
Sampai di hotel Afwi langsung membersihkan diri di lanjutkan shalat isya karena adzan isya sudah terdengar. Setelah shalat Afwi membuka laptopnya memulai membuat laporan. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, Afwi segera mengakhiri pekerjaannya karena ia harus segera istirahat, namun sebelum merebahkan diri, ia menyempatkan berkirim pesan pada Nayla. Afwi memberi tahu Nayla bahwa selepas subuh ia harus kembali le Bandung dan tidak sempat bertemu dengannya.
Setelah shalat subuh, Afwi segera bersiap ke bandara untuk kembali ke Bandung, ia tak sanggup jika harus mengendarai mobil dari Semarang ke Bandung, jadi Afwi memutuskan untuk naik pesawat komersial yang berangkat pukul enam pagi, sedangkan mobilnya ia tinggal di Semarang, ia meminta orang suruhannya untuk mengantar mobilnya ke Bandung.
Sekitar pukul tujuh pagi, Afwi sudah sampai di bandara, ia meminta salah satu anggotanya untuk menjemput, Afwi langsung ke kantor karena harus segera memberi laporan pada komandannya.
"Kita langsung ke kantor saja!" pinta Afwi pada salah satu anggotanya yang menjemputnya.
"Siap!"
Setelah setengah jam perjalananan, Afwi akhirnya sampai di kantor, ia langsung menghadap komandannya.
"Lapor, Ndan, hasil dari rapat kemarin di Semarang sudah saya kirim ke email komandan" ucap Afwi sambil memberikan sebuah flash disk pada sang komandan.
"Atasan Afwi tersebut segera membuka email melalui laptop yang ada di mejanya, saat membaca laporan ada beberapa hal yang ia tanyakan pada Afwi tentang detail kesepakatan operasi pengamanan yang akan di gelar serentak di beberapa wilayah.
"Ipda, Afwi, ternyata tak salah aku mengirimmu untuk mengikuti rapat koordinasi, pengetahuanmu di bidang IT tak di ragukan lagi, analisis pemetaan yang kamu gunakan akan sangat membantu dalam operasi kali ini," puji sang komandan.
"Siap! terima kasih komandan," ucap Afwi.
"Kamu pulanglah dulu, saya tahu kamu dari bandara langsung ke sini, nanti kita adakan rapat bersama tim setelah jam makan siang, saya akan ada undangan dari pak bupati di kabupaten!"
"Siap Komandan!" ucap Afwi kemudian segera keluar dari ruangan komandannya.
Afwi kemudian meminta salah satu anggotanya untuk mengantarnya pulang ke rumah.
"Bripda Andi antar saya pulang ke rumah!" perintah Afwi
"Siap!"
Afwi dan Bripda Andi segera keluar kantor menuju rumah Afwi. Sesampainya di rumah, Afwi meminta Bripda Andi untuk kembali ke kantor polisi, sedangkan Afwi segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat sebentar. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, matanya berusahan untuk terpejam namun tak bisa.
Afwi masih memikirkan pembicaraannya dengan bunda Nana sewaktu di Semarang. Menentukan strategi yang tepat untuk jujur pada Nayla tentang profesinya dan juga agar Nayla tetap bersamanya saat ia sudah tahu kebenarannya, benar-benar lebih sulit daripada menentukan strategi dalam menangkap gembong narkoba.
Pukul sebelas siang Afwi kembali ke kantor polisi tempat ia bertugas, sampai di kantor polisi, Afwi bergegas masuk ke ruangannya, ia memeriksa beberapa berkas untuk rapat selepas dzuhur nanti.
Tepat pukul satu siang rapat tentang penjagaan keamanan untuk memberantas kejahatan yang kian marak di kota Bandung dimulai. Rapat berlangsung selama sekitar dua jam, akhirnya Afwi di beri tugas sebagai koordinator lapangan dalam setiap operasi. Meskipun Afwi belum memiliki jam terbang di kepolisian namun kecerdasan dan ketangguhannya tak di ragukan lagi. Afwi di kenal sebagi polisi yang sangat bertanggung jawab, disiplin dan cukup pendiam jangan lupakan ia juga miskin senyum.
