
Pukul lima sore, Afwi baru pulang ke rumah, salam yang ia ucapkan tak ada yang menjawab, rumah terasa sunyi. Afwi langsung naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Sayang..., ternyata kamu di sini," ucap Afwi ketika memasuki kamarnya dan mendapati sang istri sedang tidur.
Afwi duduk di sisi tempat tidur sambil menatap wajah istri yang terlelap begitu damai, Afwi mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi sang istri, karena merasa ada yang mengusik tidurnya Nayla menggeliat dan berusaha membuka matanya.
"A-Abang?"
"Iya, Sayang, masih sakit?" tanya Afwi lembut.
"Sudah enakkan, Bang, makannya tadi bibi Jumi, aku suruh pulang," jawab Nayla.
"Sudah mandi?"
"Belum, Bang."
"Mandi dulu gih!" pinta Afwi sambil membantu istrinya bangun.
Nayla perlahan bangun dari tidurnya dengan di bantu Afwi, ia segera masuk ke kamar mandi karena jam sudah menunjukkan jam lima lewat, sedangkan Afwi menuju balkon kamarnya. Tak berapa lama Nayla sudah selesai mandi dan berganti pakaian, ia merasa tubuhnya lebih segar. Perasaannya sudah tidak segalau tadi, Nayla tadi sempat sharing dengan bi Jumi dan emaknya Dudung itu memberikan beberapa nasehat pada Nayla. Bi Jumi menceritakan betapa kerasnya hidup yang harus ia alami, bagaimana ia harus membesarkan Dudung sendiri tanpa bantuan siapapun setelah suaminya meninggal, apalagi keluarga suaminya yang sudah tak perduli dengan bi Jumi dan Dudung. Nayla banyak belajar apa itu cinta, apa itu keluarga dan apa itu belajar bersyukur. Setidaknya ia terlahir dari orang tua yang berkecukupan, suami dan mertua yang begitu menyayanginya seperti anak sendiri.
"Abang!" panggil Nayla setelah menemukan keberadaan sang suami di balkon kamar mereka.
"Sudah selesai mandi, Dek?"
"Sudah, sekarang gantian abang yang mandi, biar capeknya hilang!" pinta Nayla dengan senyum yang manis membuat Afwi justru keheranan.
"Iya, nanti malam mau makan apa? apa kita makan di luar di resto hotel DW group?" tawar Afwi yang membuat Nayla tertawa.
"Abang nggak usah aneh deh, masa makan malam saja di resto hotel, pemborosan ah," tolak Nayla.
"Abang sungguhan lho, semenjak nikah abang belum pernah ajak kamu ke hotel milik DW group, nggak lucu ah masa anak menantu ceo Dw group belum pernah makan di restonya sendiri."
"Terserah Abang saja lah, makan di sana juga nggak apa-apa, tapi jangan marah ya kalau aku pesan menu yang paling mahal."
"Ha...ha..., nggak mungkin Abang marah, justru kalau kamu milih menu di resto DW group yang paling murah, Abang bakal di coret jadi anaknya Yudhatama Dewantara."
"Masa sih ayah begitu?" tanya Nayla tak percaya.
"Bisa jadi, keluargaku begitu menghormati wanita, opa, ayah, Afwa juga dokter pedofil itu termasuk suamimu ini adalah laki-laki yang bucin sama istrinya," ucap Afwi lalu menoel hidung Nayla kemudian berlalu menuju kamar mandi.
"Iiih Abang!" kesal Nayla sedangkan sang suami sudah menutup pintu kamar mandi.
Waktu terus merangkak naik, ba'da isya, Afwi benar-benat merealisasikan ajakannya tadi sore.
"Ayo, Yang, cepat ganti baju!" pinta Afwi setelah ia melepas sarungnya.
"Emang mau kemana, Bang?"
"Makan malam lah di restonya DW group, abang sudah telepon mas Refanda tadi."
"Jadi Abang serius?"
"Astagfirullah, Dek, ya Abang serius lah, makanya cepat ganti baju, yang semi formal saja!"
Nayla kemudian ke walk in closet mengambil setelah baju muslim setelan atas bawah dengan gaya anak muda, orang tak akan mengira jika Nayla sudah menikah. Afwi tertegun melihat penampilan istrinya yang sudah berganti kostum.
"Dek, jangan cantik-cantik napa?" protes Afwi.
__ADS_1
"Abang aneh, dari sononya Nay sudah gini," kesal Nayla kemudian ia duduk di depan meja rias untuk merias sedikit wajahnya.
"Sayang..., jangan terlalu cantik!" protes Afwi lagi membuat Nayla menurunkan tangannya yang sedang memegang pemoles bedak.
"Kalau gitu, kita nggak usah makan di resto DW group, kita pesan go food aja, jika selamanya aku nggak pernah makan di resto mewah mertuaku pun tak apa-apa, aku sudah biasa hidup susah dengan anak-anak panti sejak mamaku meninggal," ucap Nayla dingin lalu beranjak dari duduknya.
