
Hari Minggu Yudha dan keluarga kecilnya sudah kembali lagi ke kota S, menempati rumahnya yang sudah lama mereka tinggalkan. Rumah dimana tersimpan kenangan kisah cinta mereka, kelahiran anak-anak mereka dan juga tumbuh kembang ke empat buah hati Yudha dan Yasmin.
Yudha, Yasmin dan ke empat anaknya turun dari mobil, mereka melihat rumah yang sudah satu tahun lebih mereka tinggalkan demi menyelamatkan putri satu-satunya yang mereka miliki. Dari dalam rumah keluar sepasang pria paruh baya berjalan menghampiri mereka.
"Selamat siang tuan, nyonya, perkenalkan saya Ranto dan ini istri saya Marni, kami ditugaskan tuan Dimas untuk membersihkan dan merawat rumah tuan Yudha," ucap pak Ranto memperkenalkan dirinya juga Marni istrinya.
"Oh jadi kalian orang yang dimaksud papa yang menjaga dan merawat rumahku?" tanya Yudha.
"Iya tuan, saya dan istri saya juga ditugaskan menjadi art tuan kata tuan Dimas untuk membantu art tuan Yudha yang sudah tua dan menurun kesehatannya" jawab pak Ranto.
"Oh begitu, baiklah, aku percaya pada pilihan papa," ucap Yudha lalu menyuruh istri dan anak-anaknya masuk ke rumah.
Yasmin dan anak-anaknya memindai setiap sudut ruangan di rumah lama mereka, sepertinya Yasmin dan anak-anaknya memiliki perasaan yang sama, rasa rindu yang sudah terobati setelah sekian lama.
"Rumah ini masih sama seperti dulu," gumam Yasmin pelan namun masih terdengar oleh Yudha.
"Iya sayang, rumah ini masih tetap sama seperti terakhir kali kita tinggalkan, sesekali aku melihatnya jika tak tugas," ucap Yudha sambil merangkul pundak Yasmin.
"Apa kamar kami juga tetap sama dan sudah di bersihkan?" tanya Aryana.
"Tentu sudah sayang, semua sudah clear, kalian bisa langsung menempatinya," jawab Yudha sambil melempar senyum pada putrinya yang sebentar lagi akan berpisah dengannya.
"Ayah!" panggil Aryana yang tiba-tiba memeluknya.
"Ada apa kok tiba-tiba melow sambil peluk ayah?" tanya Yasmin heran.
"Aku hanya akan tinggal di rumah ini tiga bulan saja, aku akan meninggalkan rumah ini dan berpisah dengan kalian," jawab Aryana dengan suara serak menahan tangis dan mata yang sudah mengembun.
Mendengar perkataan putrinya Yasmin membelai lembut kepala Aryana yang masih berada di pelukan sang ayah. Sedangkan ketiga saudara laki-lakinya hanya melihat drama selamat datang yang terjadi di depan mata mereka.
"Ayah, Bunda, aku ke kamarku dulu," pamit Afwi yang diikuti oleh Afwa dan Azka.
"Ya, kalian ke kamar duluan tidak apa-apa," ucap Yasmin yang sudah mengehentikan membelai kepala Aryana.
"Sayangnya ayah, kamu harus sabar, ini 'kan juga pilihan kamu menikah muda jadi jangan melow ya, tunjukan kalau kamu kuat seperti lagu yang pernah kau nyanyikan di acara perpisahan sekolahmu yang berhasil membuat kami jantungan," ucap Yudha setelah mengurai pelukan putrinya.
"Maafkan Ana ayah, Ana terbawa perasaan ketika melihat rumah ini," ucap Aryana sambil mencoba untuk tersenyum.
"Tidak apa-apa, sayang jika kau punya perasaan seperti itu ketika akan menikah. Dulu bunda juga merasakan hal yang sama denganmu sewaktu akan segera menikah dengan ayahmu, apalagi pada saat itu keadaan nenek Ratna sedang kurang baik, masih menjalani perawatan penyakit kanker yang di deritanya, pakdhe Dika jauh di Surabaya dan om Andre masih kuliah di Yogya waktu itu, jadi bunda mengerti apa yang kamu rasakan," ucap Yasmin berusaha memberi Aryana kekuatan untuk bisa melewati hari-hari menjelang pernikahannya.
