
Afwi serasa tersambar petir mendengar perkataan sang adik barusan, ia terpaku ditempat, otaknya mulai berfikir darimana Aryana tahu semua hal yang dilakukannya untuk sang adik, ketika Afwi sudah selesai berfikir, ia sudah tak melihat Aryana lagi.
Sedangkan Aryana sudah di dalam taxi sekarang, setelah meluapkan apa yang di dalam hatinya pada kakaknya Afwi, Aryana langsung berlari menuju gerbang sekolah, kebetulan ada taxi kosong yang lewat, kemudian Aryana menyetop taxi tersebut.
"Mau kemana mbak?" tanya supir taxi tersebut.
"Ke tempat yang tenang, pak," jawab Aryana yang membuat supir taxi tersebut mengernyitkan dahinya.
"Tempat yang tenang itu alamatnya dimana mbak?" tanya supir taxi bingung.
"Terserah bapak," jawab Aryana datar yang membuat supir taxi makin bingung.
Pada waktu si supir taxi tersebut akan bertanya lagi, ponselnya berdering, ternyata telpon itu dari istrinya.
"Hallo, ada apa? nanti saja bu, bapak lagi kerja, lagi bawa penumpang nggak bisa pulang sekarang, buat setoran hari ini saja belum target, sudah ya bu bapak lagi nyetir," ucap supir taxi itu lalu menutup sambungan telponnya.
"Kalau bapak mau pulang sebentar dulu nggak apa-apa, nanti bapak antar saya lagi, dari pada bapak cari penumpang lagi!" pinta Aryana pada supir taxi yang berusia kepala lima lebih itu.
"Jangan mbak, nanti kelamaan," tolak supir taxi tersebut.
"Nggak apa-apa, lagian saya sedang tidak punya arah tujuan, urusan istri bapak lebih penting daripada urusan saya," ucap Aryana.
"Baiklah kalau begitu mbak, kebetulan rumah saya tidak jauh dari jalan daerah ini," ucap supir taxi tersebut
Supir taxi tersebut kemudian membelokan taxinya ke sebuah jalan yang lebih kecil namun banyak toko dan warung di daerah tersebut. Sedangkan Afwi terlihat kacau karena kehilangan jejak sang adik, ia makin frustasi ketika pak Yanto mengabarkan bahwa Aryana tidak pulang bersamanya.
"Ya Allah, Ana kamu kemana sih?, apa yang harus aku katakan pada bunda, kenapa ponsel kamu juga tidak aktif. Ya Allah kenapa jadi runyam begini sih?" ucap Afwi sambil mengacak rambutnya frustasi.
Di negeri Singa, Fahmi juga tak kalah kacau, gadis kecilnya menelponnya sambil menangis lalu tiba-tiba memutuskan sambungan telpon secara sepihak dan sekarang tidak bisa dihubungi.
"Alan, siapkan jet pribadiku sekarang, aku mau ke Indonesia, hendel dulu semua pekerjaanku yang disini!" perintah Fahmi pada sang asisten.
Begitu mendengar perintah bosnya, Alan yang berada di seberang telpon segera menyiapkan jet pribadi milik Pratama group, tentu saja dengan umpatan yang hanya bisa dia pendam dalam hati.
"Dasar, bos pedofil, pasti karena gadis kecil keluarga DW group itu, kalau tidak mana mungkin si bos panik begitu!" umpat Alan dalam hati.
Aryana sudah sampai di rumah sopir taxi tersebut, rumah yang cukup sederhana namun terlihat bersih dan nyaman.
"Kita sudah sampai mbak, ini mbak rumah saya, kalau tidak keberatan mari ke masuk sebentar ke rumah saya, masa mbak tunggu di mobil!" pinta supir taxi tersebut.
"Iya pak, saya mau numpang ke kamar mandi sekalian shalat dzuhur," ucap Aryana.
"Oh, iya bisa mbak mari!" ajak supir taxi tersebut.
"Ngomong-ngomong nama bapak siapa?" tanya Aryana.
