Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 58


__ADS_3

Keesokan harinya Yudha dan keluarganya kembali ke Bandung karena seminggu lagi mereka akan kembali ke kota S untuk menempati rumah lama mereka kembali sekaligus mengurus berkas pernikahan Aryana.


Waktu seminggu di Bandung digunakan untuk membereskan semua barang-barang juga segala urusan administrasi sekolah Aryana dan Afwi dan kesempatan ini tak dilewatkan oleh Afwa untuk menemui Kirana. Mereka janjian di sebuah cafe di Bandung, tentu saja tanpa sepengetahuan Dinda.


"Kak Afwa!" panggil Kirana saat sudah sampai di cafe.


"Kiran, ayo duduklah!" pinta Afwa.


Kirana lalu duduk di tempat yang sudah di pesan oleh Afwa.


"Mau pesan apa, hem?" tanya Afwa lembut.


"Chicken steak sama orange jus," jawab Kirana.


Afwa segera memanggil pelayan untuk memesan menu makanan mereka, setelah pelayan selesai mencatat pesanan, Afwa memulai pembicaraan dengan Kirana.


"Kiran, apa tante Dinda sampai sekarang belum berubah pikiran tentang kita?" tanya Afwa.


"Maaf, Kak, ibu belum berubah pikiran," jawab Kirana sendu.


Mendengar jawaban Kirana Afwa menghembuskan nafas kasar seolah ada beban berat yang mengganjal di dadanya.


"Apa kak Afwa benar-benar akan menyerah?" tanya Kirana.


"Aku tak tahu, karena karir militerku pun belum di mulai, baru mau daftar Akmil," jawab Afwa.


"Jadi jika kak Afwa nanti keterima di Akmil, kakak akan berhenti berjuang untuk kita begitu?" tanya Kiran.


"Bukan begitu Kiran, jadi apapun kakak nantinya , kakak akan tetap memilihmu," jawab Afwa sambil menggenggam tangan Kiran yang ada di atas meja.


"Sungguhkah?, kakak akan tetap memilihku apapun yang terjadi?" tanya Kiran tak percaya.


"Iya, Yang, aku sungguh-sungguh, kau bisa pegang kata-kataku," jawab Afwa berusaha meyakinkan Kirana.


Pembicaraan terhenti ketika pelayan mengantarkan pesanan mereka. Afwa dan Kirana menikmati makanan yang mereka pesan, Afwa tak segan mengelap saus yang tertinggal di sudut bibir Kirana dengan jarinya, dan hal ini membuat Kirana berdebar apalagi wajah tampan Afwa benar-benar dekat dengannya.


"Terima kasih," ucap Kiran setelah Afwa mengelap sisa saus di sudut bibirnya.


"Kesukaanmu masih belum berubah dari dulu chicken steak," ucap Afwa.


"Selera kakak juga dari dulu tidak berubah ayam bakar dan semua masakan berbahan dasar ayam," ucap Kirana lalu keduanya tertawa kecil mengingat makanan kesukaan mereka yang dari kecil tidak berubah.


"Yang, seandainya aku bukan anak Yudhatama Dewantara pewaris Dewantara group dan juga bukan seorang militer, aku hanya anak orang biasa cuma bekerja sebagai karyawan pabrik misalnya apa kamu masih mau terima aku?" tanya Afwa dengan mimik.wajah serius.


Mendengar pertanyaan Afwa, Kirana langsung menghentikan makannya dan meletakkan garpu dan pisau makan yang ia pengang.

