
Adzan magrib sudah berkumandang, selain untuk panggilan shalat, adzan magrib salah satu tanda bahwa jika waktu berbuka puasa sudah tiba bagi yang menjalankannya, baik puasa wajib maupun puasa sunah. Seperti sore ini Afwi dan Nayla sudah melakukan buka bersama di rumah.
"Alhamdulillah akhirnya kita bisa melaksanakan puasa Asyura sampai magrib ya, Bang," ucap Nayla setelah mendengar adzan magrib berkumandang.
"Ya Alhamdulillah, Sayang, yuk kita berbuka dulu!" ajak Afwi
Sepasang suami istri itupun mulai berbuka puasa dengan minum air putih kemudian makan tiga buah kurma juga kue yang di buat Nayla.
"Kita shalat magrib dulu ya, Yang, habis itu kita keluar cari makan malam!" ajak Afwi yang iyakan oleh Nayla.
Setelah shalat magrib, Afwi dan Nayla pergi keluar untuk makan malam, pilihan mereka jatuh di resto steak. Resto steak yang di datangi Afwi dan Nayla bernuansa anak muda dengan tatanan dekorasi yang romantis.
"Restorannya bagus ya Bang, aku berasa pacaran kaya anak ABG," ucap Nayla terkekeh geli dan hal itu membuat Afwi juga tersenyum.
"Iya kita berasa pacaran seperti anak SMA," ucap Afwi mengiyakan.
Tak lama pesanan merekapun datang, Afwi dan Nayla langsung menyantap makanan yang terhidang. Afwi sangat senang Nayla benar-benar makan dengan lahap karena beberapa hari ini Nayla tak begitu makan banyak bahkan kata bi Jumi, sang istri jarang makan nasi jika sudah sampai di rumah.
"Sayang makasih ya makananya tadi, teman-temanku sangat suka, pak Kapolres juga mengucapkan terima kasih," ucap Afwi.
"Sama-sama, aku melakukan ini juga demi keberkahan hidup kita," ucap Nayla dengan nada rendah hati dan hal inilah yang membuat Afwi semakin mencintai sang istri setiap harinya.
Selesai makan malam Afwi dan Nayla segera meninggalkan restauran, Nayla meminta untuk mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis. Sampai di rumah, Afwi membantu sang istri membawa masuk barang belanjaannya.
"Bang, aku langsung ke kamar ya, mau bersih-bersih lalu istirahat, kalau abang mau menonton televisi dulu nggak apa-apa," ucap Nayla kemudian bergegas ke kamar karena memang tubuhnya merasa capek sekali namun ia tak mau memperlihatkannya di depan sang suami.
Afwi yang sangat peka pun bisa merasakan apa yang di alami oleh Nayla, setelah mengunci semua pintu rumah terutama pintu utama dan pintu gerbang juga garasi, Afwi segera menyusul sang istri di kamar.
Ceklek
Ketika Afwi membuka pintu kamar hal yang pertama kali dia lihat adalah sang istri sudah membaringkan tubuh di tempat tidur. Afwi menuju kamar mandi membersihkan diri sebelum menyusul sang istri untuk tidur. Putra kedua Yudhatama itu membaringkan tubuhnya ke samping sang istri setelah ia menganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Afwi sambil membelai surai indah milik sang istri.
Nayla yang sebenarnya belum sepenuhnya tidur menggeliat lalu memposisikan badannya menghadap sang suami.
"Ada apa, Bang?" tanya Nayla dengan mata yang sudah lima watt.
"Kamu capek banget ya?" tanya Afwi sambil membelai wajah sang istri.
"Iya, memangnya abang butuh sesuatu?"
"Ya abang butuh sesuatu yang hangat dan manis."
"Abang ingin teh hangat?"
__ADS_1
Afwi menghembuskan nafas kasar, apa karena saking lelahnya otak sang istri tiba-tiba menyusut hingga tak peka.
"Abang nggak ingin teh hangat, tapi pingin kamu peluk abang, Sayang," ucap Afwi lalu membawa tangan sang istri agar memeluknya.