Greep
"Maaf sayang abang hanya bercanda, abang hanya nggak rela laki-laki melihat kecantikanmu," ucap Afwi sambil memeluk.erat tubuh Nayla dari belakang.
Nayla menghembuskan nafas kasar, ia benar-benar kesal dengan tingkah suaminya yang posesif ini.
"Kamu menyebalkan, Bang!" ketus Nayla kesal.
"Iya abang menyebalkan, kamu boleh hukum abang, Sayang, apapu abang terima," ucap Afwi memelas, maksud hati ingin membuat istrinya bahagia sebagai salah satu penebusan rasa bersalahny namun justru berakhir dengan kekesalan sang istri.
"Sekarang jadi nggak makan di restonya kalau nggak aku mau beli nasi goreng di depan Apel Mart?"
"Jadi.dong, Sayang, tunggu abang ganti baju dulu!" ucap Afwi kemudian langsung ke walk in closet.
Selesai berganti baju, Afwi mengandeng tangan Nayla keluar dari kamar dan langsung menuju mobil, dan di sinilah mereka sekarang, mobil Afwi sudah terparkir di parkiran hotel DW group, kedatangan Afwi dan istrinya sama sekali tidak di infokan oleh Refanda pada pihak hotel, dan itu semua atas permintaan Afwi. Putra kedua Yudhatama sekalian ingin mengecek bagaimana kinerja karyawan ayahnya ketika di lapangan.
Afwi dan Nayla sengaja memakai pakaian sederhana tak terlalu mencolok, tapi jika para desainer melihat brand yang di pakai Afwi dan Nayla bisa untuk mengaji karyawan DW group sekelas supervisor. Tas jinjing sederhana yang di pakai Nayla meski terlihat sederhana tetapi harganya bisa untuk membeli sepeda motor Namex baru, tas tersebut adalah salah satu hadiah dari adik iparnya si cantik Aryana.
Mereka masuk ke resto mewah yang menjadi satu dengan hotel DW group, Afwi memilih meja yang berada di dalam ruang tetapi menghadap ke keluar karena Nayla baru saja sembuh jadi tak ingin sang istri kedinginan.
Pelayan langsung menghampiri meja Afwi dan melayaninya dengan ramah, meskipun penampilan Afwi terlihat sederhana namun semua karywawan resto termasuk pihak keamanan tersenyum ramah, tak.ada kesan merendahkan yang terlihat.
"Hebat juga mas Revan, ini semua juga karena campur tangan bunda," batin Afwi.
"Kamu tak tambah lagi pesanannya, Sayang?" tanya Afwi karena melihat menu yang dipilih sang istri porsinya sedikit.
"Baiklah kami pesan ini saja dulu," ucap Afwi pada pelayan yang mencatat pesanan mereka.
"Baik, Tuan, Nyonya," ucap pelayan resto kemudian meninggalkan meja Afwi.
Tak lama pesanan mereka datang, Nayla sangat menikmati makanan yang ia pilih, rasanya sangat enak, dalam istilah Jawa rego ngowo rupo yang artinya kualitas suatu produk sesuai dengan harganya.
"Enak, Dek?" tanya Afwi yang di jawab anggukan dan acungan jempol dari istrinya.
Selesai makan makanan utama mereka memesan kembali menu desert yaitu es krim mix puding. Harga satu desert yang di pesan Nayla bisa untuk mentraktir lima sampai tujuh orang nasi goreng pak Maman yang berjualan di depan kantor polisi tempat Afwi brrdinas.
"Dek, sebentar lagi kasus yang abang tangani selesai, setelah itu abang ingin ngajak kamu healing tapi di tempat yang dekat aja, gimana?" tanya Afwi pada Nayla yang masih menikmati desertnya.
"Boleh, kita ke Semarang aja yuk, sekalian main ke rumah mbak Kirana, siapa tahu aku bisa cepat ketularan hamil juga," jawab Nayla.
"Dek, hamil itu rezeki bukan penyakit menular!" tegur Afwi karena jawaban sang istri yang sudah bagus diembel embeli kata ketularan.
"Ya nggak apa-apa ah, kita ketularan hal yang baik," ucap Nayla lalu meneruskan memakan desrnya.
Afwi berhenti komen, dia hanya mengelengkan kepalanya karena tingkah sang istri, akhirnya mereka menyelesaikan acara dinnernya sebagai penganti rasa bersalah Afwi pada sang istri. Afwi merangkul pinggang sang istri saat berjalan menuju pintu keluar setelah membayar tagihan makannya, meski makan di resto keluarga, Afwi tetap profesional dengan membayar tagihannya.