__ADS_1


"Memangnya Kak Afwa mengenalku sudah berapa lama?, aku sudah jatuh hati pada Afwa kecil yang sangat nakal padaku, awalnya aku kesal padamu tapi ketika tau kakak melakukan itu hanya untuk mendekatiku dan kakak sayang padaku, rasa sayang itupun juga mulai tumbuh dalam hatiku meski aku tak tau itu perasaan apa, meski Kak Afwi juga setampan dirimu namun aku tak tertarik padanya. Apa pada saat itu aku memikirkan kakak anak siapa?, tidak, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Setelah beranjak dewasa aku tahu dan mengerti tentang status kakak, saat aku tahu dan mengerti aku justru merasa inscure dengan diriku sendiri, makanya setelah ayah di pindahkan ke Bandung aku sama sekali tak ingin berkomunikasi denganmu, aku takut aku salah, aku takut aku dicap matre olehmu juga orang lain, meskipun selama itu juga aku bertahan, tak ada nama pria lain yang bertahta dalam hatiku selain dirimu, aku tak perduli dengan status keluargamu, karena yang aku cintai adalah pribadimu tanpa tendensi apapun. Namun jika kakak meragukan ketulusanku, aku bisa terima, dan kita bisa berhenti sampai disini saja," ujar Kirana dengan mata yang berkaca-kaca tapi mencoba untuk tetap tersenyum.


Melihat itu Afwa kelabakan, ia tak menyangka pertanyaannya barusan ternyata menyingung harga diri Kirana.


"Sayang, maaf aku tak bermaksud meragukan mu, maaf, sungguh maafkan aku," ucap Afwa penuh penyesalan sambil menggenggam tangan Kirana.


"Dasar bodoh kau Afwa, apa yang sudah kau lakukan?" umpat Afwa dalam hati pada dirinya sendiri.


Kirana sudah tak bisa meneruskan suapan steaknya yang sudah hampir habis, hatinya terlanjur sesak, ia lalu berdiri dan langsung pergi meninggalkan cafe, sedangkan Afwa kaget melihat Kirana yang langsung keluar cafe, ia langsung mengejar Kirana tak lupa ia meninggalkan dua lembar uang seratus ribu di meja.


"Kiran, tunggu!" panggil Afwa namun panggilannya tak di gubris oleh Kirana.


Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil mengejar Kirana, langsung menarik tangan Kirana dan membawa Kirana ke pelukannya, meski Kirana memberontak namun Afwa tak mau melepaskannya.


"Maafkan kakak Kiran, jangan seperti ini!, kakak sakit melihatnya, kakak janji nggak akan menanyakan hal seperti itu lagi, kakak percaya padamu, kakak cinta sama kamu Kiran," ucap Afwa sambil memeluk Kirana.


Kirana yang mendengar kata-kata Afwa hanya bisa pasrah, ia menangis di pelukan pria yang ia cintai sejak kecil.


"Kiran dengarkan kakak!, bagi kakak apapun yang terjadi kamulah yang pertama dan terakhir untuk kakak," ucap Afwa sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Kirana yang masih berlinang air mata setelah Afwa melepaskan pelukannya pada Kiran.


Afwa mengusap sisa air mata di wajah Kirana lembut dengan kedua tangannya. Afwa benar-benar menyesal dengan ucapannya tadi.


"Ayo aku antar pulang, atau masih mau ke tempat lain karena dua hari aku dan keluargaku akan balik ke kota S, Bunda ingin menghabiskan masa tuanya di sana dan acara pernikahan Aryana dengan Om Fahmi juga akan diselenggarakan di sana sekitar tiga bulan lagi," tawar Afwa sambil memberi penjelasan kenapa ia ingin menemui Kirana hari ini. Ia ingin menghabiskan waktunya selama di Bandung bersama Kirana.


"Baru aku mau ngomong waktu di cafe tapi kamunya malah ngambek dan kabur," ucap Afwa.


"Kalau gitu kita ke mall saja ya," tawar Afwa.


"Baiklah, tapi pulangnya jangan kesorean ya kak," jawab Kirana.


"Ok my love, let's go!" ajak Afwa.


Kirana lalu masuk ke mobil Afwa, mereka berdua tampak ceria di dalam mobil setelah drama percintaan beberapa saat saja di dalam cafe. Afwa berencana akan membelikan sebuah cincin untuk Kirana sebagai kenang-kenangan, agar Kirana selalu mengingat Afwa saat mereka saling berjauhan.


