
Jantung Afwi serasa berhenti berdetak ketika mendengar nama Niko, karena banyak kasus yang ia tangani ia sampai lupa dengan sosok Niko yang ingin ia selidiki secara pribadi.
"Hallo, Fi kamu masih dengar aku?" tanya Refanda dari seberang telepon.
"Iya, Mas, saya disini, oke nanti saya akan mengecek ke kantor polisi," jawab Afwi.
"Baiklah, terima kasih, maaf merepotkanmu."
"Nggak apa-apa, Mas, serahkan masalah ini sama aku."
Panggilan telepon pun tertutup, Afwi menghela nafas panjang, seolah ada beban berat yang dipikirkannya.
"Bang ada masalah apa?" tanya Nayla sambil mengusap pelan lengan suaminya.
"Dek kita ke kantor polisi depan mall Century ya."
"Ada apa Bang ke kantor polisi disitu, kalau nggak salah itu kantor polisi bagian yang mengurusi tentang lalu lintas?"
"Iya, tadi mas Refanda telepon temannya ada kecelakaan, abang diminta mengeceknya di sana."
"Oh, ya sudah nggak apa-apa, Bang, kita langsung ke sana saja kasihan temannya mas Refanda."
Afwi kemudian memutar balik mobilnya, selama perjalanan pikiran Afwi terpecah pada sosok Niko. setelah dua puluh menit berkendara, Afwi akhirnya sampai di kantor polisi. Ia langsung menemui anggota polisi yang berada di sana.
"Selamat malam," ucap Afwi
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya anggota polisi yang bertag name Arman.
"Saya ingin menanyakan laka lantas yang baru saja terjadi di jalan xx, korbannya di bawa ke rumah sakit mana ya?" tanya Afwi tanpa memberi tahu siapa dirinya.
"Kalau boleh tahu, apa hubungan anda dengan korban?"
"Saya temannya."
Anggota polisi tersebut tampak ragu untuk memberi tahu informasi lebih lanjut, anggota polisi tersebut merasa tak asing dengan wajah Afwi, karena takut salah orang, dan hal itu terlihat oleh Afwi.
"Begini, ini tanda pengenal saya, jika anda ragu," ucap Afwi sambil memberikan tanda pengenalnya yang juga anggota kepolisian.
Anggota polisi yang bernama Arman langsung hormat pada Afwi saat membaca tanda pengenal yang Afwi berikan.
"Siap, salah, maaf saya tidak mengenali anda, Pak," ucap Bripda Arman.
"Tidak apa-apa, sekarang, katakan dimana korban kecelakaan di bawa dan siapa yang menangani laka lantas itu?"
"Lapor, yang menangi laka lantas di jalan xxx adalah Ipda Heru Setiawan, korban di bawa ke rumah sakit Permata karena rumah sakit tersebut yang paling dekat dengan lokasi kejadian."
"Baik, terima kasih, selamat bertugas," ucap Afwi kemudian ia berlalu dari hadapan Bribda Arman, sedangkan Nayla menunggu di mobil.
__ADS_1
"Ya Allah, nggak nyangka di samperin Ipda Afwi yang terkenal itu, gue aja yang cowok gini kagum dengan pembawaan dan wajahnya apalagi cewek-cewek bisa meleleh dan terkena diabetes, kurang kerjaan banget, orang tua sudah sultan masih mau jadi polisi," batin Bripda Arman sambil mengelus dadanya.
Setelah mendapat informasi dari kantor polisi, Afwi langsung menuju rumah sakit Permata, dan Nayla pun juga tak keberatan.
"Ya Allah, kebetulan macam apa ini, kenapa Niko di bawa ke rumah sakit Permata, itu kan rumah sakit milik si dokter pedofil itu," batin Afwi.
Sekitar dua puluh menit perjalanan, Afwi sampai di rumah sakit Permata milik keluarga Pratama yang tidak lain adalah besan dari Yudhatama Dewantara.
"Sus, korban kecelakaan lalu lintas yang baru saja masuk di rawat dimana ya?" tanya Afwi pada perawat jaga.
"Oh korban kecelakaan masih di rawat di IGD, silahkan bapak kesana!" jawab perawat lalu menunjukkan di mana letak ruang IGD.
Sampai di ruang IGD, Afwi melihat Ipda Heru ditemani satu anggota polisi, Afwi mengenal Ipda Heru meski tak akrab karena di beberapa acara kedinasan.
"Selamat malam Ipda Heru!" sapa Afwi.
Ipda Heru yang berdiri membelakangi arah Afwi datang pun menoleh, betapa terkejutnya Heru melihat Afwi.
"Selamat malam, Ipda Afwi, apa yang anda lakukan di rumah sakit malam-malam begini? apa ada yang sakit?" tanya Ipda Heru.
"Tidak ada yang sakit, Ipda Heru, saya datang kesini untuk memastikan korban kecelakaan lalu lintas yang baru saja terjadi di jalan xxx adalah rekan ayah saya yang bernama Niko Rafael Wijaya, dan saya diminta untuk memastikannya," jawab Afwi.
"Ah benar, Ipda Afwi, salah satu korban memang bernama Niko dia adalah seorang pengusaha," ucap Ipdq Heru.
"Boleh saya melihatnya?" tanya Afwi.
Ipda Heru membuka tirai penutup ruang pasien, disana terlihat seorang pria tampan dengan kepala yang masih terbalut perban masih memejamkan matanya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Afwi.
"Dia hanya cedera di bagian kepala karena benturan yang cukup keras, dokter akan melakukan CT Scan untuk tindakan sekanjutnya sedangkan sopirnya mengalami luka di kakinya yang juga akan dilakukan tindakan rontagen agar tahu seberapa parah lukanya."
Nayla sejak tadi diam memperhatikan apa yabg dilakukan sang suami, kini mulai tertarik memperhatikan wajah Niko, bukan karena tertarik tapi wajah lelaki tampan yang terbaring tak berdaya di bed rumah sakit itu mengingatkan Nayla pada seseorang tapi Nayla lupa laki-laki itu mirip dengan siapa.
"Abang, muka pria ini mirip dengan seseorang tapi aku lupa," bisik Nayla di dekat telinga Afwi karena di situ masih ada Ipda Heru.
"Benarkah, mirip dengan temanmu?" tanya Afwi balik karena ia sendiri terkejut dengan perkataan istrinya.
"Bukan, entahlah, aku lupa, tapi aku yakin pernah melihat seseorang yang mirip pria yang kecelakaan ini."
Ekhem,
"Apa Ipda Afwi sangat mengenal laki-laki ini?" tanya Ipda Heru.
"Saya hanya kenal sebatas, saya hanya bertemu dengan pria ini di acara pernikahan saya dan kakak saya, selebihnya saya tidak terlalu mengenal, ayah dan adik ipar saya yang lebih mengenal beliau karena rekan bisnis," jawab Afwi apa adanya.
"Abang, apa kita akan menunggu sampai pria ini bangun?"
__ADS_1
"Iya, Yang, paling sebentar lagi dia bangun, Abang bertanya sesuatu padanya."
"Baiklah, Nay tunggu di luar saja."
"Ya, kamu tunggu di luar sebentar, Abang ada sedikit yang abang bicarakan dengan Ipda Heru!" pinta Afwi, kemudian Nayla berpamitan keluar dan menyapa Ipda Heru dengan ramah sebelum keluar ruang IGD.
"Itu istri anda putranya Kombes Mahendra?" tanya Ipda Heru setelah Nayla keluar.
"Iya, kenapa? ada masalah?"
"Tidak, istri anda terlihat masih sangat muda, masih cocok pakai seragam SMA."
Afwi terkekeh mendengar komentar rekan kerjanya tentang Nayla, tak hanya Ipda Heru yang berkata begitu, tetangga dan rekan kerjanya di bagian kriminal banyak yang berpendapat begitu.
Saat Afwi dan Ipda Heru mengobrol, laki-laki yang sedang terbaring di bed rumah sakit mulai sadar.
"Di-dimana aku?" ucap Niko merasa kepalany pusing dan badanya merasa lemas.
Afwi buru-buru mendekat pada Niko dan berusaha menenangkan laki-laki itu.
"Anda sudah sadar tuan Niko?" tanya Afwi.
Niko langsung memfokuskan pandangannya pada Afwi, sepertinya ia merasa cukup familier dengan wajah itu.
"Siapa anda?" ucap Niko yang balik bertanya.
"Saya Ipda Afwi dan ini rekan saya Ipda Heru yang menangani kecelakaan yang anda alami," jawab Afwi.
"Kecelaakaan? aku kecelakaan?"
"Iya, mobil anda di serempet sebuah mobil box sehingga mobil anda kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan," jelas Ipda Heru.
"Lalu dimana supir saya?" tanya Niko Khawatir.
"Supir anda juga sedang mendapatkan perawatan."
"Tuan Niko, apa anda sendiri di Bandung?" tanya Afwi.
"Iya saya sendiri."
"Sebenarnya dimana keluarga anda, kenapa tak ada satupun yang bisa di hubungi, hanya kontak ayah saya saja yang bisa tersambung dari semua nomor penting yang tersimpan di ponsel anda?"
"Memangnya siapa ayah pak polisi?" tanya Niko pada Afwi.
"Ayah saya, Yudhatama Dewantara," jawab Afwi yang membuat Niko terkejut.
"Pantas aku merasa familier dengan wajahnya, ternyata dia anak pak Yudha," batin Niko.
__ADS_1
________________________________________