
Hari pertama Nani bekerja dengan Kirana semua cukup lancar begitu juga hari berikutnya, Nani sangat mudah belajar, dia juga sopan dan tidak neko-neko. Kehadiran Nani benar-benar sangat membantu Kirana. Untuk mengusir bosan Kirana membuat beberapa kue kering dan dijual secara on line. Namun sebelum memulai usahanya itu Kirana meminta ijin pada suaminya dan Afwa pun mengijinkan asal Kiran tak kecapean, membuat kue hanya untuk selingan juga. Kirana tak mau ilmunya di tata boga sia-sia maka dari itu ia membuat beberapa kue kering.
Jika Kirana sedang memulai harinya tanpa sang suami, berbeda dengan Nayla yang satu minggu ini merasa kesepian karena sang suami sering lembur karena ada kasus penting yang memerlukan penanganan khusus. Kasus yang sedang viral saat ini yaitu kasus penculikan anak lalu diambil organ dalamnya. Tentu saja hal itu membuat para orang tua sangat resah apalagi para orang tua yang hanya mengandalkan pengasuh karena mereka sibuk bekerja.
"Hallo, Assalamualaikum,Bang, masih lama lemburnya?" tanya Nayla di seberang telepon.
"Waalaikumsalam, Abang masih, Dek, ini tim ku baru kumpul sebentar lagi mau pertemuan," jawab Afwi.
"Ini sudah jam tujuh malam lho, Bang," ucap Nayla merajuk.
"Maaf banget ya, Dek, ini kasus harus segera selesai, kasihan para orang tua yang tak tenang saat anak mereka berada di luar rumah, kalau kamu takut, telepon saja emaknya Dudung biar temani kamu!"
"Ya sudah, Bang, hati-hati, kalau sudah selesai cepat pulang ya!"
"Oke, Sayang, I love you," ucap Afwi lalu menutup teleponnya.
Afwi memandangi layar ponselnya yang sudah mati, sebenarnya ia juga tak ingin meninggalkan Nayla lama-lama, tapi ia tak bisa mengabaikan tugasnya sebagai abdi negara apalagi dengan kasus yang melibatkan anak-anak di bawah umur bahkan korbannya ada yang masih balita. Afwi begitu geram saat mengetahui ada hal seperti ini, tiba-tiba ia teringat dengan empat keponakannya yang sangat lucu yaitu anak-anak dari Aryana. Afwi tak bisa membayangkan jika hal mengerikan seperti itu menimpa anggota keluarganya. Setelah itu Afwi langsung menuju ruang rapat denga tim khusus yang menangani penculikan anak.
Di rumah Nayla hanya bisa mengembuskan nafas kasar lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Andai aku sudah punya anak mungkin aku tak akan kesepian, kudengar mbak Kirana sudah mengandung, ah senangnya. Andai mama masih hidup pasti dia akan menemaniku di saat seperti ini," batin Nayla.
Nayla meraih ponselnya lagi, ia berniat menelpon Kirana, mungkin dengan begitu rasa kesepian yang ia rasakan bisa sedikit terlupakan.
Pukul sepuluh malam, Afwi baru saja sampai rumah, perlahan ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan, karena waktu pulang Afwi yang tak menentu, maka Afwi dan Nayla membuka kunci sendiri-sendri. Begitu memasuki rumah ia mendapati sang istri tertidur di ruang tengah dengan televisi yang masih menyala. Ya, setelah bertelpon dengan Kirana, Nayla menonton televisi sampai tertidur.
Afwi mendekati sang istri, ia singkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Nayla. Terbersit rasa bersalah harus meninggalkan sang istri belakangan ini.
"Maafkan, abang, Dek, tidak bisa selalu menemani kamu, tapi abang janji kalau kasus ini sudah selesai abang akan ajak kamu jalan-jalan kemanapun kamu mau," gumam Afwi dalam hati lalu mengangkat tubuh sang istri untuk dipindahkan ke dalam kamar. Selesai memindahkan istrinya ke dalam kamar, Afwi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai mandi ia berganti pakaian kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Nayla. Dipeluknya tubuh istrinya dengan erat, tak lupa ia daratkan ciuman di kening dan pipi sang istri, tak lama kemudian Afwi sudah masuk ke alam mimpi.
