Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
S2. Pindah Tugas


__ADS_3

Acara pengajian dalam rangka tujuh bulanan kehamilan Nayla berjalan dengan lancar, beberapa anggota keluarga sudah ada yang berpamitan pulang karena tak bisa meninggalkan pekerjaan lebih lama. Keluarga Danuarta sudah pulang terlebih dahulu, sedangkan pak Mahendra, bunda Nana, oma Dewi dan opa Dimas, keluarga Aryana, keluarga Afwa, Yudha dan Yasmin masih tinggal beberapa hari di Bandung sambil membantu persiapan kepindahan tugas Afwi ke Yogyakarta


Pagi ini, para pria di keluarga Yudha sedang mengobrol di ruang tengah sambil menikmati kopi dan camilan.


"Afwi, ayah sudah siapkan rumah di Yogyakarta yang lokasinya dekat dengan rumah sakit, agar jika sewaktu-waktu Nayla melahirkan bisa cepat di tangani dan ayah juga sudah siapkan satu dua art untuk kamu, kehamilan kembar memiliki beberapa resiko, maka dari itu ayah dan bunda sepakat memberikan dua art untuk membantu dan menjaga Nayla terutama saat kamu bekerja," ucap Yudha kemudian menyesap


"Terima kasih, Yah, tetapi seharusnya ayah tak perlu repot-repot seperti ini, menyediakan tempat tinggal untuk istriku karena aku adalah kepala keluarga," ucap Afwi.


"Kau tak perlu sungkan, angap ini hadiah untuk kedua calon cucu kembar ayah yang sudah dinantikan selama lima tahun," ucap Yudha agar anaknya tak tersinggung.


"Ayahmu benar, anggap saja ini hadiah untuk calon anak kalian," ucap opa Dimas menimpali.


"Terima saja, Afwi anggap ini rezeki anak sholeh," ucap Afwa.


"Jadi ingat lagi Alamate Anak Sholeh yang tadi malam," ucap Azka yang ikut nimbrung di obrolan para ayah.


"Oh iya kamu yang datangin hadroh itu?" tanya Afwi pada adik bungsunya.


"Iya, sekarang lagu itu lagi viral, dinyanyikan dimana-mana, bahkan di daerah di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur, padahal lagu itu pakai bahasa jawa," jawab Azka sambil tertawa.


"Terima kasih, kamu mau membantu mengatur acara tujuh bulanan kakak iparmu, acaranya memang makin meriah ada hadrohnya jadi para tamu nggak ngantuk.


Para laki-laki di keluarga Yudha masih asyik mengobrol sampai Yasmin memanggil mereka untuk sarapan bersama.


Seminggu setelah acara tujuh bulanan kehamilan Nayla, Afwi langsung menuju kota Yogyakarta tempat tugasnya yang baru, sedangkan rumah di Bandung dikontrakan di yang di tunjuk untuk mengurusnya adalah bi Jumi. Kepindahan Afwi dan Nayla menyisakan kesedihan tersendiri bagi bi Jumi yang sudah membersamai mereka selama kurang lebih lima tahun, tetapi bi Jumi mengerti itulah resiko dari pekerjaan menjadi abdi negara. Hari ini Afwi dan Nayla sudah sampai di rumah yang sudah disediakan ayah Yudha, saat mobil mereka sampai, seorang pria paruh baya membukakan gerbang rumah, Afwi segera memasukan mobilnya ke dalam halaman rumah tersebut, seorang art menunggu kedatangan mereka di teras rumah.


"Ini bener rumah yang di kasih ayah, Bang?" tanya Nayla yang hampir tak percaya saat ia turun dari mobil


"Iya, kamu suka?" jawab Afwi namun bertanya balik pada istrinya.


"Suka banget, tapi seharusnya ayah tak perlu repot-repot seperti ini, aku jadi tak enak, mana rumahnya besar lagi."


"Aku kemarin juga sudah menyampaikan itu pada ayah tetapi jawan ayah santai saja, katanya rumah ini buat cucu kembarnya yang ada di sini," ucap Afwi sambil mengusap perut Nayla yang semakin membuncit.

