Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 229. Kelahiran


__ADS_3

Hari ini ada pertemuan persit di kesatuan tempat Afwa berdinas, pukul tujuh pagi Kirana sudah mematut dirinya di depan cermin, kehamilan yang sudah mendekati hpl tidak mengurangi aura kecantikannya.


"Sayang, kamu bener mau berangkat ke pertemuan persit?" tanya Afwa sambil mengancingkan sendiri baju dinasnya.


"Iya, lagian di rumah juga nggak ada kegiatan, nggak enak sama bu Komandan kalau tidak datang," jawab Kirana.


"Bu Henry pasti memaklumi kalau kamu tak bisa datang, kelahiran kamu sudah semakin dekat, Mas juga sudah bilang ke beliau tentang keadaan kamu."


"Sekali ini aja, Mas, habis itu aku akan benar- benar off dari semua kegiatan."


Afwa menarik nafas dalam-dalam sebagai tanda ia memang harus pasrah dengan keinginan istrinya.


"Baiklah, tapi jika merasakan sesuatu yang nggak nyaman di tubuh kamu, harus langsung kasih tahu Mas atau minta ijin pulang, dan minta tolong untuk diantarkan pulang!"


"Oke, InsyaAllah semua akan baik-baik saja, yuk berangkat!" ajak Kirana yang sudah menenteng tas.


Afwa mengantar Kirana ke ruang pertemuan yang akan di gunakan untuk acara persit, setelah itu baru ia menuju ke kantornya. di ruang pertemuan baru terlihat dua orang anggota persit yang bertugas menyiapkan konsumsi untuk pertemuan, Kirana memang berangkat lebih awal dari undangan karena Afwa harus berangkat pagi.


"Selamat pagi Ibu Adnan, Bu Farel!" sapa Kirana ramah pada dua orang ibu persit yang sudah lebih dulu datang.


"Pagi juga, Bu Afwa, kenapa jam segini sudah datang?" ucap bu Adnan


"Tadi Mas Afwa berangkat pagi jadi ikutan berangkat pagi."


"Dengar-dengar sudah dekat hpl ya Bu?" tanya Bu Farel.


"Iya."


"Seharusnya ibu banyak istirahat saja kalau sudah dekat hpl, bu ketua pasti mengerti," saran bu Adnan


"Suami saya juga bilang begitu, tapi saya ngeyel pingin berangkat pertemuan, habis di rumah tidak boleh mengerjakan apa-apa sama suami."


"Ah so sweet pak Afwa, kita lihat bapak sangat perhatian sekali dengan ibu, bahasa kerennya over protektif," canda bu Farel terkekeh.l


"Bu Farel bisa aja, bukannya seorang suami harus ekstra perhatian saat istrinya hamil," ucap Kirana.


Tiga ibu persit itu berbincang diselingi tawa sambil menata makanan yang akan di sajikan saat pertemuan. Kirana ingin sekali membantu tetapi tidak diperbolehkan oleh kedua rekannya itu dengan alasan tak ingin Kirana kecapean, Kirana hanya membantu merapikan dus snack saja, bu Adnan dan bu Farel sudah cukup ngeri melihat perut Kirana yang sudah sangat besar seperti mengandung hamil anak kembar.


Tak berapa lama dua orang anggota persit datang kemudian langsung membantu bu Farel dan bu Adnan. Waktu terus berjalan, anggota Persit sudah banyak yang hadir, pukul delapan acara pertemuan sudah di mulai, acara berjalan lebih dari tiga jam karena mendengar pengarahan dari ibu ketua Persit, juga dengar pendapat tentang beberapa program yang akan di laksanakan dalam waktu dekat, salah satunya bantuan yang akan di berikan di beberapa wilayah yang terkena bencana alam.


Kirana sangat antusias mengikuti sesi dengar pendapat, ia pun juga ikut menyumbangkan suaranya. Hal yang di sampaikan Kirana tak jauh dari pembuatan makanan, dengan kearifan lokal dan di mix dengan gaya hidup berkelanjutan, yang artinya menghasilkan suatu produk dengan menggunakan bahan dari sesuatu yang bisa di dapat dari budaya setempat, menggunakan bahan baku yang mudah di dapat di sekitar para prajurit tinggal, pembuatan ketahanan pangan bagi keluarga prajurit, sedangkan gaya hidup berkelanjutan menggunakan bahan alam namun tidak dengan merusak habitatnya.


Ide yang dikemukakan Kirana cukup menarik anggota Persit yang lain, apalagi Kirana menerangkan dengan sangat detai. Terutama ibu ketua juga sangat tertarik dengan ide dari Kirana.


"Hanya itu yang bisa sampaikan, semoga bermanfaat, terima kasih," ucap Kirana mengakhiri penjelasan tentang cara kerja ide yang ia sampaikan.


"Terima kasih kembali ibu Afwa, ide anda sangat bagus, dengan property yang dimiliki kesatuan ini, ide dari ibu Afwa cukup mudah untuk realisasikan. Namun ide dari ibu Afwa akan kami tampung dulu sebagai referensi kegiatan selanjutnya," ucap ibu ketua Persit memberikan tanggapan.


Acara sudah hampir selesai, tinggal pembacaan resume hasil rapat, Kirana yang duduk di kursi di baris depan agak di ujung, merasa perut bagian bawahnya terasa nyeri dan menjalar sampai bagian punggung bagian bawah dekat panggul. Kirana berusaha menahannya namun rasa sakit nya semakin terasa, tanpa sadar Kirana memegang tangan ibu Angga rekan sesama persit yang duduk di sebelahnya.


"Astaghfirullahal 'adziim," ucap Kirana sambil reflek memegang tangan bu Angga.

__ADS_1


Sontak hampir beberapa ibu persit yang mengikuti jalannya pertemuan menatap ke arah Kirana, termasuk ibu ketua.


"Bu Afwa kenapa?" tanya bu Angga yang terkejut tiba-tiba tangannya di pengang erat oleh Kirana.


"Se-sepertinya sa-saya mau melahirkan, Bu," jawab Kirana terbata karena menahan sakit, tentu saja bu Angga dan rekan Persit yang duduk di dekat Kirana terkejut.


"Apa mau melahirkan!" pekik bu Angga terkejut sampai ibu ketua mendekat ke arah Kirana yang masih kesakitan sambil memegang perutnya.


"Ada apa ini bu Angga?" tanya bu Ketua.


"Ijin menjawab, Ibu, ini ibu Afwa kesakitan sepertinya mau melahirkan," jawab bu Angga yang mendadak gugup.


"Benar bu Afwa?" tanya bu Ketua yang hanya di jawab anggukan oleh Kirana karena ia sedang sibuk menahan rasa sakit yang semakin hebat di area perut dan pinggul.


Ibu ketua langsung menghubungi staff di kantor suaminya untuk memberitahukan keadaan Kirana pada Afwa. Tak lama Afwa datang dengan paniknya setelah salah satu staff memberitahunya bahwa sang istri mengalami kontraksi. Afwa langsung membawa Kirana ke rumah sakit terdekat dengan ditemani bu Angga atas perintah ibu ketua, kemudian acara dilanjutkan kembali karena tinggal acara penutup.


"Di dalam mobil Kirana masih merintih kesakitan hingga Afwa yang sedang menyetir ikutan panik.


"Mas sakit," rintih Kirana yang membuat Afwa tak karuan.


"Istighfar, Bu, sambil tarik nafas lalu keluarkan lewat mulut, jangan tegang nanti malah makin sakit," nasehat bu Angga yang sudah berpengalaman melahirkan normal maupun cesar.


"Sabar ya, Sayang sebentar lagi sampai, lakukan saja apa yang di katakan bu Angga!" pinta Afwa sambil fokus menyetir.


Akhirnya mereka sampai ke rumah sakit terdekat, bagian IGD langsung memindahkan Kirana ke brangkar lalu diperiksa. Sebenarnya Kirana akan melahirkan di rumah sakit Permata milik Fahmi yang ada di kota Semarang, namun karena keadaan yang di luar prediksi membuat Afwa memutuskan ke rumah sakit terdekat.


"Istri anda sudah pembukaan dua jadi harus segera kami bawa ke ruang bersalin," ucap perawat.


"Boleh saya menemani?" tanya Afwa.


Di ruang bersalin, Afwa tak henti-hentinya melafalkan dzikir dan doa sambil sesekali mengelus kepala Kirana dengan.


"Sayang, kuat ya, kamu ibu hebat, sebentar lagi kita akan ketemu dengan peri kecil kita yang cantik," ucap Afwa.


Setelah hampir satu jam akhirnya anak perempuan Afwa dan Kirana lahir ke dunia, rasa haru menyelimuti hati pasangan suami istri tersebut.


"Bapak, Ibu, bayinya perempuan, sehat dengan anggota tubuh lengkap dan ada tanda lahir di paha sebelah kanan, kami bersihkan dulu."


Setelah sang bayi bersihkan, Afwa langsung mengadzani bayinya, suara Afwa bergetar saat melantunkan adzan di telinga putrinya


Sekuat-kuatnya seorang laki-laki ia akan sangat melow jika berhubungan dengan anaknya, apalagi anak Afwa bayi perempuan yang sangat cantik. Afwa meyerahkan kembali bayinya pada perawat.


"Kamu hebat, sayang," ucap Afwa lalu mencium kening istrinya lembut.


"Dimana anak kita Mas?"


