
Acara sosial ibu-ibu Bhayangkara berakhir pukul setengah dua siang, Nayla langsung pulang ke rumah setelah acara selesai. Ia merasa sangat lelah dan merasakan mood yang buruk. Sampai di rumah ia duduk sejenak di sofa ruang tamu. Ada hal yang membuat hatinya bergejolak, apalagi setelah mengetahui riwayat tentang kelahiran bayi mungil di panti asuhan yang diberi nama Nirmala.
"Anak yang malang, siapapun orang tua Nirmala aku benar-benar mengutuknya agar dia tak akan hidup bahagia di muka bumi ini! Aku dan abang selalu berharap segera mendapat anak, lha ini dapat anak malah di buang, benar-benar tidak punya perasaan," geram Nayla dalam hati.
Tak lama terdengar ketukan pintu yang ternyata bi Jumi. Nayla mempersilahkan bi Jumi masuk.
"Nyonya sudah pulang?" tanya bi Jumi.
"Sudah Bi," jawab Nayla lesu.
"Maaf, Nyonya, kalau boleh tahu habis pulang acara kantor kenapa malah murung?"
"Saya nggak apa-apa bi hanya lelah saja."
"Mau saya buatkan teh herbal?"
"Boleh."
Bi Jumi kemudian bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman herbal untuk majikannya itu. Tak lama bu Jumi membawa minuman herbal untuk Nayla yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu.
"Ini, Nyonya minumannya!" ucap bi Jumi sambil meletakkan secangkir minuman hangat ke atas meja.
"Terima kasih, Bi," ucap Nayla yang langsung mengambil cangkir minuman herbal itu.
Saat bi Jumi akan beranjak, Nayla menahannya agar menemaninya mengobrol agat pikirannya tak tambah pening.
"Tunggu Bi, bibi duduk dulu di sini, temani saya mengobrol!" pinta Nayla.
"Eh iya, Nyonya," ucap bi Jumi kemudian ikut duduk di sofa di seberang sang majikan.
"Apa yang akan Nyonya obrolkan?"
"Bi, apa pasangan yang lama tak di karuniai anak, berpotensi membuat seorang suami berselingkuh demi mendapatkan keturunan?" jawab Nayla yang malah menjawab pertanyaan bi Jumi dengan pertanyaan yang membuat emak si Dudung ini bingung.
"Heleh, kenapa atuh Nyonya tanya hal begitu? jangan berfikir tuan Afwi selingkuh, itu nggak bener," jawab bi Jumi yang langsung tau arah pembicaraan majikannya.
"Entahlah bik, kadang kalau abang tugas luar kota agak lama aku jadi suudzon dan inscure dengan diriku sendiri, bibi tahu sendiri kan abang itu kan ganteng, sukses dan dari keluarga terpandang, wanita mana yang tak tergiur lihat abang," keluh Nayla sendu.
"Nyonya harus percaya sama tuan, InsyaAllah tuan Afwi orangnya setia," ucap bi Jumi memberikan semangat agar Nayla berfikir positif tentang Afwi.
"Semoga abang selalu setia sama aku ya Bi" ucap Nayla penuh harap.
__ADS_1
"Aamiin semoga Nyah, bibi yakin seribu persen tuan Afwi bakal setia sama Nyonya," ucap bi Jumi meyakinkan.
Setelah sedikit curhat dengan bi Jumi perasaan Nayla sedikit lega, kemudian bangun dari duduknya menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Waktu sudah menunjunjukkan pukul empat sore, Afwi sudah memakirkan mobilnya di garasi rumah, Ia segera turun dari mobil menuju pintu utama.
"Assalamualaikum," ucap Afwi seraya membuka hendel pintu yang ternyata tidak di kunci, hal itu menandakan jika ada orang di rumah, kalau nggak istrinya biasanya bik Jumi.
"Waalaikumsalam," jawab bi Jumi yang berjalan tergesa-gesa dari arah dapur.
"Bik, apa istriku sudah pulang?"
"Sudah, Tuan, tapi sepertinya nyonya kelelahan dan kurang sehat, tadi setelah minum minuman herbal yang saya buatkan, nyonya Nayla kemudian masuk ke kamar dan belum keluar-keluar."
"Ya sudah lanjutkan pekerjaan bibi, saya akan lihat keadaan Nayla."
Afwi bergegas memasuki kamarnya, ia sangat merindukan sosok istrinya yang sangat imut dimatanya. Perlahan Afwi membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci. Begitu memasuki kamar, ia melihat sang istri sedang tidur dengan nyenyak
Afwi berjalan berlahan menuju tempat tidur setelah meletakan tasnya di sofa dan melepas sepatunya. Di tatapnya sang istri yang tidur dengan penuh cinta, perlahan tangannya terulur membelai surai hitam Nayla.
"Kamu makin hari makin cantik sayang, membuatku makin cinta denganmu, abang berharap kita tak akan pernah berpisah, ada atau tidaknya anak dalam kehidupan kita, kau sangat berharga bagi abang," ucap Afwi kemudian mendaratkan ciumab dikening sang istri sebelum ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Nayla membuka matanya ketika, Afwi sudah pergi ke kamar mandi, di usapnya bulir bening di pelupuk matanya. Sebenarnya waktu hendel pintu di buka, Nayla sudah bangun dan ia tahu pasti sang suami yang membuka pintu kamar, namun matanya terasa berat, lalu ia memejamkan mata lagi meski tak sepenuhnya tertidur, sampai sang suami mendekat ke tempat tidur lalu membelainya penuh sayang, Nayla bisa merasakan kesungguhan di setiap kata yang barusan Afwi katakan. Di dalam hati Nayla merasakan perasaan bahagia sekaligus rasa bersalah. Bahagia karena begitu di cintai oleh suami sebaik Afwi dan merasa bersalah karena sampai sekarang ia belum bisa memberikan keturunan untuk sang suami tercinta.
