Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 159


__ADS_3

Ke empat teman Medina cukup terkejut melihat penampilan Afwi malam itu yang tampak cool dan ganteng pakai banget.


"Din, serius itu cowok yang kamu ajak ke kampus waktu itu?" tanya Vera pelan.


"Iya, memang kenapa?, reaksi kalian seperti melihat aktor saja," ucap Medina cuek.


"Ini mah lebih ganteng dari aktor, bestie, pantesan kamu ngarep banget sama dia," ucap Reni menimpali.


Medina memutar bolanya malas mendengarkan ocehan dua sahabatnya itu, tapi pendapat mereka nggak salah, karena sejak memasuki ballroom hotel banyak mata para cewek melihat lapar pada Afwi yang sedang menyamar.


Waktu menunjukkan hampir jam sepuluh malam, sudah waktunya Medina pulang. Afwi tetap waspada karena ia mendapat laporan kalau para penjahat yang mengincar Medina sudah menyadari kalau mereka salah sasaran, kemungkinan mereka akan terus melacak keberadaan Medina.


"Medina ayo kita pulang, ini sudah jam sepuluh malam!" ajak Afwi sambil berbisik di dekat telinga Medina karena suara musik yang cukup keras.


"Apaan sih, ini baru jam sepuluh, biasanya aku pulang jam satu malam atau jam dua malam," ucap Mediana sedikit kesal.


"Tapi semua ini demi kebaikan anda Nona, jika anda menolak pulang, maka saya akan menelpon papa anda untuk memaksa anda pulang!" ucap Afwi tegas membuat Medina tak berkutik jika sudah berhubungan dengan papanya.


Akhirnya Medina menuruti apa kata Afwi, dengan malas ia berpamitan dengan Adelia dan beberapa temannya. Teman-teman Medina merasa aneh dengan sikap Medina, karena tak biasanya Medina pulang jam sepuluh malam jika sedang berpesta. Afwi mengandeng tangan Medina dari ballroom sampai parkiran hotel, bukan karena apapun Afwi mengandeng tangan Medina, semata-mata hanya demi keamanan saja.


"Ayo nona masuk!" perintah Afwi sambil membukakan pintu mobil.


Medina yang masih kesal karena diajak pulang paksa oleh Afwi, masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil dengan kasar, membuat Afwi sampai terkejut san mengucap ighstifar dan mengelus dada.


"Nona, jangan main kasar sama mobil, mobil ini tak salah apa-apa, hargailah segala sesuatu meski itu bukan milik, Nona!" pinta Afwi setelah duduk di kursi kemudi.


Medina hanya diam saja saat Afwi berbicara padanya karena ia masih kesal, sedangkan Afwi tak ambil pusing dengan sikap Medina, ia langsung menjalankan mobil meninggalkan parkiran hotel, sebelum keluar area parkir, Afwi memberi tahu Samsul dan Kikan untuk stay di luar hotel untuk mengawalnya. Saat mobil Afwi keluar hotel, mobil Samsul dan Kikan mengikuti dari belakang. Selepas Mobil yang ditumpangi Afwi dan Medina keluar hotel ada ada seorang gadis yang menatap sendu mobil Afwi dengan mata yang berkaca-kaca, di sampingnya ada laki-laki muda yang menggenggam tangan gadis itu seolah memberi kekuatan.


"Mbak, Nay, harus positif thinking, mungkin wanita itu hanya teman abang Afwi, feelingku sebagai lelaki mengatakan bahwa abang Afwi nggak ada hubungan khusus dengan wanita itu," ucap Dio berusaha menenangkan hati kakaknya.


"Tapi apa harus gandengan erat begitu, seolah abang takut wanita itu lepas," ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.


Flash Back On


Nayla mendapat telepon dari papanya agar bisa pulang sebentar mewakili papanya menghadiri undangan pernikahan anak sahabatnya karena papanya ada tugas mendadak dari kesatuannya. Akhirnya Nayla menyempatkan pulang dan menghadiri undangan pernikahan anak sahabat papanya yang kebetulan di adakan di tempat yang sama dengan acara ulang tahun Adelia.


Saat Afwi mengandeng tangan Medina, pada saat itulah Nayla juga keluar ke parkiran bersama adiknya Dio yang menemaninya ke acara resepsi pernikahan anak sahabat papanya, namun Afwi tak menyadari bahwa sang kekasih melihatnya mengandeng tangan Medina.


Flash Back Off


"Pantas saja telepon dan chatku nggak di balas, ternyata dia sibuk dengan wanita lain," batin Nayla yang merasa kecewa dengan Afwi meski Dio sudah menjelaskan padanya agar berfikir positif pada Afwi, dadanya otomatis terasa sakit begitu ia melihat Afwi terlihat begitu dekat dengan wanita lain.


