Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
S2. Kepergian Malaikat Tak Bersayap


__ADS_3

Dalam kehidupan ada yang datang dan pergi seperti malam yang bergantian siang. Seperti hari ini duka menyelimuti keluarga Danuarta, sang istri tercinta telah berpulang ke Rahmatullah dengan damai setelah berjuang melawan penyakit yang di deritanya. Yasmin tampak begitu lemah di pelukan Yudha, kehilangan seorang ibu adalah kehilangan separuh dari kebahagiaan di dunia ini. Yasmin sangat dekat dengan sang bunda, setiap masalah yang Yasmin hadapi selalu mendapat support dari bundanya.


"Sayang ikhlaskan, Bunda, kalau beliau tau kau seperti ini, bunda pasti akan sedih," ucap Yudha sambil sesekali mengusap kepala istrinya.


"Aku sedih, Mas, aku belum bisa bahagiakan bunda banyak hal yang belum bisa aku lakukan untuk bunda."


"Kamu putri yang sangat baik, kamu selalu berusaha buat bunda bahagia, jadi jangan merasa bersalah."


Saat Yudha sedang berusaha menenangkan sang istri, adik ipar Yasmin mendekat dimana Yasmin duduk.


" Maaf Mbak kalau menganggu, itu banyak tamu keluarga di depan, mas Andre minta mbak kesana!" ajak Humaira yang mendekat pada Yasmin.


Yasmin menyeka air matanya ketika sang adik ipar mendekat dan memintanya untuk menerima tamu di depan.


"Ya, sebentar lagi mbak kesana."


"Baik Mbak," ucap Humaira kemudian berlalu dari hadapan Yasmin dan Yudha.


"Ayo aku bantu cuci muka dan bersiap, tidak mungkin kamu menemui tamu dengan keadaan seperti ini!" ajak Yudha menuntun istrinya ke dalam kamar.


Ada sepasang mata yang melihat adegan itu, tanpa terasa air matanya menetes, pemandangan yang sungguh mengharukan.


"Dek, kamu itu kenapa?" tegur Afwi yang mendapati istrinya bersedih namun tatapannya mengarah ke kamar sang bunda.


"Aku hanya terharu saja, Bang lihat bunda dan ayah, aku tadi lihat betapa perhatiannya ayah sama bunda."


"Heleh, aku kira kamu nangis karena meninggalnya nenek Ratna, ternyata malah nangis baperin buncinya ayah ke bunda," ucap Afwi yang tak habis pikir dengan istrinya.


"Aku juga sedih Bang dengan meninggalnya nenek Ratna, nenek Ratna bahkan belum lihat anak kita karena aku belum juga hamil."


"Sayang, jangan bahas itu lagi bosan aku dengernya, kalau kamu ingin aku bucin kaya ayah aku juga bisa, meskipun kita nanti tidak dipercaya Allah memiliki anak, insyaAllah abang akan tetap bucin sama kamu."


Plakk, sebuah tabokan cukup keras mendarat di lengan Afwi.


"Kok mukul sih, Dek?"


"Abang, jangan ngomong sembarangan, aku tetap ingin punya anak dari rahimku sendiri, abang malah ngomong gitu!"


"Yah, memang abang salah ngomong, dimana letak salahnya?" tanya Afwi bingung.


"Auh ah, sebel sama Abang," ucap Nayla kemudian meninggalkan suaminya yang masih bingung dengan kesalahan kata apa yang sudah ia ucapkan.


"Dasar perempuan selalu aja ajaib, tau-tau ngambek, terus tiba-tiba baik sendiri," gumam Afwi dalam hati.


Yasmin sudah terlihat segar, ia keluar kamar bersama Yudha, seperti permintaan adiknya, ia segera bergabung dengan Siska dan Humaira sedangkan Yudha bergabung dengan Andre, Dika, Fahmi dan Afwa menyalami pelayat laki-laki.


Banyak para pejabat di pemerintahan dan militer yang ikut takziah dikediaman pak Danuarta mengingat sang putri menikah dengan putra perwira tinggi militer di tambah dua cucu laki-laki pak Danuarta bekerja sebagai anggota TNI dan Polri.


Pukul setengah dua siang jenazah nenek Ratna diberangkatkan dari rumah duka, isak tangis kesedihan dari keluarga terdengar menyedihkan ketika keranda diangkat oleh enam orang laki-laki yang merupakan kebanggaan dari nenek Ratna. Dika, Andre, Yudha, Faris, Afwa, Afwi, keenam laki-laki itulah yang mengangkat jenazah nenek Ratna ke dalam mobil jenazah. Yasmin, Humaira dan Siska saling berangkulan demi menguatkan hati melepas kepergian sang bunda tercinta.


"Para wanita sebaiknya tak usah ikut ke makam, doakan dari sini saja, kalau mau ke makam bunda kalian besok saja!" saran bu RT yang tadi ikut mengurus jenazah nenek Ratna.


"Iya, Bu," jawab Humaira singkat mewakili kedua kakaknya yang masih saja menangis.


