
"Jadi Nayla anak seorang polisi," ucap Yasmin terkejut.
"Tapi kenapa dia bisa sampai berjualan lumpia dan memilih tinggal di panti asuhan?" tanya Yasmin karena penasaran.
"Kalau itu ayah kurang begitu tahu soal itu, tapi berita terakhir yang kudengar, Kombes Mahendra sedang mengusut kecelakaan yang menimpa istri pertamanya sekitar empat tahun lalu, dan ternyata istri keduanya yang melakukan pembunuhan berencana terhadap istri pertamanya," ujar Yudha.
"Sik sebentar Yah, Kombes Mahendra kan polisi masa punya dua istri, aku nggak ngerti deh," ucap Yasmin masih bingung dengan cerita suaminya.
"Begini Bund, istri kedua pak Mahendra melakukan pembunuhan itu sebelum menikah dengan pak Mahendra, jadi setelah pak Mahendra menduda, wanita licik itu menjadi istri kedua pak Mahendra atas desakan ibu pak Mahendra," ujar Yudha lagi.
"Ih amit-amit jabang bayi, semoga anak turunku nggak seperti itu," seloroh Aryana sambil mengusap-usap perutnya, dan hal itu membuat Fahmi menyipitkan matanya sambil memandang heran pada tingkah istrinya.
"Yang, kamu kok ngomong gitu sih, apa maksudnya?" tanya Fahmi.
"Itu maksudnya biar keturunan kita tidak punya sifat buruk seperti seseorang yang sedang kita bicarakan," jawab Aryana sedangkan Yudha dan Yasmin hanya tersenyum melihat menantunya yang terlihat bingung saat menanyakan hal seperti itu.
"Harus ya, bicara seperti itu?" tanya Fahmi yang baru sekali ini melihat istrinya bicara agak aneh.
"Di daerah kami jika wanita yang sedang hamil melihat atau mendengar sesuatu yang buruk terutama sifat seseorang, biasanya akan bilang begitu, dengan kepercayaan agar bayi yang di kandung tidak meiliki sifat jelek seperti yang dimiliki oleh orang yang sedang di bicarakan atau di lihat. Makanya di daerah asal kami jika istri sedang mengandung sang suami di larang menyembelih atau membunuh binatang apalagi membunuh orang, juga di larang menghina seseorang. Pokoknya selama istri hamil suami harus berbuat dan berbicara hal yang baik agar si jabang bayi lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun," ujar bunda Yasmin.
Mendengar penuturan ibu mertuanya, Fahmi jadi mengerti dengan sikap Aryana yang terlihat aneh baginya. Setelah berbincang-bincang Yudha dan Yasmin pamit ke kamar untuk beristirahat, Yasmin juga meminta Aryana juga beristirahat, dan hal itu disetujui oleh Aryana sedangkan Fahmi pamit untuk ke kantor sebentar karena ada hal yang harus ia selesaikan.
Waktu terus berjalan, senja pun sudah berpulang ke peraduannya. Menjelang magrib mobil Fahmi baru memasuki halalan rumah, pekerjaan yang ia kira cuma sebentar justru malah memakan waktu lama, klien yang terjadwal meeting besok pagi meminta bertemu hari ini. Sungguh ia tak menginginkan hal ini, Fahmi tak enak hati pada mertunya terutama ayah Yudha yang serasa CCTV baginya.
"Assalamualaikum," ucap Fahmi saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Aryana yang kebetulan sedang ada di ruang tamu.
"Kenapa baru pulang, Honey, katanya cuma sebentar?" tanya Aryana cemberut.
"Tadi ada meeting dadakan, Sayang, salah satu investor dari Turki minta meeting di ajukan hari ini, jadi mau tidak mau aku pulang telat," jawab Fahmi jujur.
__ADS_1
"Kamu nggak bermaksud menghindar dari ayah kan, Honey?" tanya Aryana mengintimidasi.
"Astaga, Sayang, demi Allah aku nggak pernah berfikir menghindari ayah, aku tahu sampai sekarang ayah belum sepenuhnya menerimaku dan percaya padaku, tapi aku selalu menghormati dan menghargai ayah, aku sangat berterima kasih pada ayah meski dengan berat hati, beliau bersedia menyerahkanmu padaku, mungkin kalau aku punya anak perempuan, aku akan lebih lebih posesif dari pada ayah Yudha."
