Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Epidode.124


__ADS_3

Acara aqiqahan anak-anak Aryana dan Fahmi telah usai, semua keluarga sudah kembali ke tanah air, sekarang tinggal Fahmi dan keluarga kecilnya. Hari ini mereka sangat santai karena hari ini adalah hari Minggu, Fahmi tak pernah melewatkan moment hari libur seperti ini karena selain hari Minggu, waktunya akan banyak tersita untuk bekerja meski begitu di malam hari Fahmi akan bermain dengan keempat anaknya jika mereka belum tidur.


Sekarang Fahmi sedang duduk berdua dengan Aryana dan anak-anak mereka di tidurkan di depan mereka beralaskan karpet bulu lembut, sedangkan para baby sister di liburkan oleh Fahmi. Mereka diberi kesempatan untuk keluar jalan-jalan tapi sebelum jam lima sore, mereka sudah harus kembali ke kediaman Fahmi.


"Sayang, bagaimana perkembagan anak-anak?" tanya Fahmi sambil membelai kepala Aryana, sedangkan keempat anaknya sedang di tidurkan di karpet bulu lembut dan tebal yang di letakkan di ruang tengah.


"Alhamdulillah mereka sangat baik, terutama Alya meski dia perempuan tapi dia malah lebih tangguh dari kedua adik laki-lakinya.


"Sungguhkah, my princess sehebat itu?" ucap Fahmi serasa tidak percaya.


"Kalau tidak percaya lihatlah!" pinta Aryana agar sang suami mengendong Alya.


Fahmi lalu mengendong Alya yang sedang tiduran di atas karpet bulu bersama empat saudaranya.


"Sini sayang my Princess, MasyaAllah sekarang sudah tambah gemuk dan lincah, kata mama kamu paling hebat ya," ucap Fahmi sambil menimang-nimang Alya.


"Gimana lincah kan dia?" tanya Aryana.


"Iya, paling lincah ya, juga badannya berisi, tapi tunggu deh, Sayang, coba perhatikan wajah Alya kenapa nggak terlalu mirip aku atau kamu tapi..lebih mirip?"


"Ayah."


"Ayah mertua."


Ucap Fahmi dan Aryana bersamaan lalu saling pandang.


"Heh, kok bisa sih wajah Alya jadi lebih dominan mirip ayah Yudha, gak rela akau, Yang," ucap Fahmi tak terima.


"Iih kok nggak terima sih, ya biarin lah, ayah 'kan opanya," ucap Aryana yang gantian protes.


"Alya 'kan aku yang nanam saham kenapa jadinya mirip ayah mertua," ucap Fahmi yang masih tak rela putrinya wajahnya mirip ayah Yudha.

__ADS_1


"Ya biarin lah, namanya juga bayi masih berubah-ubah wajahnya."


"Ya semoga, nanti bisa berubah lagi jadi lebih mirip aku atau kamu," ucap Fahmi penuh harap, entah kenapa ia sungguh tak rela princess kesayangannya jadi lebih mirip ayah mertuanya.


.


.


Tak terasa waktu terus bergulir, kini keempat anak Fahmi dan Aryana berusia hampir dua tahun, mereka sudah bisa berjalan sendiri, keempatnya terlihat tumbuh menjadi batita yang cantik dan tampan, bahkan ada beberapa produk bayi uang menawari keempat batita milik Fahmi untuk menjadi bintang iklan, namun Fahmi dan Aryana menolaknya bukan hanya karena mereka tak kekurangan uang, namun mereka tak ingin tumbuh kemabang anak-anak mereka terganggu.


Aryana memutuskan cuti kuliah selama setahun karena ingin fokus merawat keempat buah hatinya, para baby sister hanya membantu sekedarnya saja. Kebiasaan empat anak Fahmi dan Aryana adalah menunggu papa mereka pulang, terutama Alesya dia yang terlihat paling senang jika Fahmi pulang, tapi ia justru yang memeluk paling akhir, entah kenapa Alesya merasa takut jika memeluk Fahmi lebih dulu daripada saudara-saudaranya yang lain.


"Assalamualaikum," ucap Fahmi ketika memasuki rumah


"Waalaikumsalam," jawab Aryana diikuti anak-anaknya yang berlari berebut ingin memeluk Fahmi lebih dulu.


