
Happy Reading
Malam pun telah tiba, di kediaman Yudha semua berkumpul di meja makan untuk makan malam, yang tak ada hanya Afwa karena ia besekolah di luar kota. Mereka makan dengan tenang hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar. Setelah makan malam selesai, Yudha pamit ke ruang kerja.
"Afwi!, Ayah tunggu di ruang kerja!" ucap Yudha sebelum meninggalkan meja makan.
"Siap Ayah!" ucap Afwi.
"Kak, ada apa ayah memanggilmu?" tanya Aryana.
"Aku nggak tau, Dek," jawab Afwi.
"Pasti Kak Afwi buat salah, lihat saja tadi muka ayah kaya serem gitu nggak kaya biasanya," seloroh Azaka.
"Benak Kak Afwi buat salah?" tanya Aryana khawatir.
"Kalian ini ya, kakak nggak ngerasa buat salah, main tuduh aja," ucap Afwi kesal.
"Sudah-sudah kalian jangan berdebat, Afwi cepat ke ruang kerja ayah!" perintah bunda.
Afwi melangkah menuju ruang kerja sang ayah, dia seolah ragu untuk mengetuk pintu, namun ia harus berani, toh ia nggak merasa melakukan kesalahan.
Tok tok
"Masuk!" perintah Yudha dari dalam.
Ceklek
"Ijin masuk, ayah," ucap Afwi.
"Duduklah!" pinta ayahnya.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Yudha
"Alhamdulillah baik ayah," jawab Afwi.
"Afwi, kau tahu kenapa ayah memanggilmu kesini?" tanya Yudha.
"Tidak," jawab Afwi singkat karena jika sudah berhadapan dengan sang ayah dengan keadaan seperti ini. Irit bicara dan menjawab singkat dan jelas adalah pilihan terbaik.
"Jelaskan pada ayah siapa itu Ghavin Herlambang!" pinta Yudha dengan intonasi biasa namun terkesan tegas.
Deg
"Dari mana ayah tahu tentang Ghavin, gawat ini," batin Afwi gusar, namun berusaha bersikap tenang.
"Dia kakak kelas ku juga kakak kelas Ana," jawab Afwi.
"Apa hubungan Ana dengan siswa bernama Ghavin itu?" tanya Yudha lagi.
"Biyuh begini amat ya punya ayah tentara yang menjadi pasukan elite, jadi gini deh berasa dimata-matai," gerutu Afwi dalam hati.
"Tak ada hubungan apapun antara Ana dan Ghavin, hanya kakak adik kelas biasa," jawab Afwi dan itu memang benar tak ada hubungan istimewa antara adik perempuannya dan sang primadona sekolah.
"Ana diam-diam menyukai Ghavin, tapi Ghavin tak pernah merespon, karena banyak siswa perempuan yang lebih cantik dan menarik dari pada Ana. Lagipula Ana hanya menyukai Ghavin dalam diam, tapi ayah tenang saja sekarang Ana sudah melupakan perasaannya pada Ghavin," jelas Afwi lagi.
__ADS_1
Jawaban Afwi benar-benar membuat hatinya sebagai seorang ayah sakit, putrinya tak diangap menarik, memang putrinya bersikap sederhana dan menutupi kecantikan dan identitasnya yang sesungguhnya. Sifat yang hampir mirip dengannya, tak ingin orang lain berteman dengannya karena kekayaan yang dimiliki.
"Jaga adikmu baik-baik dan terima kasih kamu telah bersedia mengorbankan keinginanmu bersekolah bersama kakakmu Afwa demi menjaga adik kembarmu," ucap Yudha menepuk pundak Afwi dan memeluknya.
"Ayah tak perlu berterima kasih, itu sudah kewajibanku, aku akan selalu menjaga Aryana dengan seluruh hidupku," ucap Afwi setelah sang ayah mengurai pelukannya.
"Ayah percaya padamu, kau boleh keluar sekarang!" ucap Yudha.
