
Mama Galuh merinding melihat rumah dan halamannya itu yang menurutnya lebih mirip rumah hantu.
"Nay, kita tidak salah tempat kan?" tanya mama Galuh dengan wajah yang menahan rasa takut.
"Nggak, Ma, Jika sedang quality time dengan mendiang mama, kami pasti pergi ke tempat ini, tapi semenjak mama meninggal aku tak pernah lagi ke rumah ini, tapi seminggu ini aku sudah meminta dua orang untuk membersihkannya," jawab Nayla santai lalu berjalan menuju teras rumah.
Sedangkan mama Galuh ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seolah ada mahkluk tak kasat mata sedang mengikuti dirinya, apalagi setelah Nayla mengatakan bahwa rumah ini pernah di tinggali oleh mendiang intan.
"Ayo masuk, Ma!" ajak Nayla yang sudah membuka pintu utama.
Mama Galuh bergegas masuk ke dalam rumah karena bulu kudunya sudah merinding, mama Galuh merasa ada seseorang yang mengamatinya. Ketika masuk ke dalam rumah ternyata tidak seseram yang di bayangkan mama Galuh. Kondisi dalam rumah bersih semua perabot tertata rapi, meski tidak terlalu besar tapi perabotnya cukup lengkap.
"Nah bagus 'kan, Ma rumahnya, malam ini kita akan menginap di sini," ucap Nayla yang sukses membuat mama sambungnya terkejut.
"Apa, Nay, menginap di sini, bukannya mama tidak mau tapi di sini sepi Nay, nanti kalau ada yang berbuat jahat bagaimana, terus kalau ada mahkluk halus, genderuwo atau kuntilanak misalnya bagaimana?" ucap mama Galuh yang menunjukkan rasa keberatan jika ia harus menginap di rumah yang asing dan jauh dari pemukiman warga ataupun keramaian.
"Di sini aman, Ma, nggak ada hal seperti itu, kalaupun ada, itu adalah hal biasa karena dunia ghaib itu memang ada dan mereka juga punya kehidupan seperti manusia biasa, cuma mereka yang tak kasat mata itu tinggal di dimensi yang berbeda dengan kita," ucap Nayla yang benar-benar gedek sama mama sambungnya itu, bisa-bisanya mama Galuh takut dengan mahkluk halus padahal yang perlu di takuti adalah mahluk kasat mata sejenis dirinya yang menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya.
"Tapi, Nay, mama tidak bawa baju ganti dan makan kita nanti bagaimana?" tanya mama Galuh sambil melirik ke kiri dan ke kanan, mama Galuh ingin menghubungi kakaknya tapi ternyata ponselnya yang sudah ia taruh di dalam tasnya tiba-tiba tidak ada.
"Mama tenang saja, ada kok baju almarhum mama dan aku rasa ukurannya pas dengan tante, kalau soal makanan di lemari es sudah ada bahan makanan, jadi mama jangan khwatir kalau nanti kita akan kelaparan," jawab Nayla yang membuat Galuh membulatkan matanya.
"Apa?, aku di suruh memakai bajunya Intan, dasar anak gendeng," batin mama Galuh dongkol.
Seakan tahu apa yang di pikirkan mama sambungnya, Nayla yang sedang membuka lemari es membalikkan badanya menghadapnke mama Galuh dan berkata, "yang di kamar mamaku itu memang baju yang sudah di pakai mamaku tapi masih layak bahkan masih sangat layak untuk di pakai orang lain atau di berikan pada orang lain, seperti juga papaku yang mama Galuh nikahi, beliau juga pernah di pakai mama Intan sampai lahir aku."
Jleb, kata-kata anak tirinya memang benar adanya, pak Mahendra adalah suami pertama mama Intan, yang otomatis jika pak Mahendra menikah lagi, pak Mahendra boleh di bilang juga bekas orang lain.
"Sialan, anak ini benar-benar bisa membuatku tak berkutik, awas kamu, Nay!" umpat mama Galuh dalam hati.
"Ayo, aku tunjukan kamar mama!" ajak Nayla mengandeng tangan mama Galuh menuju kamar yang dulu pernah di tempati mendiang mamanya dulu.
"Ini, Ma kamarnya, mama bisa istirahat dulu, aku akan siapkan masakan untuk mama Galuh," ucap Nayla lalu meninggalkan mama sambungnya di kamar mendiang mamanya.
Setelah Nayla pergi, mama Galuh menelusuri setiap sudut kamar tersebut, kamar yang tertata apik, mata Galuh memindai ke seluruh ruangan kamar tersebut sampai tatapannya berhenti pada sebuah figura foto yang ada di atas nakas. Foto wanita seusia dirinya yang terlihat sangat cantik, foto itu adalah foto Intan, saat melihat foto itu tiba-tiba bulu kudu mama Galuh merinding, tatapan mata Intan seolah hidup dan memandang mama Galuh dengan tatapan menuntut keadilan.
"Tidak Intan, kamu sudah mati, jangan ganggu aku, kau pantas mati karena hidupmu terlalu sempurna," ucap mama Galuh dalam hati sambil menggelenkan kepala ke kiri dan ke kanan.
Mama Galuh jatuh terduduk karena panik saat melihat foto Intan seperti hidup dan sedang mengintimidasinya.
"Sial, aku harus bisa pergi dari sini, dan ponselku kenapa saat di butuhkan begini malah tidak ada," umpat mama Galuh sambil berusaha berdiri. Ia harus kuat berani dan meyakinkan dirinya kalau Intan sudah mati, dan orang yang sudah mati tak mungkin hidup lagi.
Saat Galuh sedang melamunkan tentang Intan, sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunananya.
"Tok-tok, Ma..., ayo makan dulu mama pasti lapar!" ucap Nayla sedikit kencang di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Iya, Nay, sebentar!"
Mama Galuh lalu segera menuju pintu kamar dan membukannya. Di ambang pintu mama Galuh melihat Nayla sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan.
"Kamu sudah ganti baju, Nay?"
"Sudah, 'kan baju Nay ada yang di simpan di rumah ini. Mama Galuh tidak ganti baju?" tanya Nayla karena melihat mama Galuh masih memakai pakaian yang sama dengan yang di pakai tadi pagi.
"Belum, Nay, nanti saja."
"Ya sudah, ayo kita makan dulu!"
Nayla dan mama Galuh kemudian makan siang bersama di home stay peninggalan almarhum mama Intan.
"Kamu yang masak ini, Nay?" tanya mama Galuh dengan pandangan curiga terhadap makanan yang tersaji di meja makan.
"Iya, memang kenapa, Ma?, Mama takut aku meracuni mama?"
"Eh, bukan begitu maksud mama, mama hanya heran saja ternyata kamu bisa masak."
"Ah mama bisa aja, aku juga baru belajar, mungkin rasanya tidak terlalu enak," ucap Nayla merendah.
"Mama yakin masakan kamu pasti enak, ayo makan!, mama nggak sabar mencicipi masakan kamu."
Mama Galuh mulai menyantap makanan yag ada di depannya, lidahnya memang harus mengakui kalau masakan anak tirinya ini lumayan enak, tapi ia sebenarnya juga was-was kalau Nayla menaruh sesuatu di makanan yang dia makan, dan Nayla juga memperhatikan ke khawatiran mamanya. Bibir Nayla menyeringai tipis melihat guratan wajah kekhawatiran mamanya sambungnya itu.
Uhuk-uhuk, mama Galuh tiba-tiba tersedak ketika mendengar perkataan Nayla.
"Mama, hati-hati kalau makan, tersedak 'kan?" ucap Nayla lalu menyodorkan segelas air pada mama Galuh.
"Terima kasih," ucap mama Galuh setelah bisa mengkondisikan dirinya yang baru saja terbatuk karena tersedak.
"Ma, setelah makan mama bisa istirahat, aku juga akan istirahat.'
"Iya, Nay."
Waktu terus berjalan malam mulai menghampiri, Nayla sudah segar sehabis mandi sore tadi. Setelah makan malam ia mengajak ibu sambungnya berbincang-bincang dan baru kali ini ia berbicara empat mata dengan mama sambungngya.
Sedangkan di tempat lain orang suruhan pak Mahendra memberikan kabar tentang kepergian Nayla dan Galuh.
"Lapor, Pak, hari ini non Nayla mendatangi kediaman bapak lalu mengajak nyonya Galuh pergi, saya sudah mengikuti kemana nona pergi dan ternyata non Nayla membawa ngonya Galuh ke home stay milik mendiang nyonya Intan!"
