Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 162


__ADS_3

Medina langsung menjerit ketika terdengar bunyi letusan pistol, tubuhnya gemetar dan panik. Ia sangat takut jika yang tertembak adalah Afwi. Perlahan dua tubuh yang saling menghimpit terurai, terlihat si penjahat memegang bagian perutnya yang berlumuran darah menandakan bahwa si penjahat yang tertembak. Afwi berusaha bangkit sambil menahan sakit. Melihat hal itu Medina langsung mendekat pada Afwi


"Mas Anan nggak apa-apa?"


"I'am ok."


"Apa penjahat ini sudah mati, Mas?"


"Aku tak tahu, tapi coba aku periksa dulu," ucap Afwi kemudian memeriksa tubuh penjahat yang sudah terkena timah panas.


"Sepertinya dia sudah tak bernyawa, ayo kita harus keluar dari sini!" ajak Afwi pada Medina.


Afwi mengajak Medina segera keluar dari dalam kamar dengan posisi Medina berjalan di depan Afwi. Medina sebenarnya sangat ingin membantu memapah tubuh Afwi, namun putra kedua Yudha itu menolaknya. Saat hampir mencapai pintu terdengar kembali sebuah tembakan dan hal itu membuat Medina yang berjalan di depan Afwi terlonjak kaget, bersamaan dengan itu Samsul dan Kikan masuk ke dalam kamar Medina. Mereka juga terkejut mendapati Afwi yang terhuyung hampir jatuh, Kikan yang masih memegang senjata langsung melepaskan tembakan pada penjahat yang ternyata masih hidup dan berhasil meraih pistol dan menembak Afwi dari belakang.


Kikan dan Medina langsung memegang tubuh Afwi yang tertembak sedangkan Samsul lansung menghampiri penjahat yang tergeletak, ia langsung menghajar habis penjahat tersebut meski si penjahat sudah tak berdaya.


"Dasar brengsek beraninya kau menyerang dari belakang!"


Bugh bugh bugh


Samsul memukul tubuh yang sudah tak berdaya, takut kecolongan lagi Samsul melepas ikat pinggangnya lalu mengikat kedua tangan penjahat yang sepertinya sudah tak bernyawa itu. Setelah itu ia ikut membantu mengevakuasi tubuh Afwi yang terkena tembakan.


"Ayo kita harus segera membawa pak Afwi ke rumah sakit!" perintah Samsul.


"Tapi bagaimana di keadaan di luar apa para penjahat itu sudah pergi?" tanya Medina khawatir.


"Sudah, Nona, para gerombolan manusia tak berguna itu sudah clear," jawab Kikan.


"Pak Afwi bertahanlah, kita akan membawa bapak ke rumah sakit," ucap Kikan yang melihat mata Afwi sudah tertutup.


Para penjahat yang menyerang rumah Adiguna sudah dapat dilumpuhkan, Denis yang masih mengurusi bekas kekacauan di lantai bawah sangat terkejut melihat Samsul dan Kikan membawa tubuh Afwi yang tak berdaya.


"Denis siapkan mobil, kita harus bawa pak Afwi ke rumaha sakit dan kau suruh yang lain membawa penjahat sialan di kamar nono Mediana!" pinta Samsul pada Denis.


Denis kemudian melalukan apa yang di minta oleh Samsul, Medina pun juga ikut ke rumah sakit tentu saja masih dengan pengamanan sebagai saksi. Pak Adiguna yang sedang berada di Malaysia untuk pertemuan bisnis segera bertolak ke tanah air, pak Adiguna sebenarnya akan kembali kemarin tapi rekan bisnisnya memundurkan jadwal pertemuannya sehingga ia baru bisa pulang keesokan harinya. Pak Adiguna mengambil penerbangan paling pagi tentu saja dengan kelas bisnis dan berani membayar berapapun agar bisa segera pulang ke tanah air untuk menemui putrinya.


Afwi segera di larikan ke rumah sakit, komandan Ardan yang sudah diberitahu tentang kejadian tersebut segera menuju rumah sakit di mana Afwi mendapatkan perawatan, Yudha dan Yasmin juga segera bertolak ke Bandung.


Sebelum kejadian tertembaknya Afwi, di Singapura Fahmi yang tengah tertidur lelap sambil memeluk sang istri tercinta. Kebucinan putra mahkota Pratama group itu bisa sampai ke tempat tidur, aroma tubuh Aryana sudah menjadi candunya, jika sudah bersama sang istri sang ceo akan menempel seperti perangko. Namun sekitar pukul empat pagi waktu Singapura tiba-tiba Aryana terbangun sambil berteriak membuat Fahmi juga ikut terbangun.


"Kakak...tidak...!" teriak Aryana yang langsung terbangun dengan nafas yang terengah-engah membuat Fahmi terkejut dan secara reflek ikut bangun.


"Sayang...ada apa? kau mimpi buruk?" tanya Fahmi penuh kelembutan sambil mengusap kepala Aryana untuk menenangkannya.


