
Sekitar pukul satu siang Jetrpri yang membawa Afwi sampai di Singapura, Afwi langsung di bawa ke rumah sakit ME. Sampai di rumah sakit Afwi segera di tangani dokter yang sudah di konfirmasi sebelumnya oleh Fahmi.
"Aku berharap Afwi bisa segera bangun dan sembuh di sini," ucap Yasmin sendu.
"Bunda harus selalu berfikir positif dan terus berdoa, bukankah doa seorang ibu selalu di ijabah oleh Allah, jangan berputus asa dengan rahmat Allah," ucap Yudha berusaha menyemangati istrinya.
Tak lama Fahmi keluar dari sebuah ruangan bersama seorang dokter paruh baya, setelah berbincang sebentar dengan dokter tersebut, Fahmi menghampiri kedua mertuanya yang masih terlihat sedih.
"Ayah, Bunda, Afwi sudah masuk ruang observasi, aku sudah meminta dokter terbaik di.sini untuk menangani kakak ipar, dan sebaiknya ayah dan bunda pulang dulu ke rumahku, Aryana dan cucu-cucu kalian sudah menunggu!" pinta Afwi pada Yudha dan Yasmin.
"Itu saran yang bagus, aku juga sangat merindukan mereka," ucap Yudha cukup senang dengan saran menantunya, setidaknya bertemu dengan cucu kembarnya bisa sedikit mengurangi rasa sedih karena keadaan Afwi.
"Tapi Afwi bagaimana?" tanya Yasmin.
"Bunda, tak usah khawatir disini banyak yang menjaganya, kalau ada apa-apa mereka akan langsung menghubungi aku," jawab Fahmi.
"Baiklah kalau begitu aku juga ingin melihat cucu-cucuku, mereka pasti sudah besar dan mengemaskan, boleh ya bunda bawa satu ke Indonesia!" pinta Yasmin dengan wajah memelas.
"Jangan dong, Bund, nanti gimana anak-anakku yang lain masa dipisahkan dari saudaranya," tolak Fahmi karena ia sangat menyayangi ke empat anaknya.
"Habis, Bunda kadang kesepian, kalo ada tawa anak kecil pasti rame dan menyenangkan."
"Makanya suruh kakak ipar menikah jangan hanya tugas melulu, biar kita punya warga negara baru."
"Kau ini seperti tidak tahu Afwa dan Afwi saja, sudah ah, katanya mau ajak ketemu anak-anak," ucap Yasmin.
"Baiklah, ayo kita pulang ke rumah, kebetulan tas ayah dan bunda masih di mobil tadi belum diturunkan!" ajak Fahmi pada kedua mertuanya.
Mereka bertiga pun segera pergi meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Fahmi dimana Aryana dan ke empat anaknya sudah menunggu.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, mereka sudah sampai di kediaman Fahmi, rumah besar yang megah dengan dua lantai. Benar saja di teras rumah Aryana dan keempat buah hatinya sudah menanti di temani pengasuh.
Begitu turun dari mobil, Yudha dan Yasmin langsung di sambut hangat ke empat cucunya tentu saya Yasmin setengah berlari menyongsong cucu-cucunya yang berjalan kearahnya.
"Assalamualaikum...,cucu-cucu oma yang cantik dan ganteng!" ucap Yasmin sambil mengambil setengah duduk agar bisa merengkuh keempat cucunya yang mengemaskan.
"Kum alaa...m," ucap ke empat bocil milik dokter Fahmi itu langsung masuk ke pelukan omanya.
Yudha ikut mendekat lalu berkata, " opa nggak di peluk nih?" ucap Yudha pasang muka cemberut membuat ke empat bocil itu melihat ke arah Yudha kemudian beralih memeluk sang opa sambil tersenyum.
"Wa... kalian sudah tambah tinggi dan besar ya," ucap Yudha sambil memperhatikan ke empat cucunya sambil sedikit berjongkok agar bisa sejajar dengan cucu-cucunya.
"Iya, opa, ita akan anyak biar epat ecar," jawab Arsen.
Melihat keakraban orang tuanya dan ke empat anaknya hati Aryana dan Fahmi menghangat, kemudian mereka juga ikut menghampiri dimana anak dan orang tuanya sedang melepas rindu di depan teras rumah.
"Ayah, Bunda, apa kabar?" sapa Aryana.
"Alhamdulillah kami baik, Nak," ucap Yasmin kemudian beralih memeluk putri kesayangannya.
"Ayo kita masuk, masa melepas kangen di halaman rumah!" ajak Fahmi mengajak kedua mertuanya dan empat bocil juga sang istri agar segera masuk ke dalam rumah.