__ADS_1


Perlahan Afwi mengajak Nayla berkeliling rumah menunjukkan bagian-bagian rumah, ciri khas rumah keluarga Dewantara adalah ada bagian belakang ruman yang terdiri dari kolam renang meski tak terlalu besar, kolam ikan, ruang terbuka hijau yang di lengkapi dengan gazebo, bahkan rumah Fahmi dan Aryana di Singapura di lengkapi dengan gazebo yang terbuat dari bambu.


"MasyaAllah, Bang rumah pemberian ayah asri banget, bahkan ada pohon buahnya juga," puji Nayla yang begitu kagum dengan rumah itu.


"Ayah mengunakan arsitek terbaik, bunda juga ikut memberikan masukan, jadi sebagian ide rumah ini dari bunda, maklum lulusan pendidikan geografi selalu mikir tentang tata guna lahan, sumber daya alam biotik dan abiotik," ucap Afwi sambil lalu terkekeh pelan, ia ingat bagaimana sang ayah bercerita saat sang bunda meminta banyak request pada sang arsitek saat membangun rumah untuk Afwi di Yogyakarta.


"Waah...bunda hebat ya, bisa punya pemikiran sebagus itu, rumahnya jadi adem kalau ada penghijauan begini," ucap Nayla sambil tersemyuk bahagia.


"Bunda memang membantu mendesain rumah ini agar anak-anak kita nanti bisa lebih leluasa dalam bermain dan belajar. Rencananya rumah ini nanti akan di tambah mainan anak dan beberapa binatang peliharaan jika anak kita sudah usia Paud," ucap Afwi yang membuat Nayla tercengang.


"Hah? mau di tambah mainan?"


"Iya, paling ayunan, selain untuk keasrian, tujuan bunda jika kita akan mengadakan garden party dalam sekup kecil kita bisa menggunakan halaman belakang rumah."


Nayla tersenyum sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit, Afwi pun juga ikut membelai perut sang istri


"Sehat-sehat ya sayang, lihat kakek dan nenek sudah menyiapkan rumah dan taman yang indah untuk tempat bermain kalian nanti," ucap Nayla mengelus perutnya sambil berbicara pada janin yang di kandungnya.


Dug


"Apa itu mereka, Sayang?" tanya Afwi yang di jawab anggukan.


"Sayangnya papi, kalian dengar semua yang kami katakan? kalian senang?" ucap Afwi sambil kembali membelai perut Nayla.


Tak terasa waktu seakan berjalan begitu cepat, kini kehamilan Nayla hampir menginjak tujuh bulan. Afwi benar-benar sangat. Afwi mengkhawatirkan keadaan sang istri, ia meminta bunda Nana untuk tinggal sementara waktu di Yogyakarta karena kehamilan Nayla sudah mendekati hpl dan katanya hamil bayi kembar akan lebih banyak resikonya termasuk kelahiran lebih awal dari hpl.


"Makasih ya Bunda mau tinggal di sini menemani Nayla, aku jadi lebih tenang saat bekerja," ucap Afwi setelah menjemput bunda Nana di Semarang.


"Sama-sama, Nayla sudah seperti anak bunda sendiri," ucap bunda Nana.


Dari kamar terlihat Nayla berjalan pelan sambil tersenyum dan rasanya ingin segera sampai ke bunda Nana. Begitu melihat sang istri seperti kepayahan berjalan, Afwi cepat-cepat mendekat ke sang istri dan membantunya berjanlan lalu di dudukkan ke sofa pelan-pelan.


"Bunda apa kabar?" sapa Nayla lalu mencium tangan bunda Nana.

__ADS_1


"Alhamdulillah kabar bunda baik, Nay, gimana kandunganmu, tak ada masalah kan?" ucap bunda Nana yang balik bertanya.


"Baik, Bunda, besok rencananya kita akan menemui dokter kandungan yang di rekomendasikan dokter Fahmi suaminya Aryana," jawab Nayla dengan senyum mengembang.


"Besok jam berapa mau periksa ke dokter?"


