Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 203. Feeling Yasmin


__ADS_3

Pagi harinya selesai salat subuh, Kirana memutuskan untuk menelpon ibunya, ia akan mengabarkan tentang kehamilannya dan keberangkatan suaminya ke Papua. Awfa duduk di samping sang istri untuk memberikan support, perjuangan cinta mereka tidaklah mudah untuk mendapatkan restu sang ibu. Kirana mengaktifkan loud speaker agar Afwa juga bisa mendengar obrolannya dengan ibunya.


Kirana


"Assalamualaikum, Bu!"


Dinda


"Waalaikumsalam, Kiran, ada apa pagi-pagi begini sudah telepon?"


Kirana


"Nggak apa-apa, Bu, Bagaimana kabar ibu, ayah dan Kiara?"


Dinda


"Alhamdulillah semua sehat, bagaimana keadaanmu?"


Kirana


"Keadaanku, baik, Ibu aku ingin mengabarkan sesuatu."


Dinda


"Kabar apa?"


Kirana


"Besok Mas Afwa akan berangkat tugas ke Papua, tolong doakan ya Bu agar mas Afwa di beri keselamatan dan pulang dalam keadaan sehat."


Dinda


"Ibu akan selalu mendoakan tanpa kamu minta, ibu harap kamu bisa sabar, tegar dan harus siap menerima hal yang paling buruk.


Dinda mengatakan hal itu dengan nada datar dan tak tersirat rasa khawatir di setiap katanya, biasanya seorang ibu akan merasa khawatir jika anak perempuannya di tinggal tugas suaminya, namun tidak bagi Dinda.


Kirana


"Iya, Bu, Kiran akan sabar, dan akan menerima konsekuensi apapun karena menikah dengan anggota TNI memang harus siap menghadapi hal yang paling buruk."


Dinda


"Baguslah kalau kamu mengerti."


Kirana


"Sudah dulu ya, Bu, Kiran sayang ibu, salam untuk semuanya, Assalamualaikum," ucap Kirana mengakhiri telepon dengan sang ibu tanpa memberitahukan tentang kehamilannya.


"Lho, kenapa kamu nggak mengatakan kehamilanmu sama ibu?" tanya Afwa heran.


"Nggak jadi, Mas, aku nggak berani, apa tadi mas nggak dengan nada bicara ibu datar begitu pas aku nyingung tentang keberangkatan Mas ke Papua buat Satgas," jawab Kirana dengan suara menahan tangis.


Afwa memeluk istrinya dari samping, sambil mendaratkan ciuman di kepala Kirana. Dia tahu bahwa istrinya tak akan mampu menerima jika ibunya sendiri justru tak mensupportnya. Afwa akan menghargai dan menerima apapun keputusan sang istri, termasuk jika Kirana tak akan memberi tahukan kehamilannya pada ibu kandungnya sendiri.


"Sayang, yang sabar ya, nanti Mas akan bilang sama bunda tentang kehamilan kamu, beliau pasti senang, terus kamu benar-benar nggak jadi kasih tahu ibu Dinda tentang kehamilanmu?"


"Aku akan kasih tahu ibu, tapi nggak sekarang, aku belum siap"

__ADS_1


"Baiklah, tak apa-apa, Mas akan mendukung apapun keputusanmu, kalau begitu Mas mau menelpon bunda dulu, ya, sekalian besok minta kesini biar bisa ikut antar Mas sekalian menemani kamu," ucap Afwa kemudian ia segera memberi tahu sang bunda.


Yasmin yang tengah membantu art memasak di dapur sedikit terkejut ketika ponselnya berbunyi dan tertera nama putra sulungnya.


Afwa


"Assalamualaikum, Bunda!"


Yasmin


"Waalaikumsalam, Afwa, apa kabar?"


Afwa


"Alhamdulillah Afwa baik."


Yasmin


"Tumben pagi-pagi telepon."


Afwa


"Bund, bisa tidak besok pagi bunda ke Semarang, aku mau berangkat tugas ke Papua, tolong temani Kirana dan ada yang ingin aku sampaikan sama bunda tapi nggak bisa lewat telepon."


Yasmin


"Baiklah, besok pagi bunda akan kesana dengan ayahmu, kalau ayahmu tak sibuk sore ini bunda dan ayah akan langsung ke Semarang."


Afwa


"Terima kasih, Bunda, salam buat semuanya, Assalamualaikum."


Yasmin


Setelah Afwa menutup teleponnya, ia memandang sang istri sambil tersenyum fan berkata, "semua akan baik-baik saja, sekarang Mas akan keluar sebentar buat beli sarapan, kamu mau makan apa?"


"Terima kasih, Mas sudah mau mengerti dan mendukungku," ucap Kirana sambil memeluk suaminya.


"Sama-sama, Sayang, tak perlu berterima kasih, Mas adalah suamimu sudah kewajiban Mas buat melindungi kamu, dan manjadikan Mas tempat bersandarmu yang paling hangat," ucap Afwa setelah mengurai pelukan istrinya.


"Sekarang jawab mau sarapan apa? nanti Mas keburu telet ke markas," lanjut Afwa.


"Terserah Mas, saja yang penting cari warung yang nggak antri!"


"Oke, my wife, Mas jalan dulu, dan ingat sikap ibu Dinda jangan dipikirkan ya!"


Afwa kemudian mengambil kunci motor lalu segera pergi untuk membeli sarapan, kondisi Kirana belum sepenuhnya fit, ditambah beban pikirannya karena harus ditinggal tugas saat ia hamil, maka Afwa lah yang lebih banyak mengambil alih urusan rumah tangga. Afwa ingin mengurus istri dan calon anaknya dengan baik sebelum ia berangkat bertugas karena ia tak akan pernah tahu nasib apa yang akan menimpanya di Papua.