Soal asmara, banyak para wanita yang begitu penasaran dengan sosoknya yang ganteng paripurna tapi dingin dan datar pada wanita. Tak seorangpun wanita di lingkungan kantornya yang berani mendekatinya selain masalah pekerjaan.
Dua hari lagi operasi keamanan akan di mulai, Afwi sudah sangat sibuk dengan tugas baru yang akan di embannya. Meskipun ia sangat sibuk namun ia tak lupa untuk memberi kabar pada sang kekasih. Seperti sore ini seusai ia lepas dinas, Afwi berkirim pesan lewat chat dengan Nayla.
Afwi
"Assalamualaikum, Dek, sedang apa?"
Nayla
"Sedang nyantai aja, Bang, habis ngetik untuk revisi skripsi. Kalau abang sedang apa?"
Afwi
"Lagi di resto cek beberapa menu makanan," jawab Afwi bohong, tak mungkin ia menjawab sedang di kantor polisi.
Nayla
"Oh masih di resto Aryana hotel, lumpiaku bagaimana, Bang, masih banyak peminatnya?"
__ADS_1
Afwi
"Alhamdulillah, cukup laku, Dek, sejauh ini aman."
Nayla
"Alhamdulillah, Bang. Abang sudah makan?"
Afwi
"Belum, Dek ini masih sore, nanti habis magrib atau isya abang akan makan."
Nayla
"Ya sudah, yang penting abang jaga kesehatan, jangan sampai telat makan ntar kena maag."
Afwi
"Makasih ya, Dek, kamu juga jaga kesehatan jangan tidur malam-malam!"
Nayla
"Siap abang! Assalamualaikum."
Afwi
"Waalaikumsalam."
Afwi menutup panggilan telponnya dengan Nayla, Afwi kemudian menyambar kunci mobil untuk segera pulang ke rumah.
Satu bulan sudah acara operasi pengamanan di laksanakan hampir di seluruh wilayah Bandung, terutama di titik-titik rawan Pekerjaan yang sungguh melelahkan. Afwi hampir jarang tidur ke rumah karena pekerjaan sebagai koordinator lapangan yang memerlukan perhatian penuh. Pantas saja Nayla sangat tak menginginkan menjadi seorang Bhayangkari karena menjadi ibu Bhayangkari tak seindah saat foto pengajuan maupun foto preweeding menggunakan seragam kebanggaan sang calon suami.
Sekarang Afwi sedang berada di ruangannya memeriksa laporan dari operasi kemarin sebelum di serahkan kepada atasannya. Tiba-tiba ruangan kerja Afwi di ketuk oleh seseorang.
Tok tok
"Siapa?" tanya Afwi dari dalam.
"Saya Pak Briptu Lucas."
"Masuk!"
"Briptu Lucas ada apa?"
"Siap, anda di minta menghadap ke ruang Komandan Ardan!"
"Baik, terima kasih saya akan kesana, kamu boleh keluar!" ucap Afwi.
"Siap!"
Setelah Briptu Lucas keluar, Afwi segera menghadap komandan Ardan dengan tanda tanya di hatinya ada apa komandan Ardan memanggilnya. Afwi sudah berada di depan komandan Ardan, kemudian setelah diberi ijin Afwi segera masuk ke ruangan sang komandan.
"Ipda Afwi silahkan duduk!" pinta komandan Ardan.
"Siap!"
"Begini Ipda Afwi, kamu pasti sudah dengar kasus pembunuhan seorang pengusaha batu bara yang bernama Mr. Z, nah dalam kasus tersebut memiliki empat saksi dan tiga saksi tersebut meninggal, hanya tinggal satu saksi kunci pembunuhan tersebut, dia adalah putri dari salah satu pengusaha, nah berhubung Iptu Priyadi saya beri tugas lain maka saya Ipda Afwi saya minta mengantikan tugas Ipda Priyadi untuk mengawal kasus ini dan carikan salah satu anggota untuk bertugas menjaga kemanan putri pengusaha tersebut!"
__ADS_1
"Siap Komandan!"
"Bagus, kamu memang anggota saya yang bisa di andalkan, kamu akan bertugas mulai besok mengambil alih tugas Ipda Priyadi.
"Ijin, bertanya, Ndan!"
"Ya silahkan."
"Jika saya mengantikan tugas Ipda Priyadi bagaimam tugas saya untuk kasus operasi keamanan yang sedang saya lakukan?"
"Kamu kan punya tim di operasi itu, biar sebagian pekerjaan di pegang oleh wakilmu, dan besok kamu akan bertemu dengan pengusaha itu dan putrinya," komandan Arman.
"Siap!"
"Sekarang kau boleh keluar , lanjutkan pekerjaanmu, nanti Briptu Lucas akan mengantar berkas kasus itu ke ruanganmu!" pinta komandan Ardan.
Afwi lalu keluar ruabgan setelah pembicaraan mereka selesai dan mendapat ijin dari komandan Arman. Saat berjalan menuju ruangannya Afwi tak sengaja berpapasan dengan ipda Priyadi.
"Ipda Priyadi!" panggil Afwi
"Ipda Afwi."
"Ada apa Ipda Afwi?"
"Saya hanya mau tanya, apa Ipda Priyadi yang mengawal kasus pembunuhan pengusaha Mr. Z yang menyisakan satu saksi kunci anak pengusaha?"
"Iya, tapi mulai minggu kemarin saya dibebas tugaskan menangani kasus tersebut karen ada tugas lain dari komandan Ardan."
"Sekarang tugas mengawal kasus itu dilimpahkan ke saya, bikin pusing saja, kerjaan satu belum selesai nyusul kerjaan lain," ucap Afwi sedikit kesal karena dengan bertambahnya pekerjaan, waktu bersama Nayla akan semakin sedikit, padahal Nayla sendiri merupakan kasus cinta yang harus ia pecahkan.
Ipda Priyadi justru terkekeh mendengar keluhan teman seprofesinya itu, wajah Afwi benar-benar lucu jika sedang kesal.
"Tenang Ipda Afwi, saksi kunci itu perempuan, cantik lagi, kamu pasti betah urus kasus ini," goda Ipda Priyadi.
"Betah apa, justru karena saksi kuncinya itu perempuan aku jadi nggak nyaman, takut timbul fitnah," ucap Afwi dengan mode kesalnya yang masih kentara.
"Saya tidak tertarik dengan putri pengusaha itu secantik apapun dia," ucap Afwi datar.
"Oh kau sungguh yakin tak akan tertarik dengannya?" tanya Ipda Priyadi.
"Iya, sudah lah, aku mau kembali ke ruanganku," ucap Afwi, sedangkan Ipda Priyadi hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Afwi.
"Apa Ipda Afwi belok ya, masa seyakin itu bicara tentang mbak Medina," gumam Ipda Priyadi dalam hati.
Di ruangannya Afwi duduk di kursi kerjanya, tangan kanannya memijit pelipisnya karena kepalanya sedikit pening. Tak lama Bripda Lucas menganyarkan berkas kasus pembunuhan yang akan ia tangani. Afwi mulai memeriksa berkas-berkas tersebut, setelah memperhatikan dengan seksama berkas tersebut, Afwi mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
_________________________________________
Siapa yang di telpon Afwi?
Kira2 apa reaksi putri pengusaha itu saat lihat Afwi?
Jadi ingat bang Engin Akyurek pemeran polisi Omer di film Cinta Elif
Please Like, Vote, Komentar, Rate bintang 5 and Favorit.
Thank You
__ADS_1