"Ada di ruang bayi, nanti kalau kamu sudah di pindahkan ke ruang rawat, anak kita akan di bawa kesana."


"Mas sudah kasih tahu, orang tua kita?"


" Astaghfirullah, Mas, sampai lupa saking paniknya tadi, dan bu Angga masih menunggu di luar."

__ADS_1


"Kalau begitu cepat Mas kabari, sama bi Nani suruh ke sini bawakan perlengkapan aku dan dedek bayinya, lalu ucapkan terima kasih sama bu Angga dan carikan taxi agar beliau bisa pulang, kasihan bu Angga soalnya kan nggak mungkin Mas antar bu Angga cuma berdua."


"Iya nanti Mas telepon supir hotel DW group biar jemput bi Nani sekalian nanti antar bu Angga pulang.


Setelah setengah jama bik Nani datang ke rumah sakit dengan diantar supir hotel. Atas perintah Afwa supir hotel menunggu di parkiran yang dekat dengan lobi. Setelah bi Nani ke ruang rawat Kirana, Afwa mengantar bu Nani ke parkiran sembari mengucapkan terima kasih.


Kelahiran bayi Afwa yang melenceng agak jauh dari hpl sudah terdengar di keluarga Afwa maupun Kirana, tak ketinggalan Fahmi langsung menghubungi direktur rumah sakit dimana Kirana melahirkan agar memberikan pelayanan dan obat-obatan terbaik. Yasmin yang sedang mendampingi Yudha di Bali.dalam urusan bisnis langsung merengek minta ke tempat Afwa.


"Ayah, ayo kita segera ke Semarang, kasihan Kirana, lagi pula meeting ayah sudah selesai kan?


"Baiklah, bunda ratu," ucap Yudha, lalu meminta asistennya mengurus sisanya karena meeting utama sudah ia pimpin beberapa hari kemarin.


Kirana dan bayinya sudah boleh di bawa pulang setelah tiga hari perawatan, namun mereka tak pulang ke rumah dinas melainkan ke rumah Raka dengan pertimbangan lebih luas dan ada Dinda yang bisa membantu menjaga bayi Kirana selain bi Nani.


"MasyaAllah cantiknya cucu eyang, bikin gemes,"ucap Raka saat mengambil bayi Kirana dari gendongan Afwa., ini adalah cucu pertamanya membuat Raka sangat gembira dan terharu.


"Kamu sudah memberinya nama?" tanya Dinda pada Afwa.


"Sudah, Bu, namanya Syakia Kahiyang Dewantari," jawab Afwa.


Dinda dan Raka tersenyum mendengar jawaban Afwa, nama yang menantunya sematkan pada cucunya sangat cantik. Kirana pun ikut tersenyum Afwa yang begitu antusias memberikan nama pada putri mereka.


"Kiran kamu istirahat dulu, biar Syakia ibu yang jaga!" pinta Dinda.


"Iya kamu istirahat saja dulu, biar anak kalian kami yang jaga, Afwa bawa istri kamu ke kamar!" ucap Raka menimpali.


Afwa kemudian membawa sang istri dan juga barang-barang ke kamar, sedangkan bayi mereka sedang menjadi mainan baru buat Dinda dan Raka. Sikap Dinda mulai berubah semenjak acara tujuh bulanan kehamilan Kirana.


Selang satu jam beberapa tetangga berdatangan menjenguk Kirana, untung saja tadi Dinda sempat membuat makanan kecil dan membeli beberapa camilan ringan. Satu jam kemudian Yudha dan Yasmin datang ke rumah Raka.


"Assalamualaikum," ucap Yudha dan Yasmin bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Dinda sambil mengendong anaknya Kirana.


"Wah cucu oma," pekik Yasmin girang saat melihat bayi mungil di gendongan Dinda yang pastinya adalah anak Afwa.


"Ini anaknya Afwa, Din?"


"Iya, cantik banget"


"Besok pasti banyak cowok yang naksir sama dia," komentar Yasmin


"Genap tujuh hari saja belum sudah bahas cowok, dasar omamu ini," sungut Yudha sedikit kesal.


"Sudah-sudah ayo duduk dulu, biar aku kasihkan Syakia ke Kiran dulu kelihatannya di haus," ucap Dinda kemudian berlalu dari hadapan besannya itu.


"Aqiqahan cucu kita mau diadakan kapan?" tanya Yudha.


"InsyaAllah empat hari lagi di hari ke tujuh," jawab Raka.


"Mau dilaksanakan dimana?"tanya Yasmin.

__ADS_1


"Biar nanti Afwa yang beli kambingnya, dan setelah di sembelih kasihkan pada chef Damian untuk dimasak, aku tak ingin kalian capek, biar Afwa dan bundanya yang mengurusi soal aqiqah," ucap Yudha yang disetujui oleh Raka.


_______________________________________


__ADS_2