
Bruk
Sosok pria gagah itu langsung menjatuhkan bobot tubuhnya terduduk di lantai, ponsel yang ia pegang pun juga ikut terjatuh. Sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima, penyesalan yang ia rasakan semakin rak bertepi, jangankan meminta maaf, untuk bertemu dengannya saja itu sudah menjadi hal yang tidak mungkin.
"Mela...hiks...hiks..., maafkan aku, sungguh maafkan aku," tangis Niko sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
Niko merasa dadanya sesak, dunianya runtuh, bagaimana ia harus menghadapi orang tuanya yang menuntut ia menemukan kembali Pamela dan anak mereka.
"Ya Tuhan, aku tahu aku salah, aku berdosa tapi kenapa harus dengan takdir yang sekejam ini, tanpa Pamela bagaimana aku bisa hidup dengan tenang, tanpa Pamela bagaimana aku bisa dekat dengan putriku. Jika tuan Fahmi aku adalah ayah putri angkatnya, dia pasti tak akan mengizinkan aku bertemu dengan Alesya, apalagi mendengar putri kecilku memanggilku papa," gumam Niko di tengah isak tangisnya.
Sedangkan dua orang diseberang telepon yang menjadi orang suruhan Niko, sudah menutup teleponnya karena sudah tidak ada suara lagi dari sang bos.
Niko benar-benar syok dengan berita yang barusan dia dengar, hal ini di luar perkiraannya, dengan sisa kekuatannya, ia meraih kembali ponselnya, kemudian Niko berusaha menenangkan diri ia harus berfikir waras agar bisa menyusun rencana untuk bisa mendekati Alesya tanpa ada yang tahu bahwa ia adalah ayah biologis putri angkat ceo Pratama group. Niko sudah kehilangan Pamela untuk selamanya dan ia tak ingin kehilangan satu-satunya pewarisnya sekaligus bagian terindah dari Pamela yang masih ada.
"Luiz, pesankan aku tiket ke Singapura untuk besok, sekalian reservasi hotel yang dekat dengan alamat rumah yang akan aku kirimkam padamu!" titah Niko pada asistennya
"Untuk berapa hari Tuan?" tanya Luiz
"Tiga hari, semua urusan perusahaan kamu handel dulu, kalau papaku tanya katakan aku ada urusan bisnis di Singapura."
"Baik."
Niko memutus sambungan teleponnya, ia sudah duduk di sofa menyandarkan tubuhnya yang sudah tak bertenaga, matanya menatap kosong seakan penuh dengan keputusasaan, namun ia harus mencoba untuk bisa bertemu dan menjalin hubungan baik dengan keluarga Fahmi agar ia punya banyak akses bertemu dengan putri tercintanya yang dulu tak pernah ia inginkan.
__ADS_1
"Maafkan papa Alesya, papa sayang Alesya," maafkan papamu yang bodoh ini Nak, hiks...hiks....," gumam Niko sambil menangis.
Di kediaman Fahmi, anak-anak sudah ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan Aryana juga sudah di dalam kamarnya. Ibu satu anak itu duduk di sofa dengan wajah sendu dan matanya masih terlihat berkaca-kaca. Fahmi mendekat pada sang istri, ia ikut duduk di samping Aryana lalu membawa kepala belahan jiwanya ke dalam pelukannya.
"Sayang, sudahlah jangan seperti ini, apa yang sudah terjadi adalah kehendak Allah, Pamela sudah bahagia di surga-Nya," ucap Fahmi lembut sambil mengusap kepala sang istri.
"Bagaimana jika saat Alesya besar dan tahu kita bukan orang tua kandungnya, dia pasti sangat sedih."
"Kalau nanti Alesya tahu kita bukan orang tua kandungnya secara emosional dia pasti akan merasa sedih, namun dengan seiring berjalannya waktu dan dukungan dari kita, Alesya pasti akan bisa menerima semua kenyataan yang terjadi padanya. Bukankah Allah tidak akan pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Termasuk kejadian yang menimpa Pamela dan akhirnya di pertemukan dengan kita. Tugas kita adalah merawat Alesya seperti anak kandung kita sendiri, sampai nanti ia akan menemukan laki-laki sholeh yang akan mengantikan kita menjaganya," ucap Fahmi berusaha menenangkan hati istrinya.
