Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 132


__ADS_3

Sesuai yang sudah di sepakati, Nayla menemui Agung di toko yang akan ia sewa, pak Mahendra tidak bisa menemani putrinya tapi ia menugaskan salah satu anggotanya untuk menemani Nayla. Pukul setengah satu siang Nayla sudah sampai di toko yang akan di sewa, Agung sudah menunggu di sana.


"Siang A Agung, apa sudah menunggu lama?" tanya Nayla.


"Tidak, mbak, saya belum lama di sini," jawab Agung.


"Boleh saya lihat dalamnya?" tanya Nayla


"Boleh, sebentar saya buka tokonya," jawab Agung.


Agung lalu membuka pintu besi yang menutup toko, Nayla cukup tercengang dengan kondisi toko yang sangat bersih.


"Apa toko ini abis di cat A Agung?" tanya Nayla.


"Iya mbak, apa mbak suka?"


"Suka, suka sekali"


"Kalau begitu kita segera tanda tangani surat perjanjian sewanya!"


"Baiklah, mana suratnya?"


Nayla lalu menandatangani surat perjanjian sewa toko dengan Agung.


"Nah mulai sekarang mbak bebas memakai tempat ini, tapi ingat ya mbak di poin perjanjian tadi, jaga kebersihan, biaya listrik dan air tidak termasuk dalam uang sewa, alias listrik dan air bayar sendiri," ucap Agung mengingatkan.


"Iya A saya tahu."


"Kalau begitu ini saya serahkan kuncinya," ucap Agung sambil menyerahkan kunci toko itu pada Nayla.


Setelah menandatangani surat perjanjian sewa dan menyerahkan kunci toko pada Nayla, Agung langsung pamit pergi, namun sebenarnya ia tak kemana-mana karena ia di tugasi Afwi untuk mengawasi Nayla. Sedangkan Nayla tampak tersenyum melihat tokonya itu, ia harus secepatnya mencari perabotan untuk perlengkapan kios kuliner lumpianya itu.


"Mbak Leni, mbak kan orang sini, tahu nggak dimana beli perlengkapan masak?" tanya Nayka pada Bripda Leni, bawahan Kombes Mahendra yang di tugaskan mengawal Nayla.


"Saya tahu mbak Nayla, apa mbak Nayla mau belanja sekarang?" tanya Bripda Leni.


"Iya, tapi bisa nggak, mbak Leni ganti baju, minimal atasannya saja, biar nggak mencolok gitu, tuh mbak lihat hampir semua orang di sini sedari tadi banyak yang memperhatikan kita, berasa aku ini seperti penjahat saja," ucap Nayla yang merasa kikuk karena ternyata kedatangannya bersama seorang polwan berseragam lengkap menarik perhatian bayak orang di sekitar toko yang akan ia sewa.


"Tapi saya tidak membawa baju ganti," ucap Bripda Leni.


"Ehm, minimal pakai jaket, pakai punya saya saja, sebentar saya ambil di mobil," tawar Nayla, lalu menuju mobil dan membawa jaket jeans warna biru langit.


"Ini, mbak pakai ya saat nanti temani aku belanja!" pinta Nyala sambil menyerahkan jaket miliknya.


"Terima kasih, mbak Nayla,," ucap Bripda Leni saat menerima jaket dari putri sang Kombes.


"Mbak Nayla cantik banget, kaya artis, sederhana dan rendah hati, pantas Kombes Mahendra menjaganya dengan ketat, kalau anak-anak di markas tahu kecantikan mbak Nayla bisa heboh," batin Bripda Leni sambil sesekali memperhatikan Nayla.


Nayla segera mengunci kiosnya lagi karena ja akan pergi berbelanja di temani Bripda Leni. Setelah setengah jam mereka sampai di toko yang khusus menjual peralatan masak dan berjualan kuliner.


"Wah banyak pilihan ya di toko ini, tapi untuk lemari etalasenya beli dimana mbak Leni, disini tidak ada?" tanya Nayla.