"Sore Bund, karena saya besok kerja dulu, banyak kasus yang harus saya tangai secara ekstra."


"Memangnya kasus apa sampai harus eksta begitu, apa kasus kriminal ini menyangkut keterlibatan pejabat penting?" tanya bunda Nana dengan nada yang menyiratkan ke khwatiran


"Tidak bunda, ini kasus yang marak terjadi, karena kasus ini dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, jadi harus hati-hati karena hal ini akan berusaha bekerjasama dengan lembaga Komnas perlindungan anak."


"Memang anak-anak itu apa yang mereka lakukan sampai kriminal begitu, mau jadi apa mereka kecil-kecil sudah berani melakukan kejahatan begitu?" tanta Nayla kepo bercampir kesal mendengar penjelasan sang suami.


"Perundungan di sekolah dan berakhir dengan penganiayaan bahkan kematian," jawab Afwi yang membuat istri dan bunda Nana tercengang.


"Astagfirullahaladziim," ucap Nayla dan bunda Nana bersamaan.


"Anak-anak zaman sekarang kenapa jadi kebablasan seperti itu," ucap bunda Nana sambil mengelus dadanya prihatin.


"Bahkan kemarin ada anak kelas enam sekolah dasar nekat melompat dari lantai empat sekolahnya, di duga anak yang melompat dari lantai empat itu korban perundungan. Kepolisian masih memeriksa kasus ini, apakah anak itu melompat sendiri atau di dorong oleh seseorang dari lantai empat," ujar Afwi yang semakin membuat dua wanita di depannya bergidik ngeri.


"Inilah akhir zaman, jika kita tidak pandai-pandai mendidik anak, orang tua hanya sibuk bekerja dengan alasan demi memenuhi kebutuhan finansial keluarga tapi mereka lupa bahwa ada kewajiban yang juga tak kalah penting, yaitu mendidik anak agar menjadi anak yang berahklak baik, mereka cenderung menyerahkan pendidikan anak pada pihak sekolah tanpa mau tahu anaknya bagaimana, padahal guru di sekolah hanya membantu saja dan sebagai fasilitator, menyekolahkan anak tidak seperti kita menjahitkan baju di penjahit, ini kainnya, model ukurannya seperti ini tanggal sekian harus jadi dan tinggal bayar berapa," ucap Afwi yang masih ingat penuturan bundanya waktu bercerita saat masih menjadi seorang guru.


"Berarti berat ya Bang menjadi orang tua," ucap Nayla lesu.


"Memang jadi orang tua itu berat, andai orang tau bahwa jadi orang tua itu berat, orang tak akan mau jadi orang tua, dan jadi anak juga berat, kalau seorang anak paham benar jadi anak itu berat, maka tak akan ada yang mau jadi seorang anak. Dua-duanya berat, Dek, karena semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti, tapi kita jangan terlalu khawatir asal dalam menjalani kehidupan kita tetap berpegang teguh pada ajaran agama pada kurikulum yang sudah diajarkan Baginda Rasulullah, InsyaAllah kita bisa mengemban amanah anak dari Allah," ucap Afwi seraya menggenggam tangan istrinya.


"Bunda senang, akhirnya Nayla mendapat suami yang shaleh sepertimu, Afwi, dan memiliki mertua yang sholehah seperti bu Yasmin, semua itu rezeki Nay, kamu harus bersyukur," ucap bunda Nana.


"Iya, Bund, aku sangat bersyukur memiliki suami seperti abang Afwi dan mertua yang baik seperti bunda Yasmin dan ayah Yudha, ternyata tak semua orang kaya itu seperti apa yang aku bayangkan selama ini sebelum menikah dengan abang Afwi," ucap Nayla.


"Memang apa yang kamu pikirkan tentang orang kaya, Dek?" tanya Afwi sambil memicingkan matanya.

__ADS_1


Nayla yang mendapat tatapan seperti itu hanya meringis saja, ia tak tahu harus menjelaskan dengan bahasa apa.


"Marah nggak ya kalau aku katakan," batin Nayla ragu


__ADS_2