Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 100


__ADS_3

Cerita kali ini tentang Nayla, jangan baper ya.


Setelah merenung di ruangannya, Kombes Mahendra memanggil Mirza ke ruangannya.


Tok tok


"Masuk!" perintah Hendra.


"Selamat siang, Ndan!"


"Mirza, kau adalah salah satu orang kepercayaanku, aku ada tugas khusus untukmu, tapi aku minta tugas ini jangan sampai di ketahui siapapun!" pinta Mahendra.


"Siap!, ijin bertanya tugas khusus apa yang saya jalankan?" tanya Mirza.


"Saya ingin menyelidiki kemana istri saya pergi, pasang alat penyadap dan cctv tersembunyi di setiap sudut rumah saya tanpa di ketahui semua penghuni rumah saya termasuk juga istri saya!" perintah Mahendra.


"Dua tahun lebih istri pertama saya meninggal dunia karena kecelakaan, lalu saya di paksa menikah lagi oleh orang tua saya, dengan alasan agar Nayla tidak kehilangan sosok seorang ibu. Di tahun pertama pernikahan kedua saya, semua baik-baik saja meski terlihat Nayla belum bisa sepenuhnya menerima Galuh sebagi ibu sambungnya, dan Nayla masih menjadi anak yang patuh, penurut dan mau tinggal di rumah, hubungannya dengan Galuh terlihat baik-baik saja, Galuh juga memperlakukan Nayla dengan baik sehingga saya tidak berfirkir yang aneh-aneh. Saya masih bisa menerima sikap Nayla yang belum sepenuhnya bisa menerima Galuh sebagai ibu sambungnya, Tapi di tahun kedua, tiba-tiba Nayla menjadi anak yang pembangkang, dan lebih memilih keluar dari rumah dan tinggal di panti asuhan peninggalan istri pertama saya. Semakin lama saya merasakan ada hal aneh atas kepergian Nayla dari rumah, orang yang aku tugaskan menjaga Nayla mengatakan bahwa Nayla mengikuti club kelas menembak dan karate. Aku takut Nayla akan melakukan hal yang tidak di inginkan. Maka dari itu aku minta kamu menyelidiki apa saja kegiatan istriku dan apa yang melatar belakangi Nayla mengambil kelas menembak dan karate, feelingku mengatakan dua hal ini sangat berhubungan," ujar Mahendra menceritakan tentang awal mula kejadian rengangnya hubungan dia dan Nayla. Sampai sang putri mengambil kegiatan yang ekstrim untuk kaum hawa," ujar pak Mahendra lagi.


"Ijin, bertanya, Ndan, apa selama satu tahun nona Nayla pergi dari rumah sama sekali tidak pernah pulang, Ndan?" tanya Mirza.


"Selama satu tahun Nayla pergi dari rumah, enam bulan pertama, dia masih bersedia pulang dan menginap satu dua hari di rumah, itu pun jika saya tidak tugas luar, namun enam bulan belakangan Nayla jarang sekali pulang, ia pun juga tak mau menerima telpon dari saya atau menemui saya, pernah aku memaksa dia bertemu tapi Nayla lebih banyak diam, sejak saat itu saya tak pernah memaksa bertemua dia Nayla lagi," jawab Pak Mahendra.


"Sekarang, kamu kerjakan apa yang saya perintahkan, dan segera kamu laporkan hasilnya!" perintah pak Mahendra.


"Siap!" ucap Briptu Mirza memberi hormar kemudian segera keluar dari ruangan Kombes Mahendra.


Setelah keluar dari ruangan atasannya, Mirza mengusap wajahnya kasar, tugas yang diberikan sang atasan cukup berat, memang tugas ini bersifat pribadi tapi jika dugaanya benar maka tugas ini memang tugas kepolisian karena menyangkut tindak kriminal.


"Huft, dari cerita pak Mahendra aku merasa nona Nayla mengetahui sebuah rahasia besar, dan kemungkinan kematian bu Intan merupakan suatu konspirasi, astaga, semoga semua dugaanku tidak benar," batin Mirza sambil mengusap wajahnya kasar.


.


Sedangkan di tempat lain, seorang gadis sedang memasuki sebuah club karate dengan aura yang sangat kuat, ia sudah mengantu bajunya dengan baju karate yang berwarna putih dengan sabuk hitam melilit di pinggang rampingnya.


"Oh, Nay, kamu sudah datang, sudah siap untuk latihan hari ini?" tanya Egi seniornya.


"Tentu saja sudah, kalau tidak mana mungkin aku di sini sekarang," jawab Nayla santai.