"Nama saya Harun, mbak," jawab supir taxi tersebut.
"Kalau saya Aryana, bapak bisa panggil saya Ana," pinta Aryana.
Aryana dan pak Harun sedikit berbincang sambil berjalan menuju rumah pak Harun, di teras rumah seorang wanita seusia pak Harun sedang berdiri seolah menunggu mereka.
"Bapak, akhirnya pulang juga," ucap ibu tersebut begitu melihat suaminya datang.
__ADS_1
"Ibu, suami datang bukannya salam dulu," tegur pak Harun pada istrinya.
"Maaf ibu lupa, eh ini siapa pak?"tanya bu Harun.
"Oh ini mbak Ana, penumpang taxi bapak, kalau bukan karena mbak Ana yang minta bapak pulang menemui ibu dulu, bapak nggak akan pulang," jawab pak Harun.
"Maafkan saya mbak, karena saya perjalanan mbak jadi terganggu," ucap bu Harun tak enak.
"Sudah-sudah, tamunya dipersilahkan masuk dulu, mbak Ana mau shalat dulu, tolong siapkan peralatan shalatnya!" pinta pak Harun pada istrinya.
Bu Harun lalu mempersilahkan Aryana masuk ke dalam rumah, kemudian bu Harun menyiapkan perlengkapan shalat di kamar anaknya.
"Disini mbak kalau mau shalat, ini kamar anak perempuan saya, maaf kalau kamarnya jelek," ucap bu Harun.
"Terima kasih, kamarnya rapi kok, putri ibu pasti rajin, tapi sekarang dimana putri ibu?" tanya Aryana sambil mengamati kamar putri ibu Harun yang besarnya hanya setengah kamar tidurnya.
"Dia sedang keluar, cari kerja," jawab bu Harun.
"Cari kerja?" memang anak ibu lulusan apa?" tanya Aryana.
"Cuma lulusan SMA, sudah enam bulan dari dia lulus, belum dapat kerjaan juga, padahal dia ingin meneruskan kuliah kalau sudah bisa mengumpulkan uang, ia juga ingin membantu biaya sekolah adik-adiknya," jawab bu Harun.
"Memang anak ibu ada berapa?" tanya Aryana.
"Ada tiga mbak, yang nomor satu ya yang cari kerja itu, yang kedua baru SMP kelas dua yang nomor tiga SD kelas enam ini," jawab bu Harun.
"Ini sudah jam pulang sekolah, kok belum pada pulang?" tanya Aryana heran.
"Makanya itu mbak, saya tadi telpon suami saya, anak saya yang SMP dan SD belum pulang," ucap bu Harun.
"Iya semoga, eh mbak Ana shalat dulu aja, maaf malah ngajak ngobrol," ucap bu Harun.
"Nggak apa-apa bu, kalau begitu saya shalat dulu," ucap Aryana, kemudian bu Harun keluar kamar anaknya.
Saat Aryana selesai shalat, Aryana akan keluar kamar tapi ia mengurungkan niatnya karena mendengar perdebatan kecil pasangan pasutri itu dengan topik masalah ekonomi rumah tangga. Setelah Aryana tak mendengar lagi perdebatan itu, Aryana baru keluar dari kamar anaknya bu Harun.
"Eh sudah selesai shalatnya mbak Ana?" tanya bu Harun.
"Sudah bu," jawab Aryana.
"Duduk dulu mbak, saya ambilkan minum," ucap bu Harun. Tak lama bu Harun sudah kembali dengan segelas teh hangat untuk Aryana.
"Terima kasih bu, maaf malah merepotkan," ucap Aryana tak enak hati, maksud hati melarikan diri dari sang kakak malah berakhir merepotkan orang.
'Maaf mbak Ana hanya ada air, ibu belum masak," ucap bu Harun tak enak.
"Nggak apa-apa bu," jawab Aryana.
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar ternyata anak-anak bu Harun yang bersekolah di SMP dan SD sudah pulang.
