Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 144


__ADS_3

Afwa sangat gembira ketika membaca chat dari bundanya yang mengatakan bahwa Raka sudah siuman dan berbicara secara normal, di chat tersebut sang bunda juga mengatakan kalau ia secepatnya mempersiapkan pengajuan nikah ke kantor.


Di saat perjuangan cinta Afwa sudah menunjukkan hasil, sang adik kembarnya masih menyusun berbagai strategi untuk meluluhkan hati seorang Nayla. Sekarang Afwi sedang lari pagi di taman dekat komplek rumah Nayla. Ia mengetahui semua kegiatan Nayla dari mata-mata yang ia sebar untuk mengawasi Nayla. Termasuk Agung yang harus selalu stand by di rumah yang Afwi beli di depan rumah Nayla.


Saat itu Afwi melihat Nayla sedang duduk sendiri sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ia bawa. Afwi mendekat ke kursi dimana Nayla duduk.


"Maaf, mbak boleh duduk di sini?" tanya Afwi yang sontak membuat Nayla menatap ke arahnya.


"Boleh, silahkan, Bang!" ucap Nayla.


Sekilas Nayla melihat ke arah Afwi yang duduk anteng di sebelahnya, dan perasaan Nayla mengatakan bahwa ia seperti pernah melihat laki-laki yang duduk di sampingnya, Nayla ingin bertanya untuk memastikan tapi ia gengsi.


"Rasanya aku pernah lihat abang ini, bahkan sering tapi dimana ya, mau tanya duluan nggak banget ntar di kira aku cewek ganjen," batin Nayla.


Sedangkan Afwi juga bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan Nayla.


"Huft ini mulut mau ngomong kok susah amat sih," gerutu Afwi dalam hati.


Tak lama Dio datang mendekati Nayla, Dio juga ikut lari pagi bersama Nayla hanya saja ia tadi masih pingin muter sekali lagi sedangkan Nayla sudah lelah dan ingin istirahat.


"Mbak Nay, di cariin kemana-mana ternyata malah mojok di sini," ucap Dio terlihat kesal.


"Mbak nggak mojok ya," ucap Nayla.


"Lha masnya ini siapa?" tanya Dio yang sontak membuat Afwi yang sedang memainkan ponselnya mengangkat kepalanya menatap Dio yang berdiri di depannya.


"Maksud anda apa ya?" tanya Afwi dingin.


"Dio, kamu jangan sembarangan mbak nggak kenal dengan abang ini! dia cuma numpang duduk di sebelah mbak," tegur Nayla.


Dio pun merasa tak enak ngomong sembarangan pada Afwi, lalu ia pun meminta maaf.


"Eh maaf bang, saya kira teman dekat mbak Nay, eh tapi tunggu deh, sepertinya aku kenal sama abang ini," ucap Dio yang membuat Nayla mengernyit heran sedangkan Afwi terkejut Dio mengenali dirinya.


"Kenal?" tanya Nayla pada Dio.


Dio nampak berfikir keras mengingat wajah pria yang duduk dekat Nayla, satu detik, dua detik, tiga detik," aha! abang ini yang dulu pesan lumpia mbak Nay sebanyak seratus biji dan masih memberiku tips, benar nggak bang?" ucap Dio setelah berhasil mengingat sosok Afwi.


"Benar yang di katakan adik saya, Bang?" tanya Nayla pada Afwi.


Sebelum menjawab Afwi pura-pura lupa dan menanyakan nama kedai lumpia milik Nayla.


"Ehm apa kedai lumpia milik mbak namanya lumpia cinta?" tanya Afwi.


"Iya nama kedai lumpia saya namanya Lumpia Cinta," jawab Nayla sambil tersenyum karena ternyata laki-laki tampan di sebelahnya pernah membeli lumpia di kedainya.


"Kalau begitu benarlah saya pernah pesan lumpia di kedai mbak buat Jumat berkah di kantor saya," ucap Afwi berakting sok nggak ingat padahal acara lari paginya ini hanya modus.


"Abang kerja di mana?" tanya Nayla ramah.


"Saya kerja di Aryana Hotel" jawab Afwi tak sepenuhnya bohong, karena ia memang di minta Aryana dan Fahmi untuk sesekali mengecek laporan juga sistem keamanan di hotel tersebut, baik keamanan hotel maupun keamanan data hotel. Afwi belun berani mengatakan profesi utamanya.