"Oh, iya ya kalau kamu belum datang, nggak mungkin kamu bisa di sini, tapi Nay, aku heran fisik kamu oke, kemampuan bela diri oke wajah apa lagi oke kuadrat, kenapa nggak masuk jadi polwan atau kowad saja sih, ngapain kuliah lagi, sekarang cari kerja 'kan susah, Nay," ucap Egi sebelum memulai sesi latihannya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan profesi yang berhubungan aparat keamanan," ucap Nayla sedikit ketus.


"Ok, nona manis, sekarang kita jajal sampai dimana kemampuanmu!" ajak Egi yang sudah masuk ke tengah arena latihan.


Mendengar ajakan kakak tingkatnya, Nayla hanya tersenyum sinis, senyum yang sebenarnya menyimpan berbagai misteri dalam hidupnya, Nayla dengan tenang melangkah ke arena latihan di mana Egi sudah berdiri di sana. Keduanya pun sudah memasang kuda-kuda, setelah sekian detik keduanya sudah saling menyerang, meski Nayla seorang wanita tapi serangan yang ia berikan cukup berbahaya, dan jangan lupakan tatapannya saat menatap mata Egi, seolah Nayla sedang berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Egi yang menyadari tatapan membunuh dari Nayla sempat bergidik ngeri, selama latihan bersama baru kali ini ia melihat tatapan Nayla penuh amarah. Setengah jam mereka berlatih di dalam arena. Kemuduan Egi menghentikan serangannya dan memberi tanda Nayla agar berhenti sebentar.


"Nay, kita istirahat dulu sebentar!" pinta Egi lalu berjalan keluar arena menuju sebuah kursi. Melihat lawannya menghentikan serangan Nayla pun mengikuti Egi ke luar arena.


"Kenapa berhenti sih, lagi nangung tau," ucap Nayla sebal.


"Break sebntar lah, habisnya kamu nyerang aku seolah aku ini musuhmu yang harus kau lenyapkan," jawab Egi sambil meminum air mineral dari dalam botol.


"Bukannya memang harus begitu saat bertanding?" tanya Nayla heran dengan ucapan Egi barusan.


"Iya, tapi aku tadi melihat kilatan matamamu seperti di penuhi dendam dan amarah, aku berharap kau belajar bela diri ini bukan untuk membunuh orang," ucap Egi.


Mendenngar ucapan Egi, Nayla pun termenubg sejenak, pikiranya teringat kejadian satu tahun yang lalu.


Flasback On


Saat Nayla duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas, hari itu Nayla masih berada di sekolahan, bunda Nana tiba-tiba menjemputnya ke sekolah dengan alasan ada kepentingan mendadak. Namun saat tiba di rumah Nayla melihat begitu banyak orang di rumahnya, begitu banyak anggota polisi berada di rumahnya dan terlihat satu buah mobil ambulance di halaman rumah.


"Kita masuk dulu, ya?" ajak tante Nana sambil memapah tubuh Nayla berjalan masuk ke dalam rumah. Saat di masuk ke dalam rumah Nayla melihat seseorang sudah terbaring tak bernyawa, di dekat sosok yang terbaring itu, Nayla melihat papanya sedang menunduk menitikan air mata dengan masih mengenakan seragam dinasnya.


Semakin ia mendekat, tubuhnya semakin gemetar, tante Nana masih merangkul pundak Nayla.


"Yang sabar ya, Nay, Allah lebih sayang dengan mamamu dari pada kita semua," ucap tante Nana dengan suara menahan tangis.


"Mama," satu kata terucap dari mulutnya bersamaan tubuhnya luruh ke lantai.


" Nayla!" pekik tante Nana saat tubuh keponakannya luruh ke lantai.


Mendengar nama Nayla di sebut, pak Mahendra mengankat wajahnya, melihat sang putri terduduk di lantai menahan tangis, pak Mahendra langsung berdiri dan memeluk tubuh Nayla.


"Ikhlaskan mamamu ya, Nak, Allah lebih sayang padanya dari pada kita," ucap pak Mahendra dengan suara parau.


Sehebat dan sekuat apapun dirinya sebagai salah satu pimpinan di kepolisian, namun saat secara tiba-tiba kehilangan belahan jiwanya, sebagai manusia biasa, ia pasti juga merasakan kesedihan yang luar biasa.


Nayla menumpahkan air mata kesedihannya di pelukan sang papa, membuat siapapun yang melihatnya pasti juga ikut merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama dengan Nayla dan pak Mahendra.

