Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode 72


__ADS_3

Dua hari pun berlalu, hari ini keberangkatan Fahmi dan Aryana bulan madu ke Maldives. Mereka berdua berangkat menggunakan jet pribadi Pratama group.


Sekarang Fahmi dan Aryana sudah berada di atas awan dengan ketinggian beberapa ribu kaki. Aryana menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Sayang, kalau kamu mengantuk tidur saja ya di kamar," tawar Fahmi.


"Tidak, aku hanya ingin nyender di bahu kamu Honey, sambil melihat pemandangan dari atas sini hampir sama dengan yang aku lihat di google earth," jawab Aryana.


"Google Earth?"


"Iya google earth, bunda yang mengajari aku tentang google earth, ya google earth itu bisa di katakan globe virtual. Dari google earth kita juga bisa melihat satu wilayah dari tahun tahun sebelumya," jawab Aryana.


"Ih aku makin gemes sama kamu kalau begini, Yang, aku jadi nggak sabar ada Fahmi atau Aryana junior disini," ucap Fahmi sambil tangannya mengusap perut Aryana lembut sambil bibirnya mendaratkan ciuman di kening dan bibir Aryana, ciuman yang tadinya hanya biasa menjadi sebuah ciuman panas yang membuat Fahmi terbakar sesuatu yang memabukkan. Akhirnya Fahmi membawa tubuh istrinya ke dalam kamar di dalam jet pribadi itu.


Setelah menempuh penerbangan kurang lebih tujuh jam, akhirnya Fahmi dan Aryana sudah sampai di Maldives, dengan diantar supir yang sudah di pesan oleh Fahmi, pengantin baru itu diantar sampai ke resort di Maldives. Sampai di sana Aryana begitu takjub dengan pemandangan laut Maldives.


"Masyaallah bagus banget, Honey," ucap Aryana .


"Aku bahagia kalau kamu senang dengan tempat ini," ucap Fahmi sambil memeluk Aryana dari belakang.


"Iya Honey, aku bahagia, aku jadi ingat dulu aku pernah minta sama kamu Honey jika nilaiku bagus kamu akan mengajakku liburan ke Maldives, tapi ternyata aku tidak dibolehkan pergi oleh ayah," ucap Aryana dengan raut wajah yang berubah sendu.


"Ya aku ingat, dan waktu itu kamu malah menjauhiku, dan kau tahu, aku begitu frustasi saat aku tak bisa mendengar suaramu dan melihatmu walau cuma dari layar ponsel," ucap Fahmi sambil masih memeluk Aryana dari belakang dan mencium pucuk kepala Aryana berkali-kali, Fahmi juga makin mengeratkan pelukannya pada Aryana.


"Sayang, yuk balik kita makan dulu aku lapar nih!" ajak Fahmi.


"Ok, aku juga lapar, aku ingin mencicipi kuliner khas di Maldives ini," ucap Aryana yang menyampaikan keinginannya.


"Baiklah kalau begitu kita cari restoran untuk berburu kuliner keinginan nyonya Fahmi yang cantik ini," ucap Fahmi sambil memegang dagu Aryana gemas.


Fahmi dan Aryana lalu menuju sebuah resto yang cukup mewah disekitar area resort, Aryana lebih memilih makan di restoran meski sebenarnya mereka bisa memesan di layanan resort tempat mereka menginap.


"Enak, Sayang?" tanya Fahmi saat melihat Aryana makan dengan lahab seperti orang yang dua hari tidak makan.


"Enak banget, Honey," jawab Aryana sambil mengunyah makanannya.


Melihat istrinya makan dengan lahab Fahmi hampir tak menyentuh makanannya, dia fokus melihat isti kecilnya makan, rasanya ia sudah kenyang.


"Honey, kamu tidak makan?" tanya Aryana ketika melihat suaminya hanya menatapnya saja tanpa menyentuh makanannya.

__ADS_1


"Aku rasanya sudah kenyang melihatmu makan," jawab Fahmi sambil tersenyum.


"Dasar aneh, mana mungkin kenyang hanya melihat orang makan," ucap Aryana.


"Kau sungguh mengemaskan, aku justru ingin memakanmu saja," ucap Fahmi.


"Dasar kamu, sini aku suapi!" pinta Aryana sambil memegang sendok yang ada di piring suaminya, Fahmi yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu tak akan melewatkan begitu saja, ia dengan pasrah menerima suapan demi suapan dari tangan sang istri, Fahmi mengunyah makanananya sambil sesekali tersenyum melihat sang istri yang dengan telaten menyuapinya.


"Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberiku seorang bidadari surga yang luar biasa, berikan aku selalu kesehatan dan umur panjang juga rezeki agar aku bisa membahagiakan bidadari yang Engkau titipkan padaku," ucap Fahmi dalam hati.


Setelah selesai makan di restoran, Fahmi dan Aryana kembali ke resort tempat mereka menginap.


"Honey, aku mandi dulu ya, gerah ini," ucap Aryana setelah sampai di kamar.


"Iya mandilah biar segar, apa kita mandi berdua sekalian?" tawar Fahmi dengan senyum smirknya.


"Boleh, kalau kamu nggak keberatan Honey, tapi cuma mandi saja ya nggak pakai plus-plus," ucap Aryana sambil mengambil handuk dari dalam tasnya.


"Oke, siapa takut, aku nggak akan plus-plus," ucap Fahmi sambil mengacungkan dua jarinya tanda damai.


Akhirnya Aryana dan Fahmi mandi berdua, dan benar saja Fahmi menepati ucapannya hanya mandi saja berdua dengan sang istri. Tapi nanti malam ia nggak janji tidak akan melakukan agresi pada tubuh istrinya.


"Kamu kedinginan, Sayang?" tanya Fahmi


"Sedikit tapi nggak apa-apa, kan aku pakai baju tertutup dan hijab jadi tidak terlalu dingin," jawab Aryana.


"Syukurlah, kalau kedinginan kita kembali ke resort saja biar aku bisa maksimal menghangatkanmu," ucap Fahmi santai namun mendapar lirikan tajam dari sang istri yang tengah ia rangkul.


"Itu mah modus klise para laki-laki, kalau ada clue kata kedinginan menjurusnya langsung kesitu," ucap Aryana sambil mengerucutkan bibirnya membuat Fahmi semakin gemas.


"Itu bibir kenapa jadi seperti mulut ikan koi di rumah ayahmu, pingin di cium?" ucap Fahmi menggoda sang istri.


"Heh, nggak ya, pikiran kamu selalu ngeres aja, dari pada berfikir mesum terus mending bantu aku carikan yang jual wedang uwuh disini,!" pinta Aryana dengan sedikit kesal.


"Hah, apa, wedang uwuh?, minuman apa itu?" tanya Fahmi heran.


"Itu minuman dari bahan rempah-rempah, enak kalau diminum saat cuaca dingin begini, biasanya aku dan kakakku belinya di angkringannya pak Triman di kota S," jawab Aryana yang sukses membuat mata Fahmi membulat sempurna.


"Sayangku, cintaku, nyonya Fahmi yang paling cantik, hallo..., ini Maldives Sayangku, bukan di Indonesia mana mungkin ada yang jual wedang uwuh di sini," ucap Fahmi berusaha menyadarkan isrinya yang berhalu di luar zona otak dalam kepalanya.

__ADS_1


"Ya aku tahu ini Maldives siapa yang bilang ini Indonesia, siapa tahu aja ada WNI yang jualan angkringan di tempat ini," ucap Aryana yang membuat Fahmi menepuk jidatnya sendiri.


"Kamu sehat, Sayang?" tanya Fahmi khawatir otak istrinya yang mungkin sedikit konslet karena naik jet pribadinya tadi.


"Aku sehat kok, bahkan sangat sehat. Kalau di sini nggak ada yang jual wedang uwuh sepertinya kita bisa buka cafe atau resto sini ya ng menjual minuman tradisional Indonesia dan makanan khas Indonesia, sepertinya akan menjadi peluang bisnis yang bagus," ucap Aryana santai disertai senyuman yang megembang di bibirnya sambil membayangkan jika ia benar-benar mempunyai cafe minuman tradisional tanah air untuk di jual di daerah Maldives.


"Sayang, kita ini disini mau berbulan madu, untuk merealisasikan program bikin debay, bukan malah memikirkan bisnis minuman tradisional," ucap Fahmi yang tak habis pikir dengan pemikiran sang istri, bisa-bisanya memikirkan membuka cafe minuaman khas negara mereka di Maldives.


"Lho itu peluang bisnis bagus, Honey, jadi kita bisa sambil menyelam minum air, bulan madu sekaligus mencari peluang bisnis," ucap Aryana yang membuat sang suami semakin gemas.


"Benar-benar otak brilian, masih belia tapi jago ilmu eksak, menguasai ilmu geografi, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin ok, pintar dalam interaksi sosial, sungguh paket komplit, pintar memasak, meskipun jantungmu tak sempurna tetapi Allah mengaruniaimu berbagai macam kelebihan yang luar biasa, entah apa lagi bakatmu yang belum aku ketahui, Sayang," gumam Fahmi dalam hati sangat kagum.dengan segala kelebihan yang di miliki oleh istrinya di usia yang masih sangat muda.


"Honey, cari makan yuk, jangan malah melamun!" ajak Aryana.


"Aku nggak ngelamun ya, hanya mengahumi makhluk cantik dan pintar yang ada di depanku ini. Memangnya kamu mau makan dimana hem?" tanya Fahmi sambil mengeratkan rangkulannya pad sang istri.


"Terserah kamua saja, Honey, tapi ingat ya harus yang terjamin ke halalannya," jawab Aryana.


"Oke, kita ke resto xxx saja, tapi jaraknya agak jauh dari tempat ini, kata temanku pemiliknya seorang muslim, mungkin kita bisa coba menu di sana!" ajak Fahmi yang disambut gembira oleh Aryana, tanpa sadar reflek langsung memeluk dan beberapa kali medaratkan ciuman di wajah sang suami, mendapat serangan mendadak seperti itu dari sang istri membuat Fahmi terkejut namun sekaligus senang.


"Sungguhkah ada resto yang pemiliknya seorang muslim di sini?" tanya Aryana antusias


"Iya, tapi kita harus jalan agak jauh lho, Sayang, kamu kuat?" tanya Fahmi.


"Kuat, tentu saja kuat, kalau nggak kuat ntar 'kan bisa minta gendong kamu, Honey," ucap Aryana manja.


"Heh, buntut-buntutnya pasti begini," ucap Fahmi yang pura-pura kesal.


"Jangan gitu dong, Honey tubuhku 'kan kecil jadi tidak membuatmu berat, ini kesempatan kamu lho, Honey siapa tahu besok-besok kamu nggak bisa punya kesempatan gendonga aku lagi karena aku pergi jauh," ucap Aryana yang membuat Fahmi menyadari ucapnnya, entah kenapa mendengar sang istri mengatakan hal seperti itu hatinya terasa tercubit.


"Maafkan kata-kataku, Sayang, ayo kita segera ke resto xxx nanti keburu malam!" ajak Fahmi


"Let's go," ucap Aryana girang, berjalan mengandeng tangan sang suami menuju resto xx tersebut.


______________________________________


Please Like, Vote, Komentar, Rate and favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2