Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 142


__ADS_3

Melihat dokter Robert memasuki ruang rawat sang ayah dengan terburu-buru membuat Kirana setengah berlari agar segera sampai di kamat rawat ayahnya. Sampai di sana Kirana akan menerobos masuk namun di tahan oleh seorang perawat.


"Ada apa dengan ayah saya, Sus?, ijinkan saya melihatnya!" pinta Kirana memohon.


"Maaf, nona sekarang dokter sedang memeriksa ayah nona, mohon bersabar sebentar, nanti dokter akan memberikan keterangan pada anda!" pinta perawat yang mencoba menahan Kirana agar tak masuk.


Kirana terpaksa menurut pada perawat tersebut, ia duduk di kursi tunggu dengan gelisah, selang beberapa menit dokter Richard keluar dari ruang rawat Raka, dan Kirana langsung menghampirinya.


"Dokter bagaimana keadaan ayah saya?"


"Ada berita baik, ayah anda sudah sadar, ia sudah membuka matanya dan mengerakkan anggota tubuhnya, tapi dia belum bisa di ajak bicara, tapi ini sudah merupakan kemajuan yang signifikan, kami akan pantau terus perkembangan ayah anda, semoga nanti atau besok tuan Raka sudah bisa di ajak berkomunikasi."


"Apa boleh saya melihatnya dokter?"


"Boleh tapi hanya lima belas menit."


"Baik, terima kasih, Dok."


Kirana kemudian memasuki ruang rawat sang ayah, perlahan Kirana mendekat dimana ayahnya berbaring, sebulir bening menetes dari mata indah Kirana. Mata, alis dan hidung Kirana adalah duplikat sang ayah, kulit kuning langsat adalah duplikat Dinda, membuat Kirana memiliki wajah yang cantik dengan sorot mata yang tajam.


"Ayah!" panggil Kirana dengan suara parau, buliran bening keluar dari mata cantiknya.


Raka yang baru saja sadar, hanya bisa menatap putrinya sambil mengerak-gerakan mata dan jemari tangannya.


"Alhamdulillah ayah bangun, terima kasih ayah sudah mau kembali untuk kami," ucap Kirana sambil memegang jemari sang ayah.


Tak terasa mata Raka mengeluarkan air mata, dia ingin sekali bicara tapi rasanya sangat berat, mungkin karena terlalu lama tertidur juga tekanan psikologis yang ia alami.


"Ayah, ibu sudah merestui aku dan kak Afwa, setelah ayah sadar, kami akan segera menikah, kak Afwa akan segera pengajuan nikah, jadi berjuanglah untuk sembuh agar bisa menikahkan aku dengan kak Afwa, apa ayah tak ingin seperti om Yudha yang sudah memiliki empat cucu, mereka kembar dan lucu-Lucu. Kak Afwa kembar jadi kemungkinan aku juga bisa melahirkan anak kembar," ucap Kirana panjang lebar memberi motivasi pada ayahnya agar mau segera sembuh.


Raka hanya menatap putrinya sendu sambil sesekali mengerjab-ngerjabkan matanya. Rasanya Raka ingin sekali memeluk dan berbicara banyak dengan putri sulungnya itu, namun rasanya sangat sulit membuka suaranya.


"Ya Allah kenapa aku begitu sulit membuka mulutku untuk bicara, jangan hukum aku seperti ini ya Allah, Kirana ayah sayang kamu dan Kiara, ayah berusaha berjuang untuk membuka mata demi kalian, ya Allah segera beri hamba kesembuhan agar hamba bisa melindungi ketiga bidadari surga hamba," doa Raka dalam hati.


Saking senangnya sang ayah sudah sadar Kirana sampai lupa mengabari ibunya, setelah lima belas menit menemui ayahnya, Kirana segera keluar, ia menghubungi ibunya memberitahukan bahwa ayahnya sudah sadar.


"Ya Allah aku sampai lupa kasih tau ibu dan om Fahmi," rutuk Kirana dalam hati, ia langsung mengambil ponsel lalu menelpon ibunya.


Tak lama setelah mendapat telpon dari Kirana Dinda langsung pergi ke rumah sakit dengan diantar pak Sam.


"Kiran! bagaimana kondisi ayahmu?" tanya Dinda ketika sudah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Ayah sudah sadar bu, tapi ayah belum bisa di ajak komunikasi karena belum bisa bicara, mungkin karena terlalu lama koma, kita berdoa saja nanti atau besok ayah sudah bisa bicara,," jawab Kirana.


"Apa ibu bisa melihat ayah?" tanya Dinda.


"Kita tanya suster ya, Bu, Kiran tidak tahu, tadi aja Kiran cuma di kasih waktu oleh dokter Robert hanya lima belas menit, kita tunggu om Fahmi saja, katanya mau segera ke sini, kalau sama suami Aryana, dokter dan semua suster di sini hormat banget, entah apa jabatan om Fahmi di rumah sakit ini," ucap Kirana memberi saran.


"Bagaimana keadaan om Raka?" tanya Fahmi yang tiba-tiba ada di sebelah Kirana.


"Astagfirullah om Fahmi, kaget aku," ucap Kirana sambil memegang dadanya.


"Maaf," ucap Fahmi.


"Sudah siuman, tapi ayah belum bisa bicara," jawab Kiran sendu.


"Kalian sudah melihat om Raka?"