__ADS_1


Setelah puas menangis di pelukan papanya Nayla melepaskan diri pelukan papanya, perlahan ia mendekati jenazah mamanya, dibukanya kain putih transparan yang menutupi wajah sang mama, terlihat wajah cantik namun sudah tak ada tanda kehidupan di wajah teduh itu.


"Mama, kenapa mama ninggalin, Nay sendiri, Ma, Nay masih butuh mama, kenapa mama nggak ajak Nay sekalian ma, kenapa?" ucap Nayla pilu sambil memeluk tubuh sang mama yang terbujur kaku.


"Nay, jangan begini, Nak, mamamu pasti akan sedih melihatmu seperti ini!" ucap tante Nana yang mencoba menarik tubih Nayla yang sedang memeluk jenazah mamanya.


Sugguh kehilangan yang berat, nyonya Intan Aurelia pergi untuk selamanya tanpa pesan apapun pada keluarganya. Kepergiannya untuk selamanya dengan secara tiba-tiba membuat hati dan jiwa pak Mahendra dan Nayla terguncang.


Sekitar satu tahun menduda, orang tua pak Mahendra mengenalkan sosok Galuh padanya, Janda tanpa anak yang ternyata teman SMA alamarhum istrinya. Ibu Galuh berteman baik dengan ibu pak Mahendra berniat menjodohkan pak Mahendra dengan Galuh. Galuh wanita yang cukup cantik juga angun namun kecantikan Galuh tidak bisa mengalahkan pesona alamarhum Intan. Namun Galuh tak pernah kehabisan akal mendekati Mahendra terutama lewat ibu Mahendra.dan Nayla, karena desakan sang ibu Mahendra menerima perjodohannya dengan Galuh dan mereka pun menikah. Nanun selama pernikahan Mahendra tak pernah sedikitpun menyentuh wanita yang sudah halal baginya itu. Mahendra menikahi Galuh hanya untuk memebuhi keinginan sang ibu, tahun pertama semuanya berjalan baik, meski Nayla lebih banyak diam tapi Nayla bisa menghormati Galuh sebagai ibunya.


Pada saat Nayla berjalan-jalan ke mall bersama teman-temannya, tak sengaja Nayla melihat mama sambungnya jalan bersama seorang pria yang uaianya sedikit lebih tua di banding sang mama sambung.


"Ta, aku ke toilet sebentar ya, nggak nahan.nih," ucap Nayla pada Tata temannya.


"Ah, elu Nay kaya emak-emak aja baru jalan sudah beser, ya udah sana, nggak pakai lama yan Nay!" pinta Tata.


Nayla segera pergi meninggalkan teman-temannya, ia tidak ke toilet melain kan menguntit mama sambungnya dan pria tadi. Galuh tampak memilih pakaian di temani sang pria semabari mengobrol.


"Galuh, kamu harus bertindak cepat perusahaan kakak sudah hampir bangkrut," ucap pria tersebut.


"Kak, semua itu tidak senudah yang kakak bayangin, aku kira setelah wanita itu lenyap aku bisa mengantikan posisinya dengan mudah karena ibu mertuaku selalu mendukungku," ucap Galuh pada pria yang ia panggil kakak.


"Ingat, ya Galuh aku sudah membantumu untuk melenyapkan Intan agar kau bisa masuk ke dalam keluarga Bagaskara, dan apa yang aku lakukan juga beresiko tinggi, aku harus memutar otak agar Mahendra tidak bisa mendeteksi apa penyebab sebenarnya kecelakaan itu, suami kedua mu itu seorang polisi tentu saja ia akan melacak semuanya," ucap pria itu.


Bagai di sambar petir di siang bolong, hati Nayla bergetar hebat setelah mendengar fakta kematian sang mama yang barusan ia dengar namun sayangnya ia tak sempat merekam pembicaraan mama sambungnya itu dengan pria yang tak dikenalnya itu. Nayla sudah berkeringat dingin, namun ia tetap harus bersikap tenang agar keberadaanya tidak di ketahui mama Galuh.


"Kamu benar-benar keterlaluan mama Galuh, tenyata sikap manismu selama ini palsu, lihat saja jangan panggil aku Nayla jika tidak bisa membalas kematian mamaku!" geram Nayla dalam hati, Nayla harus bersikap waspada mulai dari sekarang.


Flash back off


"Hai mau latihan malah melamun!" tegur Egi sambil menepuk pundak Nayla.


_______________________________________


Kejawab dong siapa Galuh, tapi masih banyak fakta rahasia tentang mama sambung Nayla, sabar ya.


Jangan lupa kasih Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah seikkhlasnya.


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2