
Dua hari Fahmi, Aryana dan anak-anaknya menginap di kediaman keluarga Pratama sebelum nanti mereka akan terbang ke kota S ke kediaman Yudhatama. Selama dua hari papi Pratama dan mami Miranda sangat memanjakan keempat anak Fahmi, termasuk kakak angkat Fahmi yaitu Rendy dan keluarganya menyambut antusias Fahmi dan kelurga kecilnya. Anak-anak Rendy sangat senang, mereka sangat gemas dengan keempat enak adiknya itu.
Sekarang mereka sedang berada area bermain di pusat perbelanjaan di Jakarta, mereka sangat antusias ke empat batita itu tertawa gembira membuat tuan dan nyonya Pratama sangat bahagia, di masa tua mereka masih di beri kesempatan mengendong dan bermain dengan cucu kandung mereka yang terlahir kembar, di tambah cucu angkat yang sangat berjasa dalam kehidupan sang putra.
"Apa kalian tidak bisa lebih lama lagi di sini, kami masih kangen dengan anak-anak kalian?" tanya papi Pratama.
"Kami sebenarnya ingin, papi, tapi kami di sini tak hanya berlibur tapi juga mengemban misi menyelamatkan nyawa seseorang yaitu, Raka. Dulu saat semua orang menentang hubunganku dengan Aryana, hanya Afwa yang bisa mengerti kami, dia bijaksana dalam berfikir. Kini saatnya aku menolongnya, Pi," jawab Fahmi.
"Baiklah, papi mengerti, tapi papi harap kalian harus lebih sering pulang ke sini!" pinta papi Pratama.
"InsyaAllah, Pi, nanti kalau Aryana sudah menyelesaikan pendidikan dokternya di Singapura, kami akan berencana kembali ke tanah air," ucap Fahmi.
"Oh syukurlah kalau kalian punya pemikiran seperri itu."
Keluarga Pratama hari ini dengan formasi lengkap menghabiskan waktu bermain dan makan bersama keluarga, karena besok Fahmi, Aryana dan keempat anaknya akan menuju kota S ke rumah Yudha.
Keesokan harinya, Fahmi, Aryana dan anak-anaknya terbang ke kota S, sampai di kota S, Fahmi, Aryana, dan anak-anaknya di jemput oleh Yudha dan Yasmin.
"Bagaimana perjalanan kalian, lancar kan?" tanya Yasmin ketikan anak dan cucu-cucunya turun dari jetpri.
"Alhamdulillah baik bunda," jawab Aryana.
"Ih, cucu eyang, cantik banget, ganteng juga," ucap Yasmin yang langsung mengendong Alesya, sedangkan Yudha mengendong Arsen, Azka mengendong Alya.
"Ih ponakan Om cantik baget sih, gemess," ucap Azka menciumi wajah Alya.
"Ayo kita segera naik ke mobil kasihan anak-anak!" ajak Yudha.
Mereka semua segera masuk ke mobil menuju kediaman
Yudha, setelah setengah jam akhirnya mereka sampai di rumah besar Yudha, dan ternyata di sana sudah ada keluarga Yasmin dan keluarga Yudha menyambut kedatangan Fahmi dan Aryana sekeluarga.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
"MasyaAllah cicitku sudah besar sekarang!" pekik oma Dewi heboh, keluarga Yudha dan Yasmin saling berebut mengendong keempat anak Fahmi dan Aryana.
"Habis dari sini nginap di rumah kakek Danu ya," ucap ayah Yasmin.
"Ya di rumahku dulu dong, baru rumah kamu," seloroh opa Dimas tak mau kalah.
"Hish, sudah kalian anak anak cucu baru nyampe malah berdebat!" tegur bunda Ratna.
"InsyaAllah nanti semua kebagian kami datangi meski cuma sebentar, karena kami disini juga harus pergi ke Semarang melihat kondisi Raka," ucap Fahmi.
"Sebaiknya kalau nanti kalian ke Semarang, anak-anak di tinggal saja kan kalian mau tengok orang sakit masa bawa bayi," usul oma Dewi.