"Ayo mbak kita pulang, sudah malam, kalau mbak dan bang Afwi berjodoh tak akan kemana!" ajak Dio yang menuntun pelan kakaknya yang masih mematung melihat kepergian mobil Afwi.


Dio mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sedangkan Nayla membuang pandangannya ke luar jendela, hanya keheningan yang ada di dalam mobil. Tak tahan suasana di dalam mobil seperti kuburan, Dio menyalakan musik di dalam mobil, kebetulan lagu yang terdengar justru lagu sendu. Terlantun syahdu lagu Kesha-Tak Ingin Usai yang membuat hati Nayla semakin bergerimis, terbayang semua kebahagiaanya saat bersama Afwi.


Berdiri ku memutar waktu


Teringat kamu yang dulu


Ada disampingku setiap hari


Jadi sandaran ternyaman 


Saat ku lemah saat ku lelah


Tersadar kutinggal sendiri


Merenungi semua yang tak mungkin

__ADS_1


Bisa kuputarkan kembali seperti dulu 


Sambil mendengarkan suara merdu Kesha dari tape mobil, Nayla memejamkan matanya, meredam gelisah hatinya.


"Semoga apa yang di katakan Dio benar, Bang," batin Nayla sambil ia menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya.


Tak terasa mobil mereka sudah sampai di rumah, namun Nayla tak segera beranjak dari tempat duduknya, Dio yang melihat kakaknya seperti itu hanya bisa menghela nafas panjang. Kejadian tadi benar-benar membuat kakaknya kepikiran.


"Mbak, sudah sampai rumah, ayo turun!" ajak Dio sambil menyentuh pundak Nayla.


"Eh sudah sampai ya?" tanya Nayla cengok saat lamunannya pudar karena sentuhan Dio di pundaknya.


"Iya, ayo turun, Mbak!" ucap Dio sekali lagi.


Nayla kemudian turun dari mobil dengan lesu seolah tak ada tenaga sama sekali, Dio yang melihat hal itu sangat sedih, ia tidak tahu harus berbuat apa agar kakaknya ceria kembali.


"Mbak Nayla nggak apa-apa kan?" tanya Dio yang dijawab gelengan kepala oleh Nayla.


"Mbak, apa nggak sebaiknya mbak telepon abang Afwi, biar nggak terjadi suudzon," usul Dio.


"Nggak usah, Dio, mbak ingin sendiri," ucap Nayla kemudian masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.


Dio yang tidak tahan melihat kesedihan Nayla, mengambil ponsel dari saku celananya, ia berniat menghungi Afwi, namun beberapa kali mencoba, kekasih sang kakak tak kunjung mendapat respon, hanya terdengar suara operator yang memberi informasi jika nomor yang di tuju tidak aktif atay di luar jangkauan. Dio memang memiliki nomor Afwi tapi jika tak penting sekali Dio tak akan menghubungi Afwi, kalaupun Dio menelpon Afwi hanya sebatas pekerjaan tentang penjualan lumpia milik Nayla yang dipercayakan padanya.


"Kok nggak aktif terus sih, kemana lagi ini bang Afwi, kalau seperti ini bisa-bisa mbak Nay terus salah paham, dan semoga hanya salah paham, kalau sampai abang Afwi mengkhianati mbak Nay, aku yang akan pertama kali menghajarnya," gumam Dio kesal.


Sedangkan Afwi dan Medina sudah sampai di rumah dengan selamat, Afwi segera meminta Kikan untuk mengurus Medina karena Medina sedikit mabuk.


"Kikan, tolong kamu bantu nona Medina di kamar, sepertinya dia sedikit mabuk, aku akan kebawah bicara dengan Samsul dan Denis!" pinta Afwi yang di iyakan oleh Kikan.


Kikan kemudian masuk ke dalam kamar Medina, dan benar kata Afwi, Medina tidur teentang di ranjang tanpa melepas baju dan sepatunya seperi orang pingsan. Kikan memeriksa Medina, lalu ia melepas sepatu dan baju Medina, kemudian menganti dengan baju tidur yang longgar, Kikan juga membenarkan letak tidur Medina dan menyelimutinya.


Setelah mengurus Medina, Kikan menuju ruang tengan betgabung dengan Afwi dan dua rekannya.


"Sudah selesai, Kikan?" tanya Afwi.


"Sudah pak, nona Medina tidur," jawab Kikan.


"Terima kasih, sekarang apa yang terjadi saat kalian tadi di ikuti?" tanya Afwi.


"Kami berusaha tenang, namun sempat terjadi kejar-kejaran antara mobil kami dan mobil mereka, kami berusaha mengulur waktu agar pak Afwi dan nona Medina bisa sampai di hotel, akhirnya mereka berhasil mengejar kami, namun saat mereka akan menyerang ada mobil patwal yang kebetulan melintas, dan mereka langsung kabur sebelum menyerang kami," lapor Samsul.