"Aku percaya padamu, Honey, maafkan pemikiranku yang negatif tentangmu," ucap Aryana merasa bersalah pada suaminya, namun Fahmi bisa memahaminya, mungkin efek hormon kehamilan sang istri membuat perasaannya sangat sensitif.
"Aku mengerti perasaan ibu hamil memang sensitif dan cenderung berubah-ubah," ucap Fahmi sambil merengkuh tubuh Aryana ke dalam pelukannya.
Bibir Aryana melengkungkan senyuman bahagia, indra penciumannya menghirup wangi tubuh suaminya yang sekarang menjadi candunya. Entah kenapa bau keringat bercampur wangi maskulin Fahmi bisa menjadi mood booster untuknya.
"Kamu jangan mandi dulu ya, Honey, aku senang dengan wangi tubuh kamu!" pinta Aryana sambil mendusel-duselkan wajahnya ke dada bidang Fahmi yang masih terbalut kemeja warna navy.
"Tapi, aku bau keringat lho, Yang, habis dari luar juga, aku takut tubuhku terkena kuman berbahaya yang tak terlihat, apalagi kamu lagi hamil, kasihan dedeknya," ucap Fahmi selembut mungkin, tapi memang dasar mood orang hamil selalu berubah-ubah, Aryana malah gagal paham dengan maksud ucapan sang suami.
Aryana yang mendengar perkataan suaminya langsung mengurai pelukannya, ia menatap wajah sang suami dengan mata berkaca-kaca, tanpa kata, Aryana langsung pergi begitu saja menuju kamarnya Fahmi dengan sigap segera menyusul istrinya, namun saat akan berhasil menyusul sang istri, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencekal tangan Fahmi.
"Kau apakan putriku sampai menangis begitu, hah?" tanya Yudha tiba-tiba tanpa melepaskan cekalan tangannya pada sang menantu.
"Dasar bodoh!, jaga kebersihan itu penting tapi menjaga perasaan istri itu jauh lebih penting. Kamu hanya meeting di ruang ber ac, baju kamu tidak seberapa kotor, sedangkan dulu, Yasmin saat hamil si kembar dan hamil Azka, selalu saja memelukku saat akan berangkat kerja terutama saat aku memakai seragam PDL, saat pulang juga main peluk aku yang masih memakai seragam dinas, padahal aku baru saja latihan tempur di lapangan bersama prajurit yang lain, tapi aku biarkan saja dari pada Yasmin marah, aku yang rugi nggak dapat jatah mingguan. Lagian meluk suami sendiri nggak dosa dari pada memeluk suami tetangga bisa tamat dunia akhirat," ucap Yudha membuat Fahmi tertegun, separah itukah cinta Yasmin pada Yudha sampai dua kali hamil suka sekali mencium keringat suaminya sepulang kerja.
Tanpa Yudha sadari Yasmin sudah sedari tadi ada di belakangnya dengan wajah merona menahan malu atas semua ucapan absurdnya itu, buka kartu istri di depan menantu laki-laki sungguh memalukan.
"Ayah!, sudah ya buka kartu bunda, pabrik susunya ku tutup baru tahu rasa," ucap Yasmin yang membuat Yudha langsung menoleh ke belakang.
"Bunda sejak kapan ada di situ?" tanya Yudha salah tingkah.
"Sejak ayah buka kartu bunda saat hamil."
"Ya maaf, ayah cuma mau memberi tahu menantu kita yang sok jaga kebersihan ini agar lebih mengerti keinginan bumil yang aneh-aneh, bunda nggak tahu 'kan Aryana sampai menangis gara-gara nggak diperbolehkan Fahmi memeluk dan mencium aroma tubuhnya," ucap Yudha membuat Yasmin dan Fahmi membulatkan bola matanya.
"Hah?, mana ada seperti itu ayah mertua, aku justru senang Aryana memelukku, ini hanya salah paham saja," ucap Fahmi membela dirinya.
