
Setelah berjalan-jalan di sekitar hotel, Afwa dan Kirana kembali ke kamar hotel. Sampai di hotel mereka langsung mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat isya secara berjamaah, selesai shalat mereka merebahkan diri ke ranjang dengan posisi saling berhadapan.
"Kak setelah ini, apa kita akan langsung tinggal di rumah dinas?" tanya Kirana.
"Iya, memang kenapa, kamu keberatan?"
"Tidak, hanya ingin tahu saja."
"Tenang saja, Sayang, kita akan menempati rumah baru yang untuk maharmu itu, tapi kalau kau mau rumah yang lain, nanti kita cari sama-sama modelnya, tapi kita tinggal di rumah dinas dulu biar kamu bisa lebih mudah bersosialisasi dengan ibu-ibu persit yang lain," ucap Afwa yang seolah tahu apa yang di pikirkan istrinya.
"Aku pingin tinggal di rumah yang buat maharku saja, nggak usah beli rumah baru, pemborosan namanya. Kalau alasan kita tinggal di rumah dinas dulu itu aku setuju," ucap Kirana sambil tersenyum.
"Makasih pengertiannya ya, Sayang" ucap Afwa sambil membelai lembut wajah Kirana.
"Apa kita akan bulan madu?" tanya Kirana.
"Iya tapi cuma tiga hari karena cutiku nggak banyak."
"Memang kita akan bulan madu dimana?
"Kita akan bulan madu ke Bali saja yang dekat nggak usah ke luar negeri karena sebentar lagi kan pernikahan Afwi dan Nayla."
"Nggak apa-apa, Kak, di manapun bulan madunya yang penting ada kakak di sisiku," ucap Kirana lalu memeluk suaminya erat.
Afwa hanya mengelus punggung istrinya dengan lembut, dalam hati ia mengucap syukur pada Allah karena sudah memberikan ia belahan jiwa seorang Kirana.
Setelah satu malam menginap di hotel, keesokan harinya Afwa dan Kirana kembali ke rumah Raka, mereka membereskan barang-barang mereka karena besok Afwa dan Kirana akan pergi berbulan madu ke Bali kurang lebih tiga hari menginggat cuti Afwa tidak lama, belum lagi seminggu lagi pernukahan Afwi akan di laksanakan.
"Kalian beneran akan berangkat ke Bali?" tanya Dinda.
"Iya, Bu, soalnya kak Afwa cutinya hanya bentar, hari Senin besok sudah harus kerja lagi, terus aku kan juga harus bantuin bunda Yasmin, untuk pernikahan Afwi," jawab Kirana.
"Ya sudah, ingat hati-hati di sana, apalagi kalau main di pantai, jangan terlalu ke tengah, terus jaga sikap jika kalian melewati atau mengunjungi tempat-tempat sakral, selalu berdoa mohon keselamatan!" ucap Dinda menasehati putri dan menantunya.
"Insyaallah, kami akan hati-hati, saya tahu apa yang ibu maksudkan, tidak hanya Bali tapi di tempat manapun dimana bumi dipijak disitu langit di junjung, sepertinya ibu lupa pekerjaan saya, meski belum semua tapi beberapa wilayah Indonesia pernah saya tinggali waktu saya bertugas dan rekan-rekan kerja saya berasal dari berbagai daerah, kita saling cerita beberapa hal tentang daerah asal kami, jadi sedikit banyak saya tahu beberapa adat istiadat daerah di Indonesia," ucap Afwa
"Huh, iya-ya, ibu sudah tua rupanya, sampai lupa kalu kamu seorang prajurit yang sering pindah-pindah tugas, juga masa sekolah kamu, sering di ajak ke berbagai tempat di tanah air juga ke luar negeri, tapi setelah masuk SMA Taruna, kamu sudah jarang pergi-pergi."
__ADS_1
Dinda kemudian meninggalkan anak dan menantunya yang berada di ruang tengah menuju dapur membantu kakak iparnya yang sedang membereskan makanan dan bahan mentah di dapur.
Afwa dan Kirana akhirnya pergi berbulan masu menuju Bali. Selama di Bali pasangan pengantin baru itu benar-benar menikmati liburannya karena setelah masuk ke aktivitas, waktu kebersamaan mereka akan berkurang banyak, apalagi Afwa seorang prajurit yang setiap saat harus siap ditugaskan di manapun dan dalam kondisi apapun. Aktivitas malam pengantin baru tak pernah di lewatkan oleh Afwa dan Kirana, sepuluh tahun lebih meredam semua hasrat dan gairah yang ada membuat keduanya tak akan melewatkan moment bulan madu mereka dengan aktivitas ranjang. Seperti malam ini, malam terakhir mereka menginap di Bali, setelah makan malam, Afwa menghabiskan waktunya di dalam kamar bersama istrinya.
"Sayang..., lihat lah pantainya sangat indah dari atas sini," ucap Kirana yang berdiri di balkon kamar hotel yang langsung menghadap ke laut.
"Ya pantainya indah, tapi tak seindah dirimu," ucap Afwa sambil memeluk istrinya dari belakang sambil menempelkan kepalanya sejajar dengan sang istri.
"Kakak pinter banget sih ngrayunya, apa jangan-jangan, kakak suka tepe-tepe sama cewek kalau pas dinas di lapangan."
Afwa yang sedang memeluk Kirana , mengurai pelukannya lalu memutar tubuh sang istri sampai menghadapnya.
"Hei jangan menuduhku ya, kau tahu aku tipe laki-laki setia, hatiku sudah milikmu sejak sepuluh tahun yang lalu, bahkan mungkin tanpa aku sadari hatiku sudah menjadi milikmu sejak kita masih kecil," ucap Afwa sambil menangkup kan kedua tangannya ke wajah Kirana.
