
Setelah memanggil Briptu Fabian dan memberi nya sedikit nasehat, Afwi segera melanjutkan pekerjaan menganalisis beberapa kasus yang ada di berkasnya juga hal-hal lain yang masih berhubungan dengan ranah pekerjaannya. Ia ingin segera menyelesaikannya agar bisa memenuhi janjinya dengan Nayla untuk bersilaturahmi ke rumah pak RT.
Berbeda dengan Afwi yang berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan hati gembira, Briptu Fabian tampak lesu ketika keluar dari ruangan atasannya yang tak lain adalah Afwi.
"Hei kenapa, Bian, kau kena marah Pak Afwi?" tanya salah seorang teman Fabian ketika melihat wajah mendung temannya setelah keluar dari ruangan sang atasan.
"Tidak, beliau hanya bertanya beberapa hal padaku dan memberi nasehat," jawab Fabian.
"Cuma di kasih nasehat tapi kenapa sampai muka di lipat gitu."
"Aku cuma kurang enak badan saja, aku pergi dulu," ucap Briptu Fabian yang langsung berlalu dari hadapan rekan seprofesinya itu.
"Kenapa si Bian? habis dipanggil pak bos, katanya nggak apa-apa tapi yang kulihat Bian nampak mencemaskan sesuatu," monolog teman Briptu Fabian sambil menatap punggung kokoh rekannya yang sudah berjalan menjauh.
Di salah satu sudut ruangan di kantor polisi, Fabian menyendiri, ia ingin menenangkan pikiran sejenak Kata-kata Ipda Afwi berputar di kepalanya. Ipda Afwi bukan orang yang bodoh yang sembarangan bicara, ia pasti sudah mendapat laporan tentang tindakannya.
"Kenapa pak Afwi tiba-tiba memanggilku dan menanyakan tentang rumah tanggaku, untung saja tadi aku bisa berkilah dan sepertinya pak Afwi percaya, Arghhh... kenapa dari sekian juta penduduk Bandung, pak Afwi salah satu orang yang melihatku dengan Salwa," batin Fabian yang bercampur frustasi.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, Afwi masih berada di ruangannya setelah shalat ashar tadi. Saat melihat jam di tangannya Afwi bergegas membereskan pekerjaannya, ia ingat harus segera pulang ke rumah karena ada janji dengan Nayla sang istri tercinta.
"Ya Allah sudah hampir jam empat, semoga Nayla nggak marah," gumam Afwi sambil keluar dari ruangannya.
Afwi bergegas ke parkiran, lalu langsung tancap gas menuju rumah, setelah dua puluh menit Afwi sudah sampai di rumah. Saat Afwi memasuki rumah ia sudah melihat sang istri sudah bersiap.
"Assalamualaikum," ucap Afwi
"Waalaikumsalam," jawab Nayla yang langsung menghampiri suaminya dan mencium punggung tangan Afwi.
"Kenapa baru pulang, Bang?" tanya Nayla lembut.
"Kan tadi pagi abang sudah bilang kemungkinan pulang terlambat karena cuti pekerjaan menumpuk," jawab Afwi setelah mendaratkan ciuman di kening sang istri.
"Ya sudah abang, langsung mandi, nggak enak kalau ke rumah pak RT kesorean!"
"Iya, Sayang, abang mandi dulu."
Selesai mandi Afwi langsung mengenakan pakaian semi formal, kemeja lengan pendek dan celana kain, dan sekali lagi Nayla sangat terpesona dengan penampilan sang suami yang selalu terlihat tampan dan kece badai dengan busana apapun.
"Dek, ayo berangkat nanti keburu magrib!" ajak Afwi pada Nayla yang sedari tadi cosplay jadi patung saat melihat penampilan suami tampannya.
"Dek, ayo kok malah diam aja sih!" ajak Afwi sekali lagi sambil menyentuh lengan sang istri.
Nayla tersentak saat sebuah tangan menyentuh lengannya, sepertinya ia baru saja tersadar setelah melanglang buana di dunia lain.
"Eh, iya, Bang, ada apa?" tanya Nayla cengok.
__ADS_1
"Ya Allah, Dek, jadi dari tadi abang ajak nggak ngeh, kenapa sih?"
"Eh anu, Bang, maaf Nay galfok."
"What! galfok apaan sih, galfok lihat apa perasaan di sini cuma ada abang."
"Galfok lihat abang, ups," Nayla langsung memukul mulutnya sendiri karena kelepasan bicara dan itu sungguh memalukan.
Afwi yang mendengarnya langsung tertawa lalu mengusap lembut bibir Nayla dengan ibu jarinya sambil menatap manik mata sang istri dengan penuh cinta.
"Jangan dipukul begitu bibirnya, seharusnya begini," ucap Afwi kemudian mendaratkan bibirnya di bibir sang istri yang serasa mengodanya dari tadi ditambah ungkapan sang istri tentang dirinya.
"Abang...!, lisptik Nay jadi berantakan nih," protes Nayla setelah sang suami melepaskan tautan bibirnya.
"Galfok sama penampilan suami yang paripurna gantengnya nggak apa-apa, nggak dosa, malah dapat pahala karena bisa menyenangkan hatinya. Kalau galfok sama cowok lain nah itu salah," ucap Afwi.
"Ayo berangkat!" ajak Afwi untuk kesekian kalinya.
"Bentar aku benahin make upku dulu, gara-gar abang sih," ucap Nayla yang langsung ke kamar membenahi riasanya karena ulah sang suami.
Setelah membenahi make-upnya Nayla segera menuju Afwi yang sudah menunggu diruang tamu, dan sekarang sudah tak ada drama seperti tadi karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Mereka pergi ke rumah pak RT dengan naik motor, sesekali Afwi dan Nayla tersenyum ketika berpapasan dengan warga sekitar. Meski belum kenal semuanya tapi warga di wilayah tempat Afwi, sebagian warga sudah mendengar nama warga baru di tempat tinggal mereka, terutama para ibu-ibu muda dan remaja yang begitu kepo ketika tersiar info si warga baru seorang perwira polisi singel yang ganteng di atas rata-rata.
"Ini, Bang rumah pak RT?" tanya Nayla ketika Afwi memakirkan motornya di sebuah halaman ruman yang tak terlalu besar namun asri.
"Iya, tadi abang sudah chat pak RT kalau kita mau kesini," jawab Afwi.
"Waalaikumsalam," balas sebuah suara seorang laki-laki dari dalam.
"Eh pak Afwi, beneran datang, nggak nyangka bakal kedatangan orang besar, mari silahkan masuk!" ucap pak RT sembari tersenyum.
Tak berselang lama, bu RT keluar sambil membawa minuman dan camilan.
"Mari di minum Pak, Bu!" ucap bu RT kemudian ikut duduk di samping sang suami.
"Begini pak, kedatangan kami kesini bersilaturahmi sebagai warga baru, karena selama di sini saya baru satu kali saya ke sini," ucap Afwi.
"Tidak apa-apa Pak Afwi, saya mengerti pekerjaan pak Afwi sebagai abdi negara yang harus menjaga keamanan dan memberi perlindungan pada masyarakat. Pak Afwi tak usah sungkan, sebagai warga baru Pak Afwi cukup ramah dengan warga sekitar, terutama ibunya si Dudung ikut terbantu dengan Pak Afwi memberinya pekerjaan, juga bantuan finansial untuk kegiatan warga, sungguh warga cukup terbantu," ucap pak RT.
"Itu semua sudah kewajiban saya sebagai warga masyarakat, Alhamdulillah saya ada kelebihan rezeki jadi bisa sedikit membantu kegiatan warga di sini," ucap Afwi.
"Oh ya, Pak, Bu, saya sampai lupa, kenalkan ini istri saya namanya Nayla," sambung Afwi yang hampir lupa mengenalkan sang istri.
Bu RT sejak tadi mengagumi kecantikan Nayla yang terlihat alami, wajahnya yang imut dan sikapnya ramah. Bu RT berfikir jika usia Nayla masih sangat muda.
"Eluh-eluh cantik pisan istrinya, pantas Pak Afwi pingin segera nikah," komentar bu RT memuji Nayla.
Nayla yang di puji hanya tersenyum malu, menurutnya bu RT ini cukup berlebihan, Nayla merasa wajahnya biasa saja, namun biasa menurut Nayla berbeda dengan ukuran cantik versi bu RT.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau ibu menilai istri saya cantik, dan ibu memang benar, kalau saya tidak gercep bisa diambil orang," ucap Afwi menangapi pujian bu RT pada istrinya.
"Bu, Nay, eh mbak saja ya panggilnya soalnya masih muda banget, gini mbak Nayla, itu kan pak Afwinya tuh cakep bener kaya artis korea yang lagi viral digandrungi cewek-cewek, apalagi kalau pak Afwi pakai seragam polisi aduh cuakep pisan euy, sampai tuh cewek-cewek jomblo di sini kadang suka liatin pak Afwi diam-diam kalau lagi di luar berangkat kerja, oleh karena itu mbak Nayla harus hati-hati soalnya jaman sekarang pelakor itu makin di depan, suami orang lebih menantang," ucap bu RT panjang lebar membuat pak RT mendelik tajam sedangkan Afwi dan Nayla hampir tak bisa menyembunyikan tawanya.
Ekhemm
Deheman pak RT otomatis membuat bu RT berhenti bicara dan menatap sang suami kikuk, pak RT pasti tak nyaman sang istri memuji lelaki lain di depan matanya sendiri.
"Maafkan istri, saya Pak, Bu, dia memang suka berlebihan kalau bahasa trendnya lebay," ucap pak RT tak enak hati karena tadi sang istri menyingung soal intip mengintip.
"Tidak apa-apa, Pak, melihat sesuatu adalah hak semua orang, tapi sekarang saya sudah menikah jadi tak akan ada yang berani lihat saya diam-diam lagi," ucap Afwi tenang.
"Eh, jadi pak Afwi tahu kalau ada para cewek-cewek diam-diam perhatiin pak Afwi?" tanya bu RT sedikit terkejut.
"Saya tahu, Bu, ibu lupa pekerjaan saya, maaf bukannya sombong, jangankan di intip atau diperhatikan dari jarak dekat dari jarak jauh saja saya tahu, tapi selama itu bukan orang yang berniat jahat tak masalah bagi saya," jawab Afwi.
"Pak Afwi kalau boleh tahu orang tua pak, Afwi sebenarnya siapa kok kemarin pernikahan kalian sampai masuk tv?" tanya pak RT yang hampir kelupaan menanyakan hal ini.
"Orang tua saya salah satu pengusaha di negara ini, beliau dulunya seorang tentara bahkan masuk mejadi anggota pasukan khusus, tapi di tengah perjalanan beliau mengajukan pensiun dini karena harus meneruskan bisnis keluarga yang sudah dirintis oleh kakek buyut saya mengantikan opa yang sudah tua," jelas Afwi.
"Oalah begitu ceritanya, nah yang jadi pemikiran saya, pak Afwi dari keluarga kaya, kenapa malah milih jadi polisi, bukannya lebih enak kerja di perusahaan sendiri?" tanya pak RT yang keponya melebihi ibu-ibu tukang rumpi.
"Menajdi abdi negara seperti ayah saya sudah menjadi cita-cita saya sejak kecil hanya beda institusi saja, kakak kembar saya yang seperti ayah menjadi prajurit Angkatan Darat, sedangkan saya memilih mengabdi di Kepolisian."
"Apa? pak Afwi kembar?" tanya pak RT dan bu RT bersamaan.
"Iya, saya terlahir kembar tiga, saya yang nomor dua, sedangkan yang nomor tiga perempuan sudah menikah lebih dulu daripada saya dan kakak saya."
"MasyaAllah, ternyata pak Afwi kembar," ucap pak RT.
Afwi dan Nayla hanya tersenyum, bagi mereka ucapan pak RT dan bu RT cukup menyenangkan, apalagi bu RT saat bercerita tentang Afwi yang di lihat diam-diam oleh cewek sekitar rumah. Pembicaraan pun bergulir dengan hangat sampai akhirnya Afwi harus mengakhiri pembicaraan karena waktu sudah menunjukkan setengah enam sore.
"Pak, Bu, ini sudah hampir magrib kami mau pamit pulang, dan terima kasih atas jamuannya," ucap Afwi.
"Pak Afwi, kami merasa sangat senang, pak Afwi dan bu Nayla bersedia datang bersilaturahmi ke rumah kami, maaf kemarin kami tak bisa hadir di pernikahan pak Afwi, namun kami turut berbahagia atas pernikahan pak Afwi, semoga rumah tangga pak Afwi dan bu Nayla bisa mendi keluarga yang sakinah, mawahdah dan warahmah," ucap pak RT yang diamini oleh Afwi dan Nayla.
Sebelum pulang tak lupa Nayla menyerahkan souvenir pernikahan mereka dan juga lumpia buatan Nayla. Pak RT dan bu RT sungguh tak enak hati menerimanya, seharusnya mereka yang memberi sesuatu pada Afwi sebagai ucapan selamat tapi justru pasangan pengantin baru yang memberinya sesuatu dan bisa dipastikan sesuatu pemberian Afwi tidak murah.
"Pak Afwi, sungguh saya tak enak seharusnya saya yang kasih sesuatu sama pak Afwi tapi kok malah saya yang diberi, pak Afwi mau main ke rumah saya beserta istri itu saya sudah sangat senang," ucap pak RT.
"Iya jangan repot-repot begini," sambung bu RT.
"Tidak apa-apa, Bu, angap saja ini rejeki bapak dan ibu, mohon di terima," ucap Nayla sambil setengah memaksa bu RT menerima dua paper bag darinya.
Bu RT akhirnya menerima pemberian Afwi dan Nayla dengan tersenyum cangung. Setelah berpamitan dan menyerahkan souvenir Afwi dan Nayla pamit pulang. Sepeninggal Afwi dan Nayla, Bu RT dengan tidak sabar membuka isi paper bag pemberian Nayla tadi. Alangkah tekejutnya pak Rt dan bu RT saat melihat wujud souvenir pernikahan Afwi yang mewah juga sekotak lumpia yang tersemat brand ternama Lumpia Cinta yang cukup terkenal di kota Bandung.
_______________________________________
__ADS_1