"Ayah, Bunda, sebaiknya kalian istirahat dulu, kalian pasti lelah merawat kak Afwi," ucap Aryana menyarankan kedua orang tuanya untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Iya, apa yang di katakan Aryana benar, ayah dan bunda istirahat dulu, karena menjaga orang sakit itu membutuhkan tubuh yang sehat. Jangan sampai kalian sakit," ucap Fahmi menimpali.
__ADS_1
"Baiklah kami akan istirahat sebentar, jika ada kabar dari rumah sakit segera kabari kami!" pinta Yudha.
"Oma, Opa, ayo ain ulu angan pegi!" pinta Alya.
Mendengar permintaan cucunya Yudha lalu mengendong Alya dan menciumnya dengan gemas.
"Sayang..., Princessnya opa, opa dan oma baru datang dari Indonesia, masih capek mau istirahat sebentar, nanti setelah istirahat, opa dan oma akan main lagi dengan kalian," ucap Yudha memberi pengertian pada Alya.
Setelah Alya mengerti Yudha menurunkan Alya dari gendongannya, kemudian Yudha dan Yasmin di antar oleh art menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya. Fahmi dan Aryana sedang sibuk memberi pengertian ke empat bocilnya yan memasang wajah sebal karena belum bisa bermain dengan opa dan omanya.
Sampai di kamar, Yudha dan Yasmin kemudian membersihkan diri lalu melakukan shalat berjamaah. Setelah melakukan shalat dzuhur berjamaah terdengar ketukan pintu di pintu kamar.
Tok tok
"Iya sebentar!" ucap Yudha dari dalam.
Ceklek
"Maaf, Tuan, ini saya di suruh Tuan Fahmi untuk mengantarkan makan siang ke sini," ucap seorang art keluarga Fahmi.
"Terima kasih, seharusnya tak perlu begini kami bisa ke ruang makan," ucap Yudha merasa tak enak.
"Tidak apa-apa, Tuan," ucap art tersebut kemudian ia pamit undur diri setelah memberikan nampan berisi makanan dan minuman juga buah.
"Siapa, Yah?" tanya Yasmin.
"Art Fahmi mengantar ini untuk kita," jawab Yudha sambil menunjukkan nampan besar yang berisi makanan.
"Ya Allah Fahmi, pakai begini segala kaya kita orang sakit saja," gerutu Yasmin yang menganggap Fahmi berlebihan memperlakukannya dan Yudha.
"Biar saja lah, itu namanya menantu pengertian, yuk kita makan dulu, habis itu istirahat sebentar lalu balik ke rumah sakit!" pinta Yudha.
"Tapi, Bunda harus tetap makan, nih lihat menantu doktermu sudah kasih kita menu empat sehat lima sempurna," ucap Yudha sambil menunjuk jenis menu makanan yang lengkap.
"Aku suapi, ya Yang?" tawar Yudha yang fibalas anggukan dan senyuman dari istri tercinta.
Akhirnya acara makan siang di kamar tersebut menjadi acara quality time dadakan dengan saling menyuapi dengan senyum yang tersunging di bibir dua paruh baya itu. Sejenak mereka bisa sedikit melupakan kesedihan karena kondisi putra kedua mereka yang masih menjalani perawatan intensif.
Selesai makan, Yudha dan Yasmin beristirahat sebentar, karena perut yang sudah kenyang dan rasa lelah yang sudah menumpuk dari kemarin, Yudha dan Yasmin akhirnya tertidur lelap sampai sore. Di ruang keluarga, Fahmi dan Aryana sedang berbincang sambil menjaga ke empat anaknya yang sedang bermain di karpet bulu yang lembut.
"Honey, sudah sore begini kenapa ayah dan bunda belum keluar kamar ya?" tanya Aryana sambil membantu Alesya memakaikan baju di boneka barbienya.
"Mungkin mereka kelelahan, jadi biarkan saja, mereka tak berhenti menjaga kak Afwi di rumah sakit," jawab Fahmi.
"Apa disana nggak ada yang bantu ayah bunda jaga kak Afwi?" tanya Aryana lagi.
"Ya ada, Refanda yang kadang gantikan ayah dan bunda jaga kak Afwi di rumah sakit, sebenarnya Mediana menawarkan diri tapi ditolak sama ayah Yudha."
"Medina, siapa dia?"
"Oh, dia cewek yang di jaga oleh Afwi sebagai saksi kunci, dan karena menyelamatkan Medina itu kakakmu tertembak."
"Apa dia cantik?"
"Kenapa tanya begitu?"
__ADS_1
"Ya penasaran aja, sepertinya cewek yang bernama Medina suka sama kak Afwi."
"Kenapa kamu bisa berfikir begitu?" tanya Fahmi meskipun ia juga berfikir hal.yang sama.