Mendengar ucapan suaminya, Kirana tersenyum lembut, ia meraih tangan suaminya lalu mennciumnya dengan penuh cinta.
"Aku percaya padamu, Kak, aku harap kakak akan setia pada pernikahan kita. Jujur aku kadang takut, Kak."
"Apa yang kamu takutkan, Sayang?"
"Kakak adalah laki-laki yang mendekati sempurna, mudah bagi kak Afwa untuk mencari wanita yang lebih segalanya dari diriku. Aku takut suatu saat kakak akan bosan padaku, lalu mencari yang lain di luar sana, apalagi kakak akan banyak jauh dari aku karena pekerjaan kakak."
Afwa lalu melepaskan pagutannya ketika merasakan Kirana seperti kehabisan nafas.
"Maaf, aku terlalu bersemangat tadi," ucap Afwa sambil mengusap lembut bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"Tak apa kaka, aku senang bisa melayani kakak, semua yang ada di tubuhku halal untukmu, aku serasa mimpi bisa menikah dengan laki-laki impianku sejak kecil."
"Aku juga tak menyangka kata-kata konyol yang kita ucapkan waktu kecil akan jadi kenyataan, pantas saja bunda selalu bilang, hati-hati kalau bicara karena kata-kata adalah doa, dan kata-kata kita dulu yang terucap tulus tanpa tahu itu cinta dan pernikahan justru di ijabah oleh Allah."
Kirana langsung memeluk Afwa erat, di sudut matanya, Kirana mengeluarkan air mata bahagia, dicintai setulus hati oleh seorang pewaris Dewantara group yang menjadi impian banyak wanita. Sedangkan Afwa juga merasakan kebahagiaan yang sama, perjuangan cintanya, cinta pertama sekaligus cinta terakhir untuknya berakhir dengah pernikahan yang indah, meski mereka tahu perjalanan pernikahan mereka tak akan selamanya semulus jalan tol yang bebas hambatan. Akan banyak kerikil tajam bahkan bongkahan batu besar yang akan menguji keharmonisan rumah tangga mereka.
Keduanya larut dalam perasaan cinta yang mendalam, Afwa lalu mengendong Kirana ala bridal style kemudian merebahkan sang istri di ranjang. Afwa kembali melahab bibir Kirana dengan rakus, tangannya sudah bergerilya ke dalam baju Kirana membuat sang istri merasakan sesuatu yang memabukkan.
Tak lama kemudian keduanya sudah masuk ke dalam selimut tanpa sehelai benangpun, bibir dan tangan Afwa bekerjasama memberikan kenikmatan surga dunia, ******* lenguhan yang keluar dari mulut Kirana membuat sang suami semakin lupa diri, meskipun begitu Afwa selalu bermain lembut, ia tak ingin hanya dia saja yang merasakan kepuasan menikmati surga dunia diatas ranjang, tapi Afwa juga ingin sang istri juga merasakan kepuasan yang sama.
"Ah, Kak aku sudah tak tahan."
__ADS_1
"Sebentar, sedikit lagi, kita sama-sama ya."
Kemudian terdengar suara erangan dari keduanya karena telah mencapai puncak kepuasan bersama, entah sudah berpa kali Afwa menaburkan benihnya ke rahim Kirana melalui surga dunia yang selalu memabukkan pasangan pengantin baru itu.
Selesai pelepasan, Afwa ambruk ke samping istrinya, tak lupa ia melabuhkan ciuman dikening dan pipi istrinya.
"Terima kasih, Sayang, kau hebat dan juga enak, aku tak menyangka kamu bisa menserviceku dengan cara seperti itu," ucap Afwa sambil memeluk tubuh istrinya.
Kirana lansung mengeser membalikan tubuhnya ke arah suaminya, keduanya saling berhadapan, Kirana membalas pelukan sang suami dengan mesra dengan keadaan yang masih naked.
"Aku membaca buku."
"Buku apa yang kau baca sampai service mu sehebat itu?"
"Ada deh, nggak usah kepo, yang penting kakak puas."
"Eh tapi bukunya nggak ada gambar adegannnya kan?"
"Ya nggak lah, cuma tulisan doang, tapi aku bacanya pas sudah nikah sama kakak, takutnya kalau baca sebelum nikah takutnya kalau aku jadi pingin mau praktek sama siap coba," ucap Kirana membuat Afwa jadi gemas.
"Dasar ya kau ini ada-ada saja, segitunya pingin membahagiakan suami sampai baca buku seperti itu, hemm," ucap Afwa sambil mencubit hidung Kirana.
"Yang..., aku pingin lagi, boleh?" tanya Afwa sambil memainkan gundukan kembar di hadapannya.
"Ah, kak Afwa," ucap Kirana dengan suara yang terdengar seksi membuat pusaka Afwa kembali menegang.
Kirana mengukkan kepalanya pasrah dengan keinginan sang suami, kembai kedua insan yang sudah halal tersebut mereguk nikmatnya surga dunia untuk kesekian kalinya.
Selesai melakukan olah raga ranjang, Afwa lalu mencium kening dan perut sang istri berharap benih cintanya dengan Kirana akan segera tumbuh di rahim wanita yang berstatus istrinya itu.
"Semoga dia segera hadir di sini, ya Sanyang," ucap Afwa sambil mengusap perut istrinya lembut.
Sedangkan Kirana hanya menganguk sambil tersenyum, badannya sudah merasa lemas karena melayani suaminya yang sudah kalap jika sudah bereguk surga dunia bersamanya.
__________________________________________
Maaf, baru up
__ADS_1
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit.
Thank You