Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 201. Periksa Kandungan


__ADS_3

Pukul setengah lima sore Afwa baru pulang dari dinasnya, seharian ini hatinya tak tenang karena harus meninggalkan sang istri yang di diaknosa sedang hamil muda.


"Assalamualaikum," ucap Afwa sambil membuka kenop pintu


"Waalaikumsalam," jawab Kirana yang sedang duduk di kamar tamu.


Senyum Afwa merekah ketika mendapati istrinya baik-baik saja sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Afwa mendekati Kirana yang sedang duduk, Kirana langsung mengambil tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim, lalu Afwa membalasnya dengan ciuman dikening


"Bagaimana keadaan kamu, Yang?" tanya Afwa sambil membelai surai hitam istrinya.


"Lumayan, Mas, sudah agak enakan, apa nanti kita jadi ke dokter kandungan?"


"InsyaAllah jadi, Sayang, tapi nanti habis magrib sekalian."


"Ya, nggak apa-apa, sekarang, Mas Afwa mandi dulu biar seger!"


"Kenapa, Mas bau acem ya?" goda Afwa sambil menoel hidung mancung sang istri.


"Nggak juga, Mas masih wangi kok," ucap Kirana tak bohong.


Meski Afwa hanya tentara biasa tetapi melihat dari latar belakang keluarganya, parfum yang dipakainya gak kaleng-kaleng, sehingga meski seharian kerja wanginya tetap nempel.


"Sudah makin sore, Mas mandi dulu ya," pamit Afwa pada Kirana yang masih mager di tempatnya.


Dua puluh menit Afwa selesai mandi dan berganti pakaian kemudian mendekat lagi ke tempat Kirana duduk sambil membawa potongan buah.


"Makan buah dulu, Yang!" sambil mendekatkan piring berisi potongan buah ke depan Kirana.


"Makasih, Mas," ucap Kirana sambil menerima potongan buah dari suaminya.


Afwa dan Kirana berbincang santai sambil makan buah, Afwa memanfaatkan waktu untuk quality time berdua dengan istrinya. Adzan magrib mulai terdengar, Afwa kemudian mengajak Kirana untuk shalat berjamaah berdua di rumah karena setelah magrib mereka akan pergi ke dokter kandungan.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Afwa yang menunggu istrinya berganti pakaian.


"Sebentar Mas tinggal pakai jilbab."


Tak lama Kirana sudah siap dengan memakai setelah rok dan tunik dipercantik dengan jilbab yang menutup kepalanya. Afwa terkesima makin lama sang istri semakin cantik dimatanya.


"Mas kenapa lihat aku seperti itu? ada yang salah ya dengan dadananku?"


"Nggak, kamu makin cantik, Yang."


"Dasar gombal."


"Mas serius lho, kamu setelah menikah semakin cantik."


"Alhamdulillah kalau aku makin cantik, tapi sekarang kita harus segera berangkat, nanti keburu malam!"


"Ayo!" ajak Afwa lalu beranjak keluar rumah sambil merangkul pundak sang istrinya.


Afwa membukakan pintu mobil untuk Kirana, setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, Afwa segera melajukan mobilnya menuju sebuah klinik milik seorang dokter kandungan yang direkomendasikan Fahmi. Sampai di klinik Afwa langsung mengonfirmasi kedatangannya pada petugas pendaftaran, kemudian Afwa dan Kirana diminta menunggu sebentar. Setelah lima belas menit, nama Kirana pun dipanggil.


Saat sudah memasuki ruang pemeriksaan, Afwa dan Kirana disambut ramah oleh seorang dokter wanita dengan wajah oriental.


"Selamat malam Pak Afwa dan ibu, silahkan duduk! perkenalkan nama saya dokter Angela."


"Selamat malam, Dokter," ucap Afwa dan Kirana ramah.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya dokter Angela.


"Begini dokter, pagi tadi istri saya merasakan pusing dan sampai pingsan, lalu saya minta tolong pada tetangga saya yang kebetulan seorang dokter umum untuk memeriksa, dan kata beliau jika istri saya sedang hamil dan saya disarankan untuk menemui dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut," terang Afwa.

__ADS_1


"Ibu Afwa kapan menstruasi terakhir?" tanya dokter Angela


"Saya lupa, Dok, tapi hampir satu bulan ini saya belum menstruasi, seharusnya sepuluh hari yang lalu sudaha dapat." jawab Kirana.


"Kalau begitu mari saya periksa dulu!" pinta dokter Angela agar Kirana naik ke ranjang pasien di bantu dengan seorang perawat wanita.


"Saya periksa dulu ya, Bu," ucap dokter Angela lalu mulai menyingkap pakaian bagian atas Kirana dan memeriksa kandungan dengan alat usg.


Afwa ikut mendekat saat istrinya diperiksa, Putra sulung Yudhatama itu ikut melihat apa yang terpampang di layar monitor yang terangkai dengan alat usg.