"Assalamualaikum," ucap kedua anak bu Harun.
"Waalaikumsalam," jawab bu Harun dan Aryana, pak Harun pun ikut menyahut dari dalam.
__ADS_1
"Kenapa kalian baru pulang, ibu kalian cemas?" tanya pak Harun.
"Kami pergi ke rumah haji Ali dulu membantu mengemasi sedotan plastik, nanti kalau sudah terkumpul aku mau beli sepatu baru," ucap anak pak Harun yang SMP bernama Weni.
"Kalian nggak usah bekerja seperti itu, nanti bapak belikan," ucap pak Harun.
"Ah bapak cuma ngomong doang, sudah tiga bulan yang lalu aku minta belum di kasih juga," jawab Weni cemberut.
"Aku juga ingin beli tas baru," sela anak pak Harun yang bernama Fandy.
Sedang ayah dan anak itu berbicara, terdengar suara dari luar rumah.
"Permisi apa ini rumah pak Harun?" tanya pria berseragam restoran terkenal.
"Oh pesanannya sudah datang, sebentar," ucap Aryana langsung menuju teras rumah pak Harun.
"Selamat siang Nona, ini pesanan anda," ucap pria berseragam restoran terkenal.
"Iya terima kasih, sampaikan terima kasihku pada om Andre," ucap Aryana.
"Baik nona akan saya sampaikan pada pak Andre, saya permisi nona.
Ya, pada waktu Aryana akan keluar kamar setelah shalat, Aryana mendengar perdebatan pak Harun dan istrinya, bu Harun mengeluh tak punya uang untuk menyiapkan makan siang dan juga bayaran sekolah anak-anaknya yang menunggak, maka secara diam-diam Aryana menelpon omnya yaitu Andre adik dari Yasmin yang dipercaya mengelola resto milik Dewantara group untuk mengirimkan makan siang ke rumah pak Harun.
Pak Harun, bu Harun juga kedua anaknya hanya melongo melihat semua kejadian di depannya, siapa sebenarnya gadis SMA yang menjadi penumpang taxinya, kenapa pria pengantar makanan tadi begitu hormat kepada Aryana.
"Maaf, Pak, Bu, saya lancang memesan makanan, saya tak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin kalian menemani saya makan," ucap Aryana.
Fandy langsung membuka paket makanan yang dibawa Aryana karena dia sudah sangat lapar.
"Wah makanannya enak-enak, ayo kita makan!" ajak Fandy dengan mata berbinar.
"Fandy, jangan begitu tidak sopan, ijin dulu sama mbak Aryana!" tegur bu Harun.
Fandy dan Weni baru menyadari bahwa ada orang lain di rumahnya selain bapak ibunya.
"Tidak apa,Bu, mari makan nanti keburu dingin tidak enak!" ajak Aryana.
"Makasih lho mbak Ana, seharusnya kami yang menjamu mbak Ana tapi malah mbak Ana yang menjamu kami," ucap pak Harun merasa tak enak dengan Aryana.
"Tidak apa-apa pak Harun, saya senang bisa makan bersama dengan keluarga baru, ayo dimakan!" ajak Aryana.
Pak Harun dan keluarganya pun segera menyantap hidangan yang dipesan Aryana daei restoran milik keluarganya. Keluarga pak Harun sangat bahagia menikmati hidangan yang Aryana pesan, terutama Fandy dan Weni. Hati Aryana menghangat melihat pemandangan di depannya, Aryana bisa sejenak melupakan suasana hatinya yang sedang kacau karena masalah dirinya dan sang kakak. Aryana dan keluarga pak harun sudah selesai makan, mereka mengucapkan banyak terima kasih pada Aryana sambil tersenyum, namun tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara bariton seorang pria yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Hem..., bagus ya dicari kesana-kesini nggak ketemu sampai bikin orang frustasi, eh tau-taunya malah enak-enakan makan dan tertawa disini!"
___________________________________________
Siapa hayo ?
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung....