
Mendengar teguran dari Egi, Nayla sedikit terkejut membuat lamunan tentang bayang-bayang masa lalunya tiba-tiba menghilang.
"Eh iya, Kak Egi, maaf, ayo kita teruskan latihannya!" ajak Nayla.
"Yakin?, aku lihat kamu habis melamun, kalau kau tak konsen latihan hari ini jangan di paksakan, bisa berabe nanti," ucap Egi memberi saran.
"Maaf, Kak," hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Nayla.
Melihat wajah Nayla yang tadinya garang menjadi sendu, membuat Egi merasa iba, ia lalu menepuk pundak Nayla seolah memberi kekuatan pada juniornya itu.
"Nay, hidup itu memang keras, bahkan hampir seperti hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang, tapi sebagai manusia yang di berikan akal pikiran oleh Tuhan, kita pasti bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Apapun masalah yang kamu hadapi, aku berharap kamu bisa menyelesaikan dengan baik, tanpa kekerasan. Kita berlatih bela diri bukan untuk pamer atau gaya gayan tetapi untuk melindungi diri sendiri dan orang lain yang lemah. Ingat, Nay, sekarang kamu pemegang sabuk hitam karate, satu hal yang harus kau ingat, semakin besar kemampuan seseorang dalam hal apapun maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus dia tanggung!" ucap Egi memberi nasehat pada Nayla.
Sedangkan Nayla hanya terdiam mendengar petuah dari seniornya itu, apa yang di katakan Egi semua benar, namun ia tak bisa melupakan misinya untuk menguak tabir kejahatan ibu sambungnya.
"Iya, aku mengerti, Kak," ucap Nayla.
"Aku harap kau tidak menggunakan kekuatan dan kemampuan yang kau miliki untuk hal-hal yang akhirnya merugikan dirimu sendiri, sekarang sebaiknya kau pulang saja, tenangkan hatimu, aku akan selalu mendukungmu!" pinta Egi sambil tersenyum pada Nayla.
"Terima kasih, Kak Egi mau memberikan aku nasehat, aku akan selalu ingat kata-kata kakak, aku pamit dulu," ucap Nayla kemudian berlalu dari hadapan Egi, setelah mengambil tasnya, ia melangkah pergi meninggalkan gedung latihan karate tersebut.
Egi hanya bisa melihat Nayla berjalan meninggalkan gedung latihan karate, Hati Egi cukup mengkhawatirkan, Nayla. Egi seperti merasa sesuatu yang kurang baik akan terjadi pada juniornya yang cantik dan cerdas itu.
"Semoga apa yang aku khawatirkan padamu tidak terjadi, Nay," batin Egi dalam hati.
.
Seminggu lebih sudah berlalu, Mirza sudah melaksanakan semua hal yang di perintahkan atasannya, tentu saja ia tak bekerja sendiri, ia meminta temannya yang di luar lingkup kepolisian untuk membantu misinya, salah satau teman Mirza adalah seorang hecker, tapi teman Mirza ini adalah hecker yang biasa bekerja untuk melindungi data-data perusahaan bukan hecker yang melakukan kejahatan cyber.
"Bagaimana, Jimy, hasilnya?" tanya Mirza.
"Aku belum melihat hasil rekamannya, karena itu adalah ranahmu, kau bisa lihat hasil rekamannya di flash disk ini," jawab teman Mirza yang bernama Jimy.
"Terima kasih, bro, bayarannya nanti aku transfer ke rekeningmu" ucap Mirza.
"Dasar, kau ini, seperti sama siapa saja, aku banyak berhutang budi padamu dan ibumu, kalau bukan karena kalian mau ikut membiayai sekolahku, aku tak mungkin sampai seperti ini," ucap Jimy.
"Sama-sama, Jimy, kami sudah megangap.kamj seperti keluarga sendiri," ucap Mirza sambil menepuk nepuk pundak Jimy.
"Maaf, Mirza aku harus pergi, masih banyak kerjaan yang harus segera aku selesaikan," ucap Jimy berpamitan.
"Oke, Jim, nanti setelah aku melihat isi flash disk ini aku akan mengabarimu, maaf juga sudah merepotkan mu," ucap Mirza.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Jimy segera meninggalkan cafe Pelangi yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung karena waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Mirza mengamati flash disk yang diberikan Jimy, hasil dari rekaman kegiatan Galuh selama satu minggu lebih.
"Kenapa perasaanku jadi tak enak ya, semoga dugaan ku tentang nyonya Galuh tidak terbukti, tapi kalau sampai iya, benar-benar bukan hanya pak Mahendra yang malu tapi juga instansi, masa istri Kombes jadi tersangka, ya Tuhan aku tak bisa membayangkan," gumam Mirza dalam hati.
.
Di kediaman Yudha, pagi itu mereka makan bersama, namun lagi-lagi hanya ada tiga orang yang duduk di ruang makan dengan meja berbentuk oval.
"Bund, kapan bunda dan ayah punya waktu mengunjungi kak Ana?" tanya Azka saat ia sudah mendaratkan tubuhnya di meja makan, seragam abu-abu putih dengan rapi membalut tubuh tegapnya.
Mendengar pertanyaan Azka, Yudha dan Yasmin saling pandang, mereka tidak mengerti kenapa pagi-pagi putra bungsunya menanyakan hal itu.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Yasmin.
"Kemarin kak Aryana telepon aku, tanya kapan aku liburan sekolah, lalu aku jawab, masih sekitar tiga bulan lagi, terus aku tanya kenapa menanyakan liburanku, katanya, kalau aku libur sekolah aku di minta kak Aryana untuk liburan ke Singapura, kak Aryana kangen katanya," jawab Azka yang sukses membuat wajah Yasmin menjadi sendu.
"Tapi kenapa hanya kamu yang di minta kesana?" tanya Yasmin lagi.
"Nah, itu dia, aku tanya sama kak Ana tidak minta bunda saja yang kesana kalau kangen keluarga soalnya kalau tunggu aku kelamaan. Lalu kak Aryana menjawab dia tidak ingin merepotkan bunda dan ayah kalau harus meminta kalian pergi ke Singapura, kakak juga bilang beberapa minggu yang lalu orang tua kak Fahmi sudah ke Singapura mengunjungi kak Aryana meski hanya tiga hari," jawab Azka.
"Kenapa bunda dan Ayah tidak meluangkan waktu sih buat mengunjungi kak Aryana, kasihan tahu, seperti kita orang miskin saja mau pulang kampung mikirin nggak punya biaya, kita kan punya jetpri, jadi bisa pergi sewaktu-waktu," sambung Azka membuat Yasmin tak hanya sendu namun juga sudah meneteskan air matanya, sedangkan Yudha, meski hanya diam mendengar perbincangan anak dan istrinya, tapi hatinya begitu sesak mendengar kerinduan sang putri di negeri orang pada keluarganya, namun sang putri tidak bisa pulang karena kondisi janin yang di kandungnya.
Ucapan Yudha barusan seketika membuat Yasmin dan Azka terkejut, apalagi Yudha langsung meninggalkan meja makan begitu saja.
"Bund, ayah kenapa?, apa ayah marah dengan ucapanku barusan?" tanya Azka sambil menatap bundanya dan menantikan sebuah jawaban.
"Kau tenang saja, ayah tak marah, namun jika sudah berhubungan dengan persoalan kakakmu Aryana, perasaan ayahmu jadi sensitif seperti perempuan yang sedang PMS," jawab bundanya dengan tenang tapi hal itu justru membuat Azka terkekeh. Apa semua ayah yang berprofesi sebagai prajurit selalu posesif pada anak perempuannya, pikir Azka.
"Kalau kita besok berangkat, berarti aku harus ijin nggak masuk sekolah dong?" tanya Azka pada bundanya.
"Nanti, biar bunda bicara sama ayah lagi, sepertinya ayah kamu sedang bad mood," jawab Yasmin.
"Baiklah, terserah kalian saja, yang jelas aku sudah mengatakan bagaimana keadaan kak Aryana yang merindukan kita, aku berangkat dulu, Bund," ucap Azka lalu mencium tangan bundanya sebelum berangkat sekolah.
Setelah berpamitan dengan bundanya, Azka mengambil tas sekolahnya yang berada di atas kursi. Saat akan keluar pintu rumah ia ingat belum berpamitan pada ayahnya, ia ingin berpamitan dengan ayahnya tapi ia tak tahu ayahnya berada dimana, Azka melihat jam tangannya sudah hampir jam tujuh, kalaun.ia mencari ayahnya ia akan terlambat. Akhirnya Azka berangkat ke sekolah pagi itu tanpa berpamitan dengan sang ayah.
Yasmin mulai mencari dimana suaminya setelah meminta art membereskan meja makan bekas sarapan mereka tadi.
"Dimana, mas Yudha ya, perasaan belum keluat rumah?" monolog Yasmin sembari menuju kamar mencoba mencari keberadaan sang suami.
Ceklek
__ADS_1
Yasmin membuka hendel pintu kamarnya pelan yang ternyata tidak di kunci. Ia masuk ke dalam kamar dan mengedarkan pandangannya, tak terlihat sosok suami yang ia cari. Namun saat akan membalikan badan, Yasmin melihat sedikit siluet seseorang berdiri di balkon kamar mereka yang menghadap taman belakang rumah juga kolam renang dengan air yang jernih. Perlahan Yasmin mendekat ke balkon, dan ternyata benar, suami tercintanya sedang berdiri dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celananya.
"Mas!"
Merasa dirinya di panggil, Yudha pun menoleh ke belakang, senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang tanya, ada apa dengan, Mas, kenapa langsung pergi setelah mendengar perkataan Azka?" ucap Yasmin yang malah menjawab pertanyaan suaminya dengan pertanyaan.
"Aku merasa menjadi ayah yang tidak berguna, dulu waktu masih menjadi anggota TNI jiwa ragaku aku prioritaskan untuk negara. Sampai aku banyak melewatkan moment penting tumbuh kembang anak-anak kita. Sekarang aku sudah bukan seorang prajurit lagi, aku menjadi warga sipil yang tidak terikat dengan aturan ke dinasan, tapi rasanya aku belum bisa menjadikan kalian prioritas utamaku, terutama Aryana, aku yang menjadi cinta pertamanya sebelum dia mengenal cinta pria yang lain, tapi aku belum bisa membuatnya bahagia," ucap Yudha sendu.
Mendengar penuturan suaminya, Yasmin mendekat pada Yudha hingga tak ada jarak dianyata mereka. Yasmin mengelus lembut lengan kekar sang suami yang terbalut kemeja lengan panjang.
"Kenapa Mas selalu menyalahkan diri sendiri, dimataku dan juga di mata anak-anak, Mas adalah sosok suami dan ayah yang hebat. Mas sudah melakukan segala yang terbaik untuk membahagiakan kami, walaupun banyak waktu mas yang lebih banyak di miliki oleh negara saat itu, dan sekarang pun di dalam hatiku juga anak-anak kita, Mas tetaplah ayah yang baik dan luar biasa," ucap Yasmin lembut sambil mengusap lengan Yudha.
Yudha meraih tangan sang istri dan mengecupnya berkali-kali, perkataan istrinya benar-benar bisa menjadi mood boosternya untuk hari ini. Yasmin memang paling bisa menaklukan mantan anggota pasukan khusus yang terkenal ke garangannya saat di lapangan.
"Sayang, kau memang yang terbaik, terima kasih sudah bertahan di sisi laki-laki kaku seperti diriku ini," ucap Yudha sambil memeluk pinggang sang istri dan menyatukan kening mereka. Saling mendukung dan menguatkan dari segala ujian kehidupan, itulah sebuah cinta.
"Apa Azka akan ikut kita ke Singapura?" tanya Yasmin yang masih dalam pelukan Yudha.
"Kenapa?, ia tak mau ikut?" tanya Yudha balik.
"Azka masih masuk sekolah, kasihan kalau harus ijin, bagaimana kalau kita berdua saja?" tawar Yasmin sambil memainkan tangan nakalnya di dada bidang Yudha.
Mendepat sentuhan yang membuat sesuatu di bawah tubuhnya menjadi posisi siap, Yudha menyungingkan senyum yang sulit di artikan.
"Oke, kita akan ke Singapura besok tanpa Azka, kita tak boleh menganggu dia menuntut ilmu tapi, kau sudah memancingku jadi kau harus bertanggung jawab, Sayang," ucap Yudha sambil menyeringai licik.
___________________________________________
Maaf ya readers baru bisa up, karena kondiri badan kurang fit akhir - akhir ini. Tetap kasih dukungan ya Like, Vote, Coment, Rate dan Favorit.
Juga aurhor minta dukungannya ya di karya ke tiga ku CATATAN HATI MAHARANI yang aku ikutkan di lomba YAAW Season 6.🙏🏻
Thank You
Bersambung...
__ADS_1