"Untuk apa Nayla tiba-tiba mengajak Galuh kesana?"
"Saya kurang tahu pak apa tujuan non Nayla, tapi saya sudah menyuruh orang untuk mengawasi home stay tersebut."
__ADS_1
"Bagus, awasi terus, jangan sampai kalian legah, aku tak mau putriku nekat dan menjadi seorang kriminal!"
"Baik, Pak!"
"Kau boleh pergi!"
Setelah orang suruhannya pergi, pak Mahemdra memijit pelipisnya, dia sungguh tak habis firikir dengan pemikiran putri tunggalnya.
"Kenapa kamu jadi begini, Nay, kalau kamu tahu sesuatu kenapa tidak bicara dengan papa, papa pasti akan percaya padamu, kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, papa tidak bisa hidup lagi, kamulah harta papa yang sesungguhnya, kamu adalah kenangan terindah yang di berikan mamamu pada papa," ucap pak Mahendra dengan menahan sesak di dadanya.
.
Jam menunjukkan jam dua belas malam, di home stay, mama Galuh sudah tertidur di kamar mama Intan, meski tak ingin, mama Galuh terpaksa berganti pakaiannya dengan baju mama Intan.
Sedangkan Nayla juga sudah tidur di kamarnya tapi matanya engan terpejam.
"Aku harus berhasil dengan rencanana ini," batin Nayla.
Hujan tiba-tiba turun petir dan guntur terdengar mengelegar, jendela di kamar mama Galuh tiba-tiba terbuka membuat mama Galuh yang sedang tertidur bangun seketika karena terkejut.
"Astaga hujan dan petir, ah itu kenapa jendela kamarku terbuka sendiri, perasaan tadi aku sudah menguncinya," monolog mama Galuh.
Perlahan mama Galuh turun ranjang, ia menghampiri jendela dan akan menutupnya, namun ia melihat seorang wanita berdiri di halaman rumah dengan posisi membelakangi jendela kamarnya.
"Siapa wanita, itu kenapa malam-malam begini malah hujan-hujanan, apa dia warga sini?" tanya mama Galuh dalam hati.
Sewaktu mama Galuh akan menutup jendela wanita yang berada di tengah hujan itu membalikan tubuhnya sehingga mengahadap ke arah jendela yang akan di tutup oleh mama Galuh. Wanita itu menatap ke arah jendela mama Galuh, dan pada saat itulah padangan mata mereka betemu. Wanita itu menatap tajam mama Galuh penuh kebencian sedangkan mama Galuh sendiri tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku, teggorokannya seakan tercekat.
"I-Intan, ti-tidak mungkin, kamu sudah mati, jangan gangu aku!" ucap mama Galuh sambil berusaha menyadarkan otaknya, dengan gemetar ia berusaha menutup pintu jendela kamarnya tersebut.
Tubuh mama Galuh mengigil karena ketakutan melihat sosok wanita yang mirip dengan Intan, teman SMA nya yang tega ia habisi karena iri hati. Belum sembuh ketakutan yang ia rasakan ia mendengar suara seorang wanita yang membuatnya semakin ketakutan.
"Galuh..., kenapa kau tega padaku, kenapa kau membunuhku?, kenapa kau ambil suamiku?" kau harus bertanggung jawab!" ucap suara misterius membuat mama Galuh semakin ketakutan.
"Pergi, kau, kau sudah mati, jangan ganggu aku, hidupmu terlalu sempurna, kau selalu dapat yang terbaik, kau memang pantas mati Intan, pergi kau, biarkan aku hidup tenang dengan suamimu yang kaya dan tampan itu, dan untuk putrimu sebentar lagi aku akan kirim dia untuk segera menyusulmu di alam baka!" ucap mama Galuh sambil berteriak dan matanya mengedaekan mencari sosok misterius yang perkataannya sangat memprovokasinya sehingga tanpa sadar mengungkap kejahatannya sendiri.
Dalam ketakutannya tiba-tiba pintu kamar yang ia tempati di dobrak cukup keras.
"Brakk!"
_________________________________________
Ooo ternyata Nayla main hantu-hantuan
Jangan lupa dukungannya ya readers, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung...