
Dinda menjaga Raka bergantian dengan Kirana, mereka tinggal di apartemen milik Fahmi. Serangkaian pemeriksaan medis dilakukan pada Raka. Dokter Robert berusaha melakukan yang terbaik untuk Raka, apalagi pasiennya ini adalah saudara dari salah satu pemegang saham rumah sakit ME, sekaligus mantan dokter di rumah sakit ME Singapura.
"Bagaimana perkembangan om Raka, dokter Robert?" tanya Fahmi.
"Seminggu ini perkembangan tuan Raka cukup bagus meski belum menunjukkan perkembangan yang signifikan," jawab dokter Robert.
"Kalau cedera di kepalanya itu seberapa parah?" tanya Fahmi lagi.
"Cedera di kepala tuan Raka memang agak parah tapi dari hasil scan terakhir selama satu minggu di rawat di sini, saya rasa tuan Raka masih punya banyak peluang untuk sembuh. Saya sudah mengerahkan kemampuan saya semaksimal mungkin dan juga obat yang saya berikan adalah obat dengan kualitas terbaik," jawab dokter Robert.
"Selain hal itu apa lagi yang bisa di lakukan untuk mempercepat proses penyembuhannya?" tanya Fahmi
"Saya dan tim medis sudah mengupayakan yang terbaik, selebihnya hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Tuhan, mungkin kehadiran pihak keluarga yang sangat di sayangi tuan Raka bisa memberi stimulus dan semangat untuk pasien. Meski belum bisa di pastikan tapi dengan kehendak Tuhan mungkin suara penyemangat dari orang yang di cintai tuan Raka bisa menembus alam bawah sadarnya sehingga pasien punya kekuatan untuk bertahan dan berjuang untuk hidup," ujar dokter Robert.
"Baiklah, saya akan mencoba saran anda, dan terima kasih atas bantuan dokter Robert," ucap Fahmi sambil tersenyum ramah membuat doker Robert sangat kagum dengan pembawaan dokter konglomerat di hadapannya ini.
"Sama-sama dokter Fahmi, suatu kehormatan bagi saya bisa di percaya membantu keluarga dokter Fahmi," ucap dokter Robert.
Setelah berbicara dengan dokter Robert, Fahmi menemui Dinda dan Kirana yang duduk di ruang tunggu kamar Raka.
"Dinda, Kirana!" panggil dokter Fahmi
Dinda dan Kirana segera menoleh ke asal suara
"Dokter Fahmi."
"Dinda tadi aku bertemu dokter Robert, dokter yang menangani Raka, kau juga sudah bertemu dengannya juga kan kemarin," ucap Fahmi.
"Iya, lalu dokter Robert bilang apa?" tanya Dinda.
"Dia bilang ada perkembangan meski tidak signifikan, tapi masih ada harapan, kita hanya bisa berdoa, kau dan Kirana sering-seringlah mengajaknya bicara terutama hal-hal yang membuatnya masih punya semangat berjuang untuk hidup," ucap Fahmi.
Apa yang di katakan Fahmi membuat Dinda dan Kirana merasakan sesak di dadanya, terutama Dinda. Sebagai seorang perwira Raka sangat bertanggung jawab, berparas tampan, karir militer cemerlang membuat Dinda juga memiliki posisi penting di kepengurusan persit, belum lagi di mata keluarga besar dan masyarakat, status sosial Dinda tak bisa di pandang remeh.
Seharusnya Dinda bersyukur memiliki suami setia dan bertanggung jawab seperti Raka, yang secara tidak langsung mengangkat derajat keluarganya. Di dalam sebagian pola masyarakat memang memiliki pekerjaan sebagai ASN, tentara atau polisi akan memiliki status sosial yang lebih tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat.
"Baik Om Fahmi, kami akan melakukan saran dari Om," ucap Kirana sambil merangkul pundak ibunya yang masih mematung.
"Bagus kalau kalian mengerti, kalau begitu saya kembali ke kantor," ucap Fahmi kemudian pergi meninggalkan Kirana dan Dinda.
Sepeninggal Fahmi, Dinda masuk ke ruang perawatan Raka, perlahan Dinda mendekat dimana sang suami terbaring lemah.
