
Keadaan Raka sungguh memprihatinkan, sampai saat ini belum ada perkembangan yang signifikan. Dinda dan Kirana bergantian menjaga Raka, ayah dan ibu Raka juga sudah diberi tahu, mereka juga ikut menjaga Raka di rumah sakit, namun orang tua Raka membantu menjaga Raka hanya pagi sampai sore, sedangkan malam harinya orang tua Raka menemani Kiara di rumah. Dinda tak mengijinkan mertuanya menunggu di rumah sakit hingga malam.
"Ibu dan Bapak harus segera pulang, ini sudah mau magrib!" pinta Dinda pada mertuanya.
"Kamu nggak apa-apa sendiri di sini menunggui Raka?" tanya ibunya Raka.
"Tidak, Bu saya sudah terbiasa, bentar lagi juga Kirana datang," ucap Dinda.
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera beritahu kami!' pinta ibu Raka.
"Ayo pak kita pulang kasihan Kiara!" ajak ibu Raka pada suaminya.
"Kamu juga harus makan dan istirahat Dinda!" pinta ayah mertuanya sebelum ia pulang bersama sang istri..
"Iya ayah, ayah tenang saja aku pasti makan."
Setelah berpesan pada menantunya, kedua orang tua Raka pulang ke rumah Raka sekalian menemani Kiara yang masih aktif masuk sekolah. Sedangkan Kirana masih di toko kuenya, meski ayahnya sakit tapi dia juga harus bekerja untuk kelangsungan hidupnya. Kirana tidak ingin terlalu mengantungkan hidupnya pada kedua orang tuanya karena ia tidak akan pernah tahu nasib apa yang akan ia jalani selanjutnya, yang pasti semua tidak akan selalu mudah.
Selepas magrib Kirana kembali ke rumah sakit untuk bergantian menjaga sang ayah.
"Assalamualaikum, ibu!"
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana ayah, Bu apa ada perkembangan?"
"Belum semua masih sama," jawab Dinda lemas.
"Ibu makan dulu ya, ini aku bawakan nasi, teh hangat dan kue," tawar Kirana.
"Terima kasih, tapi ibu tak nafsu makan."
"Jangan begitu, menjaga orang sakit juga butuh tenaga, ayo Bu!"
Apa yang di katakan Kirana benar, ia tak boleh egois, kalau ia sampai sakit siapa yang akan merawat suaminya. Dinda lalu membuka nasi kotak yang di bawa Kirana, meski susah menelan karena perasaannya masih memikirkan Raka, Dinda berusaha menghabiskan makanan yang di bawa sang putri.
"Bu, apa kita minta ayah di rujuk ke RSPAD di Jakarta saja seperti saran om Yudha?" tanya Kirana.
"Kalau ayahmu di rujuk ke sana siapa, pasti akan lebih merepotkan, Kiara masih sekolah, kalau kamu dan ibu ke Jakarta, bagaimana dengan adikmu?"
__ADS_1
"Soal Kiara, aku sudah bicara pada nenek dan kakek, mereka bersedia menemani Kiara di sini," jawab Kirana.
"Kita bicarakan dengan dokter nanti bagaimana baiknya, semoga dalam minggu ini ayah kamu bisa segera sadar," harap Dinda.
"Dokter Fahmi dan Aryana akan pulang ke Indonesia bersama keempat anaknya, kata kak Afwa dokter Fahmi dan Aryana akan menjenguk ayah di sekalian mereka pulang kampung," ucap Kirana yang membuat ibunya mengentikan kegiatannya meminum teh hangat.
"Dokter Fahmi dan Aryana akan pulang ke Indonesia, mereka akan menjenguk ayahmu?" tanya Dinda tak percaya.
"Iya, apa sih yang nggak akan di turuti Om Fahmi jika Aryana yang meminta, dia sudah bucin akut sama Aryana, apalagi Aryana juga pernah koma pasca melahirkan tripelets."
lima hari kemudian Fahmi dan Aryana langsung terbang ke Indonesia menggunakan jetpri, mereka ke Jakarta terlebih dahulu menemui papi dan mami Pratama. Tentu saja tuan dan nyonya Miranda sangat gembira, tuan Pratama sampai menyerahkan pekerjaannya pada asistennya karena ia ingin menghabiskan waktu dengan anak dan ke empat cucunya yang baru datang dari Singapura. Kini mobil yang di tumpangi Fahmi dan keluarganya memasuki rumah besar keluarga Pratama.
"Ya Tuhan, cucu oma...!" teriak mami Miranda langsung menghambur menghampiri anak dan cucunya yang baru saja keluar dari mobil.
"Mami..., salam dulu!" tegur Fahmi.
"Ops lupa, Assalamualaikum cucu oma!"
"Waalaikumsalam," jawab Fahmi, Aryana dan anak-anaknya.
"Ah pintarnya, cucu opa, sini," sahut tuan Pratama yang langsung mengendong Arnan dan Oma Miranda mengendong Alya. Sedangkan Arsen dan Alesya di gendong Fahmi dan Aryana
"Ayo masuk!" ajak mami Miranda.
"Bagaimana kabarmu dan pekerjaanmu di Singapura?" tanya papi Pratama sambil bergantian memangku cucu-cucunya. Begitu juga dengan mami Miranda yang bergantian bermain dengan Alya dan Alesya.
Tuan dan nyonya Pratama juga memperlakukan Alesya seperti cucunya sendiri, nyonya Miranda sudah banyak berubah, ia lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai banyak hal, semua itu tak lepas dari pantauan papi Pratama, mami Miranda yang tak diperbolehkan terlalu akrab dengan kelompok sosialitanya yang banyak memberi efek buruk pada sikap dan perilaku mami Miranda.