"Kalau Kiran sudah, tapi aku belum, aku juga baru sampai," jawab Dinda.


"Kalau begitu kita lihat om Raka sama-sama!" ajak Fahmi.


"Memang boleh, Om, ini belum jam besuk?" tanya Kirana ragu.


"Boleh, makanya lihatnya sama saya, ayo!" ajak Fahmi.


"Assalamualaikum, om Raka, masih ingat saya?" sapa Fahmi sambil mengulas senyum.


Raka hanya ngerjabkan matanya, seperti pertanda ia mengerti dan mengiyakan ucapan Fahmi.


"Mas...," ucap Dinda dan langsung memeluk tubuh Raka.


Dinda memeluk tubuh sang suami sambil menangis sesenggukan, rasa sakit, rindu, penyesalan, bercampur menjadi satu


"Mas.., bicaralah aku rindu suaramu, aku rindu omelanmu, aku rindu sentuhan dan masakanmu, maafkan aku mas, aku bukan istri dan ibu yang baik, aku egois tapi aku janji aku akan berusaha berubah lebih baik. Aku sudah merestui Kirana dan Afwa, cepatlah sembuh mas, agar mas bisa segera bisa menikahkan mereka," ucap Dinda sambil memeluk tubuh suaminya.


Raka yang mendapat perlakuan seperti itu sangat terharu, sekuat tenaga ia berusaha mengerakan tangannya menyentuh tubuh sang istri yang masih dengan posisi memeluk dirinya, sekuat tenaga Raka berusaha untuk bisa bicara meski sulit dan akhirnya ia tak hanya bisa menyentuh Dinda tapi bisa bicara meski pelan dan terbata.


"Di..Din..da," ucap Raka dengan susah payah.


Mendengar suara suaminya juga sentuhannya, membuat Dinda melepaskan pelukannya dari tubuh Raka, ia memandang wajah suami tercinta, menghujani wajah Raka dengan banyak ciuman.


"Hedeww, jadi pingin segera ngajak Aryana pulang nih, untung sudah nikah" gumam Fahmi dalam hati melihat reaksi Dinda ketika melihat Raka sudah sadar.

__ADS_1


"Dinda!, sebaiknya kita keluar biarkan Raka istirahat, kita temui dokter Robert!" ajak Fahmi karena di rasa pertemuan mereka cukup.


"Mas.. aku keluar dulu menemui dokter, nanti aku balik lagi, mas istirahat dulu ya, aku sayang sama mas," ucap Dinda berpamitan dengan Raka, tak lupa ia mendaratkan ciuman di kening Raka.


Raka hanya mengangguk dan mengerjabkan matanya.


"Aku temui dokter dulu ya Om, semoga besok om sudah bisa di pindahkan dari ruang HCU ini ke ruang perawatan," ucap Fahmi sambil tersenyum pada Raka.


Fahmi dan Dinda keluar dari ruang HCU dimana Raka di rawat, Kirana langsung mendekat pada Dinda menanyakan tentang ayahnya.


"Ibu bagaimana ayah, sudah bisa bicara?"


"Sudah, tapi cuma sedikit."


"Alhamdulillah, semoga ayah bisa segera pulih semuanya," ucap Kirana.


"Sayang, aku dan tante Dinda mau menemui dokter Robert, kamu di sini dulu ya menemani Kirana!" pinta Fahmi.


'Ya, Honey, aku akan di sini menemani calon kakak ipar," ucap Aryana yang membuat Kirana tersipu.


Fahmi dan Dinda kemudian segera pergi menemui dokter Robert untuk menanyakan langkah apa yang harus di lakukan untuk bisa mempercepat kesembuhan Raka.


Sepeninggal Fahmi dan Dinda, Kiran berbincang ringan dengan Aryana.


"Bagaimana rasanya tante Dinda sudah memberikan restu padamu dan kak Afwa?" tanya Aryana.


"Aku bahagia dan sangat bahagia, perjuangan kami selama bertahun-tahun membuahkan hasil, tapi kenapa harus ayah mengalami seperti ini ibu baru mau merestui kami," jawab Kirana sendu.


"Di dunia ini ada hukum sebab akibat kak, tapi semua yang sudah terjadi adalah kehendak Allah yang pastinya sudah tertulis di laful mahfudz, kita tak bisa melakukan apapun tas semua ketetapan itu kecuali dengan sabar dan ikhlas," ucap Aryana.


"Kamu itu ya, ustadzah banget, pantas om Fahmi klepek-klepek sama kamu, rela nungguin kamu selama tujuh belas tahun, di tambah hubungan kamu sempat di tentang om Yudha dan maminya Om Fahmi, kamu juga hebat Ana," ucap Kirana memuji keteguhan hati Fahmi dan Aryana.


"Iya, ya Kak, kita hampir memiliki kisah cinta yang sama, hanya beda sebelas dua belas," ucap Aryana sambil tersenyum mengingat perjalanan kisah cintanya dan Fahmi yang penuh liku, perbedaan usia yang terlampau jauh membuat ayah Yudha sempat tak memberi restu dan mami Miranda juga sempat tak memberi restu karena Aryana mengindap kelainan jantung.


Kirana dan Aryana bercerita sambil saling menyemangati, dua wanita yang berjuang penuh liku untuk mendapat restu demi cinta sejati.


__________________________________________


Maaf baru up lagi nggak enak badan


Please Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah

__ADS_1


Thank You


__ADS_2