Afwi meninggalkan ruang kerja sang ayah dengan perasaan lega, ternyata pembicaraannya dengan ayahnya kali ini tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Namun sebelum keluar Afwi menanyakan sesuatu pada sang ayah.
"Ayah boleh aku tanya sesuatu?" tanya Afwi.
"Mau tanya apa?" jawab sang ayah.
"Darimana ayah tahu tentang Ghavin Herlambang?" tanya Afwi.
"Ha...ha..., kau jadi anak ayah sudah berapa tahun?, kau lupa siapa Yudhatama Dewantara?" jawab Yudha dengan balik bertanya pada Afwi.
"Aku mengerti ayah, selamat malam!" ucap Afwi lalu membuka pintu ruang kerja sang ayah, Ia keluar dengan perasaan lega ternyata ayahnya hanya menanyakan mahkluk bernama Ghavin Herlambang yang membuatnya ingin menghajarnya setiap kali melihat wajah Ghavin.
"Kenapa aku mengajukan pertanyaan bodoh pada ayah, Aryana adalah kesayangannya, ayah pasti ekstra mengawasinya meski sudah ada aku," batin Afwi dalam hati merutuki pertanyaan bodohnya pada sang ayah. Memang apa yang tak bisa dilakukan seorang Yudhatama Dewantara presdir DW group sekaligus seorang anggota pasukan elite negeri ini.
Begitu melihat Afwi keluar dari ruang kerja sang ayah, bunda, Aryana dan Azka langsung menghampiri Afwi. Mereka sangat ingin tahu apa yang dibicarakan Yudha dengan Afwi.
"Kak Afwi gimana, kakak diapain sama ayah?" tanya Azka.
"Nggak diapa-apain, cuma ditanya-tanya aja," jawab Afwi santai.
"Kamu ditanya apa saja sama ayah?" tanya bunda.
"Biasa bunda cuma soal sekolah Afwi saja," jawab Afwi sedikit berbohong.
"Tak percaya ya sudah, Bunda, aku mau ke kamar duku mau belajar," ucap Afwi kemudian berlalu dari hadapan bunda dan dua saudaranya.
Melihat Afwi masuk ke kamarnya Aryana dan Azka juga masuk ke dalam kamar mereka masing-masing dan Yasmin masuk ke ruang kerja suaminya karena ia masih penasaran apa yang dibicarakan sang suami dengan Afwi.
Tok tok
"Mas...Boleh aku masuk?" tanya Yasmin sambil mengetuk pintu ruang kerja Yudha.
"Masuklah, sayang!" pinta Yudha dari dalam ruangan ketika mendengar suara sang istrinya di luar.
Yasmin lalu membuka pintu ruang kerja suaminya, ketika pintu terbuka terlihat sang suami sedang berkutat dengan beberapa berkas. Setelah Yasmin masuk, Yudha segera bangun dari duduknya dan mengajak Yasmin duduk di.sofa ruang kerjanya.
" Ada apa mencariku hemm?, kangen?" ucap Yudha saat mereka sudah duduk berdua di sofa.
"Iya, aku kangen, setiap hari aku selalu kangen dengan ayah dari tiga anak kembar kita," ucap Yasmin sambil membelai rahang kokoh nan tegas milik suaminya.
"Sayang..., apa kau mau menggodaku, ingin buat adik lagi untuk Azka?", siapa tahu bisa lahir seorang princess lagi," ucap Yudha yang membuat Yasmin mendaratkan cubitan di perutnya.
"Auww, sakit sayang, dosa lho menyiksa suami," pekik Yudha ketika Yasmin mencubit perutnya, meski sebenarnya cubitan sang istri tak berarti apa-apa.
"Habisnya ayah mesum dan ngaco, anak sudah mau lulus SMA masih pingin nambah," ucap Yasmin kesal.
"Lho kamu kan masih mengalami masa subur, dan aku masih kuat lho untuk mencetaknya," ucap Yudha yang membuat Yasmin memutar mata jengah.
