak tunggal membuat dia kesepian di tambah lagi pekerjaan papanya sebagai polisi lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Bahkan ketika liburan hari raya Idul Fitri semua temannya berkumpul bersama keluarganya namun sering Nayla mendapati Indul Fitri tanpa papanya karena papanya harus menjaga keamanan dan kenyamana masyarakat di mudik lebaran. Itulah sebannya Nayla tak ingin punya suami seorang abdi negara dari dunia militer," ucap bunda Nana.


"Bunda juga tidak tahu, Nak Afwi, apa yang bisa bunda sarankan untuk kamu, Nayla itu anaknya susah-susah gampang. Saat ini bunda hanya bisa menyarankan agar nak Afwi selalu berdoa kepada Allah, karena Dia lah yang Maha membolak balikan hati manusia, selain itu nak Afwi juga harus segera memberi tahu Nayla tentang pekerjaan nak Afwi yang sebenarnya, jangan sampau Nayla tahu hal itu dari orang lain. Kalau sudah begitu ia akan merasa sakit hati karena sudah dibohongi oleh Nak Afwi," ucap bunda Nana memberi saran pada Afwi.


Dalam hati Afwi membenarkan apa yang di katakan oleh bunda Nana, kalau sampai Nayla tahu dari orang lain lebih baik ia tahu dari dirinya, meskipun itu akan berakibat fatal pada hubungan asmaranya dengan Nayla yang baru seumur jagung itu.


"Apa yang bunda katakan ada benarnya lebih baik Nayla tahu dariku, walau mungkin Nayla tak akan menerimaku lagi dan hubungan kami akan berakhir," ucap Afwi sendu.


"Seorang wanita akan lebih memilih menerima kejujuran yang menyakitkan dari pada dia harus di bohongi, jadi jika nak Afwi memutuskan untuk jujur pada Nayla tentang profesi nak Afwi maka itu akan lebih baik. Bunda juga tak bisa janjikan apapun untuk membantu nak Afwi tapi bunda akan berusaha untuk memberi pengertian pada Nayla dan semoga ia bisa mengerti," ucap bunda Nana.


Hari semakin sore, Afwi akhirnya pamit undur diri, namun sebelum pulang ia menitip bingkisan untuk anak-anak panti. Setelah itu Afwi melajukan mobilnya ke Kodam untuk bsrtemu sang kakak meski hanya sebentar.


Pukul lima lebih Afwi sampai di Kodam, ia pun melewati pos penjagaan untuk meminta ijin bertemu sang kakak meski hanya sebentar. Akhirnya dua kakak beradik kembar itu pun bertemu, banyak pasang mata yang memperhatikan Afwa dan Afwi, mereka baru tahu jika Afwa memiliki saudara kembar.


"Apa kabar Kak?" tanya Afwi setelah melepas pelukannya pada sang kakak.


"Kabarku baik," jawab Afwi sambil mengulas senyum.

__ADS_1


"Bagaimana rencana pernikahan kakak?"


"Kami menundanya dulu sampai beberapa bulan ke depan, aku akan ada tugas jauh selama enam bulan ke Sumatra, aku akan berangkat seminggu lagi."


"Oh begitu, tapi aku berharap setelah kakak selesai tugas di Sumatra segera resmikan hubungan kalian."


"Dasar!, tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya, tapi ngomong-ngomong kau ada acara apa di Semarang?"


"Ada pertemuan di Polda, dan aku yang di minta mewakili kesatuanku di Bandung."


"Bener cuma tugas nih nggak ada acara lain?" goda Afwa.


"Tahu aja, iya ada acara mencarikan kakak adik ipar."


"Oh sungguhkah, kau benar-benar serius dengan putri Kombes itu?"


"Iya memangnya berapa cewek yang aku suka?, dia adalah cinta pertamaku, dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku berdebar."


"Oke, aku percaya deh, memang kita ini turunan pria setia, tidak rugi ayah tanam saham sama bunda untuk kita," ucap Afwa sambil terkekeh membuat Afwi tersenyum mendengar ucapan absurd sang kakak


Kedua kakak beradik itu tertawa bersama, mereka bercerita tentang keseharian mereka, Afwa dan Afwi juga kadang saling bertukar pikiran tentang pekerjaan. Afwi pulang ke hotel setelah shalat magrib di Kodam, ia harus membuat laporan yang esok hari harus di serahkan kepada atasannya. Selum pulang Afwi memberi Afwa sekotak lumpia buatan bunda Nana dan beberapa makanan untuk sag kakak.


"Wah kehormatan nih, bisa merasakan masakam adik ipar," ucap Afwa setelah menerima buah tangan dari Afwi.


"Biasa aja kak, itu buatan bunda Nana, ya resepnya sama sih, kan Nayla belajarnya sama bunda Nana," ucap Afwi.


"Oke deh, orang bucin mah gitu, sana balik istirahat besok pagi kan kamu harus berangkat ke Bandung!" pinta sang kakak.


"Iya-iya ini juga mau pulang, take care ya kak, Asslamualaikum," ucap Afwi.


"Waalaikumsalam,"balas Afwa sambil melambaikan tangannya pada sang adik.


Afwi kemudian langsung melajukan mobilnya menuju hotel tempat ia menginap, sungguh hari ini sangat melalahkan baginya. Ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya agar besok ia bisa beraktivitas kembali dengan tubuh yang sehat.


__________________________________


Hai readers maaf baru bisa up setelah beberapa hari off karena banyak kegiatan, persiapan anak sulung saya yang mau meneruskan sekolah di Ponpes dan penerimaan Raport UKK. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Faforit


Thank You


__ADS_2