
Afwi mengantar sang istri ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi. Saat menemani Nayla memilih barang, Afwi melihat sosok yang sangat dikenalnya, sepasang laki-laki dan perempuan sedang bergelayut manja di lengan laki-laki tersebut, bahkan Afwi sampai membelalakkan matanya saat si laki-laki mencium pelipis si perempuan dengan mesra.
"Abang, kita mau beli apa lagi, shampo abang masih kan?" tanya Nayla namun Afwi hanya terdiam karena terpaku memperhatikan laki-laki yang ia kenal sedang bermesraan dengan seorang perempuan yang ia yakini bukan istri dari laki-laki tersebut.
"Ya, kenapa, Dek?" tanya Afwi terkejut sekaligus bingung.
"Abang lihatin apa sih, sampai nggak dengerin aku?" kesal Nayla karena sang suami malah terlihat cengok.
"Abang cuma sedang memperhatikan barang-barang di supermarket ini saja," jawab Afwi ngawur.
"Abang tuh nggak pintar bohong sama, Nay, hayo lihatin apa?, awas ya kalau sampai lihatin cewek lain aku aduin ke bunda biar dipecat jadi anak!" ancam Nayla.
"Jangan dong, Sayang, beneran abang nggak lihat cewek lain, nanti abang bakal cerita di rumah oke? sekarang kalau sudah belanjanya kita ke kasirsudah mau magrib!" ajak Afwi
"Ini sudah selesai kok, Bang, tapi janji ya nanti di rumah bakal cerita."
"Iya-iya, ayo kita ke kasir sekarang!" ajak Afwi lalu mengandeng tangan sang istri menuju kasir.
Setelah membayar belanjaannya di kasir, pasangan pasutri itu menuju parkiran, di sana pun Afwi juga sempat melihat laki-laki yang dilihatnya tadi masuk ke dalam mobil dengan seorang wanita muda. Afwi langsung melajukan mobilnya keluar dari supermarket, selama perjalanan Afwi lebih banyak diam tak seperti biasanya dan hal tersebut membuat sang istri heran.
"Abang, kenapa diam saja tak seceria waktu berangkat?" tanya Nayla memberanikan diri bertanya lebih dulu.
"Maafkan abang ya, Dek, sepertinya abang banyak pikiran," jawab Afwi jujur."
"Tak apa-apa, Bang, tapi Nay harap abang mau terbuka dan berbagi sama Nay, meskipun Nay mungkin nggak dapat membantu memecahkan persoalan yang sedang abang hadapi, minimal Nay bisa menjadi pendengar yang baik untuk curahan hati abang."
Mendengar ucapan istrinya yang begitu lembut dan pengertian membuat Afwi merutuki kebodohannya yang terlalu terbawa masalah pekerjaan, ia merasa bersalah dengan istrinya.
"Iya, Sayang, abang akan selalu terbuka padamu kecuali hal-hal mengenai rahasia negara yang memang harus aku rahasiakan dari kamu."
Nayla hanya menangapi ucapan suaminya dengan senyum, ia seolah mengerti suaminya merasa bersalah padanya. Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah bertepatan adzan magrib berkumandang. Afw membantu istrinya menurunkan belanjaan Nayla dan membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Taruh di dapur saja, Bang, biar Nay yang bereskan!" pinta Nayla.
"Ya, Sayang," sahut Afwi yang patuh dengan permintaan istrinya.
"Kita shalat magrib dulu baru nanti aku bereskan barang-barangnya!" ajak Nayla yang semakin hari semakin bijaksana.
Selama beberapa hari tinggal bersama kedua mertuanya membuat Nayla belajar banyak hal dari bunda Yasmin yang begitu lembut dan telaten dalam melayani kebutuhan ayah Yudha.
"Kamu makin pinter aja sih tiap hari jadi makin cinta kalau begini," ucap Afwi sambil memeluk sang istri dari belakang.
"Alhamdulillah, tapi abang terlalu memujiku, aku belum sehebat bunda Yasmin dalam merawat keluarga."
"Kamu tak perlu sehebat bunda, jadilah hebat dengan versi kamu sendiri namun harus tetap berpegangan pada ajaran agama kita dan aku yakin suatu saat kamu juga akan sehebat bunda dalam hal apapun, kamu hanya butuh waktu saja, bunda hebat karena jam terbangnya jauh lebih banyak dari pada kamu," ucap Afwi sambil masih memeluk istrinya dari belakang.
Nayla pun tersenyum mendengar ucapan suaminya dengan posisi memeluknya, dia mengerti apa yang diucapkan oleh suaminya. Setelah acara pelukan mereka selesai, Afwi mengajak Nayla untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah. Selesai shalat Nayla melipat mukena lalu duduk di sofa kamar, ia menyandarkan punggungnya di sofa sambil memejamkan mata.
"Capek?" tanya Afwi yang kemudian duduk di sebelah Nayla.
Mata Nayla terbuka, senyum manis tersungging di bibirnya melihat sang suami duduk disampingnya dengan pakaian koko dan sarung yang masih melekat di tubuhnya. Sungguh demi apapun sang suami terlihat lebih tampan dengan setelan baju muslim.
"Aku hanya senang melihat penampilan abang begini, terlihat lebih tampan, orang tak akan mengira kalau abang ini seorang polisi," jawab Nayla terkekeh geli.
"Kamu baru nyadar ya, Dek, kalau abang selalu terlihat tampan dengan baju apapun," Afwi narsis.
Nayla kembali tertawa mendengar ucapan suaminya yang narsis itu, namun tawanya terhenti ketika mengingat sesuatu yang ingin ia tanyakan pada suaminya.
"Tadi abang mau cerita soal di supermarket itu, sekarang cerita sama Nay, apa yang menjadi masalah abang, siapa tahu, Nay, bisa bantu."
"Kamu ingat, Dek, saat kita berbulan madu di Bandung, aku pernah cerita melihat salah satu anggotaku bersama seorang wanita yang bukan istri sahnya, waktu itu abang berusaha positif thinking, tapi makin kesini abang makin yakin kalau anggota abang yang bernama Fabian itu punya hubungan khusus dengan wanita lain, terindikasi selingkuh lah, dan abang akan menyelidikinya. Abang ingin menyelematkan Fabian dari kehancuran jika benar dia berselingkuh, karen pertaruhannya adalah pekerjaan dan nama baiknya juga nama baik institusi tempat kami bekerja. Kamu tahu sendiri kan, Dek, semenjak kasus pembunuhan anggota kepolisian oleh komandannya sendiri itu, tingkat kepercayaan masyarakat pada institusi kami turun drastis. Di luar sana banyak yang berusaha keras mendapatkan pekerjaan seperti kami, menjadi polisi, tentara maupun pegawai negeri sipil, bahkan sampai ada menempuh jalan tidak benar demi menjadi abdi negara seperti kami, tapi yang sudah mendapatkan posisi itu malah menyia-nyiakan nya dengan perbuatan bodoh," terang Afwi panjang lebar dan itu membuat Nayla mengerti kegalauan sang suami karena tanggung jawabnya terhadap anggotanya.
"Nay, hanya bisa berdoa untuk abang semoga bisa segera menyelesaikan masalah Fabian ini dan juga abang selalu diberi keselamatan oleh Allah, bekerja di jalan yang benar. Abang jangan sekali-kali kasih aku makan dengan uang haram karena kata bunda Nana itu akan berdampak buruk tak hanya pada diri sendiri dan orang lain tetapi juga anak keturunan kita nanti."
__ADS_1
"Aku bahagia kamu bisa mengerti abang, Dek, abang jadi makin cinta sama kamu," ucap Afwi lalu mencium gemas pipi istrinya.
Nayla hanya tersenyum mendapat perlakuan yang begitu manis oleh pak polisi ganteng kesayangannya itu.
.
.
Di Semarang, Afwa dan Kirana sudah sampai pada pukul tiga sore tadi karena Afwa memilih naik mobil pribadi dan tanpa sopir. Mereka langsung menuju rumah dinas khusus tentara yang sudah menikah. Sampai di rumah dinas jam tiga sore tadi mereka di sambut hangat beberapa ibu persit yang menjadi tetangga mereka. Afw tak perlu membeli perabotan lagi karena dua hari yang lalu ia sudah meminta tolong temannya untuk membelikan dan memasukkannya ke dalam rumah.
"Kamu pasti nggak asing dengan rumah seperti ini, Yang," ucap Afwa setelah keluar dari kamar dan duduk di kursi tamu.
"Iya, nggak beda jauh dari rumah dinas ayah dulu, hanya sekarang modelnya lebih bagus dari rumah dinas tentara waktu zaman ayah."
"Sebenarnya kita bisa saja tinggal di rumah kita sendiri, kamu tinggal pilih tinggal dimana nanti asisten ayah yang akan mengurus, tapi aku ingin merasakan bagaimana tinggal di rumah dinas bersama istriku, aku selalu melihat rekan-rekan kerjaku yang sudah menikah tinggal di rumah dinas dan sepertinya sangat menyenangkan."
"Benarkah? memang mas Afwa dulu belum pernah tinggal di rumah dinas tentara bersama ayah dan bunda?"
"Belum, dulu sebelum kami lahir, ayah sudah mengajak bunda pindah ke rumah pribadi ayah, jadi nggak ngerasain bagaimana tinggal di rumah dinas tentara."
"Terus sekarang sudah merasakan kan? bagaimana rasanya?"
"Ya sejauh ini oke, nggak tahu besok-besok, apalagi sebulan lagi mas kan tugas ke Papua, beneran, Yang, kamu berani tinggal sendiri di sini?"
"InsyaAllah berani, Mas, kan ada tetangga dan om-om yang jaga."
"Makasih ya istriku, kamu benar-benar pengertian dan pemberani," ucap Afwa lalu membelai kepala Kirana penuh sayang.
"Sama-sama, Mas, kita akan berjuang bersama, aku akan selalu setia mendampingi mas, saat mas jauh dari jangkauan, maka aku akan memeluk mas dalan doa, biarlah Allah dan Rasulullah yang akan menjaga mas," ucap Kirana lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Afwa mendekap erat tubuh Kirana sambil menghujani kepala sang istri dengan ciuman cinta dan kasih sayang, ia sungguh beruntung mendapatkan istri seperti Kirana, dalam hati Afwa selalu berharap dan berdoa dia akan berjuang untuk selalu bisa pulang dengan selamat saat menjalankan tugas nanti.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...