Adzan subuh dari masjid di tempatnya tinggal sudah berkumandang, Nayla mengeliat karena telinganya sayup-sayup berkumandangnya adzan subuh, namun saat akan bangun perutnya seperti tertimpa benda berat, ia menoleh kesamping dan ternyata ia mendapati suami tampannya sedang tidur sambil memeluknya posesif. Nayla tak jadi bangun, ia membalikan badannya menghadap sang suami, ia membelai kepala suaminya dengan sayang, terlihat wajah yang lelah namun masih terlihat tampan.
"Kamu pasti sangat lelah, Bang," ucap Nayla sambil membelai kepala suaminya lalu mendaratkan ciuman di kening Afwi. Namun saat akan bangkit dari tidurnya tangan kekar sang suami justru memeluknya erat.
"Abang!"
"Biar seperti ini dulu, temenin abang tidur masih ngantuk," ucap Afwi dengan mata terpejam.
"Tapi ini sudah subuh, Bang, shalat dulu!"
"Iya, lima menit lagi, siapa suruh tadi ganguin abang tidur pakai cium-cium juga."
Wajah Nayla langsung bersemu merah, tak sangka ulahnya tadi ternyata di sadari oleh sang suami. Mau tak mau Nayla menuruti kemauan suaminya, ia membalas pelukan suaminya. Tak ada suara beberapa menit, sampai akhirnya Nayla membuka suara.
"Abang pulang jam berapa semalam? dan apa abang yang pindahin aku ke kamar?" tanya Nayla.
Mendengar pertanyaan istri cantiknya, Afwi terpaksa membuka matanya yang sebenarnya masih mengantuk.
"Abang pulang jam sepuluh, lalu mindahin kamu ke kamar," jawab Afwi dengan suara khas orang bangun tidur.
__ADS_1
"Pasti Abang lelah banget ya?" ucap Nayla dengan nada kasihan.
"Iya, lelah banget makanya pinginnya di peluk terus sama kamu," ucap Afwi manja.
"Heh, manjanya, yuk shalat subuh dulu setelah itu Abang bisa tidur lagi kalau masih lelah!"
"Siap laksanakan tuan putri!" ucap Afwi, meski malas ia tetap bangun dan mengambil wudhu untuk jamaah shalat subuh bersama sang istri.
Setelah selesai shalat subuh, meski masih mengantuk, Afwi membaca surat Al-Waqiah, dilanjut membaca shalawat Nariyah begitu juga dengan Nayla. Salah satu faedah membaca surat Al-Waqiah bada subuh adalah di jauhkan dari kefakiran dan untuk shalawat Nariyah dihindarkan dari hal-hal yang buruk atau malapetaka. Meskipun Afwi sudah berkucuoan dan berasal dari keluarga konglomerat tetapi ia selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah karena harta dunia hanyalah titipan, kapanpun Allah akan mengambil kembali manusia tidak bisa berbuat apapun.
"Abang mau sarapan apa pagi ini?" tanya Nayla setelah mengakhiri membaca Al-Quran
"Terserah kamu saja, Yang," jawab Afwi.
"Kita cari sarapan di luar aja ya, Bang, Nay lagi malas masak."
"Boleh, mau sarapan apa?"
"Soto aja ya, gimana?"
"Nggak apa-apa, abang apa saja mau kok."
"Kalau gitu, Nay siap-siap dulu," ucap Nayla lalu berganti pakaian.
Afwi juga berganti pakaian rumahan santai dengan atasan kaos dan celana training. Afwi mengeluarkan motor matic milik sang istri dari garasi.
"Kita naik motor saja ya, Dek!"
Sepasang suami istri itu begitu menikmati kebersamaan mereka pagi itu, sekitar sepuluh menit mereka sampai di kedai soto yang sudah buka sejak subuh tadi. Afwi dan Nayla makan di kedai tersebut karena lebih nikmat jika makan di tempat.
Sembari menunggu pesanan, Afwi dan Nayla mengobrol ringan, tak lama pesanan mereka datang lalu mereka langsung meikmati soto yang masih hangat. Nayla tampak lahap saat makan soto dan tempe goreng, hal itu membuat Afwi sedikit heran.
"Tumben kamu makan lahab banget, Dek?"
"Oh, ya, aku biasa saja, Bang, aku memang lagi lapat banget."
"Tapi lebih mirip orang ngidam."
"Abang ada-ada saja, baru kemarin Nay selesai dapat menstruasi, mana mungkin hamidun."
"Ya barang kali saja, sudah ada Afwi atau Nayla junior."
"Memangnya kalau, Nay hamil sekarang abang suah siap?" ucap Nayla santai namun membuat Afwi menghentikan menyesap minuman teh hangatnya.