"A-aku mimpi kak Afwi tertembak dan berlumuran darah," jawab Aryana dengan suara serak.


"Tak usah dipikirkan, Sayang, mimpi hanya bunga tidur, mungkin kau terlalu rindu pada kakakmu."


"Tapi, Honey, mimpi itu seperti nyata dan akhir-akhir ini perasaanku merasa tidak enak dan kepikiran kak Afwi."

__ADS_1


"Besok kita telepon kak Afwi, ok?, aku ambilkan minum dulu ya biar tenang," ucap Fahmi kemudian turun dari ranjang berjalan menuju dispenser yang berada di kamarnya, ia mengambilkan air putih untuk Aryana.


Setelah minum perasaan Aryana berangsur tenang, ia lalu memeluk sang suami dengan erat. Fahmi membalas pelukan sang istri dengan hangat.


"Percayalah, Sayangku, kakakmu akan baik-baik saja, saudara-saudaramu adalah pria yang baik dan sholeh, Allah pasti melindungi kakak kembarmu di manapun mereka bertugas," ucap Fahmi sambil memeluk Aryana dan mencium kepala Aryana yang bersandar di dadanya.


Aryana memang lebih dekat dengan Afwi daripada Afwa, entah kenapa Aryana merasa lebih nyaman jika berada dekat dengan kakak keduanya meskipun Afwi sangat datar dan dingin, berbeda dengan Afwa yang lebih ramah dan hangat dengan siapapun.


Sampai di rumah sakit Afwi langsung di tangani di IGD, luka tembak cukup dalam, ia kehilangan banyak darah. Komandan Ardan juga sudah berada di rumah sakit, Komandan Ardan langsung menuju IGD, di sana ia melihat Samsul, Kikan dan Medina sedang duduk di depan ruang IGD di temani beberapa anggota polisi.


"Bagaimana keadaan Ipda Afwi?" tanya Komandan Ardan.


"Siap, lapor Komandan!, Ipda Afwi terluka cukup parah dan kehilangan banyak darah," lapor Briptu Samsul pada Komandan Ardan.


"Baik, terima kasih," ucap Komandan Ardan kemudian menghembuskan nafas kasar, ia sangat sedih ketika salah satu anggora terbaiknya harus terluka seperti ini.


"Semoga pak Yudha bisa menerima keadaan ini, jika tidak bisa runyam nanti," batin Komandan Ardan.


Yudha memang memutuskan pensiun dini dari militer karena harus mengantikan memegang Dewantara group, Yudha tidak bisa memegang keduanya DW group sedangkan dia masih prajurit aktif, ia terikat dengan undang-undang negara. Selama ini ia hanya sekedar dimintai saran dan mewakili DW group saat ada perjamuan saja itupun jika dia tidak sedang bertugas, namun meski Yudha sudah pensiun dari militer sebagai pemegang DW group ia masih memiliki power yang besar.


Tak lama dokter yang menangani Afwi keluar dari IGD, begitu dokter tersebut keluar Komandan Ardan langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan anggota saya, Dok?"


"Keadaanya kurang baik, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU, dan saya ingin bicara dengan keluarga pasien, istri atau orang tuanya," jawab dokter ber tag name Rafli tersebut.


"Ipda Afwi belum menikah sedangkan keluarganya mungkin sedang perjalanan ke sini, Dok," ucap Komandan Ardan.


Pukul tujuh pagi Yudha dan Yasmin sudah sampai di Bandung, mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Afwi dirawat. Sampai di rumah sakit mantan anggota pasukan khusus itu disambut oleh Komandan Ardan dengan hormat.


"Selamat Pagi pak Yudha, Ibu!" sapa Komandan Ardan


"Pagi, dimana Afwi dirawat?" tanya Yudha.


"Ipda Afwi di rawat di ruang ICU, maaf keadaanya cukup parah dan belum sadarkan diri jadi dokter memutuskan memasukkan Ipda Afwi dirawat di ruang ICU," jawab Komandan Ardan yang diangguki Yudha tanda mengerti sedangkan Yasmin sudah berkaca-kaca menahan tangis sambil masih memeluk erat lengan sang suami.


Komandan Ardan mengantar Yudha dan Yasmin ke ruang ICU dimana Afwi di rawat, di sana mereka melihat empat orang satu laki-laki dan satu perempuan dan dua anggota polisi, keempat orang tersebut langsung memberi hormat pada Komandan Ardan yang sudah berada di depan kamar ICU bersama sepasang suami istri paruh baya yang asing bagi keempat anggota polisi tersebut.


"Pak Yudha, Ibu, ini adalah Briptu Samsul dan Briptu Kikan yang menjadi anggota tim Ipda Afwi dalam misi pengaman sandra," ucap Komandan Ardan sambil menunjuk Samsul dan Kikan yang masih memakai pakaian biasa, sedangkan Denis sudah ke kantor polisi mengawal Medina untuk bersiap menghadiri persidangan.