Melihat Yasmin yang sangat rapuh, oma Dewi segera mendekati menantunya dan memintanya untuk istirahat.


"Yas, sebaiknya kamu istirahat dulu sejak datang dari Jakarta kamu belum istirahat!"

__ADS_1


"Iya, mbak, mbak Yasmin harus segera istirahat, ayo mbak!" ajak Humaira menimpali ucapan mertua kakak iparnya.


Yasmin menurut, ia dibantu Humaira dan Siska berjalan menuju kamarnya, Siska yang terlihat lebih tegar keluar kamar untuk mengambilkan air minum untuk Yasmin.


Pukul dua siang acara pemakaman nenek Ratna selesai dan semua orang sudah kembali dari TPU dimana nenek Ratna di makamkan. Beberapa warga sudah membereskan kursi-kursi untuk di kembalikan ke tempatnya, hanya tenda yang masih di biarkan berdiri di depan rumah pak Danuarta.


"Yasmin dimana, Ma?" tanya Yudha pada oma Dewi


"Ada di kamar sama Humaira tadi, istrimu tampak terpukul sekali, mama nggak tega melihatnya.


"Ya mau gimana lagi, Yasmin sangat dekat dengan bunda Ratna, aku jadi ingat dulu sewaktu kami belum resmi menikah, Yasmin menyembunyikan penyakit bundanya dariku dan harus bolak balik mengurus pengobatan bundanya sendirian, aku sampai gemas melihatnya makanya lamarannya aku percepat agar punya akses lebih membantunya."


"Kau susul saja istrimu di kamar sekalian istirahat, kamu pasti juga lelah kan!" pinta sang mama.


"Kalau begitu aku susul Yasmin ke kamar."


Yudha langsung menuju kamar istrinya, perlahan ia membuka pintu kamar takut menganggu istirahat Yasmin, namun yang Yudha lihat Yasmin sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil berdzikir dengan mata terpejam.


"Sayang!" panggil Yudha sambil perlahan menyentuh kaki istrinya.


Yasmin yang merasa ada yang memegang kakinya dan memangilnya dengan kata sayang segera membuka matanya. Terlihat sang suami sudah berada di depannya sambil tersenyum.


"Mas sudah pulang? Pemakaman bunda sudah selesai?"


"Alhamdulillah sudah dan semua berjalan dengan lancar."


"Mas sudah makan?" tanya Yasmin yang meskipun bersedih tak akan melupakan kebutuhan suaminya.


"Belum, tapi beberapa kerabatmu sudah menyiapkan makan untuk keluarga, ayo makan dulu, mungkin nanti masih akan ada pelayat yang datang, kamu harus jaga kesehatan, ayo makan!" ajak Yudha membantu Yamin turun dari ranjang dan menggandengnya untuk keluar kamar menuju ruang tengah yang sudah di gelar karpet agar semua keluarga bisa makan bersama.


Seperti yang di katakan Yudha, sore bahkan malam hari masih ada beberapa orang yang mengucapkan turut berduka cita. Yasmin pun tetap harus menyambut para pelayat dengan baik. Meskipun masih diliputi kesedihan namun ia juga merasa bahagia bahwa kebaikan sang bunda membekas di hati banyak orang. Banyak dari para pelayat menceritakan betapa baik dan dermawannya almarhum bu Ratna pada teman-temannya dan kerabatnya, bahkan murid-murid yang pernah di ajar oleh sang bunda ikut melayat sebagai penghormatan terakhir untuk guru mereka.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat kini , bahkan kematian bunda Ratna sudah lewat seribu hari. Yasmin sudah lama menerima kepergian malaikat tak bersayapnya itu dengan ikhlas. Sekarang semua anggota keluarga Yudha berkumpul di rumah utama yaitu rumah opa Dimas yang ada di kota K


Mereka berkumpul dalam rangka menyembelih hewan kuban dihari kedua Idul Adha. Yudha membeli satu ekor sapi yang di sembelih atas namanya dan keluarga, mereka juga melibatkan beberapa warga sekitar untuk membantu mengurus dan membagikan kepada warga.


"Opa, Sapinya gemuk sekali, kasihan kalau di sembelih," ucap Alesya dengan nada tak rela.


Yudha tersenyum kemudian berjongkok di depan Alesya agar posisinya sejajar dengan cucu angkatnya yang mengemaskan itu.


"Sapi itu memang Opa beli untuk di sembelih sebagai hewan kurban sesuai dengan perintah Allah, jika kita mampu untuk berkurban kita harus mengeluarkan harta kita untuk berkurban," terang Yudha lembut pada Alesya.


"Tapi kan kasihan Opa," ucap Alesya sendu.


"Kalau Alesya tidak tega nggak usah lihat penyembelihannya, masuk ke dalam saja sama oma."


"Baiklah, nanti kalau sudah selesai menyembelihnya kasih tahu Lesya ya!"


"Of course girl."


Alesya kemudian berlari masuk ke dalam rumah utama karena tak tega melihat seekor sapi yang menurutnya sangat lucu harus di sembelih.