__ADS_1
"Ayah..., memang seusiaku masih bisa hamil lagi tetapi itu resiko tinggi jika si ibu tak kuat," ujar Yasmin memberi pengertian
"Aku hanya bercanda, sayang, ada apa kamu mencari ku?" tanya Yudha.
"Bunda hanya ingin tahu apa yang ayah bicarakan dengan Afwi?" tanya Yasmin kepo.
"Sedikit masalah Aryana tapi sudah selesai," jawab Yudha.
"Masalah apa, ada apa dengan putri kita?" tanya Yasmin khawatir.
"Ada seorang laki-laki yang di sukai putri kita, laki-laki itu kakak kelas Ana, tapi laki-laki itu tak pernah menganggap Ana. Ana sendiri hanya menyukai kakak kelasnya itu dalam diam," jawab Yudha.
"Memang Ana jarang bersolek dia tampil apa adanya, mungkin karena penyakitnya ia tak mau berlebihan dalam berpenampilan dan mungkin ia berfikir tak akan ada laki-laki yang menyukai perempuan yang punya kelainan jantung seperti dirinya. Jujur aku mengkhawatirkan jodohnya kelak," ucap Yasmin sendu dan berkaca-kaca yang hampir menjatuhkan bulir bening dari matanya.
Mendengar penuturan istrinya, Yudha memeluk Yasmin, menyandarkan sang istri ke dada bidangnya, tak dipungkiri hatinya selalu mengkhawatirkan putrinya satu-satunya itu.
"Bunda yang tenang, Aryana anak yang kuat, dia pasti bisa melewati semua yang di takdir kan untuknya dan aku yakin Allah akan mengirimkan jodoh terbaik untuk putri kita, tugas kita hanya mendidik dengan baik dan mendoakan yang terbaik untuknya," ucap Yudha sambil mengelus punggung Yasmin yang masih bersandar di dadanya.
Sedangkan di dalam kamarnya Aryana masih penasaran dengan apa yang dibicarakan sang ayah dengan kakaknya. Aryana tidak konsentrasi belajar karena rasa keponya itu. Diam-diam ia keluar kamar untuk menemui kakaknya di kamarnya.
"Kakak!, boleh aku masuk?" ucap Aryana dari luar kamar Afwi.
Afwi yang mendengar suara adik perempuannya segera membuka pintu.
"Kamu, Dek, ada apa?" tanya Afwi.
Aryana tak menjawab malah langsung masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Hei dasar tidak sopan, main nyolonong aja!" tergur Afwi.
"Ada apa mencari kakak, ganggu orang belajar saja," omel Afwi.
"Aku cuma mau tanya apa yang ayah bicarakan dengan kakak karena nggak biasanya ayah begitu," ucap Aryana.
"Ayah hanya membicarakan tentang sekolahku dan jurusan yang akan aku pilih nanti secara pribadi yang menyangkut urusan laki-laki kadi nggak usah kepo," ucap Afwi berbohong, ia tak ingin Aryana terbebani dengan apa yang ia bicarakan dengan sang ayah tentang Aryana.
"Nggak ada hubungannya denganku kan?" tanya Aryana.
"Nggak ada, jangan kegeeran," jawab Afwi ya membuat Aryana mencebikan bibirnya.
"Syukurlah kalau nggak ada hubungannya denganku," ucap Aryana.
"Sudah balik ke kamarmu sana dan belajar, jangan merecoki kakak lagi!" pinta Afwi yang disambut lemparan bantal oleh Aryana.
"Iya-iya aku keluar," ucap Aryana dengan sedikit kesal lalu ia pun keluar dari kamar Afwi.
Setelah sang adik meninggalkan kamarnya, Afwi menghembuskan nafas kasar, terpaksa dia harus berbohong dengan Aryana.
"Maafkan, Kak Afwi, Dek, kakak terpaksa bohong padamu, karena kakak sayang kamu," lirih Afwi sendu.
_______________________________________
Nah sudah tahu kan apa yang dibicarakan Yudha dengan Afwi, kemarin siapa yang kepo?
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung....