Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 120


__ADS_3

Sudah tiga hari pasca operasi transplantasi jantung, Aryana belum juga membuka matanya. Fahmi dengan setia menunggu istrinya di rumah sakit, semua pekerjaannya di handel oleh Juan, jika memerlukan tanda tangan Fahmi, Juanlah yang datang ke rumah sakit sambil memberikan laporan dan berkonsultasi. Fahmi ingin saat Aryana membuka mata dirinyalah yang di lihat oleh sang istri pertama kali.


Kini di sinilah Fahmi, duduk di samping ranjang Aryana, tangannya menggenggam tangan sang istri sedangkan tangan Fahmi yang satunya membelai sayang kepala Aryana.


"Sayang..., ayo bangun!, apa kamu nggak kangen denganku, dengan anak-anak kita, apa kau tahu sayang, kita di amanahi satu lagi putri yang cantik, dia adalah anak dari pendonor jantungmu. Namanya Alesya, aku yakin saat kau melihatnya kau pasti akan menyayanginya. Tapi apa Alesya akan tahan dengan ke protectivean opanya yang tentara itu, eh ralat mantan tentara," ucap Fahmi mengajak bicara Aryana seolah sang istri sudah sadar dan duduk di depannya.


Tanpa Fahmi sadari ada dua orang yang memperhatikannya dari luar ruang kaca tempat Aryana di rawat, dua orang itu tak kalah sedih melihat Aryana belum sadarkan diri sampai sekarang.


"Bunda, sudahlah, kak Aryana pasti akan segera sadar dan sehat seperti semula," ucap Azka sambil satu tangannya merengkuh kedua pundak sang bunda dari samping.


"Kenapa ujian kakakmu begitu berat, Azka, bunda tidak tega, bunda berharap setelah kakakmu sadar, kehidupannya hanya akan diliputi dengan kebahagiaan," ucap Yasmin penuh harapan sambil menyeka air matanya.


"Kak Aryana, cepatlah bangun!, banyak orang yang menunggumu, suamimu, orang tua kita, terutama anak-anakmu, Kak," batin Azka.


"Bunda, ayo kita duduk dulu, aku tak mau bunda capek!" ajak Azka lalu merangkul bundanya untuk duduk di kursi ruang tunggu.


Yasmin menurut kata Azka, dia duduk di kursi tunggu sambil menunggu Fahmi keluar dari ruang ICU.


"Bund, dua hari lagi liburan Azka habis, aku nggak mungkin tinggalin bunda sendiri di sini, aku bisa di gantung sama ayah," ucap Azka lagi setelah ia dan sang bunda duduk di kursi tunggu.


"Iya, nanti kita pulang, tapi ibu berharap sebelum kita pulang ke tanah air, kakakmu sudah sadar.


"Iya, Bund, semoga kakak segera sadar sebelum kita balik ke Indonesia," ucap Azka menenangkan bundanya.


Sedangkan di dalam ruang ICU, Fahmi masih setia di sisi Aryana, sambil tangannya megengam erat jemari sang istri tercinta yang terbaring lemah dengan mata tertutup. Tanpa Fahmi sadari, jemari kecil yang ia pegang sejak tadi bergerak pelan, jemari kecil itu tampak bergerak lebih intens, sehingga Fahmi pun menyadari ada pergerakan yang berasal dari Aryana.


"Sayang..., kamu mau bangun?" ucap Fahmi sambil langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeriksa kondisi sang istri, namun mata Aryana masih tertutup, hanya jemarinya yang sedikit bergerak.


"Sayang...kenapa nggak jadi bangun, aku kangen...hiks...hiks..., aku nggak kuat lihat kamu seperti ini, bagaimana anak-anak kita, mereka menunggumu," Fahmi terisak karena ternyata sang istri belum membuka matanya.


Fahmi memang seorang dokter, ia sering menghadapi masalah seperti ini pada banyak pasiennya, namun ketika yang dia hadapi adalah istrinya sendiri rasanya ia mengantikan semua rasa sakit yang di tangung sang istri.


"Ho-Honey!"


Suara itu begitu lirih, namun karena pendengaran Fahmi sangat peka, ia langsung mengangkat kepalanya, mata Fahmi yang tadinya sembab dan sendu langsung berubah berbinar.

__ADS_1


"Sayang, kamu bangun, Alhamdulillah terima kasih ya Allah, terima kasih sudah mau bertahan untuk kami, cup, cup," ucap Fahmi lalu mendaratkan kecupan di seluruh bagian wajah sang istri, setelah itu perawat jaga langsung mengecek keadaan Aryana dan memanggil dokter.


Yasmin dan Azka yang mendengar Aryana begitu sangat senang, doa Yasmin terkabul, ia bisa pulang ke Indonesia dengan tenang.


Sedangkan di ruang ICU dokter Nick sedang memeriksa keadaan Aryana dengan intens, dokter menyunggingkan sebuah senyuman menandakan keadaan pasien di depannya dalam keadaaan baik.


"Bagiamana keadaan istri saya dokter Nick?"


"Syukurlah, keadaan istri anda baik, kami akan segera memindahkan istri anda ke ruang rawat inap."


Mendengar penjelasan dokter Nick, Fahmi sangat lega, berulang kali dokter tampan ceo Pratama group itu mengembangkan senyuman sambil memandang sang istri yang sedang di tangani oleh perawat, melepas beberapa peralatan medis yang menempel di tubuh sang istri.


"Tuan Fahmi sebaiknya anda keluar dulu, kami akan segera memindahkan istri anda ke ruang rawat inap!" pinta salah seorang perawat.


"Baik, suster, terima kasih," ucap Fahmi.


"Sama-sama, Tuan, percayakan istri anda pada kami," balas suster tersebut


"Sayang, aku keluar dulu ya, nanti kita ketemu di ruang rawat inap," ucap Fahmi sebelum meninggalkan ruang ICU, Aryana yang masih lemah hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaan Aryana, kenapa kau lama sekali di dalam?" tanya Yasmin.


"Kalau begitu Bunda harus segera kabari ayah!" ucap Azka mengingatkan sang bunda.


"Oh iya Bunda sampai lupa," ucap Yasmin yang langsung mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya.


Fahmi juga segera menghubungi maminya , mengabari jika Aryana sudah siuman dan segera di pindahkan ke ruang rawat inap.


Yudha yang mendapat kabar dari Yasmin tentang kondisi putri mereka yang sudah sadar sangat gembira, namun ia tidak bisa langsung pergi ke Singapura karena pekerjaan yang menumpuk, ia berencana akan ke Singapura setelah tiga hari sekalian menjemput Yasmin dan Azka. Jika boleh memilih Yudha akan lebih memilih menjadi prajurit saja, meski harus berkorban nyawa demi negara, jauh dari keluarga itu lebih baik dari pada setiap hari di pusingkan dengan setumpuk berkas, meeting berjam-jam, dan tugas memusingkan lainnya.


Tuan Pratama juga bernasib sama dengan Yudha, karena kesibukan pekerjaannya, ia juga belum bisa kembali ke Singapura.


Di rumah sakit ME, Aryana sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, Fahmi, Yasmin dan Azka sudah berada di ruang VVIP ruang dimana Aryana di rawat.


"Aryana sayang, akhirnya kamu sadar juga, Nak, bunda bahagia sekali," ucap Yasmin sambil membelai kepala putrinya.

__ADS_1


"Bunda ma-maafkan, Aryana sudah buat bunda sedih dan khawatir," ucap Aryana pelan karena ia baru saja sadar dari tidur panjangnya.


"Nggak, Sayang, kamu nggak salah, kamu putri bunda yang hebat, kamu juga ibu yang hebat," ucap Yasmin berusaha membesarkan hati putrinya.


"Ya, Sayang, benar apa yang di katakan bunda, kamu wanita dan ibu yang hebat, sekarang kamu nggak usah banyak pikiran, harus banyak istirahat agar bisa segera main dengan keempat anak kita," ucap Fahmi menambahi omongan ibu mertuanya, namun ada perkataan Fahmi yang menurutnya cukup jangal.


"Honey, apa maksudmu empat orang anak, bukannya aku hanya melahirkan kembar tiga, kenapa kamu mengatakan ada empat anak,?" tanya Aryana dengan raut keheranan.


"Ehm- begini Sayang, setelah kamu melahirkan kamu mengalami pendarahan dan koma, keadaanmu semakin menurun, dan dokter Nick mengatakan agar kamu harus secepatnya mendaptkan donor jantung. Kami kebingungan kemana harus mendapatkan donor jantung untuk kamu dan pada saat itulah dokter Nick mengabarkan bahwa ada seorang wanita yang akan mendonorkan jantungnya padamu dengan syarat kita harus bersedia merawat putrinya yang baru lahir, dan aku menyetujui semua persyaratan wanita itu," ucap Fahmi memberi penjelasan pada istrinya.


Aryana yang mendengar penjelasan suaminya menutup mulutnya sambil menetesakan air mata, ia tak menyangka ada seorang ibu yang rela berkorban begitu besar untuk anaknya.


"Siapa nama wanita baik hati itu, Honey?"


"Kamu kenal dengannya, Sayang meski tak akrab."


"Aku kenal dengannya, siapa?"


"Kau ingat waktu kita berbelanja di sebuah supermarket, dan ada seorang wanita hamil yang berdebat dengan petugas kasir karena harga susu hamil yang tertera di rak dan di komputer tidak sama, lalu kamu membeli susu hamil tersebut dan kau mencarinya untuk memberikan susu hamil tersebut?"


Mendengar jawaban Fahmi, Aryana berusaha mengingat moment kira-kira dua bulan yan lalu. Saat ia berhasil mengingatnya air matanya menetes, Aryana merasakan ada sesuatu yang berbeda di dalam jantungnya.


"Ya Allah jadi.wanita itu yang mendonorkan jantungnya padaku, dan jantung ini kenapa tiba-tiba merasa nyeri ketika mengingat kejadian di supermarket tersebut," batin Aryana sambil tangan kananya reflek memegang dadanya, dan sontak hal itu membuat Fahmi langsung panik.


"Sayang, kenapa, apanya yang sakit?" tanya Fahmi penuh ke khawatiran.


"Aku tak apa-apa, Honey, aku hanya sedikit terkejut, lalu dimana anak-anak kita sekarang?"


"Anak-anak ada di rumah bersama mami dan dua perawat juga tiga baby sister, kamu tak usah mengkhawatirkan mereka, yang penting sekarang kamu istirahat dulu, jangan banyak pikiran!" pinta Fahmi lalu membenarkan letak selimut Aryana.


Aryana berusaha menenangkan hati dan pikirannya, berita ini sungguh sangat mengejutkan, dan soal bayi wanita yang mendonorkan jantungnya itu, Aryana akan membantu suaminya memenuhi permintaan sang pendonor untuk merawat anaknya dan menjamin masa depannya.


________________________________________


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


Bersambung..


__ADS_2