Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 73


__ADS_3

Aryana merasa gembira sepulang dari makan di resto xxx, sampai di resortnya, ia langsung membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan Fahmi duduk di sofa kamar sambil mengecek email yang masuk dari asistennya meski liburan ia tetap memantau pekerjaannya.


"Kamu nggak bersih-bersih dulu, Honey?" tanya Aryana ketika keluar kamar mandi melihat suaminya masih intens menatap layar ponselnya.


Mendengar teguran istrinya Fahmi langsung mengangkat kepalanya memandang istri kecilnya yang kini cerewet padanya.


"Sebentar, Sayang, ini baru cek email dari asistenku" jawab Fahmi disertai senyum manisnya agar sang istri tidak semakin cerewet.


"Ya sudah kalau begitu aku langsung tidur saja ya, capek," ucap Aryana yang langsung menganti pakaiannya dengan baju tidur lalu merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling.


Melihat sikap istrinya, Fahmi langsung meletakkan ponselnya lalu segera menuju kamar mandi karena jika ia meneruskan mengecek email-nya, bisa di pastikan bulan madunya kali ini akan berakhir menyedihkan. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Fahmi langsung menyusul istri kecilnya tidur di ranjang, Aryana tidur dengan membelakanginya, sehingga Fahmi mencoba memeluk sang istri dari belakang, ia membenamkan wajahnya leher belakang istrinya, wangi tubuh sang istri sekarang sudah menjadi candu baginya


"Sayang, aku tahu kamu belum tidur, mana yang capek biar aku pijitin?" tawar Fahmi sambil memeluk tubuh Aryana dari belakang, namun nihil tak ada jawaban dari istrinya setelah di perhatikan lagi ternyata sang istri sudah benar-benar tertidur.


"Heh, ternyata beneran sudah tidur," gumam Fahmi yang akhirnya ikut tertidur sambil memeluk sang istri.


Pukul tiga pagi Aryana tiba-tiba terbangun, ia merasa tenggorokannya kering, ia ingin bangun namun tubuhnya terasa berat, ternyata sang suami tidur dengan posisi memeluknya seperti memeluk guling.


"Pantesan berat, badan segede ini meluk aku kaya meluk guling," gerutu Aryana dalam hati.


Perlahan ia menyingkirkan tangan kekar milik suaminya, juga kaki sang suami yang menindih kakinya.


"Huh maksudnya posesif tapi malah membuat kakiku kesemutan begini," gerutu Aryana dalam hati sambil mengelus kakinya yang kesemutan karena di tindih oleh sang suami.


Aryana kemudian melangkah pelan menuju pantry di resort yang mereka tempati, ia mengambil air putih yang ada di pantry. Setelah merasa hausnya hilang ia melihat jam ternyata masih jam tiga pagi.


"Masih jam tiga pagi ternyata, shalat tahajud dahulu saja mumpung masih ada waktu," gumam Aryana.


Kemudian Aryana mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajud empat rekaat ditutup witir tiga rekaat. Dalam shalatnya Aryana memohon pada Allah agar ia dan keluarganya selalu di beri kesehatan, dan juga rumah tangganya dengan Fahmi menjadi keluarga yang samawa dan segera di karunia keturunan.


Fahmi menggeliat, merasa sebelahnya kosong saat tangannya tak merasakan menyentuh tubuh sang istri, ia berusaha membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, dan pandanganya terhenti ketika melihat seseorang sedang menengadahkan tangannya dengan khusyu berbalut mukena warna putih. Hati Fahmi menghangat ketika melihat pemandangan di depannya ini, seulas senyuman tersungging di bibir dokter bucin itu.


"Kamu shalat tahajud, Yang?" tanya Fahmi ketika Aryana sudah menyelesaikan doanya.


"Iya, tadi kebangun karena haus, waktu lihat jam ternyata masih jam tiga, ya sekalian aja aku shalat tahajud," jawab Aryana.


