
Fahmi dan Aryana jalan-jalan berkeliling hotel milik DW group itu, tangan Fahmi tak lepas mengandeng tangan Aryana seolah dua pasangan yang baru saja halal itu tidak dapat di pisahkan. Setelah puas jalan-jalan mereka ke privat room restauran hotel untuk sarapan bersama keluarga Fahmi. Memang selama keluarga Fahmi menginap di hotel Dewantara, Yudha sudah meminta pihak hotel untuk memberikan pelayanan khusus. Jangan tanyakan biayanya, semua sudah di urus oleh Yudha.
"Sayang, kita langsung ke privat room ya ini mami sudah telpon!" pinta Fahmi.
"Iya, Honey, sebaiknya kita segera kesana, tak enak kalau papi dan mami menunggu terlalu lama," ucap Aryana.
Fahmi dan Aryana kemudian segera ke restoran menemui keluarga Fahmi. Di sana sudah ada papi, mami Fahmi, Rendy dan keluarganya.
"Assalamualaikum," ucap Aryana dan Fahmi bersamaan.
"Waalaikumsalam, jawab orang tua Fahmi.
"Ah kalian, ayo sini duduk, kita sarapan bersama!" ajak nyonya Miranda mami dari Fahmi.
"Terima kasih, Mi," ucap Aryana.
"Bagaimana istirahat kalian?" tanya nyonya Miranda.
"Istirahat kami baik, Mi," jawab Fahmi.
"Apa calon cucuku sudah dalam pemrosesan?" tanya tuan Pratama yang membuat Fahmi dan Aryana saling pandang.
"Papi bicara apa sih, tuh lihat Aryana sudah merona," ucap Winda istri Rendy.
"Doakan yang terbaik, Pi, Mi, aku dan Aryana sedang berusaha," ucap Fahmi yang membuat Aryana semakin malu.
"Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, oh ya siang ini nanti mami, papi dan Rendy sekeluarga akan kembali ke Jakarta, kami harus segera menyiapkan pesta pernikahanmu di Jakarta," ucap mami Miranda.
"Cepat sekali baliknya, Mi 'kan sudah ada pihak WO dan orang-orang kepercayaan kita, buat apa kita bayar mereka mahal-mahal kalau kita yang juga yang ikut turun tangan," ucap Fahmi sedikit kesal.
"Bukan begitu, Fahmi, kamu adalah anak kandung kami satu-satunya, mami hanya ingin memastikan semua berjalan dengan baik sesuai dengan permintaan kami. Waktu pernikahan kakakmu Rendy saja, papi dan mami juga ikut turun tangan meski sudah ada WO, apalagi ini pernikahan anak kandung kami sendiri, kami tak mau terjadi kesalahan sedikitpun, apalagi besan kita pemilik Dewantara group pasti pesta pernikahanmu akan menjadi sorotan banyak pihak termasuk pihak media," ujar mami Miranda.
Aryana yang mendengar penuturan mami mertuanya sungguh terharu, ternyata mertuanya adalah orang tua yang tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan anak angkat.
"Honey, kita nurut aja apa yang di katakan mami, merupakan kepuasan tersendiri bagi orang tua jika mereka bisa ikut andil dalam hari yang paling membahagiakan untuk anaknya," ucap Aryana lembut sambil mengusap tangan Fahmi yang ada di atas meja.
"Tuh, dengarkan kata istrimu, tinggal nurut ajak kenapa?" sungut Rendy sebal.
"Iya-iya, aku nurut, sekarang kalian puas mengeroyokku mentang-mentang ada sekutu baru," ucap Fahmi cemberut seperti abg labil yang kalah berdebat membuat keluarganya tertawa.
__ADS_1
"Honey ini minumanmu?" tanya Aryana
"Iya kenapa?" jawab Fahmi yang balik bertanya.
"Boleh aku minum minumanmu?" tanya Aryana lagi.
"Tentu saja, Sayang, tapi kenapa dengan minumanmu?"
"Ehm, nggak apa-apa cuma pingin minum satu gelas denganmu."
Setelah mendapat ijin dari suaminya, Aryana meminum minuman yang sudah diminum Fahmi yang tinggal setengah gelas. Orang tuan Fahmi dan keluarga kecil Rendy menatap heran apa yang di lakukan Aryana.