"Wah Aryana hotel?, itu hotel bintang empat yang cukup terkenal, banyak menu yang enak di sana dan harganya pun cukup terjangkau. Katanya di sana ornamenya perpaduan Jawa Tengah dan Jawa Barat," ucap Nayla antusias.


"Mbak pernah ke sana?" tanya Afwi.


"Pernah tapi cuma sekali menemani papa menghadiri undangan pernikahan anak dari temannya pakai pedang pora gitu," jawab Nayla.


Melihat Nayla sangat antusias ketika membicarakan hotel sang adik, muncul satu ide dari benak Afwi untuk mengajak Nayla bekerjasama, namun Afwi belum berani mengatakan profesinya sebagai seorang polisi Afwi takut jika Nayla mengetahuinya, ia tak akan punya kesempatan mendekati Nayla.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku menawarkan kerjasama?" tawar Afwi.


"Kerjasama apa, Bang?"


"Mbak bisa buatkan menu lumpia dan di setorkan ke Aryana Hotel, bagaimana?" tawar Afwi.


"Wah ide bagus mbak Nay itu, terima aja," seloroh Dio bersemangat.


"Kelihatanya menarik, tapi bagaimana dengan bagi hasilnya?" tanya Nayla.


"Lima puluh, lima puluh bagaimana?" tanya Afwi.


Nayla tampak berfikir sejenak, sepertinya ia agak ragu, lagi pula ia juga belum terlalu mengenal Afwi.


"Ehm, aku pikirkan dulu ya Bang, aku mau minta pendapat papa dulu," ucap Nayla.


Afwi sedikit kecewa Nayla tak langsung menerima tawarannya, tapi ia juga membenarkan sikap Nayla yang cukup hati-hati mengambil keputusan.


"Baiklah, tidak apa-apa, tapi kita perlu kenalan masa mau kerjasama nggak tahu nama," pinta Afwi sambil mengulas senyum tipis, senyum yang hanya di tunjukkan pada Nayla, dan para wanita di keluarga Dewantara dan Danuarta.


"Iya ya, Bang. Kenalkan aku Nayla dan ini adik angkatku Dio," ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya dengan senang hati Afwi menjabat tangan wanita yang sudah merebut hatinya tersebut.


"Saya Afwi," ucap Afwi mengenalkan dirinya.


Mereka lalu berbincang ringan dan saling bertukar nomor telepon. Dalam hati ia bersorak senang karena berhasil satu langkah bisa dekat dengan Nayla.


"Mbak Nayla boleh nggak saya panggil mbak Nayla dengan sebutan Dek, soalnya saya berasa aneh manggil mbak Nayla dengan sebutan mbak, lagian saya lebih tua dari mbak Nayla!" pinta Afwi modus.


Nayla sedikit terkejut, mendengar permintaan Afwi, namun ia mengukkan kepalanya tanda setuju Afwi memanggilnya dengan panggilan


dek.


"Belum."


"Kalau begitu abang traktir sarapan bagaiamana, hitung-hitung sebagai tanda perkenalan kita?" tawar Afwi.


"Boleh, tapi abang mau sarapan apa?" tanya Nayla sedikt malu-malu membuat Afwi gemas sedangkan Dio yang ada di dekat mereka merasakan virus cinta yang sedang menyerang dua orang lawan jenis di depannya itu.


"Sepertinya ada bau-bau cinta, Nih, bang Afwi gercep juga, mbak Nay juga kenapa ini, biasanya jaim banget sama cowok lha ini malah malu-malu meong, kesambet dimana ya mbak, Nay, ya Allah," batin Dio.


"Terserah Dek Nay aja, abang mah nurut aja," jawan Afwi.


"Kalau bubur ayam yang di ujung taman ini aja gimana?" tanya Nayla.


"Oke, ayo kita ke sana, sama Dio juga, yuk!" ajak Afwi semangat.


Afwi berjalan menuju penjual bubut ayam berdampingan dengan Nayla sambil mengobrol , sedangkan Dio berjalan di belakang mereka seperti obat nyamuk.


Sampai di penjual bubur ayam, mereka bertiga langsung memesan bubut ayam, Afwi makan sambil berbincang dengan Nayla sambil sesekali tertawa Sungguh ini pemandangan langka hanya dengan Nayla, Afwi menunjukkan senyum termanisnya selain pada keluarganya, andai anggotanya tau Afwi bisa tersenyum manis seperti ini mereka bisa pingsan di tempat.


"Makasih ya, Bang sudah di traktir sarapan," ucap Nayla.


"Sama-sama, dan tolong di petimbangkan permintaan kerjasama dariku, aku tunggu kabar baiknya," ucap Afwi penuh harap.


"Iya, Bang nanti secepatnya aku kabari," ucap Nayla kemudian segera berlalu dari hadapan Afwi sambil melempar senyum manisnya.


"Ya, Allah, Dek, abang bisa diabetes kalau lihat senyumu semanis itu," batin Afwi sambil mengulas senyum tipis.


Nayla berjalan menuju sepedanya bersama Dio, ya Nayla pergi ke taman menggunakan sepeda motor matic berboncengan dengan Dio.

__ADS_1


"Mbak Nay, naksir sama bang Afwi?" tanya Dio.


"Hah?, apa kamu tanya apa?"


"Apa mbak Nay naksir sama bang Afwi tadi?"


"Apaan sih pertanyaan nggak jelas gitu, siapa yang naksir, biasa saja."


"Nggak biasanya mbak Nay nangapi kalau ada cowok yang keliatanya mau pdkt, nah ini malah kasih lampu hijau."


"Kan bang Afwi nawarin kerjasama, lagipula dia salah satu pelangan kita, kalau ntar tau aku pemilik kedai lumpia cinta itu judes, galak, nyar nggak ada yang mau lagi beli lumpia di kedai kita, ngerti nggak kamu?"


"Ngerti, ngerti," jawab Dio di iyain aja meski hati kecilnya menyangkal semua perkataan kakaknya itu.


Sampai di parkiran motor, Dio dan Nayla langsung menaiki motor matic untuk pulanng. Nayla turun dari motor setelah mereka sampai rumah.


"Assalamualaikum...," ucap Nayla waktu memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab pak Hendra dari dpam rumah.


"Sudah pulang, Nay?" tanya pak Hendra.


"Sudah, nih Nay sudah di sini."


"Wajah kamu kok beda, Nay?"


"Beda kenapa, Pa?"


"Kelihatan ceria dan sangat bahagia.


"Gimana nggak bahagia, Pa, ketemu cakep," seloroh Dio yang mendapat pelototan dari Nayla.


"Benar, Nay?" tanya sang papa.


"Nggak ya, Pa, cowok itu ketemu di taman kebetulan dia pelangan lumpianya, Nay," jawab Nayla menyangkal perkataan Dio.


"Ya sudah, kalau nggak, ayo masuk dulu!" ucap pak Hendra.


Nayla dan Dio, masuk ke dalam rumah, tak lupa Nayla langsung memberi pelajaran pada Dio karena mengatakan hal ngawur pada sang papa.


"Aduh, ampun mbak!" pinta Dio sambil memegangi lenganya yang menjadi samsak tinju sang kakak.


"Makanya kalau ngomong jangan ngawur, ntar papa bisa jadi kepo, kamu nggak tau aja seberapa over protektivnya papa sama aku," ucap Nayla kesal.


"Tapi kan bang Afwi kelihatannya baik, dan kelihatannya dia juga suka sama mbak Nay."


"Jangan sok tau kamu!"


"Aku ini juga cowok, mbak, aku tahu mana laki-laki yang lagi naksir seorang cewek apa nggak, Dio cuma pingin mbak Nay membuka hati sama laki-laki, lagi pula bang Afwi bukan polisi atau tentara, dia hanya karyawan di Aryana Hotel, sesuai kriteria mbak Nay, kan?"


Tanpa mereka sadari, sang papa mendengar pembicaraan Dio dan Nayla dari balik pintu dapur, dalam hati ia begitu penasaran dengan sosok laki-laki yang di temui putrinya pagi ini.


_________________________________________


Yang kangen Afwi dan Nayla siapa, koment ya


Abang Afwi bisa senyum manis juga, modus lagi.


Please Like, Vote, Komentar, Rate bintang 5 and Hadiah ya

__ADS_1


Thank You


__ADS_2