Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
S2. Ngidam


__ADS_3

Afwi sungguh merasa terkejut namun juga bahagia di saat yang bersamaan, empat tahub penantian sang buah hati kini terbayar sudah.


"Apa saya bisa menemui istri saya, Dok?" tanya Afwi.


"Bisa, tapi jangan berisik ya Pak, istri anda masih belum sadar," jawab dokter Fadila


"Terima kasih banyak dokter," ucap Afwi kemudian bergegas mendekat ke brangkar dimana sang istri masih terbaring lemah dengan mata yang terpejam.


"Sayang, impian kita jadi kenyataan, doa kita sudah di kabulkan oleh Allah, cepatlah bangun calon mami," ucap Afwi lirih sambil menggenggam jemari tangan sang istri.


Tak berapa lama, Nayla mulai mengerakkan jemari tangannya dan berusaha membuka matanya yang terasa berat.


"Sayang kamu sudah sadar? mana yang sakit?" tanya Afwi lembut.


"Ke-kepalaku masih pusing, Bang, rasanya seperti mabuk kendaraan," lirih Nayla.


"Tidak apa-apa, Sayang itu hal yang biasa karena di dalam sini sudah ada dedeknya," ucap Afwi sambil mengelus perut sang istri yang masih rata.


Nayla yang baru sadar dari pingsan berusaha mencerna maksud perkataan sang suami, setelah berusaha akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Ja-jadi aku hamil, Bang?" tanya Nayla memastikan.


"Ya, Sayang kamu hamil, kita akan segera jadi orang tua," jawab Afwi dengan tersenyum.


Seketika air mata Nayla luruh, ia benar-benar tak menyangka jika dirinya telah berbadan dua tanpa ia sadari. Saking tak ingin memikirkan masalah dirinya yang tak kunjung hamil, Nayla tak pernah lagi menggunakan tes kehamilan jika ia terlambat datang bulan sehingga saat benar-benar hamil ia tak menyadarinya.


"Nay Sayang, mulai saat ini kamu kurangi aktivitas di luar rumah, masalah gerai, kamu bisa percayakan dulu sama karywan kamu, nanti abang bantu pantau!" pinta Afwi yang di setujui oleh Nayla.


Setelah keadaan Nayla membaik, Afwi segera membawa sang istri untuk pulang, sampai rumah, Afwi dengan sangat hati-hati membantu Naya masuk ke dalam rumah.


"Bang, Nay ini hanya hamil bukan menderita penyakit serius," ucap Nayla saat sang suami berubah menjadi over protektif.


"Sayangku, kata dokter trimester pertama itu kandungan masih lemah dan rawan keguguran, jadi kamu harus hati-hati kalau jalan, apalagi ke kamar mandi!" ucap Afwi yang mrip emak-emak.


Mendengar penuturan sang suami, Nayla hanya bisa pasrah, ia tahu bahwa Afwi melakukan itu karena terlalu sayang padanya.


"Nay, abang balik dulu ke kantor ya, kamu nggak apa-apa kan abang tinggal sendiri dulu, soalnya mobil abang masih di kantor dan kasihan tuh Bripda Joko. Tadi di jalan abang sudah wa telpon bi Jumi biar segera kesini temani kamu."


"Nggak apa-apa, Bang, Nay akan baik-baik saja," ucap Nayla meyakinkan.


Setelah berpamitan dan memastikan kenyamanan sang istri, Afwi kembali ke kantor. Tepat saat ia keluar rumah bik Jumi datang dengan sedikit tergesa.


"Tuan, apa benar nyonya Nayla hamil?" tanya bi Jumi dengan raut wajah bahagia.


Iya, Bi, istriku positif hamil, makanya aku langsung telepon bibi kareba aku harus segera kembali ke kantor polisi, ada acara penting di sana, jawab Afwi


"Tuan, tenang saja, saya akan menjaga nyonya dengan sepenuh hati," ucap bi Jumi dengan ekspresi yang lucu.


"Terima kasih, Bi, titip istri saya," ucap Afwi kemudian masuk ke dalam mobil Patwa yang dikemudikan oleh Bripda Joko, sedangkan bi Jumi langsung masuk ke dalam rumah Afwi.


"Nyonya dimana ya, kok nggak kelihatan, apa di kamarnya ya?" tanya Bi Jumi dalam hati karena tidak melihat keberadaan Nayla.

__ADS_1


Bi Jumi lalu memberanikan diri mengetuk pintu kamar majikannya, demi bisa menemukan sang nyonya.


Tok tok


"Nyonya, Nay, apa anda di dalam?" tanya bi Jumi sambil mengetuk pintu.


"Iya, Bi, masuk saja," jawab Nayla dari dalam.


Ceklek


"Nyonya!, selamat atas kehamilannya," ucap bi Jumi yang langsung menghampiri Nayla.


"Terima kasih, Bi," ucap Nayla yang bersandar di kepala ranjang dengan keadaan yang masih lemas.


"Nyonya masih kelihatan kurang sehat, mau makan apa, Nyonya, nanti saya buatkan?" tawar bi Jumi.


"Aku pingin bubur lemu yang biasa di jual di kota Solo, apa bibi bisa buat?" jawab Nayla.


"Bisa, Nyonya, saya pernah buat bubur itu, saat yang punya hajat istrinya dari Jawa Tengah," jawab bi Jumi.


"Syukurlah kalau bibi tahu dan bisa memasak bubur lemu," ucap Nayla lega.


"Lalu sayurnya mau di masakin apa, Nyah, kan biasanya di kasih sambal goreng sam sayur sejenis opor gitu?" tanya bi Jumi lagi.


"Itu namanya sayur terik, kalau bibi tahunya opor ya masak opor telur nggak apa-apa, masak sambal goreng dikit aja buat abang," jawab Nayla.


"Kalau begitu, bibi mau ke warungnya emak Siti dulu ya semoga masih dapat kelapa sama ayamnya, Nyonya di sini aja dulu jangan kemaba-mana sebelum saya datang!" pinta bu Jumi.


Nayla


"Assalamualaikum, Pa."


Papa Mahendra


"Waalaikumsalam, gimana kabarmu, Nay?"


Nayla


"Alhamdulillah, kabarku baik, Papa gimana, sehat kan?"


Papa Mahendra


"Ada apa tumben telepon papa jam segini?"


Nayla


"Nayla ada berita bagus buat papa."


Papa Mahendra


"Berita apa?"

__ADS_1


Nayla


"Papa akan otw jadi Eyang kakung."


Papa Mahendra


"Alhamdulillahirrabilalamin, akhirnya Allah memberikan kepercayaan padamu dan Afwi, jaga baik-baik kandungannmu, jangan banyak aktivitas terutama aktivitas berat, kalau butuh bantun papa bilang saja, jangan sungkan!" ucap pak Mahendra penuh haru, tanpa di sadari bulir bening keluar dari sudut matanya yang sudah tak lagi muda.


Nayla


"Terima kasih papa, Nay hanya butuh doa dari papa, jaga kesehatan biar papa bisa melihat dan bermain dengan cucu papa nantinya!"


Pak Mahendra


"Iya, Nakz InsyaAllah papa akan berusaha selalu sehat demi kamu dan cucu papa."


Nayla


"Sudah dulu ya, Pa, Nay tidak mau menganggu pekerjaan papa, Assalamualaikum."


Pak Mahendra


"Waalaikumsalam."


Setelah menutup sambungan telepon dengan sang papa, Nayla menyeka air mata yang menetes di pipinya, ternyata Nayla juga merasakan keharuan atas kehamilannya.


"Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempercayai hamba untuk menjadi calon ibu, dan juga suami hamba menjadi calon ayah, berikan hamba selalu kesehatan agar hamba bisa melahirkan anak kami dengan selamat," doa Nayla dalam hati.


Nayla keluar dari kamar untuk melihat apa bi Jumi sudah pulang belanja apa belum dari warung emak Siti. Saat memasuki dapur ternyata bi Jumi sudah mulai meracik bumbu opor dan memasak bubur lemu.


"Maaf ya bi jadi menyusahkan bibi," ucap Nayla yang membuat bi Jumi kaget .


"Eh Nyonya," ucap bi Jumi terkejut lalu bi Jumi mengatakan bahwa ia tidak merasa di repotkan, ia justru senang bisa membantu memenuhi ngidam Nayla.


Afwi dan Nayla sudah banyak berjasa dalam kehidupan bi Jumi, jika tidak ada Afwi dan Nayla, bi Jumi tak akan bisa menyekolahkan Dudung di SMK ternama. Afwi menjadi orang tua asuh untuk Dudung sejak bi Jumi membantu kerepotan Nayla saat ia mulai menempati rumah di Bandung sebagai suami istri. Setelah hampir satu jam, bubur lemu dan lauknya sudah jadi, harum masakan benar-benar membuat Nayla tak sabar untuk mencicipi.


"Wah sudah matang semuanya, kelihatannya sangat enak, boleh aku makan, Bi?" tanya Nayla dengan mata berbinar melihat deretan masakan yang disiapkan bi Jumi.


"Silahkan, Nyonya, ini piringnya," jawab bi Jumi sambil menyerahkan sebuah piring pada Nayla.


"Bibi tak makan sekalian?" tanya Nayla saat menyadari bi Jumi hanya berdiri melihatnya mengambil makanan.


"Tidak, Nyah, saya sudah kenyang dengan menghirup bau bumbu-bumbunya tadi saat memasak.


"Oh itu kalau di tempatku namanya sumeben, Bi, jadi orang yang memasak malah tidak doyah dengan makanan yang di buatnya sendiri. Waktu di Semarang, ada tetangga yang jadi kokinya, eh selesai masak dia malah cuma makan nasi, ikan asin dan sambel katanya ya itu nggak doyan masakannya sendiri karena terlalu banyak mencium bau bumbu saat masak," ucap Nayla.


"Kalau begitu, bibi mau mencuci peralatan masak dulu ya, Nyah, dan satu lagi kalau makan jangan terlalu kenyang Nyah nanti perutnya jadi nggak nyaman, kasihan calon dedeknya!" ucap bi Jumi mengigatkan.


"Iya, Bi terima kasih sudah mengingatkan," ucap Nayla.


Bi Jumi segera meningalkan ruang makan untuk membersihkan alat bekas masaknya tadi, sedangkan Nayla mulai menyatap bubur lemu yang ia inginkan sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2