"Aryana, kamu nggak jijik minum minuman bekas suamimu?" tanya Winda istri Rendy.
"Kenapa harus jijik Kak, justru ini romantis seperti yang dilakukan Baginda Rasulullah SAW pada Sayidina Aisyah istri beliau. Bunda dan Ayah juga sering minum dari gelas yang sama bahkan makan dari sendok yang sama sambil saling menyuapi, aku aja sering dibuat baper sama ayah dan bunda. Waktu pertama aku melihat ayah minum dengan gelas yang sama dengan bunda, aku juga heran dan berfikir seperti kak Winda, apa nggak jijik, terus bunda bilang ini romantis seperti Rasulullah, begitu kata bunda, aku nggak percaya terus pas pelajaran agama di sekolah aku tanya sama pak guru agamaku, ternyata bunda nggak bohong, memang Rasulullah pernah minum dari wadah yang sama yang di pakai istrinya," jawab Aryana panjang lebar membuat kedua orang tua Fahmi dan Rendy serta Winda juga kedua anak mereka tertegun mendengar penjelasan dari menantu mereka yang masih belia.
Fahmi yang mendengar penuran sang istri juga ikut tertegun namun ia tak heran kenapa istri kecilnya bisa mempunyai pengetahuan seperti itu, tentu saja Yasmin yang mengajarkannya, dalam hati Fahmi sangat berterima kasih pada Yasmin yang sudah mendidik Aryana menjadi wanita yang punya akhlak yang baik dan juga ia harus berterima kasih pada Yudha yang sudah bersedia merestuinya dan memberikan putri yang paling berharga bagi Yudha untuk dirinya.
"Yasmin terima kasih telah mendidik seorang bidadari surga untukku dan untuk mu Yudha terima kasih kamu sudah mau memberikan restu pada kami, dan melepas putri mu satu-satunya yang paling kau sayangi untukku, aku berjanji akan menjaga Aryana dengan jiwa ragaku dan seumur hidupku," ucap Fahmi dalam hati.
"Ternyata tak salah Fahmi menunggumu selama tujuh belas tahun, mati-matian menolak semua wanita yang kami jodohkan dengannya," ucap tuan Pratama.
Aryana yang mendengar ucapan papi mertuanya hanya tersenyum cangung, Fahmi yang menyadari itu mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah, tadi sebelum kalian datang, Papi sudah menelpon ayah mertuamu, mereka minta maaf tidak bisa menemui kami di hotel sebelum kami nanti pulang, masih ada beberapa tamu yang datang ke rumah jadi tidak enak kalau meninggalkan tamu yang masih ada, begitu katanya," jawab papinya.
"Aku dan Aryana juga minta maaf tidak bisa mengantar kalian ke bandara," ucap Fahmi.
"Tidak apa-apa, kami memaklumi semuanya, yang penting kalian di sini sehat dan keluarga Dewantara semua sehat agar bisa ke resepsi pernikahanmu yang akan dilaksanakan di Jakarta," ucap mami Miranda.
"Terima kasih Mi, Pi, untuk pengertiannya, undangan ayah dan bunda memang sangat banyak, yang di rumah itu biasanya kerabat yang tinggalnya agak di desa jadi mereka segan kalau harus menghadiri acara pernikahan kami di gedung, juga teman-teman bunda dan ayah yang tidak sempat datang ke resepsi. Tolong di maklumi juga, kota S ini memiliki tingkat kekerabatan yang gemeinschaft yang artinya tingkat kekerabatan yang tinggi, jadi meski mereka tidak sempat hadir di resepsi biasanya mereka akan datang satu hari sebelum resepsi ataupun setelah resepsi, jika mereka tak bisa datang biasanya mereka menitipkan kado atau hadiah pada teman atau kerabat yang datang," ujar Aryana mejelaskan tentang kultur budaya di daerah tempat tinggalnya agar mertuanya bisa lebih memahami.
Ferdinand Tonnies mendefinisikan gemeinschaft sebagai bentuk kehidupan bersama yang masing-masing anggota diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan antar anggota ialah rasa yang dikodratkan, sehingga kehidupan tersebut bersifat organis dan nyata tanpa pamrih.