"Tapi ini lingkungan baru, kami takut mereka rewel," ucap Aryana khawatir.
"Begini saja, kita semua ke Semarang menginap di hotel DW group, jadi kalau anak-anak Aryana rewel jaraknya tak terlalu jauh," usul Yudha.
__ADS_1
"Wah ide bagus itu lama papa tidak liburan hanya membantumu terus di perusahaan," ucap opa Dimas yang serasa mendapat angin segar.
"Halah papa, liburan, bukankah kemarin habis dari Turki sama mama dan aku yang harus mengerjakan semuanya," cebik Yudha.
"Cuma empat hari di sana, Yud, yang dua hari buat meeting," ucap papa Dimas.
"Ya tapi kan masih sempat dua hari liburan kan," dengus Yudha kesal.
"Sudah-sudah, pokoknya besok kita ke Semarang semua, biar adil dan semua senang!" putus Yasmin mendengar perdebatan suami dan ayah mertuanya.
Keluarga Yudha dan keluarga Yasmin benar-benar sangat antusias dengan kedatangan Fahmi, Aryana dan keempat anaknya. Tak tanggung-tanggung Yudha sudah menyiapkan catering terbaik untuk penyambutan anak dan cucunya, berbagai menu masakan nusantara kesukaan Aryana dan kesukaan anggota keluarganya yang lain terhidang di sana. Gurami bakar, terancam, sup iga sapi, tengkleng sayur lodeh, ayam goreng jawa, es buah dan makanan pelengkap lainnya.
Sesuai yang sudah di rencanakan, hampir semua keluarga Yasmin dan Yudha pergi ke Semarang, mereka akan menengok Raka sekaligus bertemu Afwa. Para batita Fahmi tidak terlalu rewel mereka sepertinya mudah beradaptasi dengan orang baru dan suasana baru. Yudha merasa sangat bahagia setelah perjuangan panjang menjaga putri tercinta sekarang ia, di karunia empat orang cucu sekaligus dari putri tercintanya. Sekarang mereka sudah sampai di hotel DW group.
"Kamar kalian sudah di siapkan, sebaiknya semua istirahat dulu, terutama kamu Aryana, jika anakmu rewel dan kau kewalahan jangan sungkan meminta bantuan kami!" pinta Yudha.
"Iya, Yah."
Setelah mendapatkan kunci akses, semua anggota keluarga menuju kamar mereka mading-masing, Yudha sengaja menempatkan kamar keluarganya di satu blok agar lebih mudah dalam berkomunikasi dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan. Di dalam kamar, Fahmi dan Aryana menidurkan keempat anaknya di tempat tidur, keempat batita itu sudah tertidur pulas, mungkin karena kelelahan menjadi mendadak artis bagi keluarga besar orang tua mereka.
"Sayang...apa kau bahagia hem?" tanya Fahmi sambil memeluk Aryana dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Tentu saja aku bahagia ini pertama kalinya kita pulang ke tanah air setelah aku melahirkan," jawab Aryana.
"Aku juga sangat bahagia, apalagi melihat ke empat orang tua kita begitu sangat menyayangi anak-anak kita termasuk Alesya yang tak punya hubungan darah dengan kita," ucap Fahmi.
"Iya, aku berharap Alesya bisa menerima kenyataan yang sebenarnya jika ia sudah besar nanti," harap Aryana pada masa depan Alesya.
"Honey, kamu pintar banget sih, belajar dari mana coba?"
"He..he.., kemarin gak sengaja lihat post dakwahya UAS bahas tentang itu," jawab Fahmi.
"Heh, kirain baca buku agama, ternyata..."
"Lho nggak apa-apa lihat ceramah para ustad levat YT lebih efisien dan menarik, yang penting ilmunya masuk dan di praktekan, iya kan?"
"Iya-iya, my Honey, jadi gemess," ucap Aryana sambil memencet hidung mancung sang suami.
"Yuk, Yang kamu juga harus istirahat mumpung amak-anak juga tidur, besok baru kita ke rumah sakit menjenguk om Raka!" ajak Fahmi.
Tak berapa lama Aryana sudah tertidur pulas di pelukan sang suami, Fahmi menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istri kecilnya yang luar biasa.
"Selamat tidur my love," ucap Fahmi lalu mendaratkan ciuman di kening, pipi dan bibir sang istri.
Adzan subuh mulai sayup-sayup terdengar, Aryana dan Fahmi menjalankan shalat subuh berjamaah di kamar hotel, setelah shalat mereka melihat anak-anak mereka masih tertidur pulas, namun tak lama Arsen dan Alya membuka matanya, Fahmi lalu mengendong Arsen dan Aryana mengendong Alya.
"Jagoan dan Princess papa sudah bangun, ya mau minum susu?" tawar Fahmi yang diangguki balita dua tahun lebih itu.
Tak lama kemudian Arnan dan Alesya juga bangun, dengan sigap Fahmi dan Aryana mengurus keempat anak-anak mereka tanpa bantuan siapapun. Fahmi dan Aryana tak ingin menyusahkan para oma dan opa juga saudara yang lain.
"Honey kita mandikan saja sekalian ya, anak-anak baru setelah itu kita gantian mandi!" usul Aryana.
__ADS_1
" Ya, sayang, kita mandikan anak-anak sama-sama."
Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam Fahmi dan Aryana selesai memandikan dan mendandani ke empat anak-anaknya.
"Nah sudah mandi, semua, sudah ganti baju, sekarang kalian ikut papa dulu ya, mama mau mandi," pamit Aryana pada keempat anakmya yang sudah wangi duduk di tempat tidur.
Setelah Aryana selesai mandi dan berganti baju, kini Fahmi yang mandi, pada saat itulah terdengar ketukan pintu kamar.
"Tok tok, Aryana...!, Fahmi..!, apa kalian sudah bangun?" panggil bunda Yasmin.
"Sudah, Bun!" sahut Aryana lalu ia menuju pintu dan membukanya.
Ceklek
Tampak Aryana sudah rapi dengan mengendong Alya yang juga sudah cantik dan wangi.
"Hai cucu uti, sudah mandi ya kok wangi?"
"Sudah uti, Alya sudah wangi," jawab Aryana mewakili sang putri yang sibuk memainkan jarinya.
"Anak-anak sudah mandi semua, Nak?"
"Sudah bunda, aku dan mas Fahmi yang memandikan."
"Kenapa nggak minta bantuan bunda sih?"
"Nggak, Bund, kami ingin mandiri dan nggak ingin menganggu bunda dan yang lainnya."
"Kamu ini ngomong apa sih, kalian nggak menganggu, kami senang jika tenaga kami masih di butuhkan."
"Siapa Sayang?" tanya Fahmi dari dalam kamar mandi.
Mendengar suara Fahmi, Yasmin segera undur diri dengan membawa Alya.
"Itu suamimu urus dulu biar Alya bunda bawa!" ucap Yasmin kemudian mengambil Alya dari gendongan Aryana kemudian meninggalkan kamar sang putri.
"Sayang...siapa tamunya?" tanya Fahmi lagi yang sekarang sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk putih melilit di pinggangnya.
"Bunda, nanyain kita, terus ia bawa Alya."
"Ya sudah, sekarang aku ganti baju dulu sebentar lagi kita ke bawah menemui para oma dan opa, lalu sarapan bersama setelah itu kita ke rumah sakit jenguk om Raka."
"Lalu anak-anak?"
"Ya biar diasuh old baby sister dulu lah, 'kan mereka yang menawarkan diri kemarin."
Mendengar perkataan suaminya, Aryana tersenyum, sepertinya ia akan menikmati kebersamaannya hanya berdua dengan suami tercinta, sambil menyelam minum air, nggak salah kan asal nggak tengelam aja.
_________________________________________
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah
__ADS_1
Thank You