"Sayang, bangun ini sudah sore, sudah mau magrib juga, tak baik tidur menjelang magrib!" pinta Afwi sambil membelai kepala sang istri penuh sayang.
Nayla pun pura-pura mengeliats seolah-olah ia baru bangun tidur, ia tak ingin Afwi melihatnya bersedih apalagi menangis. Sang suami sudah sangat berat memikul tanggung jawab sebagai aparat keamanan, dan Nayla tak ingin menambah beban pikiran sang suami dengan kesedihannya.
"Abang baru pulang?"
"Nggak, sudah dari tadi, sudah mandi juga, nih udah wangi, mau cium kalau nggak percaya?" jawab Afwi sembari meggoda istrinya.
"Iiihhh Abang nakal deh," ucap Nayla sambil menahan wajah sang suami yang hendak menciumnya.
"Eh nggak boleh menolak di cium suami," ucap Afwi semakin menggoda sang istri.
"Abang, ah selalu jahil," ucap Nayla berpura-pura kesal namun hatinya bahagia, sang suami memang terkenal datar dan dingin tapi ketika bersama dirinya, ia menjadi sosok yang berbeda, lembut dan hangat.
"Tadi katanya ada acara kunjungan ibu-ibu Bhayangkari ke panti asuhan, gimana acaranya?" tanya Afwi setelah berhenti menggoda istrinya.
"Acaranya berjalan baik, tapi disana ada hal yang membuatku tertarik," jawab Nayla antusias.
__ADS_1
"Hal menarik apa yang bisa membuat istri cantik abang ini terlihat bahagia?"
"Disana ada seorang bayi perempuan usianya enam bulan namanya Nirmala, kata bu Lestari kepala panti, Nirmala di temukan di dekat panti asuhan itu sewaktu usiannya masih sangat kecil, kata bu Lestari usia Nirmala saat di temukan baru sekitar satu hari, setelah di lahirkan" cerita Nayla dengan wajah yang ceria.
"Terus kamu pingin mengadopsi bayi itu?"
"Tidak, aku hanya ingin menjadi orang tua asuh buat Nirmala, apa boleh?" tanya Nayla penuh harap.
"Tentu saja boleh, jika memang hal itu baik dan membuat kamu bahagia."
"Beneran Bang?"
"Benar Sayangku."
Nayla secara reflek langsung memeluk sang suami, tentu saja dengan senang hati Afwi menyambut pelukan istrinya. Afwi megusap punggung Nayla dengan lembut, sungguh Afwi sangat bahagia memiliki istri seperti Nayla, baik hati, nggak banyak gaya, bersahaja dalam berperilaku, meskipun keluarganya memberikan fasilitas luar biasa untuknya. Bahagia bagi seorang Nayla itu hanya sederhana, seperti sekarang, jika wanita lain ada di posisi Nayla dengan segala fasilitas keluarga akan meminta barang-barang branded maka bagi Nayla ijin dari suami untuk menjadi orang tua asuh dari seorang bayi di sebuah panti asuhan.
"Abang janji akan selalu membuat kamu bahagia dunia akherat, Nay," batin Afwi dalam hati dengan posisi tangannya masih mengusap punggung sang istri.
"Sayang, besok puasa yuk! kamu nggak sedang halangan kan?" ajak Afwi setelah Nayla melepas pelukkannya.
"Memang besok hari apa, Bang kok puasa sunah?"
"Besok tanggal 9 Muharram namanya puasa Tasau'a dan besoknya lagi tanggal 10 Muhararram namanya puasa, Asyura jadi kita puasa dua hari!" ajak Afwi.
"Oke deh Nay mau, Alhamdulillah Nay tidak sedang halangan, tapi kenapa kita di sunahkan puasa tanggal sembilan dan sepuluh Muharam?"
"Bulan Muharam adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan setelah bulan Ramadhan, banyak peristiwa besar bagi umat muslim yang terjadi di bulan Muharamm dan puasa Tasau'a bisa menghapus dosa setahun yang lalu. Semoga dengan melaksanakan puasa sunah di bulan Muharam ini semua hajat kita terkabul," terang Afwi tentang faedah menjalankan puasa sunah di bulan Muharam.
"Nay mau Bang, tapi kita belum punya menu untuk sahur nanti malam."
"Kamu tenang aja, nanti habis Isya kita beli di luar saja sekalian mampir ke supermarket beli keperluan kamu yang sudah habis."
"Setuju, nanti aku akan cek barang apa saja yang habis."
"Kamu sudah makan, Dek, soalnya kata bibi Jumi sejak pulang kamu belum keluar kamar?" tanya Afwi karena baru ingat kata bib Jumi tadi.
"Tadi siang susah makan sama bu Komandan dan ibu-ibu Bhayangkari yang lain."
"Tapi kamu harus tetap jaga kesehatan, kalau kamu ingin ngemil lagi nggak apa-apa, sepertinya bik Jumi masak sesuatu."
"Oh iya, Nay sampai lupa kalau masih ada bik Jumi, tolong abang bilang ke bi Jumi kalau dia boleh pulang dulu sama sekalian suruh ambil lauk atau sayur buat Dudung, aku mau mandi dulu!" pinta Nay kemudian ia turun dari ranjang menuju kamar mandi.
__ADS_1
Afwi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang mengemaskan.