Setelah mengucap salam Fahmi sudah memposisikan dirinya agak berjongkok lalau merentangkan kedua tangannya karena ia tahu ketiga anak kembarnya dan Alesya akan menghambur memeluknya.


"Wah anak-anak papa sudah mandi dan wangi ya, muach," Fahmi memeluk dan mencium ketiaga anak kembarnya satu persatu, namun seperti biasa Alesya hanya bisa diam dan memandang ketiga saudaranya memndapatkan pelukan dan ciuman dari Fahmi lebih dulu.


Aryana lalu mendekat pada Alesya lalu sedikit berjongkok agar bisa sejajar dengan tinggi Alesya.


"Lesya, Sayang, kenapa tidak ikut peluk papa?, Lesya marah sama papa?" tanya Aryana yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Alesya.


Menyadari ada satu orang anaknya yang belum memeluknya, Fahmi pelan-pelan mengurai pelukannya pada ketiga anak kembarnya.


"Lho Alesya mana ini kenapa tidak ikut peluk papa?" tanya Fahmi, lalu pandangan Fahmi tertuju pada batita kecil cantik yang memandang sendu padanya.


Fahmi kemudian berdiri lalu berjalan menghampiri Alesya yang tengah menatap sendu padanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Princessnya, papa kenapa diam aja, nggak mau peluk papa?, marah sama papa?" tanya Fahmi yang di jawab gelengan kepala oleh Alesya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama, Fahmi mengambil inisiatif yang memeluk Alesya lebih dulu, dan Alesya seakan tak menyia-yiakan kesempatan itu langsung membalas pelukan sang papa sambil meneteskan air mata yang ia tahan sejak tadi. Fahmi merasakan jika Alesya menangis tanpa suara dalam pelukannya karena Fahmi merasa kemejanya terasa basah. Fahmi lalu mengurai pelukannya, ia memandang lekat wajah putri kecilnya yamg terlihat habis menangis.


"Alesya kenapa nangis, Sayang?" tanya Fahmi lembut sambil menyeka air mata yang membasahi pipi Alesya dengan tangannya.


"Sya yang papa," Jawab Alesya dengan kata yang belum jelas tapi sangat jelas di pendengaran Fahmi dan Aryana.


"Papa juga sayang Alesya, jadi Alesya nggak usah nangis lagi, kalian semua kesayangan papa dan mama, oke , ayo kalian sini semua!" pinta Fahmi pada ketiga anak kembarnya yang berdiri tak jauh darinya, triplet memperhatikan interaksi sang papa dengan saudara mereka segera mendekat sesuai perintah sang papa.


Setelah mendekat, Alya, Arnan dan Asher langsung memeluk Fahmi papa mereka, jadilah sekarang mereka berlima berpelukan seperti teletabis, tokoh film anak-anak yang berkostum ungu, hijau, kuning dan merah yang mempunyai kata viral yaitu berpelukan.


Meliahat semua itu Aryana ikut nimbrung memeluk suami dan anak-anaknya.


"Anak-anak yang manis, sekarang lepasin papa dulu ya, biar papa mandi dulu!" pinta Aryana lembut.


Akhinya para anak kembar itu melapaskan san papa agar bisa segera mandi, meski sang apa belum mandi sekalipun namun wangi maskulin sang dokter yang bercampur keringat membuat anak-anaknya justru semakin lengket terutama sang istri.


"Honey, kenapa ya anak-anak suka sekali peluk kamu padahal kamu itu belum mandi, baru pulang kerja, bau acem lagi," ucap Aryana saat sampai di kamar dan membantu Fahmi melepas dasi.


"Bukan hanya anak-anak yang senang peluk aku saat belum mandi habis pulang kerja tapi mamanya juga, iya kan?" goda Fahmi yang lamgsung merengkuh pinggang istrinya.


"Ih, Honey apaan sih, main peluk-peluk aja," ucap Aryana berusaha keluar dari pelukan sang suami.


"Heleh, tapi kamu suka kan, hayo ngaku," ucap Fahmi sambil meciumi wajah Aryana gemas.


"Iya-iya ngaku, aku memang juga suka wangi aroma tubuhmu, Honey."


Kalau begitu, temani aku mandi ya, ayo?" ucap Fahmi yang langsung membawa Aryana mandi bersamanya dan dijamin durasinya akan lebih dari waktu yang di butuhkan Fahmi jika sedang operasi jantung.


___________________________________


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2