"Sudahlah, sekarang kamu pergi ke kamar lalu mandi dan istirahat jangan lupa beri tahu dokter bucinmu itu kalau tidak ingin istirahatmu nanti terganggu," ucap Yudha.
Mendengar ucapan ayahnya yang sedikit menggodanya, Aryana mengerucutkan bibirnya lalu segera menyeret ke kopernya ke dalam kamar. Yudha dan Yasmin juga segera memasuki kamar yang sudah lama mereka tidak tempati.
Yudha segera menugaskan orang kepercayaannya untuk mengurus berkas pernikahan Aryana dan Fahmi. Cetak undangan, katering, gedung, souvernir dan perlengkapan pesta sudah di siapkan pihak WO, tentu saja sesuai request pasangan pengantin dua pewaris kerajaan bisnis di tanah air, pernikahan pasti akan sangat megah apalagi Fahmi sebagai pewaris tunggal Pratama group yang berada satu tingkat di atas Dewantara group. Acara resepsi akan di gelar di dua kota, resepsi pertama akan dilangsungkan di kota S di tempat tinggal mempelai perempuan dan resepsi kedua atau istilah jawanya ngunduh mantu akan dilaksanakan di Jakarta tempat tinggal keluarga Fahmi. Baju pengantin yang akan dikenakan mempelai sudah di desain khusus oleh perancang busana ternama tanah air yang di minta khusus oleh oma Dewi. Butik milik oma Dewi selain memiliki desainer khusus juga bekerjasama dengan desainer-desainer ternama.
__ADS_1
Akhirnya prewednya di ambil di kota Bandung dan kota S, Yasmin kurang setuju jika harus ke Singapura, Yasmin tak ingin terjadi sesuatu yang di inginkan sebelum hari H pernikahan di laksanakan.
Hari ini Fahmi terbang dari Jakarta ke kota S, untuk urusan prewed sekaligus fitting baju pengantin. Fahmi juga mengajak Aryana berbelanja keperluan pernikahan mereka sesuai keinginan Aryana. Beberapa barang untuk mahar dan seserahan di pesan Fahmi dari luar negeri. Ya sultan itu bebas mau barang apa tinggal telpon datang sendiri.
"Mas Fahmi sudah datang, mari masuk dulu, Aryana baru bersiap di kamar!" ajak Yasmin ketika Fahmi sampai di rumahnya di kota S.
"Terimakasih Yas," ucap Fahmi.
"Jam berapa berangkat dari Jakarta?" tanya Yasmin.
"Aku ambil penerbangan pagi," jawab Fahmi.
"Pakai penerbangan umum, nggak pakai jet pribadi?" tanya Yasmin lagi.
"Tidak, aku ingin merasakan jadi orang biasa, berinteraksi dengan banyak orang rasanya akan lebih menyenangkan," jawab Fahmi santai sambil meminum teh yang di suguhkan Yasmin.
Tak lama Aryana keluar kamar menemui Yasmin dan Fahmi yang ada di ruang tamu.
"Hai honey sudah lama nunggunya?" tanya Aryana yang langsung duduk di sebelah bundanya.
"Belum lama kok, Sayang."
"Sudah sarapan, honey?" tanya Aryana
"Belum, tapi tadi di pesawat sempat makan sedikit.
"Ya, Mas Fahmi sarapan bareng kita!" ajak Yasmin.
"Lha yang lain kemana kok cuma kalian berdua yang belum sarapan?" tanya Fahmi.
"Mas Yudha belum pulang, Afwa dan Afwi sedang ke gor latihan binsik buat persiapan masuk Akmil dan Akpol sedang Azka sudah sarapan duluan karena ada jam tambahan pelajaran pagi," jawab Yasmin.
"Benar-benar keluarga militer, anak-anak kamu memang aneh ya Yas, seperti suami kamu, semua sudah ada tinggal pilih posisi di Dewantara group tapi malah susah-susah masuk dunia militer," ucap Fahmi sambil berjalan beriringan dengan Aryana menuju meja makan.
"Ya, itu pilihan anak-anak, aku dan ayahnya bisa apa," jawab Yasmin.
"Sini honey piringnya aku ambilkan!" pinta Aryana meminta piring Fahmi.