"Nanti tanya sama orang sekitar toko ini, biasanya mereka tahu tempat jual lemari seperti itu," saran Bripda Leni.

__ADS_1


"Baiklah, kita belanja yang ada di toko ini aja dulu!" ajak Nayla, setelah belanja di toko tersebut mereka lanjut ke toko lemari etalase sesuai informasi dari tukang parkir di toko tersebut.


"Mbak Leni, maaf ya jadi merepotkan mbak Leni temani aku belanja seperti ini," ucap Nayla saat di perjalanan menuju toko etalase.


"Tidak apa-apa mbak, ini sudah tugas saya, mbak Nayla orang baru di sini makanya pak Kombes Mahendra mengkhawatirkan keselamatan anda."


"Ah papa memang begitu, lebay," ucap Nayla sedikit kesal jika ingat protectivnya sang papa.


"Itu artinya pak Kombes, sangat sayang pada mbak Nayla, mbak Nay beruntung memiliki papa seperti pak Kombes karena tidak semua orang bisa memiliki seorang ayah yang baik dan pengertian," ucap Bripda Leni memberi pengertian pada Nayla.


"Oh, ya aku sampai lupa tanya, dimana orang tua mbak Leni, aku rasa mereka mendidik mbak dengan sangat baik buktinya, mbak Leni bisa menasehati aku seperti itu," puji Nayla.


"Saya tidak seberuntung itu mbak Nayla," ucap Bripda Leni tersenyum getir.


"Maksudnya?"


"Kita sudah sampai mbak, Nay," potong Bripda Leni karena ia tak ingin bertanya lebih jauh tentang dirinya.


"Wah kita sudah sampai ternyata, nggak berasa ya, sambil ngobrol tau-tau sampai," ucap Nayla senang ketika menatap keluar sudah di sajikan jejeran lemari ertalase berbagai ukuran.


Nayla langsung keluar dari mobil menuju salah satu toko yang menjual lemari etalase yang beragam, sedangkan Bripda Leni hanya mengikuti Nayla dari belakang dengan tetap menjaga kewaspadaannya atas keamanan sang putri Kombes.


Nayla sudah selesai berbelanja, dan lemari etalase, Nayla tidak mengalami kesulitan dalam membawa lemari etalase karena di toko tersebut memiliki layanan antar.


Sekitar dua hari Nayla mempersiapkan kios lumpianya, ia di bantu art rumah sang papa mempersiapkan kiosnya, ia juga langsung menyuruh Dio untuk ke Bandung, semua tiket dan akomodasi Nayla yang memfasilitasinya. Berhubung Dio juga baru ke Bandung dan belum tahu rumah papa Nayla maka, Nay meminta tolong Bripda Leni untuk menjemput Dio di terminal.


"Mbak Leni nanti minta tolong jemput adikku Dio ya di terminal!" pinta Nayla lewat sambungan telepon.


"Oke!"


Nayla kemudian mengirimkan foto.Dio pada Bripda Leni. Sesuai perintah Bripda Leni menjeput Dio di terminal jam satu siang.


"Kamu yang namanya Dio?" tanya Bripda Leni saat matanya menangkap sosok pemuda yang wajahnya mirip dengan foto yang di kirim Nayla.


Sang pemuda nampak kager tiba-tiba ada seorang wanita berseragam polisi menepuk pundaknya dan menanyakan namanya.


"I-iya, Bu Polisi, ada apa ya?" tanya pemuda ity takut.


"Apa kamu adiknya mbak Nayla dari Semarang?" tanya Bripda Leni.


"I-iya Bu Polisi," jawab Dio gugup bercampur malu karena banyak orang di terminal yang melihatnya.


"Saya di minta mbak Nayla untuk menjemput kamu, karena mbak Nayla masih sibuk," ucap Bripda Leni yang seketika membuat Dio bernafas lega.


"Eh, iya mbak, makasih sudah mau jemput saya," ucao Dio.