"Mas..., cepatlah bangun, aku janji akan selalu menurut kata-kata mas, aku ikhlas merestui Afwa dan Kirana, begitu kamu sadar, aku akan menikahkan mereka, kalau kamu nggak segera sadar bagaimana mas akan menjadi wali nikah nya Kirana," ucap Dinda sambil menangis dengan menggenggam tangan sang suami.
__ADS_1
Tanpa Dinda sadari Raka meneteskan air mata, sedangkan Dinda masih saja menangis sesenggukan sambil menggenggam tangan suaminya.
Di suatu tempat Raka menyusuri sebuah sungai yang jernih, kemudian Raka duduk di tepian sungai, ia menatap jernihnya air sungai, saking jernihnya air sungai tersebut, ikan yang sedang berenang di sungai tersebut sampai bisa terlihat. Raka merasa sangat tenang berada di tempat tersebut, sampai sebuah suara mengagetkan Raka.
"Sedang apa kau, Nak ada di sini?" tegur seorang kakek.
"Kakek siapa, dan kenapa ada di sini juga?" ucap Raka yang malah balik bertanya pada si kakek.
"Karena tempat kakek memang di takdirkan.sudah di sini, tapi kalau kamu belum," jawab sang kakek membuat Raka heran.
"Belum?, apa maksud kakek aku belum?" tanya Raka.
"Tugasmu di dunia belum selesai jadi kamu belum bisa menetap di sini, kau harus segera kembali!"
"Tapi aku sudah nyaman di sini, aku tak ingin kembali."
"Kau harus menyerahkan dulu tanggung jawabmu pada kedua putrimu pada orang yang tepat, setelah itu baru kamu bisa kembali ke sini untuk menetap."
"Putri?, kedua putri?, apa maksudnya aku punya anak?" tanya Raka dalam hati.
Seakan tahu apa yang dipikirkan Raka, aang kakek mengulum senyum kemudian berkata, " ya kamu punya dua orang anak perempuan dan seorang istri, mereka menunggumu, pulanglah dan selesaikan tugasmu dulu!"
"Bagaimana aku bisa pulang?, dengan apa aku harus pulang, tempat ini sangat asing bagiku namun juga sangat nyaman untukku?"
"Kau lihat dua pohon yang berdampingan sama bentuk dan sama besar itu?" tunjunk sang kakek pada dua pohon kembar yang letaknya tak jauh dari mereka.
"Berjalanlah melewati jalan diantara dua pohon kembar itu, kau akan tahu nanti setelah melewatinya!"
"Apa itu artinya aku akan bisa pulang ke asalku?" tanya Raka yang diangguki oleh kakek tersebut.
Perlahan Raka bangun dari duduknya, ia berjalan menuju dua pohon kembar yang dintunjuk oleh sang kakek, ketika sudah mendekat ke pohon tersebut Raka menghentikan langkahnya seolah ia ragu untuk melangkah, Raka menoleh ke belakang, masih terlihat kakek dari kejauhan menganguk dan tersenyum padanya seolah apa yang ia putuskan sudah benar.
Setelah melihat senyum sang kakek, Raka memberanikan diri melangkah masuk ke sebuah taman dengan melewati dua pohon kembar. Begitu melewati dua pohon kembar tersebut Raka melihat sebuah lingkaran cahaya, meski ragu Raka memasuki lingkaran cahaya tersebut, setelah masuk ke dalam lingkaran cahaya tubuh Raka seolah di tarik oleh sebuah kekuatan.
Di kamar Raka di rawat Dinda masih saja memegang tangan suaminya, sampai seorang suster menegurnya untuk keluar.
"Maaf, nyonya, sebaiknya anda keluar bisa biarkan pasien istirahat!" tegur seorang perawat.
"I-iya suster, maaf, saya akan segera keluar," ucap Dinda sambil menyeka sisa air matanya lalu berdiri dari duduknya, namun saat ia akan beranjak dari tempatnya matanya menengkap sebuah pergerakan kecil dari tangan suaminya.
"Suster lihat tangan suami saya bergerak!" teriak Dinda reflek karena terkejut melihat tangan Raka tiba-tiba ada pergerakan.