__ADS_1
Melihat perdebatan dua laki-laki di depannya ini, Yasmin memutar matanya jengah, selalu saja seperti ini, Yasmin menyesal sudah mengajak suaminya ke Singapura, tahu begini ia lebih memilih mengajak si bungsu Azka saja dari pada mengajak bayi tuanya yang selalu terlihat tampan itu.
" Sudah-sudah dasar kalian ini nggak ingat umur!, Fahmi kamu segera susul Aryana dan ayah ayo ikut bunda ke mushola di belakang rumah persiapan buat shalat magrib juga merukiyah ayah biar nggak bicara ngawur lagi!" pinta Yasmin yang langsung menarik tangan sang suami untuk mengikuti dirinya ke mushola kecil di rumah Fahmi.
Fahmi langsung berjalan cepat menuju kamarnya setelah mendengar permintaan ibu mertuanya. Fahmi membuka pelan pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci. Di dalam kamar ia mendapati istri kecilnya meringkuk di atas tempat tidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Fahmi pergi ke kamar mandi terlebih dahulu setelah melepas jasnya, ia mencuci muka, tangan dan kaki memakai sabun, setelah itu perlahan ia mendekat ke tempat tidur.
"Sayang, maafkan suamimu yang nggak peka ini ya, Sayang buka dong selimutnya, apa kamu nggak kasihan sama dedekny pengap lho!" pinta Fahmi dengan selembut mungkin sambil kedua tangannya berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya. Fahmi benar-benar khawatir dengan tubuh istrinya yang seluruhnya ditutupi selimut.
"Kamu jahat, Honey, pelit, sana pergi jangan dekat-dekat aku!" ucap Aryana dari dalam selimut dengan nada kesal dan tentu saja hal ini membuat Fahmi frustasi, di dalam hatinya dia kapok, Fahmi berjanji dalam hati nggak akan melarang istrinya memeluknya dalam keadaan apapun, memang benar kata ayah mertuanya dia suami yang bodoh.
"Sayang...!, ayo keluar dari selimut, aku belum mandi, masih pakai baju yang tadi, kamu boleh peluk aku sepuasnya, kalau perlu hari ini aku nggak mandi juga nggak apa-apa," bujuk Fahmi dengan segala rayuan tingakat dewa dan suara selembut mungkin agar sang istri luluh dan sembuh dari acara merajuknya
Mendengar perkataan sang suami yang terdengar lembut dan bernada memohon, akhirnya membuat Aryana luluh, berlahan ia membuka selimut yang membungkus tubuhnya tapi hanya kepalanya yang keluar. Ia melihat suaminya masih memakai pakaian yang tadi hanya jasnya saja yang di lepas, tapi tak apa dengan kemeja lengan panjang yang lengannya di gulung hampir siku membuat penampilannya semakin hot saja. Parfum mahal sang suami yang sudah terkontaminasi keringat membuat penampilan Fahmi semakin sexy.
"Mau peluk, sini!" pinta Fahmi sambil merentangkan tangannya.
Melihat suaminya merentangkan tangannya penuh harap dan cinta, Aryana segera bangun dari tidurnya kemudian langsung memeluk suaminya erat. Fahmi juga langsung mendekap erat tubuh Aryana, mencium pucuk kepala bumilnya berkali-kali dengan penuh cinta
Ternyata bahagianya bumil versi Aryana sangat sederhana. Dalam hati Fahmi berjanji akan selalu menjadikan Aryana satu-satunya ratu dalam hatinya, hidupnya dan rumah mereka. Bagi Fahmi sosok Aryana tak akan bisa tergantikan oleh siapapun, sosok Aryana yang dengan susah payah ia dapatkan, bahkan Fahmi hampir kehilangan Aryana untuk selamanya saat menyelamatkan nyawa maminya dulu.
"I love you so much my wife."
________________________________________
Akhirnya hari ini bisa up, gimana bunda-bunda ada yang ngidam seperti bunda Yasmin dan Aryana nggak ?
Parfum mahal sultan mah beda ya kalau udah campur keringat, wkwk.
Terus dukung author ya, jangan lupa Like, Vote, coment, Rate and Favorit.
Thank You
__ADS_1
Bersambung...