
Dinda segera mendiskusikan tentang tawaran Fahmi membawa Raka untuk di rawat di Singapura dengan keluarganya. Mereka semua setuju namun Dinda juga harus ikut membiayai meski tak seberapa biar tidak dibilang memanfaatkan orang lain. Setelah mendapatkan keputusan dari keluarganya Dinda segera menghubungi dokter Fahmi.
Dinda
"Hallo, Assalamualaikum dokter Fahmi!"
Fahmi
"Waalaikumsalam, Dinda, ada apa?"
Dinda
"Saya setuju mas Raka di bawa ke Singapura tapi ijinkan saya menanggung sebagian pengobatannya, kami sekeluarga tak ingin terlalu banyak merepotkan dokter."
Fahmi
"Baiklah, tak apa, segera hubungi Yudha untuk membantumu mengurus perijinan Raka di kantor militer!"
Dinda
"Baik dokter Fahmi terima kasih."
Setelah menutup sambungan telponnya, Dinda segera menghubungi pihak rumah sakit dan Yudha. Proses kepindahan perawatan medis Raka segera di tindak lanjuti oleh pihak rumah sakit dan pihak instansi militer dimana Raka bertugas, karena yang mengurus semua perawatan Raka bukanlah orang sembarangan maka prosesnya bisa sangat cepat. Setelah kurang lebih tiga hari mengurus semua dokumen dan persyaratan akhirnya Raka di terbangkan ke Singapura dengan menggunakan jetrpi milik Pratama group. Keluarga Yudha maupun Dinda mengantar kepergian Raka, termasuk Afwa.
"Kak Afwa terima makasih sudah mau membantu kesembuhan ayah, aku nggak bisa balas semua kebaikan kakak dan keluarga kakak, aku hanya bisa berdoa agar kak Afwa sekeluarga selalu sehat, berumur panjang dan selalu bahagia, hiks...hiks..," ucap Kirana sambil menangis, membuat hati Afwa sakit, ia langsung merengkuh tubuh Kirana ke dalam pelukannya.
"Sudah, Sayang jangan nangis, aku sedih kalau kamu begini, aku dan keluargaku ikhlas membantumu, kamu harus kuat dan sabar untuk ayah kamu," ucap Afwa setelah mengurai pelukannya, dan menghapus air mata Kirana dengan jemarinya.
Azka yang juga ikut mengantar Raka ke jet pribadi Fahmi merasa jengah karena hanya dia sendiri laki-laki dewasa yang masih menjomblo.
__ADS_1
"Dasar bucin, apa semua tentara kalau lagi jatuh cinta semua seperti kak Afwa dan ayah, bucin setengah hidup," gerutu Azka dalam hati sambil menatap sebal adegan live kebucinan kakaknya yang satu profesi dengan ayah dan opanya itu.
Fahmi membawa serta satu orang dokter dan dua perawat yang dia ambil dari rumah sakit Permata, rumah sakit milik keluarga Pratama. Keempat balita cantik masih di betah di gendongan oma dan opa mereka, seolah mereka engan untuk pulang.
"Eh, gemess, gimana yang dua tinggal di sini aja ya?" pinta opa Dimas yang otomatis membuat Aryana mendelik.
"Ya nggak begitu dong opa masa anak-anakku di pisahin dari saudaranya," protes Aryana.
"Iya, nih papa, mana ada ibu yang mau pisah dari anaknya," ucap oma Dewi membela Aryana.
"Habis gemes, Ma apalagi ini Alesya wajahnya kaya wajah anak luar negeri, kalau bawa anak kecil kan bisa buat teman jalan-jalan gitu," ucap opa Dimas beralasan membuat oma Dewi mencebik kesal.
Fahmi, Aryana dan Dinda juga Kirana berpamitan dengan semua anggota keluarganya, meski dengan sedikit drama akhirnya para oma dan opa mau melepaskan para cucu-cucunya yang mengemaskan. Sedangkan Kiara tak kalah sedih karena ia harus tinggal di tanah air, selain karena biaya hidup di sana cukup tinggi, Kiara harus sekolah. Dinda tak mungkin mengantungkan hidupnya pada orang lain selama di Singapura.
Setelah menempuh sekitar kurang lebih satu setengah jam perjalanan, Jetpri yang di tumpangi Fahmi mendarat di negeri Singa. Sampai bandara, sebuah mobil ambulance sudah berada di sana untuk membawa Raka ke rumah sakit ME, sedangkan Aryana dan anak-anaknya diantar supir pulang ke rumah mereka.