Aryana menarik diri dari pelukan suaminya, ia memandang wajah Fahmi lalu menganguk dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Entah kenapa Aryana selalu merasa melow jika sesuatu hal yang tak baik menimpa Alesya, mungkin karena jantung yang bersemayam di tubuhnya adalah bagian terpenting dari tubuh Pamela, ibu kandung Alesya.
"Sekarang kamu bersihkan diri kamu lalu kita makan siang bersama, anak-anak sudah menunggu!" pinta Fahmi seraya membelai lembut kepala istrinya.
Di meja makan keempat anak ceo Pratama group sudah duduk di ruang makan dengan manis sembari dua art menata makanan dan piring di atas meja. Dari lantai dua terlhat Fahmi dan Aryana menuruni tangga.
Papa! Mama!" panggil keempat bocil dengan ceria ketika kedua orang tua mereka masuk ke ruang makan.
"Kalian.sudah mandi semua?" tanya Fahmi.
"Kami sudah mandi papa," jawab Arsen mewakili saudara-saudaranya
"Kalau begitu ayo makan!" pinta Aryana setelah duduk di samping sang suami.
__ADS_1
Aryana mengambilkan makanan untuk suaminya baru anak-anaknya, menu mereka kali ini adalah sup iga sapi, perkedel kentang dan cumi asam manis. Meskipun tinggal di negeri orang namun Aryana tak pernah absen memasak masakan tradisional Indonesia, Aryana hanya mengarahkan saja, hanya sesekali ia memasak karena kesibukannya. Fahmi tak pernah mempermasalahkan apapun yang di lakukan istrinya dalam mengrus rumah tangga, asalkan masih dalam batas yang wajar. Fahmi justru senang dengan cara Aryana mendidik anak-anaknya, menikah di usia muda tak membuat sang istri kewalahan dalam mengurus keriwehan dalam urusan rumah tangga.
"Papa kapan kita ke rumah opa Yudha, Arsen pingin main ke tempat uncle Afwa, katanya di sana banyak teng dan senjata untuk berperang," ucap Arsen setelah menyelesaikan makanannya.
"Nanti ya, kalau kalian libur sekolah kita pulang ke tanah air, lagian sekarang uncle Afwa sedang tak ada di rumah, uncle sedang tugas di Papua," ucap Aryana memberi pengertian pada anak sulungnya yang cukup dekat dengan Afwa dan menyukai hal-hal yang berhubungan dengan militer.
"Kak Arsen kenapa sih suka dengan uncle Afwa, kamu mau jadi tentara?" tanya Arnan menimpali.
"Apa kau tak lihat foto besar di rumah opa Yudha, disana ada foto opa dan uncle Afwa memakai seragam tentara dan itu sangat keren, juga uncle Afwi memakai seragam polisi," jawab Arsen dengan antusias menceritakan sosok opa dan uncle nya.
"Memangnya kak Arnan mau jadi apa kalua sudah besar?" tanya Alya.
"Aku ingin seperti papa bekerja di kantor yang tinggi dan besar, bisa dapat uang banyak lalu aku bisa beli mainan ataupun jajanan apapun yang aku suka," jawab Arnan yang membuat Fahmi terkekeh pelan.
Sungguh pemikiran polos, bekerja di kantor yang besar hanya untuk bisa beli mainan dan jajanan
"Oke begini, apapun cita-cita kalian yang penting sekarang kalian belajar dulu yang rajin selesaikan belajar huruf Hijaiyah nya agar nanti saat kalian masuk sekolah dasar kalian sudah bisa baca Al-Qur'an," sahut Aryana menimpali percakapan anak-anaknya.
"Ya, Mama, ucap Keempat anaknya serempak.
Selesai makan anak-anak tidur siang, sedangkan Fahmi kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Di Indonesia Niko sudah bersiap untuk berangkat ke Singapura besok pagi, ia harus menyusun rencana yang bagus agar bisa dekat dengan keluarga Fahmi. Niko benar-benar merindukan putri kecilnya, setiap melihat foto Alesya, hatinya merasa sesak dengan penyesalan yang mendalam. Niko juga belum berani mengatakan pada keluarganya jika ia sudah menemukan anak yang dulu di kandung Pamela. Perbuatannya di masa lalu sangat buruk pada Pamela, ia pun tak punya pernikahan sah dengan Pamela, jika sampai keluarganya ikut campur urusan ini bisa di pastikan ia akan kehilangan kesempatan bersama dengan putrinya karena baik Fahmi maupun Yudha tak ingin berurusan dengan laki-laki brengsek seperti dirinya mengaku ayah dari Alesya.
__ADS_1
______________________________________