Nayla tersenyum melihat tingkah suaminya, sifat datar dan dinginnya saat di luar tak berlaku untuknya, dengan senang hati ia membalas pelukan suaminya dan sebelah tangannya membelai lembut belahan jiwanya yang sangat ia cintai.
"Ya Allah, aku sangat mencintai abang Afwi, ijinkan hamba mengandung benihnya, buah cinta kami, apapun akan kulakukan demi kebahagiaannya meski itu dengan nyawaku sendiri," batin Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.
Afwi merasa hangat dan bahagia bisa memeluk bidadari surganya dengan penuh cinta, tanpa Nayla ketahui, sang suamipun juga memanjatkan doa yang hampir sama dengannya.
Akhirnya sepasang suami istri itu terlelap dalam dekapan cinta yang penuh untaian doa. Mencintai karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Allah akan mengabulkan apa yang kita minta di saat tepat di mana kita sudah siap.
***
Satu bulan kemudian
"Sayang, muka kamu pucat banget dan badanmu anget begini, lebih baik nggak usah datang di acara sertijab pak Kapolres!" Pinta Afwi saat melihat wajah sang istri terlihat pucat, meski sudah memakai make up yang flawess namun tak menutupi gurat kelelahan di wajahnya.
"Nggak, Bang, ini acara penting, besok aku sudah nggak bisa ketemu sama bapak Dirga dan ibu, aku juga nggak enak sama bu Dirga, kemarin beliau menelponku secara pribadi untuk memastikan kedatanganku dia acara sertijab," tolak Nayla.
"Tapi aku benar-benar nggak tega lihat kamu seperti ini, Sayang," ucap Afwi semakin khawatir.
"Abang tenang saja, setelah acara serah terima selesai, aku akan ijin pulang," ucap Nayla berusaha meyakinkan suaminya.
Melihat kegigihan sang istri untuk tetap hadir di acara sertijab Kapolres yang baru, Afwi dengan berat hati mengijinkan istrinya untuk datang di acara tersebut.
"Iya, InsyaAllah kalau Nay, ngerasa dah nggak kuat, Nay akan telpon abang, lagian masih di satu acara juga, heran deh."
"Bukan begitu, soalnya abang ada tugas lain, memastikan semua aman saat proses sertijab berlangsung."
"Abang tenang saja, InsyaAllah aku nggak apa-apa," ucap Nayla meyakinkan sang suami untuk kedua kalinya.
"Baiklah, tapi ingat pesan abang kalau merasa ada yang tak enak kamu langsung kasih tahu abang!"
"Iya, Abang Sayang."
Setelah sedikit drama, akhirnya Nayla berangkat bersama Afwi pergi ke Mapolres untuk menghadiri sertijab Kapolres yang baru. Sampai di sana suasana sudah cukup ramai karena hampir semua anggota kepolisian di Polres berangkat lebih awal.
"Bang aku ke bu Wahyu dulu ya disana," pamit Nayla.
"Iya, jangan lupa jaga kondisi!"
Nayla segera bergabung dengan bu Wahyu dan beberapa ibu Bhayangkari yang lain, sedangkan Afwi langsung memeriksa semua perlengkapan dan persiapan untuk lepas sambut.
Tak lama beberapa tamu undangan mulai berdatangan, suasana Mapolres pagi itu cukup ramai, beberapa karangan bunga ucapan selamat sudah berjejer rapi di halaman Mapolres dan pukul delapan acara sertijab di mulai.
__ADS_1
Hampir satu jam acara sertijab berlangsung, seusai acara beberapa tamu undangan dan anggota polisi memberi selamat tak terkecuali Nayla dan Afwi. Selesai acara ceremony serah terima jabatan, Kapolres lama dan kapores baru melakukan ramah tamah beserta jajaran. Ibu Kapolres yang baru pun juga melakukan hal yang sama, bahkan salah satu orang yang ingin di temui istri dari pak Kapolres yang baru adalah Nayla istri Afwi.
"MasyaAllah, ini yang namanya bu Nayla istri Ipda Afwi, menantu pak Yudhatama Dewantara," ucap istri kapolres yang baru.
"Siap, benar ibu," ucap Nayla ramah dan sopan.