Fahmi lalu memberikan piringnya pada Aryana.
"Segini honey, apa mau tambah lagi nasinya?"
"Tidak, cukup Yang segitu aja."
"Ini," ucap Aryana sambil menyerahkan piring Fahmi yang sudah terisi nasi dan kuah soto.
__ADS_1
"Kamu yang masak, Yang?" tanya Fahmi yang masih memandang piringnya.
"Tidak, bibi yang masak, tapi tenang aja aku juga bisa masak masakan seperti ini, ayo honey dimakan!" pinta Aryana yang langsung menyuapkan makanan ke mulutnya, tentu saja setelah membaca doa.
Fahmi kemudian juga ikut menyuapkan nasi ke mulutnya, masakan ini benar-benar pas di lidahnya, masakan tradisional Indonesia benar-benar tiada duanya.
"Ah bahagianya, kalau nanti setelah menikah dengan Aryana, mau berangkat kerja dan pulang kerja di masakin masakan tradisional oleh istri sendiri, aku tak sabar menunggu hari itu tiba, Sayang," ucap Fahmi dalam hati sambil sesekali melihat wajah Aryana yang sedang asyik menikmati nasi sotonya.
Setelah sarapan Fahmi dan Aryana pamit, untuk fitting baju ke butik oma Dewi lalu mereka akan ke lokasi prewed di kota S. Semua dilakukan cepat karena besok Fahmi sudah harus melanjutkan menemani Aryana berbelanja seserahan karena resepsi pernikahan Aryana di kota S menggunakan adat Jawa, barang langkahan yang akan diberikan diberikan pada Afwa dan Afwi sebagai kakak, kain telesan yang akan diserahkan pada kakek dan nenek Aryana. Kemarin Aryana sudah minta kakaknya Afwa dan Afwi untuk mengatakan barang apa yang mereka inginkan untuk menjadi barang langkahan karena Aryana mendahului mereka menikah, meski terlahir kembar namun Aryana menganggap Afwa dan Afwi adalah kakaknya. Namun Afwa dan Afwi hanya bilang terserah, dan itu malah membuat Aryana bingung mau kasih apa.
"Yang, dah nemu belum mau kasih barang langkahan apa buat kedua kakak kamu?" tanya Fahmi setelah sesi pemotretan prewed selesai.
"Belum tahu honey, hampir semua barang kedua kakakku sudah punya semua.
"Lalu apa?, mereka 'kan kakakmu pasti kamu yang lebih tahu," ucap Fahmi.
"Kamu punya ide honey?" tanya Aryana.
"Gimana kalau laptop keluaran terbaru, sepertinya akan lebih berguna," usul Fahmi
"Iya aku rasa itu ide bagus," ucap Aryana.
"Kalau begitu aku telpon Joan untuk mengurusnya, dia sangat tahu tentang IT," ucap Fahmi kemudian mendial nomor sang asisten untuk pembelian laptop terbaru yang biasanya digunakan para militer.
"Sayang, ini sudah sore, sebaiknya kita pulang dulu aku tidak mau kecapean, belanjanya kita teruskan besok saja!" ajak Fahmi
"Iya honey nih kaki aku juga sudah pegel," keluh Aryana.
"Mau aku pijitin, sayang?" tawar Fahmi.
"Eh nggak usah honey, nanti di rumah dipakai buat istirahat sudah baikkan kok," tolak Aryana.
"Ok kalau begitu, aku antar kamu pulang, dan ingat sampai rumah langsung mandi air hangat biar capekmu hilang terus istirahat!" pinta Fahmi.
"Iya dokter cintaku, siap!"
Fahmi segera mengantar Aryana pulang, agar bisa segera istirahat dan ia pun juga ingin segera ke hotel untuk mengistirahatkan diri karena sejak datang pagi tadi ke kota S Fahmi belum istirahat. Sedangkan satu hari lagi ia dan Aryana akan bertolak ke Bandung untuk melakukan Prewed di sana.
______________________________________________
Kira-kira kalau kita jadi anak sultan kaya Afwa dan Afwi, pas ditanya barang langkahan nya minta apa, bagusnya minta apa ya 🤔 ?
Please Like, Vote, Coment, Rate and Vote ?
Thank You
__ADS_1
Bersambung...