
Keesokan harinya, Afwi dan Nayla memulai trip perjalanan bulan madunya di beberapa daerah wisata di kota Bandung. Bahagia itu sederhana jika kita mau bersyukur, salah satunya adalah Nayla yang sebenarnya bisa menikmati bulan madu di luar negeri karena ia menikah dengan seorang putra pengusaha ternama, namun ia memilih untuk pergi bulan madu di Indonesia. Tempat pertama yang di datangi Afwi dan Nayla adalah Puncak Ciumbuleuit. Sepasang pengantin baru itu sangat menikmati pemandangan di tempat itu.
"Kamu suka, Dek, tempat ini?" tanya Afwi sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Suka, Bang, dari atas sini pemandangannya indah, apalagi kalau lihatnya sama abang," jawab Nayla sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, kamu suka."
"Di manapun tempatnya jika bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita, hal itu akan terasa indah dan membahagiakan."
"Pinter banget sih jawabnya jadi gemas."
"Abang, tahu, aku bisa mengatakan itu karena aku pernah hampir kehilangan abang, melihat abang terbaring tak berdaya bahkan harus di bawa ke Singapura, hatiku hancur, Bang, aku takut abang tak akan pernah bangun lagi, jadi aku akan sangat menghargai semua waktuku bersama abang, di manapun dan kapanpun karena waktu tak akan pernah kembali."
Mendengar penuturan istrinya, Afwi yang sedang memeluk Nayla dari belakang, melepas pelukannya lalu membalikan tubuh Nayla menghadapnya. Dia memegang dagu Nayla agar wajah sang istri menatapnya, Afwi memandang lekat bidadari nya dengan penuh cinta.
"Sayang, terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku, mulai sekarang jangan pernah sedih lagi, kita akan selalu sama-sama, aku akan berusaha membahagiakanmu, aku harap kamu akan selalu bersabar dalam mendampingi aku, karena perjalanan rumah tangga kita pasti tak akan selalu mulus. Kita harus saling percaya dan mendoakan, waktu mengucap ijab qobul atas namamu berarti semua yang ada padamu adalah tanggung jawabku, saat abang mengucap saya terima nikah dan kawinya Nayla artinya abang harus juga terima cerewetmu, manjamu, marahmu dan semua kekuranganmu yang lainya, bahkan surga dan nerakamu aku ikut bertanggung jawab."
"Uuuhh, makasih ya abang, Nay cinta sama abang, Nay janji bakal berusaha jadi istri yang baik buat abang, kalau Nay salah, abang jangan segan mengingatkan Nay," ucap Nayla lalu memeluk Afwi dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Selesai menikmati pemandangan di Puncak Ciumbuleuit, Afwi dan Nayla mencari resto di sekitar area tersebut untuk makan siang. Setelah menemukan resto yang cocok mereka langsung memesan makanan, sambil menunggu pesanan, mereka mengobrol ringan.
"Bang, waktu kemarin kita di kedai xx abang memperhatikan seorang laki-laki yang katanya teman abang, memang teman apa, Bang?" tanya Nayla.
"Sebenarnya bukan teman juga sih, lebih tepatnya dia mirip dengan salah seorang anggotaku," jawab Afwi.
"Kenapa abang nggak langsung tegur aja sih pakai diperhatikan segala?"
"Bukan gitu, Dek, abang hanya merasa aneh saja, anggota abang itu sudah menikah tapi perempuan yang bersamanya di kedai itu bukan istrinya dan mereka terlihat sangat mesra."
"Mungkin itu adik perempuannya kali, seperti Aryana yang suka manja sama abang dan mas Afwa."
"Yaelah, Dek, mesranya kakak adik gak gitu juga lah, abang bisa bedain."
"Jadi kalau boleh di bilang anggota abang selingkuhin istrinya gitu?"
"Ya gak tahu juga, cuma abang ngerasa ada yang nggak beres."
"Terus kalau nantinya benar anggota abang melakukan hal itu bagaimana? apa secara kedinasan ada sanksinya?"
"Ya ada, apalagi jika bukti-bukti dan saksi yang diajukan sangat kuat bisa sampai pemberhentian tidak hormat, memang nya kamu nggak tahu peraturan di kepolisian, kan papa polisi juga."