"Waktu mendengar bapak di tugaskan di Mapolres ini, salah satu orang yang ingin saya temui adalah ibu Afwi, bagaimana seorang menantu Konglomerat bersedia menjadi istri abdi negara, itu hal yang sangat langka menurut saya, anda wanita yang hebat," puji bu Kapolres.
Mendengar pujian dari istri Kapolres yang baru membuat Nayla justru merasa tak enak karena ada beberapa ibu Bhayangkari yang juga mendengar pujian bu Kapolres padanya.
"Maaf ibu, ijin bicara, saya merasa tidak sehebat itu, saya hanya wanita biasa yang memang harus mendampingi suami sebagai abdi negara," ucap Nayla merendah karena ia juga harus menjaga perasaan ibu-ibu Bhayangkari yang lain.
"Oh iya bagaimana keadaan papa kamu Kombes Mahendra, beliau sehat kan?" tanya bu Kapolres lagi.
"Alhamdulillah papa sehat," jawab Nayla.
Pembicaraan terus mengalir diantara ibu kapolres yang baru dengan beberapa anggota Bhayangkari lainnya termasuk Nayla, namun tiba-tiba Nayla merasa agak mual dan sakit kepala, kemudian ia meminta ijin untuk ke kamar mandi. Nayla mencoba bertahan agar sampai di kamar mandi sambil berusaha menghubungi sang suami, namun sakit kepalanya sudah tak tertahankan akhirnya belum sampai kamar mandi Nayla sudah kehilangan kesadarannya.
"Astagfirullah bu Nay!" pekik bu Fatma salah satu staf di kantor Mapolres yang kebetulan lewat di kamar mandi yang akan di tuju oleh Nayla.
Bu Fatma langsung merengkuh tubuh Nayla dengan rasa panik, bu Fatma meminta tolong anggota polisi yang ada di sekitar tempat Nayla pingsan.
"Bripda Joko tolongin ini bu Nay pingsan, kasih tahu pak Afwi!" pinta bu Fatma pada Bripda Joko.
"Iya sebentar saya cari Ipda Afwi dulu," ucap Bripda Joko yang langsung mencari keberadaan Afwi.
Dua ibu Bhayangkari yang akan ke kamar mandi juga terkejut melihat Nayla pingsan dan mereka juga ikut menolong Nayla. Tak lama datanglah Afwi dengan setengah berlari setelah di beritahu Bripda Joko.
"Astagfirullah Sayang kenapa bisa begini?" ucap Afwi panik sambil mengambil alih kepala Nayla yang ada di pangkuan bu Fatma.
"Sebaiknya di bawa ke klinik yang dekat sini saja, Pak," saran salah seorang ibu Bhayangkari yang ikut menolong sang istri.
"Bripda Joko tolong siapkan mobil saya akan langsung bawa ke rumah sakit saja, soalnya sejak pagi istri saya sudah terlihat tak sehat!" perintah Afwi.
Bripda Joko segera menyiapkan mobil, karena mobil Afwi sulit untuk dikeluarkan karena posisi parkir paralel maka mobil yang paling mudah di jangkau adalah mobil Patwal. Alhasil Nayla di bawa ke rumah sakit menggunakan mobil Patwal dengan Bripda Joko yang memegang kemudi karena tak konsen jika mengemudi karena sedang panik.
Sampai dirumah sakit, Afwi membawa sang istri ke UGD, sampai disana Nayla langsung segera ditangani, sedangkan Afwi di minta untuk menunggu di luar. Setelah beberapa saat, Afwi dipanggil ke dalam karena dokter akan menyampaikan hasil pemeriksaan.
"Apa anda suami pasien atas nama Nayla ?" tanya dokter wanita yang ber tag name Fadila.
"Iya saya suami Nayla," jawab Afwi.
"Begini, dari hasil pemeriksaan, tekanan darah istri anda cukup rendah ditambah kondisinya yang sedang mengandung, tapi hal seperti ini memang biasa dialami ibu di awal kehamilan," ucap dokter Fadila
Mendengar penjelasan dokter Afwi justru tertegun ia berusaha mencerna penjelasan dokter dengan baik, sampai akhirnya ia menangkap sesuatu yang berbeda dari penjelasan sang dokter.
__ADS_1
"Apa! jadi istri saya hamil, Dok?"