Fahmi langsung ikut ke rumah sakit, jadi Aryana pulang bersama ke empat anaknya namun dengan pengawalan yang cukup ketat Dua bodyguard perempuan menemani Aryana di mobil dan empat orang lagi berada di mobil kedua di belakang mobil Aryana. Setengah jam kemudian mobil Aryana sampai di rumah., tiga bodyguard membantu Aryan mengendong anak-anaknya masuk ke dalam rumah sedangkan yang lain membantu menurunkan barang-barang dari dalam mobil.
"Baik Nyonya, terima kasih," ucap para bodyguard sambil membungkuk tanda hormat kemudian mereka menuju balai belakang yang mirip sebuah gazebo, di sana mereka sudah di sediakan makan khusus oleh kepala pelayan yaitu bibi Mey.
"Aryana di bantu para baby sister memandikan anak-anak setelah itu membuatkan keempat batita itu susu.
"Pa, mana?" tanya Alesya yang sedari tadi matanya mencari keberadaan sang papa.
Mendengar pertanyaan Alesya, Aryana tersenyum sambil berjalan ke arah Alesya duduk, ia langsung membawa Alesya ke dalam pangkuannya.
"Papa sedang membantu om yang sakit di pesawat tadi, sayang," jawab Aryana sambil mengecup pipi Alesya yang putih dan tampak gembul, pantas saja tadi opa Dimas ingin Alesya tinggal di tanah air hanya untuk menemaninya jalan-jalan.
Di rumah sakit, Fahmi langsung menemui dokter Robert Julius Alexander, dokter saraf yang sangat mumpuni di bidangnya. Sedangkan Raka sudah di tempatkan di ruang HCU untuk pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
Setelah menemui dokter Robert bersama Dinda dan Kirana, Fahmi pamit pulang, untuk penginapan Fahmi meminjamkan salah satu apartemennya untuk Dinda dan Kirana. Fahmi juga memberi fasilitas sebuah mobil dan supir yang mengerti tentang Singapura, jadi jika Dinda dan Kirana butuh sesuatu mereka tidak akan kesulitan.
"Dinda, aku rasa tugasku hari ini selesai, aku pulang dulu jika ada apa-apa hubungi aku atau Aryana?" pinta Fahmi saat pamit pulang.
"Terima kasih dokyer Fahmi, saya banyak merepotkan dokter," ucap Dinda tak enak.
"Tidak apa-apa, Dinda, ayah mertuaku sudah menganggap Raka dan keluarganya seperti saudara sendiri, apalagi Raka dan Yudha waktu menjadi anggota pasukan khusus pernah menjalin persahabatan yang erat, dan yang aku tahu para tentara itu punya jiwa korsa yang tinggi," ucap Fahmi.
"Sekali lagi terima kasih dokter Fahmi," ucap Dinda.
"Sama-sama, Dinda, aku hanya minta padamu jika kamu ingin berterima kasih padaku, apapun hasil pengobatan Raka nanti, gagal atau berhasil, aku harap kau mau mewujudkan keinginannya mempersatukan Kirana dan Afwa. Kau tak akan pernah bisa merasakan bagaimana di pisahkan dengan seseorang yang kita cinta sepenuh hati karena keegoisan seseorang, tapi aku pernah merasakan di posisi Afwa dan itu sangat menyakitkan, bahkan aku nyaris gila ketika kehilangan jejak Aryana, duniaku hilang, rasanya aku ingin mati saja. Afwa hebat dia bisa bertahan dengan kesabaran dan ketegarannya," ucap Fahmi menasehati Dinda agar bisa lebih bijaksana dalam berfikir dan mengambil keputusan.
"Iya dokter Fahmi aku mengerti, aku menyadar semua kesalahanku, setelah mas Raka sembuh aku akan menikahkan Kirana dan Afwa, aku merestui mereka."
"Tapi, maaf Dinda bagaimana jika Raka gagal untuk bertahan, apa kau tetap akan menikahkan Kirana dan Afwa?"
Mendengar pertanyaan Fahmj, dada Dinda rasanya sesak, ia tak pernah berfikit sejauh itu
"Bagaimana?" tanya Fahmi lagi karena melihat Dinda justri terdiam.
"Aku akan tetap mrestui Kirana dan Afwa, karena tak ada gunanya lagi menentang, aku yakin pilihan mas Raka tidak salah, ia benar-benar akan menyerahkan tanggung jawabnya sebagai ayah pada pria yang tepat."
"Syukurlah kamu sudah sadar dan mengerti, sekarang berdoalah agar Allah segeran memberi kesembuhan untuk Raka.*
Setelah pembicaraan itu, Fahmi segera berlalu dari hadapan Dinda, ia menuju lobby rumah sakit karena.samg supir sudah menunggunya di depan lobby rumah sakit. Fahmi sudah sangat rindu dengan Aryan dan keempat anaknya yang lucu-lucu.
______________________________________
Please like, Vote Coment, Rate and Favorit.
__ADS_1
Thank You.