"Oh pantas saja, waktu kami menghadiri undangan malam pengajian menjelang pernikahan kalian, orang-orang yang berdiri di sisi kanan dan kiri gerbang rumah kamu semuanya menyambut dengan ramah dan senyum yang tulus," ucap mami Miranda.
"Oh itu namanya among tamu Mi, tugasnya memang menyambut tamu yang datang termasuk besan, para among tamu terdiri dari pihak kerabat dari ayah dan bunda yang sudah di tunjuk, juga beberapa pengurus RT dimana kami tinggal," ujar Aryana.
Mendengar penjelasan Aryana, papi Pratama dan mami Miranda juga Rendy dan keluarganya hanya mangut-mangut sepertinya mereka paham apa yang barusan di terangkan Aryana, sedangkan Fahmi tertawa dalam hati melihat ekspresi keluarganya mendengar penjelasan Aryana, seperti murid yang baru mendapat penjelasan dari gurunya.
__ADS_1
"Aryana Sayang sepertinya kamu lebih cocok jadi guru atau sosiolog daripada menjadi seorang dokter atau pembisnis," batin Fahmi.
Sarapan perdana Aryana bersama Fahmi dan keluarganya memberikan kesan tersendiri bagi keluarga Fahmi, mengenal sosok Aryana yang di usia belia memiliki pemikiran yang cukup dewasa dan wawasan yang luas. Bahkan keluarga Fahmi belajar hal-hal baru dalam kehidupan.
Setelah sarapan Fahmi dan Aryana pamit undur diri kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang mereka karena setelah melepas kepulangan tuan Pratama beserta keluarga, Fahmi dan Aryana akan pulang ke rumah Aryana dan akan tinggal sampai acara resepsi pernikahan mereka dilangsungkan di Jakarta.
Fahmi dan Aryana memasuki kamar mereka, sesampainya di kamar Fahmi langsung memeluk Aryana dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aryana.
"Sayang, aku makin cinta deh sama kamu," ucap Fahmi sambil memeluk Aryana dari belakang.
"Honey, kamu jangan gombal ya," ucap Aryana begitu mendengar ucapan Fahmi barusan.
"Aku nggak gombal, Sayang, apa masih pantas dengan umur yang hampir seabad ini memakai kata-kata gombal untuk merayu istri sendiri," ucap Fahmi membuat Aryana terkekeh.
"Kamu ini sebenarnya mau apa sih?, nggak usah muter-muter!" tanya Aryana.
"Aku mau kamu, Sayang," jawab Fahmi.
"Maksudnya kamu mau minta hak kamu sebagai suami?" tanya Aryana setelah memposisikan dirinya menghadap Fahmi.
"Iya, Sayang," jawab Fahmi dengan wajah yang sudah diliputi gairah.
"Tapi ini masih pagi, Honey gimana kalau ada yang datang," ucap Aryana.
"Nggak akan ada yang datang, Sayang, lagian malam pertama tidak harus dilakukan malam hari, gimana boleh ya?"
"Boleh, tapi wudhu dan shalat dua rekaat dulu!" ajak Aryana.
"Oke princess."
Fahmi dan Aryana kemudian mengambil wudhu dan shalat sunah dua rekaat sebelum melakukan jima (hubungan intim suami istri) hal ini bertujuan agar mereka dikarunia anak yang baik jika dari hubungan tersebut membuahkan seorang anak.
Fahmi membawa Aryana kepelukannya, lalu ia membaca doa disertai ciuman di kening Aryana. Fahmi mencium bibir Aryana lembut semakin menuntut dan Fahmi mencium bibir Aryana lebih dalam lagi. Aryana yang tak pernah berciuman sebelumnya hanya diam saja tapi Fahmi memahami itu lama kelamaan Aryana akan terbiasa dengan segala sentuhannya. Tangannya membuka kancing depan baju Aryana, satu per satu pakaian Aryan terlepas sehingga tanpa sehelai benangpun. Terlihat pemandangan yang indah, dua bukit kembar yang belum terlalu besar milik sang istri begitu menantang, Fahmi merebahkan tubuh polos Aryana, lalu ia juga melepas bagian terakhir yang menutup juniornya.
_______________________________________
Bentar lagi ya readers sabar MP nya akan segera dimulai.
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Coment, Rate and Favorit ya
__ADS_1
Thank You
Bersambung....