Mendengar ucapan Dinda, perawat tersebut segera mengeceknya, dan benar Dinda tidak salah lihat, karena perawat itupun juga melihat hal yang sama. Perawat tersebut segera menghubungi dokter Richard memberi tahu tentang kondisi Raka.
__ADS_1
"Nyonya sebaiknya anda keluar dulu, biar dokter memeriksanya dulu!" pinta perawat tersebut, Dinda pun menurut ia segera keluar dari ruang rawat suaminya.
Tak lama dokter Robert datang, langsung memeriksa Raka.
"Bagaimana, Dok?" tanya suster yang mendampinginya.
"Tuan Raka sudah ada perkembangan, semoga sebentar lagi tuan Raka membuka matanya," jawab dokter Robert kemudian ia keluar dari ruang rawat Raka.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Dinda
"Tuan Raka sudah menunjukkan respon yang cukup berarti, kita berdoa saja semoga tuan Raka bisa segera sadar," ucap dokter Robert.
"Iya, Dok terima kasih," ucap Dinda.
Dokter Robert segera berlalu dari hadapan Dida setelah memberi penjelasan tentang keadaan Raka.
"Bu, bagaimana ayah?" tanya Kirana
"Ayahmu sudah memberi respon lewat gerakam tetapi belum sadar."
"Ya sudah, kita berdoa saja semoga nanti atau besok ayah bisa segera sadar," ucap Kirana sambil merengkuh kedua pundak sang ibu."
Melihat ibunya seperti kelelahan Kirana menyarankan agar sang ibu pulang ke apartemen untuk beristirahat.
"Bu, ibu terlihat sangat lelah, sebaiknya ibu pulang ke apartemen biar diantar pak Sam supir yang di tugaskan om Fahmi mengantar kita!" pinta Kirana.
"Tidak, ibu ingin di sini mennunggu ayahmu."
"Aku tahu, Bu, tapi ibu terlihat lelah, kalau sampai ibu sakit bagaiman aku bisa menjaga kalian berdua, buntut-buntutnya nanti merepotkan om Fahmi lagi."
Mendengar nasehat putrinya, Dinda bisa memahami pemikiran Kirana, apa yang dikatakannya benar, jika sampai ia sakit kasihan Kiran jika harus mengurusnya dan Raka, apalagi ini di negeri orang tak ada saudara yang bisa membantu kecuali Fahmi dan Aryana. Dinda tak ingin merepotkan Fahmi lebih banyak. Akhirnya ia menuruti saran Kirana untuk pulang ke apartemen.
"Baikalah ibu akan ke apartemen untuk istrirahat."
"Nah gitu dong, kalau ibu mau makan, aku sudah masak sedikit, tinggal di panaskan kalau ibu mau makan, dan ibu harus istirhat dan makan yang cukup, di lemari es ada buah-buahan pemberian Aryana kemarin."
Dinda segera meninggalkan Kirana untuk berjaga di rumah sakit, Dinda merasa memang tubuhnya sangat lelah, hampir dua minggu menunggu Raka di rumah sakit K, kemudian Raka langsung di terbangkan ke Singapura, sehingga ia sama sekali tak punya waktu istitahat yang cukup karena mengurus Raka. Apalagi dengan usianya yang hampir menginjak lima puluh tahun membuat kondisiya tak se energik yang dulu.
Sepeniggal ibunya pulang ke apartemen, Dinds menghubungi Afwa untuk mengabarkan kondisi sang ayah. Di seberang telepon Afwa lega mendengar perkembangan calon ayah mertuanya. Afwa juga memberi semagat pada Kirana agar beesabar dan terus berdoa untuk kesembuhan sang ayah.
Setelah menelpon Afwa, Kirana berjalan-jalan disekitar koridor dimana sang ayah di rawat untuk merilekskan pikiranya, setelah sekitar seperampat jam Kirana kembali ke ruang rawat sang ayah, namun saat ia hampir sampai di kamar rawat sang ayah ia melihat dokter Robert berjalan terburu-buru memasuki ruang rawat ayahnya.
________________________________________
__ADS_1
Please, Like, Vote, Coment Rate and Hadiah
Thank You