
Seminggu setelah kejadian percobaan penculikan terhadap Medina, keadaan mulai terlihat tenang. Dari pantauan CCTV dan hidden camera yang terpasang di rumah Adiguna, tak ada pergerakan yang mencurigakan, meski begitu, Afwi dan tim tetap harus waspada, mereka tak boleh lengah, karena bisa saja para penjahat itu sedang menunggu keluarga Adiguna lengah.
Saat ini Afwi dan timnya sedang berbincang di taman belakang yang menjadi spot favorit mereka. Mereka membahas tentang pengamanan untuk Medina yang full aktivitas, wanita model Medina tak betah jika harus terlalu lama di dalam rumah, seperti saat ini Medina menghampiri Afwi yang sedang berbincang dengan timnya.
"Selamat sore, semua," sapa Medina ramah.
"Sore...," jawab Afwi dan tim bersamaan.
Medina kemudian duduk di samping Kikan, begitu Medina bergabung semuanya terdiam, suasananya menjadi canggung, sampai akhirnya Medina sendiri yan memulai pembicaraan.
"Mas Afwi, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Medina.
"Ada apa, Nona?" tanya Afwi.
"Besok malam aku mendapat undangan ulang tahun temanku, di sebuah hotel, aku ingin sekali menghadirinya, jadi aku ingin tahu pengamanan seperti apa yang akan mas, lakukan padaku?" tanya Medina.
Mendengar apa yang barusan dikatakan Medina, Afwi memijit pelipisnya, di hotel penjagaannya harus lebih ketat, ia harus menyusun strategi untuk melindungi Medina tanpa ketahuan bahwa Medina dalam pengawasan pihak kepolisian.
"Apa ulang tahun itu sangat penting, Nona?, maaf bukannya saya mengekang tapi menghadiri acara di keramaian yang seperti itu sebaiknya anda hindari dulu sampai keadaan anda benar-benar aman," ucap Afwi berusaha memberi pengertian pada Medina.
"Jadi kalian tak mau mengawalku, lalu apa gunanya kalian di sini?" tanya Medina kesal.
"Maaf, Nona Medina Anggelina Wijaya yang terhormat, kami di sini bukannya tak mau mengawal Nona, tapi menghadiri acara seperti itu menurut saya tidaklah penting, jadi kami hanya meminimalisir resiko yang akan terjadi," jawab Afwi.
"Ini ulang tahun temanku, ia juga anak dari salah satu kolega papa, tak mungkin aku tak datang dan mengatakan aku sedang dalam bahaya dan tak boleh keluar sembarangan," ucap Medina kesal.
Afwi mengusap wajahnya frustasi, kalau saja Medina bukan bagian dari tugasnya sebagai polisi, ia ingin sekali memaki wanita di depannya ini, sungguh berbeda dengan para wanita di keluarga Dewantara dan Danuarta.
"Baiklah, Nona tapi aku harus rundingkan dulu ini semua dengan timku," putus Afwi mengiyakan permintaan Medina namun ia meminta waktu untuk bersama timnya untuk mengatur strategi pengamanan.
"Oke, aku tunggu hasilnya," ucap Medina kemudian pergi meninggalkan Afwi dan tim.
Setelah Medina pergi, Afwi meluapkan kekesalannya, ia meraup wajahnya dengan kasar.
"Dasar wanita manja, kalau bukan karena tugas tak sudi aku berurusan dengan wanita macam dia, sungguh menyebalkan!" umpat Afwi dalam hati.
Tiga orang yang ada di depannya hanya bisa melihat atasan mereka dengan tatapan kasihan, tapi bagaimana lagi ini juga tugas negara tak bisa mengelak, apalagi jika perintah turun langsung dari petinggi, harus siap apapun yang terjadi.
"Sudah, Pak jangan emosi, lebih baik kita susun rencana bagaimana memberi pengamanan pada nona Medina tanpa di ketahui pihak musuh," ucap Denis berusaha menenangkan
Afwi dengan kata-kat bijak.
"Iya, apa yang kau katakan benar, Denis, tapi aku justru berharap di pesta besok, para penjahat itu menampakkan diri, dan aku bisa segera menangkap mereka. Aku ingin segera menyelesaikan misiku, aku muak dengan Medina
"Sekarang pengamanan seperti apa yang akan kita berikan pada nona Medina di pesta besok?" tanya Afwi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau, Kikan ikut mengawal nona Medina, Pak?" usul Samsul.
"Iya tapi, besok kita pakai mobil yang berbeda, jadi Kikan dan Samsul pakai mobil nona Medina, sedangkan aku pakai mobil yang lain," tambah Afwi.
"Mobil lain yang mana, Pak?" tanya Samsul.
"Kamu sewa mobil di luar," jawab Afwi.
"Rental maksudnya, Pak?" tanya Samsul memastikan.
"Iya," jawab Afwi yang membuat ketiga anggotanya bingung.
Afwi menyadari kebingungan tiga anggotannya, lalu ia menjelaskan maksudnya, kenapa ia memilih mobil dari luar.
"Kita akan mengecoh mereka, karena aku rasa mereka sudah menghafal semua mobil milik pak Adiguna, kalian pasti tahu apa yang saya maksudkan?" ucap Afwi yang dijawab anggukan oleh ketiga anggotannya tanda mengerti.
"Satu lagi, selalu jaga keamanan mobil saat di parkir, karen mereka bisa saja berbuat hal buruk pada mobil pak Adiguna, maupun mobil rental yang kita sewa," lanjut Afwi memberi instruksi.
Setelah membicarakan strategi pengamanan untuk Medina, Afwi dan tim kembali ke posisi masing-masing. Kikan diberi tugas untuk memberi tahu Medina tentang keputusan Afwi dan memberitahunya tentang penerapan strategi pengamanan untuk sang nona.
Malam pesta yang dinantikan Mediana tiba, malam itu ia memakai dres selutut pres body, membuat lekuk tubuhnya yang indah terlihat memukau, rambutnya tergerai indah. Siapapun akan terpesona dengan kecantikannya, namun tidak dengan putra kedua Yudhatama Dewantara, ia justru merasa risih melihat penampilan Medina.
"Ayo, mas Anan, kita berangkat!" ajak Medina, ia sebenarnya juga terpukau melihat penampilan Anan malam itu, pak polisi tampak berbeda dengan setelan jas semi formalnya.
"Wah mas Afwi ganteng banget sumpah, tapi dinginnya itu nggak ketulungan, lihat saja setelah kasus sialan ini selesai, aku akan membuatmu menjadi milikku," batin Medina dalam hati sambil tersenyum licik.
Sampai di depan rumah, Medina tampak bengong melihat mobil yang akan di pakai bukan mobilnya, bahkan mobil itu tergolong mobil yang sangat biasa.
"Mas Anan kenapa pakai mobil ini, aku bisa malu," ucap Medina.
"Semua demi keamanan nona, pakai mobil ini malam ini atau tidak usah pergi sama sekali!" ucap Anan tegas.
Mendengar jawaban Anan, Medina menjadi kesal namun ia juga tak mau jika harus gagal berangkat, mau tak mau ia harus naik mobil yang menurutnya tak berkelas, namun sudah sangat berkelas untuk masyarakat yang hanya berpenghasilan UMR setiap bulannya.
Medina akhirnya pergi ke pesta temannnya menggunakan mobil sederhana yang entah di dapat Afwi dari mana. Sepanjang perjalanan Medina merengut sebal karena harus pergi menggunakan mobi tak berkelas, sedangkan mobil yang biasa Medina pakai dikenadarai oleh Samsul bersama Kikan. Afwi dan Samsul mengambil rute yang berbeda setelah keluar dari kediaman Adiguna, dan benar dugaan Afwi, Samsul melapor bahwa ada mobil dan dua sepeda motor yang mengukutinya. Mendapat laporan dari anggotannya, Afwi tersenyum tipis, taktiknya berhasil, para penjahat itu mengira yang di dalam mobil adalah Medina. Namun meskipun begitu ia harus tetap waspada, jika para penjahat itu menyadarinya maka, tak menutup kemungkinan mereka akan terus berusaha menemukan Medina.
Setengah jam kemudian, Afwi dan Medina sudah sampai di hotel, Afwi segera membukakan pintu mobil untuk Mediana.
"Terima kasih," ucap Medina dengan sedikit kesal.
"Nona Medina, jangan tekuk wajah anda, nanti jadi jelek!" tegur Afwi yang membuat Medina menghentikan langkahnya, ia cukup terkejut Afwi menegurnya atas penampilannya dengan kata lain Afwi mengatakan Medina cantik, itulah yang di pikirkan putri Adiguna itu.