"Sama-sama, ayo mobil saya di parkir di sana!" ajak Bripda Leni sambil menunjuk sebuah mobil patwal di sudut terminal.


"Iya Bu Polisi," ucap Dio sambil mengikuti langkah Bripda Leni.


"Ya Tuhan, hampir jantungku mau copot turun dari bus langsung di samperin polisi, mana di lihatin orang satu terminal lagi, dan apalagi naik mobil patroli polisi, hadeww mbak Nay gini amat nyambut aku," batin Dio memandang nanar mobil patwal yang akan segera dia naikki.


Sekitar dua puluh menit Bripda Leni dan Dio sudah sampai di rumah Kombes Mahendra. Dio segera turun dari mobil patwal di ikuti Bripda Leni. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Nayla dari dalam rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Dio


"Waalaikumsalam," jawab Nayla dari dalam rumah dengan masih memakai celemek.


"Dio kamu sudah datang," ucap Nayla sambil tersenyum.


"Iya, mbak Nay, ih mbak Nay bikin kaget aja tahu nggak," ucap Dio cemberut.


"Kenapa?" tanya Nayla heran.


"Kenapa nggak bilang yang jemput aku bu Polisi," ucap Dio pura-pura cemberut.


"Ha...ha..., kaget ya, maaf mbak lupa kasih tahu kamu."


"Mbak Nayla, tugas saya sudah selesai jadi saya pamit undur diri," pamit Bripda Leni tapi di tahan oleh Nayla.


"Tunggu mbak Leni!"


"Ada apa mbak Nay?"


"Sebentar," ucap Nayla lalu masuk ke dalam rumah kemudian keluar lagi dengan membawa sekotak lumpia yang sudah di goreng.


"Ini buat mbak Leni, icipin lumpia Semarang buatanku!" ucap Nayla sambil menyerahkan paper bag yang berisi sekotak lumpia.


"Maksih, mbak Nayla, seharusnya mbak tidak usah repot-repot seperti ini," ucap Bripda Leni tak enak, meski begitu ia tetap menerima sekotak lumpia dari putri sang Kombes.


"Tak apa mbak, sebagai ucapan terima kasih mbak sudah banyak membantu saya."


Setelah menerima sekotak lumpia, Bripda Leni segera pamit undur diri untuk melanjutkan tugas kembali.


Dua hari kemudian Nayla membuka kiosnya, tepatnya di hari Sabtu, untuk perkenalan Nayla memberikan seratus lumpia gratis dengan syarat di makan di tempat, untuk acara pembukaan tentu saja Kombes Mahendra mengerah kan beberapa anak buahnya untuk keamanan termasuk Leni, tapi mereka sebagian berpakaian preman demi kenyamanan pelanggan baru Nayla, hanya dua yang berseragam polisi lengkap. Pada saat itulah para anggota polisi yang bertugas menjaga jalannya acara pembukaan kios Nayla baru mengetahui sosok putri sang Kombes yang cantik, smart dan rendah hati.


"Gila, putrinya pak Kombes Mahendra cantik banget, pintar masak lagi, ramah lagi, aduh bisa diabetes gue kalau begini lihat senyumnya," ucap salah satu anggota polisi bernama Bript Gilang.


"Mimpi jangan ketinggian, Bro, mau di taruh dimana itu si Mila, hemm," sahut salah seorang rekannya.


"Kalau mbak Nay mau sama gue, gue putusin si Mila."


"Dasar buaya lu, yang jadi jodohnya mbak Nayla, kalau dia polisi minimal pangkatnya perwira," ucap rekannya tersebut.


"Ealah, cinta nggak mengenal pangkat dan jabatan, Bro," ucap Briptu Gilang percaya diri.


"Lagak lu," cibir rekan seprofesinya itu


Tanpa dua polisi itu sadari ada seseorang yang rasanya sudah tak sabar menghajar polisi bernama Gilang itu.


"Dasar playboy, berani sekali mau mendekati calon istriku, jangan harap."


________________________________________


Please Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah


Thank You

__ADS_1


__ADS_2