"Ya karena aku tahu pesona kakakku, Honey."
"Pede sekali."
"Bukannya pede tapi kenyataannya begitu, ketampanan para putra Yudhataman Dewantara itu di atas rata-rata, jadi siapapun wanita yang dekat dengan kakak-kakakku juga adikku Azka pasti meleleh," ucap Aryana memuji ketampanan saudara laki-lakinya.
"Iya, iya, percaya, Tuan Putri," ucap Fahmi dengan wajah seperti tak terima sang istri memuji rupa laki-laki selain suaminya meskipun laki-laki itu adalah saudara kandungnya sendiri.
Fahmi dan Aryana terus mengobrol sambil menemani anak-anaknya bermain, ke empat buah hatinya sangat senang bisa bermain dengan kedua orang tua mereka, meskipun Alesya bukan anak kandung Fahmi dan Aryana namun mereka sangat menyayangi Alesya dan tak pernah membeda-bedakan dengan anak-anak kandungnya.
Di kamar, Yudha terbangun lebih dulu, ia melihat jam di nakas, betapa terkejutnya Yudha melihat arah jarum jam yang menunjukkan hampir pukul lima sore dan mereka belum melaksanakan shalat ashar, dengan terpaksa ia membangunkan sang istri untuk shalat ashar meski ia tak tega.
"Sayang..., ayo bangun hampir jam lima sore kit belum shalat ashar!" ajak Yudha sambil membangunkan istrinya dengan membelai kepala Yasmin dengan lembut.
Merasa ada yanf mengusik tidurnya, Yasmin mengeliat, ia berusaha membuk matanya mesku berat.
"Ada apa, Yah, aku masih ngantuk," ucap Yasmin serak dengan berusaha membuka matanya.
"Bagun, Sayangku, ini sudah mau habis waktu ashar, ayo!"
Mendengar ucapan suaminya akhirnya Yasmin bangun, dengan malas ia berjalan gontai menuju kamar mandi dengan dipegangi oleh Yudha, takut jika Yasmin terjatuh karena terlihat Yasmin masih mengantuk dan terlihat lelah.
Setelah melaksanakan shalat ashar, Yasmin merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lagi, ia merasa badanya terasa sangat lelah. Yudha yang melihat hal itu merasa sedih, sungguh pengorbanan sang istri untuk merawat Afwi luar biasa. Yudha menyelimuti tubuh Yasmin sebatas dada lalu mendaratkan ciuman kasih sayang di kening sang istri, kemudian perlahan ia keluar dari kamar untuk menemui anak dan menantunya juga cucu-cucunya yang mengemaskan, apalagi Alesya yang mirip boneka hidup.
Sampai di ruang keluarga Yudha melihat keempat cucu-cucunya sedang bermain dengan pengasuh, mereka teelihat segar karena sepertinya cucu-cucunya sudah mandi, terium bau wangi khas anak kecil yang habis mandi. Yudha mendekat dan menyapa ke empat cucunya.
"Sedang main apa cucu-cucu opa?" tanya Yudha yang membuat ke empat bocil yang sedang asyik dengan mainanya langsung mengarahkan pandangan mata ke asal suara.
"Opa...!" pekik ke empatnya dan langsung berebut mendekat pada opa mereka yang sudah berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
Yudha mencium keempat cucunya dengan gemas.
"Wanginya cucu-cucu opa," ucap Yudha memuji.
"Iya, Opa, ita dah mandi cama miss," ucap Alya menangapi ucapan sang opa dengan antusias.
'Oh, good girl," ucap Yudha sambil mengacak rambut Alya.
Arnan dan Arsen segera menarik Yudha agar bermain dengan mereka, duo boy itu menunjukkan koleksi mobil-mobilan mereka dengan berbagai model. Beberapa jenis mobil-mobilan itu ada mobil mainan yang bernentuk mendaraan perang. Alya dan Alesya memanyunkan bibirnya karena sang opa dimonopoli Arnan da Arsen. Jika kedua bocah perempuan itu sudah besar pasti mereka akan mengumpat Arnan dan Arsen.
Melihat mobil-mobilan berbentuk teng, panser, kapal perang, pesawat tempur dan kendaraan perang bertuliskan UN yang berarti kemdaraan perang milik PBB.
"Opa, ini Acen unya anyak teng bisa tembak."
"Ini, Alnan uga unya, Opa."
"Kalian ini kenapa suka dengan mobil teng?" tanya Yudha penasaran dengan selera kedua cucu laki-lakinya.
"Kalena ita inin cepelti Opa bisa pelang," ucap Arsen yang membuat Yudha mengelus dada.
_________________________________________
__ADS_1
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah
Thank You