Saat Afwi dan Nayla akan keluar dari resto, seorang pria paruh baya dengan setelah kerja resmi berjalan terburu-buru ke arah Afwi dan Nayla.
"Pak, Afwi selamat malam, maaf saya tadi tidak menyambut kedatangan anda ke resto ini, karena saya dan staf tidak diberitahu jika anda dan istri akan ke resto DW group," ucap pria paruh baya itu dengan raut wajah cemas, ya pria paruh baya itu adalah manajer resto DW group di cabang Bandung.
"Kami ke sini hanya ingin makan malam saja jadi tak perlu memberitahukan hal ini pada manajemen resto DW group," ucap Afwi.
__ADS_1
"Tapi saya sungguh tak enak hati," ucap manajer resto dengan raut wajah cemas, takut kalau penilaian putra sang pemilik resto memberi nilai yang buruk.
Seakan mengerti apa yang dipikirkan sang menajer, Afwi berkata, " tak usah cemas begitu pelayanan kalian tadi cukup memuaskan, tetap ramah pada kami meski pakaian kami sederhana untuk makan di resto ini tanpa tau siapa kami sebenarnya. Tingkatkan lagi, waspada boleh, tapi jangan berlebihan, jangan melihat seseorang dari casingnya, tetap layani custimer dengan baik."
Afwi dan Nayla meninggalkan resto setelah memberi arahan pada manajer resto, Afwi menepuk pundak sang manajer, kemudian melenggang pergi sambil merangkul pinggang sang istri dengan posesif.
Sepeninggal Afwi dan Nayla, manajer dan beberapa staf yang menyaksikan pembicaraan Afwi dan manajer resto menghembuskan nafas lega.
"Ya Tuhan untung tadi aku pasang senyum manis dan ramah, sama si tuan muda kalau tidak tamat riwayatku," ucapa pelayan wanita yang tadi melayani pesanan Afwi.
"Alamak baru kali ini lihat putra kembar tuan Yudha, gantengnya kebangetan meski pakai baju biasa, apalagi kalau pakai baju resmi!" ucap resepsionis resto heboh.
"Hus, kalian, kerja lagi, jangan komentar yang aneh-aneh kalau masih cinta dengan pekerjaan!" peringat manajer, kemudian pergi menuju ruangannya.
Afwi dan Nayla dalam perjalanan pulang, mood Nayla sudah mulai membaik, putri tunggal Kombes Mahendra Bagaskara ini sudah lebih banyak tersenyum dari pada kemarin. Perjalanan pulang dari resto menjadi hangat dan menyenangkan sampai Afwi tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti, Bang?" tanya Nayla bingung.
"Macet di depan, Dek," jawab Afwi sambil mengamati apa yang terjadi di depan.
Kemudian mobil bergerak lamban karena terjadi kemacetan, sampai akhirnya Afwi tahu jika penyebab macet adanya kecelakaan lalu lintas. Saat melewati satu orang petugas kepolisan yang sedang mengatur lalu lintas, Afwi membuka kaca jendela mobilnya.
"Ada kecelakaan, Pak?" tanya Afwi pada seorang anggota polisi.
Anggota polisi yang mendengar pertanyaan dari seseorang di belakangnya pun menoleh, begitu melihat siapa yang bertanya anggota polisi tersebut langsung hormat.
"Siap, lapor ada kecelakaan lalu lintas, sebuah mobil pribadi dan mobil box," jawab anggota polisi tersebut.
"Baik, terima kasih lanjutkan tugas kalian!" ucap Afwi kemudian berlalu karena itu bukan menjadi wewenangnya mengurusi laka lantas.
"Siap!" jawab anggota polisi tersebut.
Afwi kemudian melanjutkan perjalanannya kembali, meski harus berjalan merayap karena kecelakaan yang terjadi menimbulkan kecelakaan parah. Setelah seper empat jam akhirnya Afwi bisa keluar dari kemacetan. Pada saat mobil Afwi hampir sampai rumah ponselnya berdering, karena sedang menyetir, Afwi menyerahkan ponsel pada Nayla.
"Angkatlah, Dek, abang lagi menyetir!" pinta Afwi.
"Dari mas Refanda, Bang."
"Angkat saja dulu!"
"Hallo, Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam, mbak Nay, Afwinya ada?" tanya Refan.
"Ada sebentar!"
Afwi kemudian menepikan mobilnya karena sepertinya telepon dari Refan sangat penting.
"Ya ada apa Mas Refan?"
"Fi, salah satu kolega om Yudha mengalami laka lantas, baru saja pihak kepolisian menelpon om Yudha, karena hanya nomor om Yudha di ponsel orang itu yang bisa di hubungi, tolong cek ke kantor polisi ya!"
"Siapa nama kolega ayah, Mas?"
"Namanya Niko Rafael Wijaya, dia juga pernah bekerja sama dengan pak Fahmi di Singapura."
Deg
__ADS_1
_________________________________________