"Ayo jalan, Medina, jangan hanya bengong, jam sepuluh kita sudah harus pulang!" ajak Afwi yang langsung menyambar tangan Medina untuk masuk ke ballroom hotel tempat pesta diadakan.
Medina sedikit syok dengan perlakuan Afwi yang memegang tangannya, ia mengikuti kemana Afwi melangkah sambil memegang dadanya yang berdebar.
__ADS_1
"Ya Tuhan baru di gandeng saja sudah begini rasanya, apalagi yang lain," otak Medina malah traveling kemana-mana
Waktu memasuki ruang ballroom semua orang menatap Medina dan Afwi dengan terkejut, terutama tamu perempuan hampir semua terhipnotis dengan penampilan Afwu yang sangat tampan dengan busana semi formal. Medina langsung mendekati Adelia sang tuan rumah.
"Hai Adelia, selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, sehat selalu dan tambah banyak duitnya," ucap Medina sambil cipaka-cipiki dengan temannya yang sedang berulang tahun hari ini.
"Makasih ya, Dina sudah mau menyempatkan ke ultahku, dan ini siapa, Din?" tanya Adelia begitu menyadari ada laki-laki yang sangat tampan berdiri di samping Medina.
"Oh, kenalkan ini Mas Anan, anak teman papaku," jawab Medina bersemangat, tapi beda dengan Afwi yang hanya bersikap cuek dan cool.
"Hai aku Adelia," ucap Adelia sambil mengulurkan tangannya, namun hanya di balas angukan oleh Anan, membuat Adelia sedikit malu, dan tentu saja hal itu membuat Medina tak enak hati.
"Maafkan, mas Anan ya, Del, dia memang seperti itu, mungkin karena baru kenal, kalau sudah kenal dia baik kok," ucap Medina berusaha memberi pengertian pada Adelia.
"Never mind, nikmati pestanya ya, aku ke sana dulu," ucap Adelia kemudian berlalu dari hadapan Medina dan Afwi, tentu saja dengan umpatan dalam hati.
"Gila, ya tuh cowok yang di bawa Medina, cakep sih cakep tapi cueknya nggak ketulungan, dasar, Dina nemu dimana sih cowok macam itu, blagu banget," umpat Adelia dalam hati sambil berjalan menuju temannya yang lain.
Sedangkan Medina, sibuk menegur sikap Afwi yang kelewatan cuek, dia benar-benar tak enak dengan Adelia. Apalagi ayah Adelia banyak menanamkan investasi di perusahaan papanya.
"Mas..., jangan gitu dong sama teman aku, apalagi dia tuan rumah pesta ini, dia juga anak kolegannya papa, kalau dia nggak terima terus ngadu sama papanya bagaimana, kalau sampai berdampak ke perusahaan papa bagaimana, mikir nggak sih?, bikin kesel aja!" ucap Medina sebal, kemudian ia pergi menuju meja hidangan, Medina tampak akan meraih segelas wine, namun sebuah tangan mencegahnya.
"Jangan minum minuman seperti itu, kamu itu wanita!" cegah Afwi.
"Kamu bukan siapa-siapaku, jadi jangan larang aku!" ketus Medina yang langsung menepis tamgan Afwi kemudian langsung meraih gelas wine dan meminumnya.
Setelah nekat meneguk segelas wine, Medina meninggalkan Afwi untuk mencari bestienya, setelah matanya berusaha mencari akhirnya ia menemukan Vera dan Reni sedang berbincang dengan teman mereka yang lain sambil tertawa.
"Hai semua!" sapa Medina.
"Hai, Dina, kapan datang? dan sumpah penampilanmu malam ini ok banget lho," puji Vera saat melihat penampilan Medina anggun dan berkelas.
"Ah biasa aja," jawab Medina sambil tersenyum.
"Kamu datang sama siapa, Dina?" tanya Reni.
"Tuh," jawab Medina memajukan dagunya menunjuk dimana Afwi berdiri tak jauh darinya.
"Reni dan teman yang lain langaung mencari objek yang ditunjuk Medina, seketika, mata para teman Medina terbeliak kaget.
"OMG...!" pekik keempat teman Medina bersamaan.
______________________________________
Mobil apa sih yang kamu sewa bang sampai mbak Medina ngambek? hii...hii...
__ADS_1
Please Like, Vote, Komentar, Rate bingtang 5 and Favorit.
Thank You