"Apa maksud kamu bicara begitu?"
"Kamu kan masih sibuk sama beberapa kasus penting, nanti kalau aku hamil siapa yang mengurusi."
Afwi menghela nafas panjang, entah kenapa pembicaraan pagi ini membuat moodnya buruk, untung saja sotonya sudah ia habiskan. Afwi merasa ada nada kesal dalam ucapan sang istri.
__ADS_1
"Dek, abang memang sibuk akhir-akhir ini tapi bukan berarti abang melalaikan tanggung jawab abang, kalau kamu hamil abang akan merasa sangat senang dan lebih semangat dalam menjalani hari-hari abang."
Mendengar ucapan suaminya, Nayla menatap wajah sang suami dengan ekspresi biasa saja lalu ia melanjutkan memakan satu buah tahu goreng.
"Ya semoga saat itu tiba, abang nggak lupa dengan kata-kata abang hari ini. Yuk pulang aku sudah kenyang!" ajak Nayla kemudian beranjak dari duduknya setelah menghabiskan minumannya.
Afwi pun ikut beranjak dari tempat duduknya lalu membayar tagihan sarapan pagi mereka. Tak ada pembicaraan selama perjalanan pulang. Afwi merasa sikap sang istri pagi ini cukup aneh, Afwi juga merasa bersalah karena belakangan ini ia sering pulang malam membuat sang istri kesepian.
"Abang mandi dulu gih, nanti, Nay siapkan seragamnya!" pinta Nayla ketika sampai rumah.
"Iya, Yang, abang mandi dulu ya," ucap Afwi kemudian berlalu menuju kamar mereka sedangkan Nayla menuju dapur.
Setelah melatakkan beberapa gorengan yang ia beli di kedai soto tadi, Nayla bergegas ke kamar menyusul sang suami. Nayla menyiapkan seragam dinas yang akan dipakai Afwi. Tak lama sang suami keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggang, tampaklah tubuh kekar suaminya, namun pemandangan indah ini hanya bisa dinikmati oleh dirinya seorang karena Afwi tak sembarangan menampakkan tubuh atletisnya pada orang lain.
"Ini, Bang, bajunya," ucap Nayla.
"Makasih, Sayang," ucap Afwi sambil mencium pipi sang istri.
Afwi lalu segera memakai seragam dinasnya dan saat akan mengancingkan baju, Nayla langsung mengambil alih kegiatan itu.
"Nay, kancingkan, Bang," ucap Nayla yang langsung menrapat ke depan Afwi dan langsung mengancingkan baju seragam sang suami.
Afwi hanya menurut saja, ia memandang sang istri yang sedang mengancingkan bajunya sambil tersenyum. Perhatian-perhatian kecil seperti inilah yang membuat Afwi makin cinta dengan istrinya.
"Selesai," ucap Nayla.
"Makasih, ya, Yang. Hari ini mau ke ruko jam berapa?" tanya Afwi sambil merengkuh pinggang Nayla.
"Nanti jam delapanan," jawab Nayla.
"Kalau begitu, hati-hati, abang usahakan pulang cepat, doakan abang semoga kasus ini cepat selesai dan kita bisa liburan sebentar."
"Terima kasih atas perhatiannya, tapi tak usah kasih harapan yang manis-manis ntar ujungnya aku di php," cebik Nayla.
"Jangan gitu dong, kan kamu sudah tahu konsekwensi jadi istri abdi negara."
"Iya-iya tak usah di ingatkan juga, Nay ngerti."
"Nah, kalau ngerti jangan cemberut dong, doakan yang baik-baik saat suami mau berangkat kerja biar barokah hasilnya!"
"Iya, Bang, Nay akan selalu doakan abang biar selalu diberi keselamatan dan dimudahkan dalam bekerja," ucap Nayla lalu memeluk sang suami.
Afwi membalas pelukan sang istri disertai ciuman hangat di pucuk kepala Nayla. Setelah sesi memakai seragam selesai, Nayla mengantar suami ke depan untuk berangkat.
"Abang, berangkat dulu ya, hati-hati kalau mau berangkat ke ruko, jika ada apa-apa segera hubungi abang!" ucap Afwi kemudian mencium kening Nayla.
"Ya, Bang," ucap Nayla kemudian melambaikan tangannya melepas sang suami berangkat bekerja.
Nayla masih memandang mobil Afwa yang berjalan kian menjauh, tak terasa tangan kanannya mengusap perutnya yang masih rata berharap malaikat kecil segera hadir dalam kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
_____________________________________