"Selamat pagi, Bapak, Ibu," sapa Samsul dan Kikan.


"Pagi!" balas Yudha dan Yasmin ramah.


"Ini adalah pak Yudha dan ibu Yasmin orang tua dari Ipda Afwi," ucap Komandan Ardan mengenalkan.


Samsul dan Kikan terkejut behitu juga dengan dua anggota yang berseragam polisi ikut tersebut saat melihat sosok orang tua dari Ipda Afwi.


"Busyet deh, ganteng banget ayah Ipda Afwi meski sudah tua, ibunya juga, alamak masih kinclong, nggak heran Ipda Afwi gantengnya kebangetan," batin Samsul sempat shock melihat orang tua Afwi.

__ADS_1


Kikan ternyata juga membatin hal yang sama dengan Samsul matanya sempat melebar saat Komandan Ardan mengenalkan sosok Yudha dan Yasmin.


"Pak Yudha, Ibu, tadi dokter mengatakan ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu, katanya ada hal yang ingin di sampaikan," ucap Komandan Ardan.


"Dimana kami bisa bertemu dengan dokter?" tanya Yudha.


"Mari saya antar!" ucap Komandan Ardan kemudian mengantar Yudha dan Yasmin ke ruangan dokter.


Sampai di ruang dokter, Komandan Ardan memberitahu perawat bahwa ia ingin bertemu dengan dokter Rafli. Yudha dan Yasmin kemudian dipersilahkan masuk ke ruangan dokter sedangkan Komandan Ardan pamit undur diri akan kembali ke kantor.


"Silahkan duduk, Bapak, Ibu!" ucap dokter Rafli ramah.


"Terima kasih dokter," ucap Yudha sambil mengulas senyum begitu juga Yasmin.


"Kenalkan, saya dokter Rafli yang menangani putra Bapak dan Ibu. Ada hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan hasil pemeriksaan pak Afwi. Kami sudah mengeluarkan proyektir peluru yang bersarang di tubuh pak Afwi, namun luka tembak cukup dalam dan proyektil peluru tersebut sedikit mengenai organi vital pak Afwi jadi kami akan melakukan penanganan lebih lanjut," ucap dokter Rafli.


Mendengar penjelasan dokter Rafli, Yudha menghembuskan nafas kasar sedangkan Yasmin sudah terisak mendengar penuturan dokter Rafli.


"Lakukan yang terbaik untuk putra kami, Dok, berapapun biayanya," ucap Yudha berusaha tenang sambil menggenggam tangan istrinya untuk memberi kekuatan.


"Baik, Pak, kami akan melakukan apapun untuk kesembuhan pak Afwi," ucap dokter Rafli.


Yudha dan Yasmin kemudian keluar dari ruang dokter Rafli, mereka duduk di kursi depan ruang dokter Rafli. Yasmin menutup wajahnya sambil terisak dan Yudha hanya bisa mengelus punggung sang istri untuk menenangkannya.


"Aku akan telepon Fahmi, kita akan bawa Afwi ke Singapura," ucap Yudha yang sukses membuat Yasmin berusaha menghentikan tangisnya dan langsung membuat Yasmin menatap wajah sang suami.


.


.


Kabar tentang musibah yang menimpa Afwi ternyata juga terdengar sampai ke telinga Kombes Mahendra Bagaskara, papa dari Nayla. Pak Mahendra juga turut sedih dengan kejadian yang menimpa Afwi. Pasalnya Afwi mengatakan bahwa ia mendapat tugas yang sangat penting di kesatuannya namun Afwi tak mengatakan apa tugas tersebut, Afwi juga mengatakan pada pak Mahendra bahwa setelah misinya selesai ia akan berterus terang pada Nayla tentang siapa dirinya dan akan ada rencana lamaran jika Nayla bisa menerima dirinya. Namun sekarang berita tertembaknya Afwi membuat pak Mahendra cemas akan nasib hubungan Afwi dan putrinya, dan pak Mahendra harus melakukan sesuatu demi bersatunya Afwi dan Nayla.


"Nay, papa ingin bicara penting sama kamu," ucap pak Mahendra.


"Bicara apa, Pa?" tanya Nayla penasaran.


"Ikut ke ruang kerja papa kau akan tahu!" pinta pak Mahendra.


Nayla menurut saja mengikuti papanya masuk ke ruang kerja.


"Nay, apa kamu masih sering berkomunikasi dengan Afwi?"


"Masih, Pa, tapi akhir-akhir ini ponsel abang Afwi susah di hubungi, Nayla seperti merasa abang menyembunyikan sesuatu dari Nay."


"Aku jadi curiga tentang pekerjaan abang yang sebenarnya," sambung Nayla membuat pak Mahendra terkejut namun berusaha untuk tenang


_______________________________________


Dah ketemu si cantik Aryana dan dokter Fahmi lanjut eps berikutnya ya

__ADS_1


Please Like, Vote, Komentarnya, Rate and Favorit


Thank You


__ADS_2