"Nah itu ibu lihat ada titik hitam kecil sebesar kedelai, itu calon anak Bapak dan Ibu, dan kandungan ibu baru menginjak dua minggu berarti masuk trimester pertama jadi harus dijaga baik-baik karena kandungan di trimester pertama itu rawan keguguran. Sejauh saat lihat kondisi kandungan ibu Kirana cukup sehat, jadi tetap jaga pola makan, cukup istirahat, jangan banyak pikiran dan selalu bahagia," ucap dokter Angela setelah memeriksa kandungan Kirana.


"Jadi saya benar-benar mengandung, Dok?" ucap Kirana tak percaya.


"Iya, anda sedang mengandung jadi harus berusaha tetap sehat dan berbahagia, saya akan resepkan vitamin dan anti mual jika nanti ibu mengalami mual dan muntah," ucap dokter Angela sambil tersenyum.


"Dok apa saat hamil muda begini masih boleh berhubungan suami istri?" tanya Afwa santai padahal wajah sang istri sudah memerah karena malu


"Boleh tetapi juga harus melihat kondisi istri, namun deni keamanan lebih baik istirahat dulu beberapa minggu atau mengurangi intensitas berhubungan," jawab dokter Angela sambil tersenyum.


Dokter Angela cukup memaklumi pertanyaan Afwa yang mungkin bagi orang awam diangap vulgar, namun baginya pertanyaan seperti itu sudah biasa ditanyakan oleh para calon ayah di kehamilan pertama istrinya.


"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" tawar dokter Angela.


Kali ini Kirana lah yang segera menyahut pertanyaan dokter Angela, ia tak ingin tambah malu jika sang suami bertanya hal-hal yang vulgar lagi.


"Tidak dokter, semua penjelasan dokter sudah sangat jelas, dan saya akan patuhi semua nasehat dari bu dokter," sahut Kirana.


"Baiklah kalau begitu, jika ada yang ingin ditanyakan, atau merasakan sesuatu tak nyaman dengan kandungan ibu, silahkan menghubungi saya, jangan sungkan!" ucap dokter Angela.


"Terima kasih dokter, nanti saya akan menghubungi dokter kembali, kami pamit, Dok," ucap Kirana kemudia mengajak sang suami segera keluar dari ruangan periksa.


"Kenapa melihatku seperti itu, Yang?" tanya Afwa heran.


"Heh, masih tanya kenapa? Mas tahu nggak salahnya, Mas Afwa itu apa?"


"Hah? salah, Mas?"


"Iya, Mas benar-benar tidak sopan dan bikin malu," ucap Kirana sambil pasang tampang kesal.


"Maksud kamu, Mas malu-maluin soal apa?"


"Ya malulah, kenapa pakai tanya tentang hubungan suami istri begituan sama dokter Angela!" kesal Kirana.


"Lho, itu bukan malu-maluin, Yang, bukan calon ibu saja yang harus tahu ilmu tentang kehamilan calon ayah juga, termasuk harus tahu masalah hubungan intim saat kehamilan, biar, Mas jangan sampai buat kesalahan yang akan menyakiti calon anak kita," jelas Afwa yang membuat Kirana malu sendiri sekaligus terharu oleh sikap sang suami yang ternyata begitu menjaga calon anak mereka.


"Maafkan, Kiran ya, Mas, tapi tadi aku sungguh malu mendengar pertanyaan seperti itu."


"Sudah nggak apa-apa, Mas ngerti, makanya jangan suka negatif thinking dulu. Negara aja Mas jagain apalagi kamu dan anak kita," ucap Afwa lembut membuat Kirana tersipu seperti abg yang sedang digombalin pacarnya padahal dia sudah akan jadi seorang ibu.


Afwa dan Kirana berjalan menuju apotik untuk mengambil obat, selama berjalan menuju tempat pengambilan obat, Afwa merangkul istrinya posesif. Fix, Afwa dan Afwi benar-benar mewarisi virus bucin dari sang ayah.


Sampai di tempat pengambilan obat, Afwa menyerahkan resep obat pada petugas, kenudian ia membimbing Kirana untuk duduk di kursi tunggu. Selang lima belas menit nama Kirana sudah di panggil, namun Afwa lah yang mendekat ke loket penyerahan obat.


"Ini Pak obat dan vitamin untuk ibu Kirana, disetiap obat sudah tertera waktu meminum obatnya, yang obat anti mual dan pusing diminum jika mual dan pusing saja!" ucap petugas apoteker.


"Terima kasih, Mbak dimana saya harus bayar, sejak tadi saya tidak dipanggil untuk pembayaran obat dan pemeriksaan?" tanya Afwa heran.


"Maaf, Pak, semua tagihan administrasi pemeriksaan dokter dan obat sudah dibayar oleh dokter Fahmi," jawab petugas apotek yang membuat Afwa membulatkan matanya.


"Oh begitu ya mbak, kalau begitu terima kasih," ucap Afwa kemudian ia segera meninggalkan tempat pengambilan obat sambil mengumpat dalam hati.

__ADS_1


"Dasar dokter pedofil, dia kira aku nggak sanggup bayar apa!" kesal Afwa.


"Mas habis ambil obat kok mukanya kesal begitu?" tanya Kirana setelah melihat muka kesal suaminya.


"Itu tuh si dokter pedofil bayarin admistrasi pemeriksaan kandunganmu sama obatnya."


"Lho kenapa, Mas malah kesal seharusnya bersyukur dong dibayarin adik ipar."


"Nggak gitu konsepnya, Yang, dia kira aku nggak bisa bayarin pemeriksaan kamu apa."


"Mungkin, mas Fahmi punya maksud yang baik, jangan suudzon dulu ah, sekarang telepon terima kasih!" pintab Kirana yang membuat Afwa makin gondok saja.


"Nggak ah!" tolak Afwa.


Melihat sikap ke kanak-kanakan suaminya, Kirana berinisiatif menghubungi Aryana.


"Assalamualaikum, Ana!" ucap Kirana ketika telepon tersambung.


"Waalaikumsalam, mbak apa kabar?" jawab Aryana.


"Kabar mbak baik, Ana, oh ya mas Fahmi ada, ini kakak kamu mau ngomong," ucap Kirana membuat Afwa mendelik.


"Ada mbak kebetulan ada lagi duduk di samping aku, tapi tumben Kak Afwa nggak telpon Mas Fahmi langsung?"


"Tau tuh lagi nggambek, gara-gara tagihan pemeriksaan kandunganku di bayarin mas Fahmi."


"Apa! jadi mbak sudah hamil?" tanya Aryana terkejut sambil menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.


"Iya, Alhamdulillah di kasih cepat, ceritanya mas Afwa tanya dokter kandungan yang bagus sama suamimu, terus kami di rekomendasikan pada dokter Angela, kamu tahu kan kakakmu nggak mungkin rela aku diperiksa dokter laki-laki, nah ternyata semua biaya dan obat ku sudah dibayar mas Fahmi," terang Kirana.


Ponsel Aryana langsung di ambil oleh Fahmi, ia harus menjelaskan sesuatu pada kakak iparnya itu


"Berikan ponselnya pada Afwa, Kiran,tapi by the way selamat atas kehamilanmu, jaga baik-baik dan senoga selalu sehat!"


Terima kasih Mas Fahmi," ucap Kirana kemudian langsung memberikan ponselnya pada sang suami, dan Afwa menerima dengan sedikit kesal.


"Hallo!" ucao Afwa kesal


Fahmi sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Afwa yang sudah seperti di lapangan untuk latihan perang.


"Astagfirullah, kakak ipar, jangan kencang-kencang ngomongnya! salam dulu napa, langsung ngegas aja," omel Fahmi.


"Hei kenapa kamu bayarin biaya periksa Kirana?" tanya Afwa kesal.


"Kakak ipar aku kalau membantu saudara tak tanggung-tanggung, angap saja di ucapan selamat dariku dan Aryana, selanjutnya kau bayar sendiri tapi jangan kaget jika tahu tagihannya," jawab Fahmi sambil menggoda kakak iparnya sedangkan Aryana hanya menatap jengah suaminya yang sedang usil dengan kakak sulungnyam


"Kamu jangan merehkan aku ya dokter pedofil!"


"Ha...ha..., kamu masih saja mengataiku begitu, tapi sayangnya adik tercintamu selalu bucin padaku," ejek Fahmi di seberang telepon.


"Dasar kau, sudah ku tutup.telponnya,.Assalamualaikum!


tut tut tut


Suara dering telepon yang diputus sepihak oleh Afwa, sedangkan Fahmi di Singapura tertawa dengan sikap sang kakak ipar sedangkan sang istri hanya geleng-geleng kepala sambil meneruskan memakan salad buah.


"Mas jangan emosian gitu ah, yang hamil siapa.yang labil siapa, seharusnya yang uring-uringan aku karena perubahan hormon, tapi malah mas, jangan-jangan nanti yang ngidam mas Afwa lagi," ucap Kirana yang membuat Afwa menatap sang istri tak percaya.


"Oh tidak, aku mau berangkat satgas, kalau aku mengidam minta makanan atau minuman tertentu sih tak apa, masih level normal, tapi jika seperti ayah dulu habis sudah pamorku, ya Allah Nak, jangan buat papa ngidam yang aneh-aneh, papa mau pergi mengemban tugas negara di tempat jauh," batin Afwa khawatir jika benar omongan istrinya jadi kenyataan.


_________________________________________

__ADS_1


__ADS_2