"Baik terus waspada sidang perkara pembunuhan itu akan di gelar lima hari lagi, perketat penjagaan dan tetap waspada, usahakan selama lima hari ini tak ada tamu yanh datang aku akan bicarakan ini dengan pak Adiguna," ucap Afwi.


Setelah memberi arahan pada tim, Afwi naik ke kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan Medina. Afwi melangkah memasuki kamar, entah kenapa ia mengambil ponsel yang ada di laci nakas, ya ponsel tersebut adalah ponsel pribadi yang hanya berisi nomor kontak keluarga dan sahabat dekat, sedangkan untuk pekerjaan ia memakai ponsel yang lain, itu semua demi keamanannya karena pekerjaannya yang penuh dengan bahaya. Perlahan Afwi membuka kunci laci, ia meraih ponsel yang ia letakkan agak tersembunyi diantra buku-buku dan majalah. Ia segera mengaktifkan ponselnya, begitu ponselnya hidup begitu banyak notifikasi masuk secara bergantian. Setelah semua notifikasi pesan masuk, Afwi begitu terkejut ada sebuah pesan dan panggilan tak terjawab dari Nayla juga dari Dio. Afwi segera membuka pesan dari Nayla, matanya membulat sempurna ketika membaca pesan dari Nayla.


✉️ "Bang besok aku pulang ke Bandung karena mengantikan papa menghadiri acara pernikahan anak sahabatnya, abang ada waktu nggak temani aku?" Nayla.


"Ya Allah, Dek maaf, abang baru pesan kamu, aduh bagaimana ini, pasti Nayla marah," gumam Afwi dalam hati resah.


Afwi kemudian mencoba menghubungi balik Nayla, namun tak ada jawaban, Afwi juga mencoba mengirim pesan tali belum dibalas juga. Ia lalu menscrol notifikasi pesan sampai habis, dahinya mengernyit heran ketika menemukan panggilan dari Dio. Afwi segera mendial nomor Dio, dan ternyata langsung diangkat.


Afwi


"Hallo, Assalamualaikum, Dio ada apa menelpon, abang, Nayla nggak kenapa-napa kan?"


Dio


"Waalaikumsalam, Abang kemana sih di hubungi mbak Naya nggak pernah aktif, tahu-tahu pergi dengan cewek lain!" sungut Dio kesal.

__ADS_1


Afwi


"Apa kamu bilang?, cewek lain, cewek mana, Dio?, jangan ngarang ya!"


Dio


"Ya, tadi aku sama mbak Nay, lihat abang gandenga cewek cakep di hotel Star, cewek mana nggak sebal lihat cowoknya seperti itu!"


Afwi


"What!, tadi kalian lihat aku gandenga cewek di hotel Star?"


"Mati aku," batin Afwi.


Dio


"Dan karena itu mbak Nay jadi sedih, ya cemburu gitu mungkin, aku sudah berusaha buat mbak Nay positif thingking sama Abang, tapi sepertinya gagal, tapi Abang nggak mengkhianati mbak Nay kan?, awas kalau sampai gitu!"


Afwi


"Astagfirullah, Dio, demi Allah Abang nggak mengkhianati mbak kamu, cewek itu cuma teman abang, nggak ada hubungan apa-apa."


Dio


Syukur deh kalau abang nggak ada hubungan apa-apa sama tuh cewek, tapi jelasin sendiri ke mbak Nay!"


Afwi


"Pasti, tapi mbak kamu nggak bisa di hubungi."


Dio


"Ya iyalah orang masih ngambek."


Afwi


"Ya sudah, besok saja, abang hubungi mbak kamu, terim kasih infonya, dan percayalah abang nggak pernah mengkhianati mbak kamu."


Dio


"Ya, aku percaya, Assalamualaikum."


Afwi


"Waalaikumsalam."


Setelah menelpon Dio, lutut Afwi terasa lemas, ia bingung harus menjelasakan pada Nayla dengan keadaannya yang sedang penyamaran seperti ini, kalau sampai Nayla tahu pekerjaannya yang sebenarnya di waktu yang tidak tepat, Afwi takut Nayla akan meninggalkannya.


"Ya Allah, aku harus bagaimana menjelaskan pada Nayla dengan situasi seperti ini?" lirih Afwi frustasi sambil menakupkan kedua telapak tangannya di wajah.


________________________________________


...SELAMAT HARI RAYA IDUl ADHA 1443 H...


Maaf baru up, harap maklum emak-emak rempong ngurusi qurban.


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah


Thank You

__ADS_1


__ADS_2