Selang lima belas menit, Afwa sudah kembali ke rumah dengan membawa dua bungkus nasi uduk dengan lauk yang komplit dan gorengan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam, dapat sarapannya, Mas?"


"Dapat, nasi uduk sama gorengan."


"Sebentar aku ambil piring dan sendok dulu."

__ADS_1


Afwa dan Kirana sarapan pagi dengan nasi uduk yang di beli oleh Afwa, meski rasanya tak selera makan namun Kirana berusaha untuk makan meski tak habis, ia harus menghargai suaminya yang sudah mengambil alih tugasnya mengurus rumah demi anak mereka


"Kok nggak di habiskan sih, Yang?"


"Perutku sudah kenyang, Mas, ntar muntah kalau dipaksakan."


"Tapi ayamnya habiskan ya, biar nanti sisa nasinya Mas yang habiskan!" pinta Afwa.


"Iya Mas," ucap kirana lalu menghabiskan paha ayam goreng yang tinggal setengah.


Selesai sarapan, Afwa mandi dan segera berganti pakaian dinas yang sudah di siapkan oleh Kirana.


"Mas berangkat dulu ya, mungkin nanti sore atau malam bunda akan ke sini," ucap Afwa.


"Makasih ya Mas, sudah meminta bunda menemaniku," ucap Kirana dengan mimik wajah yang sendu.


"Andai ibuku selembut dan sepengertian bunda Yasmin aku pasti bahagia sekali," batin Kirana sedih.


"Tak usah berterima kasih, bundaku itu juga bundamu, beliau justru senang jika dilibatkan dalam kegiatan rumah tangga putra-putrinya, apalagi sejak kecil kamu sudah dekat dengan bunda, iya kan?" ucap Afwa sambil membelai kepala sang istri.


Setelah mendaratkan ciuman di kening istrinya, Afwa segera berangkat bekerja, sedangkan Kirana pergi ke kamar mempersiapkan beberapa keperluan suaminya untuk keberangkatan Satgas besok.


Di tempat lain Yasmin sedang berbicara pada suaminya perihal telepon dari Afwa. Saat ini Yudha sedang sarapan bersama Yasmin dan Azka.


"Yah, nanti sore kita ke tempat Afwa, yuk!" ajak Yasmin.


"Ada acara apa memangnya?" tanya Yudha


"Ayah ini gimana sih, besok tuh Afwa berangkat Satgas ke Papua, ya ikut ngantar lah sekalian menemani Kirana, kasih support ke Kiran."


"Memangnya Dinda nggak temenin anaknya?"


"Nggak tahu kalau itu, tadi di telepon Afwa minta aku kesana gitu dan ada yang mau dia sampaikan tapi nggak bisa lewat telepon, dan bunda merasa ada yang aneh."


"Baiklah, nanti ayah temani, tapi ayah harus bilang dulu asisten ayah untuk merubah beberapa schedule."


"Terima kasih, ayah, sudah mau meluangkan waktu untuk Afwa."


"Sama-sama, tapi alangkah baiknya kamu telepon Dinda, tanya apa dia juga pergi ke tempat Afwa!" pinta Yudha.


"Iya nanti bunda telepon Dinda," ucap Yasmin kemudian melanjutkan sarapannya.


"Aku nggak usah ikut, kan?" seloroh Azka tiba-tiba.


"Kalau kamu mau ikut gak apa-apa, kakak kamu pasti senang," jawab Yasmin.


"Nggak ah, Bund, aku malas lihat ibu-ibu dan anak-anak nangis," ucap Azka yang sudah hafal dengan situasi pelepasan Satgas.


Azka bukannya malas pergi menemani bundanya di pelepasan Satgas sang kakak, ia hanya tak tega saja melihat kesedihan keluarga dari prajurit yang di kirim Satgas.


"Ih kamu ini kok gitu sih alasannya, nggak empati banget," kesal Yasmin pada putra bungsunya itu.


"Bund tugas kuliahku juga banyak, lagian sudah ada ayah yang temani, belum lagi nanti keluarga mbak Kirana, aku kira itu sudah cukup rame lah."


"Sudahlah, Bund, kalau dia nggak mau jangan dipaksa, anak kita satu ini memang aneh, ayah berangkat dulu," ucap Yudha kemudian beranjak dari kursinya, Yasmin pun mengantar suaminya sampai depan pintu.


Si bontot Azka melanjutkan sarapannya karena ia menambahkan lagi nasi ke piringnya, putra Yudha yang satu ini memang miliki kepribadian yang jauh berbeda dengan kakak-kakaknya namun ia mewarisi hati Yasmin yang lemah lembut hanya casingnya saja yang terlihat cuek dan agak badung.

__ADS_1


Setelah mengantar sang suami sampai teras depan, Yasmin ke dapur mengambil ponselnya, ia menghubungi sahabatnya Dinda untuk menanyakan apakah si Dinda juga ikut mengantarkan Afwa pelepasan Satgas. Yasmin menghembuskan nafas kasar setelah tahu jawaban dari Dinda, ia sungguh heran kenapa dalam nada bicara Dinda tak tersirat rasa empati pada putrinya sendiri. Yasmin makin yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada Kirana, feelingnya sebagai seorang ibu mengatakan Afwa dan istrinya sedang tak baik-baik saja.


________________________________________


__ADS_2