"Kok nggak bangunin, aku sih, Yang kalau mau shalat malam?" tanya Fahmi protes.

__ADS_1


"He...he..., maaf Honey aku lupa," jawab Aryana.


"Ya sudah nggak apa-apa, tapi habis subuh tiga ronde ya," ucap Fahmi dengan senyum smirknya.


"What?, hukuman macam apa itu?" tanya Aryana tak terima.


"Ya itu hukuman karena kamu langsung tidur semalam sehingga adik kecilku menganggur dan juga kamu nggak bangunin aku shalat malam," jawab Fahmi.


"Itu 'kan karena memang aku sudah lelah ditambah sudah kekenyangan waktu makan di resto xxx tadi, dan soal shalat malam nggak bangunin kamu karena aku benar-benar lupa," ucap Aryana memberi klarifikasi.


Fahmi melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan jam.empat pagi berarti sudah menjelang waktu subuh.


"Sudah jam empat kita persiapan shalat subuh berjamaah sekalian ya Yang," ucap Fahmi.


"Iya, kalau begitu kamu segera ke kamar mandi gih, aku siapkan perlengkapan shalatmu, Honey!" pinta Aryana.


Fahmi langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah selesai ia segera berganti pakaian untuk shalat yang sudah disiapkan sang istri. Hal inilah salah satu penyebab Fahmi ingin segera menghalalkan Aryana, masih belia, tak hanya cantik namun juga cerdas, rendah hati dan sholehah. Mukena travel dan sajadah lipat tak pernah absen dari tas nya ketika ia bepergian di tambah sekarang, ia harus selalu memastikan perlengkapan shalat sang suami juga ada di dalam koper


Setelah memakai sarung dan baju koko, Fahmi memulai shalat subuh berjamaah dengan sang istri di dalam resort. Meski sedang liburan dan bersenang-senang namun Aryana dan Fahmi tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Setelah selesai menunaikan ibadah shalat subuh, Fahmi benar-benar melakukan hukumannya pada sang istri. Suasana pagi yang masih terasa dingin di kamar resort berubah menjadi panas. Lebih dari satu ronde Fahmi membawa sang istri mereguk nikmatnya surga dunia. Sampai akhirnya Fahmi merasakan puncaknya, menyalurkan benihnya di rahim istri kecilnya, dengan segala doa dan harapan semoga akan segera hadir malaikat kecil di rahim sang istri. Selesai pelepasan Fahmi membaringkan tubuhnya di samping istrinya, guratan kelelahan terlihat di wajah istri kecilnya karena ulahnya. Beberapa ciuman ia darat kan di kening dan wajah istrinya.


Aryana yang sudah kelelahan, hanya diam mendengarkan ucapan dari suaminya, ia merasa sangat lelah rasanya tubuhnya seolah habis melakukan pekerjaan berat, akhirnya Aryana tertidur tanpa sehelai benangpun, namun ada selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Fahmi yang melihat tidak ada respon apapun dari istrinya segera memeriksa keadaanya. Fahmi merasa lega setelah mengetahui sang istri hanya tertidur karena kelelahan.


"Ternyata kau tertidur, Sayang, istirahatlah bidadari ku, aku aku akan menemanimu di sini, maafkan aku sudah membuatmu kelelahan," ucap Fahmi sambil membenarkan letak selimut sang istri menutupinya sampai ke leher, tak lupa ciuman penuh sayang ia darat kan di kening Aryana yang sudah terbuai di alam mimpinya.


Jika di Maldives sepasang pasangan halal Fahmi dan Aryana sedang latihan binsik di atas pulau kapuk, maka di tanah air seorang pemuda tampan sedang melakukan binsik bersama teman-teman seangkatannya di tengah lapang, mungkin dengan ia melakukan banyak kegiatan di asrama akademi, ia bisa sejenak melupakan kisah cintanya yang rumit.


"Kiran kamu sedang apa sekarang, Yang, aku kangen, semoga kamu selalu sehat," batin Afwa dalam hati.