"Kabarku baik, dan pekerjaanku Alhamdulillah lancar," jawab Fahmi sambil memangku Arsen.
"Syukurlah, berapa lama kalian akan di sini?" tanya papi Pratama.
"Mungkin kurang lebih seminggu, kami di Jakarta dua hari, lalu kami akan ke kota S ke rumah ayah Yudha, dan ke Semarang menjenguk om Raka yang koma," jawab Fahmi yang membuat kedua orang tuanya sedikit terkejut.
"Raka teman Yudha yang tentara pasukan khusus itu?" tanya papi Pratama.
"Iya, kemarin Afwa meneleponku untuk mencarikan dokter terbaik di Singapura untuk membantu kesembuhan Raka karena Afwa dan Kirana putri dari Raka akan segera menikah, kalau Raka masih koma bagaimana wali nikah Kirana. Makanya Afwa meminta bantuanku."
"Lalu kau sudah menemukan dokternya?" tanya mami Miranda.
__ADS_1
"Sudah, kebetulan ada dokter saraf ternama dari Jerman yang bergabung di rumah sakit ME, aku sudah cek profilnya, beliau cukup handal makanya rumah sakit ME berani membayar mahal dirinya, namanya dokter Robert Julius Alexander."
"Apa kau akan membawa Raka ke Singapura atau dokter Robert yang kau bawa ke sini?" tanya papi Pratama.
"Jika pihak rumah sakit dimana Raka di rawat sekarang dan juga keluarga Raka mengijinkan maka aku akan mengurus keberangkatan Raka ke Singapura," jawab Fahmi.
"Kau begitu baik pada mereka, aku yakin kau akan menanggung biaya pengobatan Raka, iya kan?" tebak sang papi.
"Iya, tebakan papi benar, tapi aku rasa ayah mertua tak akan rela aku membantu semuanya, jadi papi tenang saja aku tak akan bangkrut," ucap Fahmi sambil terkekeh, dan papi Pratama juga ikut tertawa karena ia tahu maksud putranya.
Sang putra memang seperti Tom and Jerry jika sudah berhadapan dengan Yudhatama Dewantara, dengah gengsi yang cukup tinggi tak mungkin Yudha membiarkan Fahmi membantu semua biaya pengobatan Raka.
"Selain itu perjalanan kisah cinta Afwa hampir sama denganku, kalau aku dulu mami dan ayah Yudha yang tak setuju sehingga kisah cintaku dengan Aryana penuh drama, sekarang Afwa tersandung restu dari calon ibu mertua yaitu Dinda istri Raka yang tak mengijinkan Kirana menikah dengan seorang tentara dan semua profesi berbau militer, namun dengan kejadian ini aku berharap ada kabar baik dengan hubungan Kirana dan Afwa," ucap Fahmi.
"Tunggu! bukannya Dinda istri tentara, kenapa ia tak mengijinkan anaknya menikah dengan tentara apalagi Afwa anak dari sahabatnya sendiri, papi jadi tidak mengerti?"
"Begini, dulu waktu Dinda dinyatakan hamil anak pertama yaitu Kirana, Raka di tugaskan menjadi satgas yang dikirim ke Lebanon, bahkan sampai melahirkan Dinda tidak di dampingi Raka, pada saat Dinda melahirkan Kirana, Dinda mengalami pendarahan yang akhirnya membuat ia sempat koma. Dari pemeriksaan seharusnya dengan obat dan perawatan dari rumah sakit Dinda bisa sadar lebih cepat, namun tubuh Dinda seolah menolak semua obat yang di masukkan ke tubuhnya, hinga pada suatu hari Dinda tiba-tiba mengalami henti jantung, dan aku sendirilah yang melakukan JPR pada Dinda, aku membisikan padanya agar dia mau bertahan dan jangan menyerah, saat Dinda mengalami henti jantung pada saat itulah Raka pulang dan seperti orang kesetanan ia berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan masih memakai seragam loreng dan baret birunya." jelas Fahmi yang membuat ketiga orang di depannya ini tertegun, mereka tak mengira Raka dan Dinda punya cerita cinta yang penuh drama.
"Apa karena itu tante Dinda tak memperbolehkan kak Kirana menikah dengan kalangan militer, tante Dinda tak ingin kak Kiran memiliki jalan hidup seperi dirinya," ucap Aryana yang langsung mengambil kesimpulan.
"Yap, kau benar Sayang, karena hal itulah Dirna tak menyetujui hububungan Afwa dan Kirana."
"Kasihah kakakku," lirih Aryana sendu.
"Kamu jangan sedih, Sayang, semua hal yang terjadi sudah kehendak Allah dan yang pastinya itu terbaik untuk hamba-Nya, meski jalan yang di pilih Allah untuk kebahahagiaan hamba-Nya tidak di sukai oleh hamba itu sendiri," ucap Fahmi bijak seperti ustad membuat Kedua orang tuanya juga sang istri melongo sambil menatap aneh padanya.
Fahmi yang merasa di tatap aneh oleh tiga pasang mata di depannya juga merasa heran.
"Apa perkataanku ada yang salah, kenapa kalian menatapku begitu?"
"Sebaiknya kau menambah profesimu selain menjadi ceo merangkap menjadi ustad saja," ucap papi Pratama.
"Hah, apa?"
________________________________________
Puasa-puasa begini pak Dokter Fahmi pikirannya berubah agamis.
Mohon maaf jika up nya telat setelah tanggal 21, dikarenakan ada kegiatan keluarga yang juga menyita waktu dan pikiran author, bibi saya adik dari ayah saya meninggal dunia, jadi mohon pengertiannya para readers semua🙏🙏
__ADS_1
Please Like Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You