"Nggak tahu, 'kan aku sejak SMA tinggal di panti, aku nggak mau tahu urusan papa dan segala hal yang berhubungan dengan papa, termasuk peraturan dalam kepolisian, hubungan kami buruk, tapi wah ngeri juga ya, padahal di luar sana banyak yang ngebet pingin jadi anggota kepolisian, bahkan sampai ada yang rela pakai jalan pintas, eh yang sudah jadi polisi malah melakukan hal seperti itu sampai kehilangan karier," ucap Nayla mengomentari.
"Ya begitulah, Dek, kalau orang itu nggak bersyukur, rumput tetangga akan terlihat lebih hijau, di rumah ada yang halal dan penuh barokah malah cari yang haram di luar," ucap Afwi.
"Kalau abang sampai selingkuhin Nay, bukan hanya karier abang yang akan tamat tapi burung kesayangan abang juga akan the end, buat apa ganteng dan kaya kalau burungnya nggak bisa apa-apa, mana ada perempuan yang mau," ancam Nayla dengan muka yang membuat Afwi meringis dan reflek tangannya melindungi burung berharganya dengan tangannya.
__ADS_1
"Ya Allah, Dek, sadis amat, abang nggak mungkin lakuin itu, Dek, abang bisa di coret dari kartu keluarga Dewantara belum lagi marahnya bunda, bisa gagal masuk surga abang."
"Makanya, jadikan kasus-kasus perselingkuhan itu pelajaran buat kita, apa yang kita tanam itu juga yang kita tuai, bahkan kadang anak keturunan yang jadi korban."
"Iya, Dek semoga kita selalu dilindungi dari perbuatan-perbuatan tercela, sudah ah jangan bahas begituan tuh makanan kita sudah datang!" ucap Afwi sambil menunjuk pelayan yang mendekat ke meja meraka sambil membawa makanan yang telah mereka pesan.
Mereka kemudian segera menyantap hidangan yang sudah mereka pesan tadi, tak ada suara lagi karena mereka begitu menikmati makanan tersebut dan tak membahas tentang anggota Afwi yang dicurigai telah berselingkuh. Selesai makan Afwi dan Nayla kembali melanjutkan destinasi wisata yang lain, pukul tujuh malam sepasang suami pengantin baru sampai villa.
"Ah lelahnya, Bang," keluh Nayla sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Tapi kamu senang, kan?"
"Senang sih tapi capek juga."
"Kalau pingin nggak capek bulan madunya di villa saja, lebih tepatnya di kamar."
"Ih abang mesum, mana ada begitu, bisa remuk badan Nay kalau bulan madunya di kamar terus," kesal Nayla karena ia tahu sang suami tak akan berhenti mengabsen tubuhnya jika sudah berdua di kamar.
"Terus kita mau bulan madunya gimana biar nggak capek?"
" Ya kalau capek, abang harus pijitin Nay."
"Oke, siap, tapi pakai plus-plus ya ?"
"Abang......"
Akhirnya setelah tiga hari berbulan madu, Afwi dan Nayla segera kembali ke kota K untuk persiapan ngunduh mantu. Namun sebelum mereka pulang, Afwi mengajak Nayla mampir sebentar ke kantor polisi tempat dirinya berdinas. Afwi sampai disana setelah sekitar jam satu siang, sampai di kantor beberapa rekan afwi memberi ucapan selamat.
"Alhamdulillah rezeki anak sholeh, setelah menikah makin mempesona," ucap Afwi narsis.
Afwi dan Nayla beramah tamah sebentar dengan beberapa rekan polisi, kemudian Afwi mengajak salah seorang polisi yang cukup dekat dengannya di kantor untuk bicara empat mata sebentar tak lupa Afwi pamit sebentar pada istrinya jika ada urusan sebentar dengan rekannya
"Ipda Ahmad, apa kamu masih menyimpan foto bersama ibu-ibu bayangkari waktu acara kemarin?" tanya Afwi.
"Masih, tapi untuk apa kamu menanyakannya?"
"Aku hanya ingin memastikan satu hal."
"Hal apa?"
"Kasih lihat dulu fotonya!"
Ipda Ahmad lalu mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan foto bersama ibu-ibu Bhayangkari termasuk istrinya yang juga ikut berfoto jadi Ipda Ahmad juga menyimpan foto tersebut.