"Woi habis lari malah ngelamun!" tegur Rafi teman Afwa yang juga sudah selesai lari.


"Hah, ngagetin aja lu," ucap Afwa kesal karena sedang melamunkan Kirana malah di buyarkan oleh Rafi.


"Lagian habis lari bukannya ikut ngumpul sama yang lain malah misahin diri kaya anak tiri," ucap Rafi.


"Bukannya mau misahin diri, gerah nih jadi aku cari tempat yang agak rindang," ucap Afwa memberi alasan, karena memang benar ia sedikit galau, entah kenapa sejak semalam ia kepikiran Kirana. Andai ia bisa bebas pengan ponsel ia akan segera menelpon pujaan hatinya itu tapi apa boleh dikata, pengunaan ponsel di Akmil sangat dibatasi, para taruna tidak bisa setiap saat pegang ponsel.

__ADS_1


"Ada masalah apa lu, sampai melamun begitu?" tanya Rafi menyelidik sekaligus kepo.


"Gue nggak melamunkan apa-apa," jawab Afwa.


"Ah bohong lu, paling-paling masalah cewek, iya 'kan ngaku aja deh," tuduh Rafi.


"Apaan sih, mau tahu urusan orang aja, udah ah aku mau gabung sama Wildan dan Romi di sana," ucap Afwa kemudian berlalu dari hadapan Rafi, teman se asramanya yang paling berisik dan memiliki rasa kepo tingkat tinggi seperti para emak-emak komplek kalau pada ngumpul arisan.


Melihat Afwa pergi begitu saja, Rafi langsung menyusul Afwa dengan sedikit berlari.


"Eh gila ya tuh anak, malah main pergi aja, heran gue, tampan sih tampan, di atas rata-rata malahan tapi dingin dan datarnya alamak, gitu aja baru dua hari masuk akademi sudah bikin para taruni klepek-klepek, hadeww," umpat Rafi dalam hati.


"Diajak ngobrol malah ninggalin, sih?" tanya Rafi setelah bisa menyamai langkah Afwa.


"Habisnya kamu kepo banget, aku jadi males," jawab Afwa sambil berjalan mendekat ke tempat Wildan dan Romi.


"Hai, Fa dari mana tadi kita cariin kemana-mana, sebentar lagi kita disuruh kumpul di lapangan," ucap Wildan.


"Aku ada di bawah pohon sana, ngadem sebentar," jawab Afwa.


"Oh aku kira kemana tadi," ucap Wildan.


Tiba-tiba terdengar instruksi bahwa semua taruna dan taruni agar segera berkumpul di lapangan.


"Eh, suara pelatih tuh, yuk kita segera ke lapangan jangan sampai telat, bisa gawat kalau terlambat sedetik aja!" ajak Romi pada Wildan, Afwa dan Rafi.


Keempat taruna itu pun segera bergegas menuju lapangan sesuai instruksi pelatih. Mereka harus cepat dan tepat dalam melaksanakan semua instruksi jika tidak ingin kena semprot dari para pelatih.


___________________________________________


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Baca juga karya baruku, Catatan Hati Maharani dan jangan lupa dukung karya terbaruku, Cerita ini sudah tidak berhubungan dengan dua ceritaku sebelumnya, jadi mohon dukungan tinggalkan jejak kalian disana.🙏


Jika ada yang tanya novel yang satu belum selesai kok buat novel baru lagi? itu karena author ingin mencoba kemampuan bersama author lain di lomba menulis novel, dan hanya karya yang belum terkontrak yang bisa di ikutkan lomba, jadi author harus menulis karya baru karena Cinta Yudha dan Pilihan Hati Aryana sudah terkontrak jadi tidak bisa ikutan lomba, tapi tenang aja Pilihan Hati Aryana tetap author selalu usahakan up meski tidak setiap hari karena kesibukan author di dunia nyata.


Thank You

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2