Satu ekor sapi dan tiga ekor kambing di sembelih di pekarangan milik opa Dimas, semua keluarga sangat menikmati hari raya kurban ini. Banyak orang yang membantu mengurus daging hewan kurban sampai di distribusikan ke warga sekitar dan panti asuhan yang kebetulan ada di wilayah rumah opa Dimas.


"Yuk bikin sate!" ajak Azka pada kakak dan keponakannya.


"Caranya, Om?" tanya Arnan

__ADS_1


"Yuk Om kasih tahu caranya," ucap Azka yang menjadi leader sok iye di acara bakar-bakaran sate kambing.


Di sisi yang lain para wanita tampak menata beberapa makanan, ada juga yang menyiapkan bumbu untuk memasak daging sapi.


Di pojokan taman belakang rumah opa Dimas, sesosok wanita sedang melamun sambil menatap ikan koi yang berenang lincah di dalam kolam dengan dinding kolam di beri warna hitam, sehingga membuat warna ikan koi tampak indah. Filosofi ikan koi yang berada di kolam dengan desain warna hitam mengibaratkan bahwa di dunia ini tanpa adanya orang yang berperilaku tidak baik maka orang yang berpiraku baik tidak akan terlihat kebaikkannya. Ikan koi ibarat orang yang beperilaku baik sedangkan kolam yang berdinding warna hitam adalah orang yang berperilaku tidak baik.


"Kiran, kamu tau dimana Nayla?" tanya Afwi yang kebingungan mencari keberadaan sang istri yang menghilang setelah acara pembagian hewan kurban selesai.


"Aku nggak, tau, tadi memang gabung sama kita bikin bumbu rendang, terus pamit ke belakang tapi sampai sekarang belum balik lagi ke dapur," jawab Kirana.


"Kira-kira dimana ya?" tanya Afwi lagi yang tampak frustasi.


"Kamu sudah cari di semua bagian?"


"Sudah tapi nggak ketemu."


"Kalau begitu cek CCTV saja."


"Oh iya kenapa nggak kepikiran ya," ucap Afwi sambil menepuk jidatnya.


Afwi lalu pergi ke ruang kontrol di rumah opa Dimas, di sana ada orang kepercayaan opa yang bertugas."


"Mas Galih, aku mau lihat CCTV ," ucap Afwi ketika masuk ruang kontrol.


"Buat apa Mas?" tanya Galih yang sudah kenal dengan Afwi.


"Mau cari istri, nlisut entah kemana," jawab Afwi yang membuat Galih ingin tertawa namun di tahan.


"Lha kok bisa?"


"Makanya itu daripada pusing, aku dah capek bantuin urus daging kurban sekarang malah istri ngilang."


"Ya sudah Mas silahkan!" ucap Galih mempersilahkan Afwi mengecek CCTV.


Afwi mulai mengecek dari jam Nayla masih bersama semua anggota keluarga. Sampai terlihat Nayla berbicara dengan bunda Yasmin kemudian keluar dari dapur.


"Ah Alhamdulillah akhirnya ketemu Ini bini, ya salam ngapain juga ia bicara sama ikan koinya opa," monolog Afwi.


Namun hati Afwi berdenyut nyeri ketika terlihat Nayla memegang perutnya sambil menitikkan air mata. Afwi tahu apa yang ada di pikiran istri tercintanya, setelah tau posisi dimana sang istri, Afwi kemudian keluar dari ruang kontrol bergegas menemui Nayla.


Perlahan Afwi mendekati Nayla yang duduk di tepi kolam dan belum menyadari kehadiran suaminya.


Greep


"Oh ternyata sembunyi di sini, cantiknya Abang," ucap Afwi sambil memeluk Nayla dari belakang.


"Abang!" pekik Nayla kaget karena tiba-tiba ada dua tangan kekar memeluknya dari belakang.


"Kamu kan pamitnya ke belakang sama bunda, tapi kenapa malah nyangkut sini sih? kamu lagi mikirin apa hm?" tanya Afwi dengan masih memeluk Nayla dari belakang.


"Nggak mikirin apa-apa, hanya pingin sendiri sebentar di sini?" jawab Nayla tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Hei kalau bicara itu tatap mata lawan bicaranya!" tegur Afwi.


Nayla lalu memutar badannya sehingga berhadapan dengan Afwi, ia berusaha menampilkan wajah yang baik-baik saja, namun sayangnya ia tak bisa membohongi suaminya yang berprofesi sebagai polisi tersebut.


"Abang tahu perasaanmu tak baik-baik saja, sekarang jujurlah apa yang kamu rasakan?"

__ADS_1


Nayla terdiam, ia bimbang apa harus jujur dengan perasaannya saat berkumpul dengan keluarganya, kalaupun ia berbohong tetap akan ketahuan karena sang suami yang sangat pintar dalam membaca gestur tubuh orang, selain itu Afwi juga belahan hidup Nayla, ia pasti sudah tahu sifat sang istri seperti apa.


__ADS_2