Di kantor Pratama group seorang gadis cantik sedang duduk manis di sofa ruang kerja sang ceo, siapa lagi kalau bukan Aryana.


"Honey contoh undangannya bagus-bagus aku bingung mau pilih yang mana," ucap Aryana sambil memilih-milih beberapa sampel undangan yang dikirim pihak WO dari kota S.


Fahmi yang sedang memeriksa berkas di meja kerjanya menghentikan aktifitasnya saat mendengar ucapan calon istrinya yang sedang sibuk memilih undangan. Ia berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri Aryana yang sedang duduk di sofa.


"Memang kamu mau pilih yang mana hem?" tanya Fahmi sambil duduk di sebelah Aryana, ia ikut memperhatikan undangan yang dipegang Aryana.


"Bagaimana kalau yang ini terlalu mewah nggak?" tanya Aryana sambil menyodorkan contoh undangan warna krem keemasan dengan tulisan warna emas.


"Bagus, menurutku tidak terlalu mewah, yang silver itu juga bagus," jawab Fahmi sambil menunjuk undangan warna silver yang cukup elegan.

__ADS_1


"Iya ya yang silver juga bagus, ah...aku bingung honey, kamu aja yang pilih," ucap Aryana malah frustasi.


"Sudah nggak usah dipikirkan, kalau aku yamg Silver ini saja, nanti sebagian undangannya di cetak secara di digital untuk teman atau saudara yang jauh," ucap Fahmi memberi pendapat.


"Ok, kalau gitu fix yang ini saja ya undangannya," ucap Aryana sambil tersenyum senang, Fahmi mengacak gemas rambut Aryana.


"Sabtu jadi pindah ke kota S?" tanya Fahmi.


"Iya, kan harus banyak persiapan di sana, dan nanti kita fitting bajunya di butik oma Dewi yang di kota S saja ya biar nggak ribet!" pinta Aryana.


"Terserah kamu saja sayang, asal kamu nyaman dan bahagia aku sih ok saja," ucap Fahmi. Ia tak mempersoalkan apapun pilihan Aryana untuk acara pernikahan mereka karena ia yakin keluarga Dewantara akan mendampingi Aryana mengurus pernikahannya dengan sangat baik apalagi ini adalah pernikahan pertama cucu dari keluarga Dewantara.


"Oh ya Honey, prewednya kita foto Bandung dan Yogya!" pinta Aryana.


"Hah, kok di Yogya juga?" tanya Fahmi heran.


"Yogya kotanya bagus, nanti kita minta tolong mas Reno buat fotoin kita, dia fotografer handal anaknya teman ayah di Magelang," jawab Aryana.


Mendengar penuturan calon istrinya entah kenapa ia merasa tak nyaman dengan nama Reno.


"Kita di Bandung saja sama Jakarta atau kota kelahiranmu, kalau perlu kita ke Singapura, di sana banyak kenalanku yang menjadi fotografer handal, sekalian nanti kamu lihat universitas yang kamu sukai di sana," tawar Fahmi memberikan alternatif pilihan.


"Memangnya kamu punya waktu untuk semua itu honey?, Singapura itu jauh, masa cuma prewed harus sampai kesana," ucap Aryana, perasaan merakyatnya mulai bicara.


"Why not?, aku akan punya banyak waktu jika berhubungan denganmu apalagi menyangkut pernikahan dan mas depan kita.


"Uluh-uluh belajar gombal dari mana sih?" ucap Aryana sambil mencubit pipi Fahmi.


"Nggak gombal ya sayang, ini sungguhan," bantah Fahmi.


"Aku pikir dulu ya honey kita akan prewed dimana, aku akan minta pendapat bunda dulu," ucap Aryana.


"Anthing for you my love."


_________________________________________


Enaknya Prewed dimana ya?


Author nggak pernah prewed soalnya


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2