"Mana istri Briptu Fabian?" tanya Afwi sambil memegang ponsel Ipda Ahmad.
"Kenapa kau menanyakan istri Briptu Fabian?"
__ADS_1
"Hanya ingin memastikan saja ingatanku tak salah."
Meski bingung, Ipda Ahmad menunjukkan yang mana wanita di foto itu yang menyandang status istri Briptu Fabian.
"Yang ini!" tunjuk Ipda Ahmad.
Afwi memperhatikan wajah istri Briptu Fabian dengan seksama, dalam hati ia mencoba membandingkan dengan perempuan yang bersama laki-laki yang ia duga adalah Briptu Fabian.
"Kalau benar Fabian selingkuh, dia sungguh bodoh, istrinya jauh lebih cantik secara fisik dari pada perempuan kerempeng itu," batin Afwi, aku harus menyelidikinya, Fabian anggotaku, aku punya tanggung jawab moral padanya, semoga dugaanku salah ya Allah.
"Ipda Afwi, sebenarnya ada apa kamu ingin tahu tentang istri Briptu Fabian?" tanya Ipda Ahmad penasaran.
"Kemarin waktu bulan madu bersama istriku aku melihat laki-laki mirip sekali dengan Briptu Fabian, dia sedang bersama seorang wanita dengan sikap yang cukup mesra, tapi aku yakin bahwa perempuan itu bukan istri Fabian, makanya aku ingin meyakinkan diriku soalnya kan aku belum hafal wajah-wajah istri semua polisi di sini."
Mendengar penjelasan Afwi, Ipda Ahmad menghembuskan nafas kasar, sepertinya dia mengetahui sesuatu tentan Briptu Fabian.
"Begini, aku sendiri belum tahu pasti, tapi memang aku dengar dari anak-anak Briptu Fabian memang sering jalan dengan perempuan yang bukan istrinya, belum ada bukti yang valid dan juga Briptu Fabian terlihat mesra dengan istrinya. Lagipula aku pernah tak sengaja mendengar saat rekan Briptu Fabian menanyakan perihal wanita lain yang bersama Briptu Fabian dan ia menjawab wanita itu hanya sepupunya."
"Sepupu dari hongkong, sepupu ketemu gede iya, mana ada sepupu mesranya kayak gitu," umpat Afwi dalam hati setelah mendengar penjelasan Ipda Ahmad.
"Ya sudah, terima kasih infonya, aku minta rahasiakan apa yang kita bicarakan ini, akan aku urus setelah cutiku selesai " pinta Afwi yang di iyakan oleh Ipda Ahmad.
"Baiklah, nikmati waktumu dengan istrimu, tidak usah mikir yang lain, kalau kau nanti sudah kerja waktumu pasti tersita banyak dipekerjaan!" ucap Ahmad sambil menepuk-nepuk pundak Afwi.
Setelah berbincang dengan Ipda Ahmad, Afwi kembali menemui istrinya yang berada di luar ruangannya, terlihat sang istri sedang mengobrol dengan dua orang polwan.
"Sayang, ayo.pulang!" ajak Afwi sambil memegang pundak sang istri dari belakang.
"Sudah selesai, Ban?"
"Sudah."
Dua polwan yang sedang berbicara dengan Nayla, salah satunya adalah Briptu Kikan yang pernah membantu misi penyamaran Afwi untuk membongkar kasus pembunuhan, mereka sedikit terkejut dengan sikap Afwi yang begitu manis pada istrinya, sangat berbeda dengan sikap Afwi jika bekerja.
"Kalian terima kasih sudah menemani istri saya mengobrol," ucap Afwi.
"Sama-sama, Pak," jawab kedua polwan tersebut.
"Briptu Kikan, mana Denis dan Samsul, aku tak melihatnya?" tanya Afwi yang tak melihat anak buahmya yang dulu satu tim dengannya.
"Siap, mereka ada tugas keluar."
"Ya sudah, saya mau pulang dulu, sampaikan aalamku pada mereka," ucap Afwi kemudian mengandeng Nayla meninggalkan kantor polisi tersebut.
________________________________________
Terjawab sudah ya siapa lak-laki misterius yang di lihat Afwi.
__ADS_1
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
Thank You