Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 221. Dukungan Mertua


__ADS_3

Niko berdiri setelah hampir setengah jam berada di dekat pusara Pamela sambil berbicara seolah-olah mantan sekretarisnya yang sudah banyak ia sakiti itu masih hidup.


"Mela, aku akan berusaha membahagiakan anak kita, meskipun aku belum mendapatkan bukti akurat bahwa Alesya adalah anak ku denganmu tetapi wajah dan mata Alesya mirip denganmu, setiap aku bertemu dengannya aku merasakan hatiku menjadi hangat. Andai dulu aku menyadari bahwa menjadi seorang ayah bisa sangat membahagiakan, aku tak akan memintamu mengugurkan kandunganmu, maafkan aku Mela, aku menyesal," ucap Niko sambil sedikit terisak dan menahan sesak di dadanya. Seseorang akan terasa sangat berharga ketika kita sudah kehilangan.


Indonesia.


Di rumah dinas Angkatan Darat, hati Kirana ketar-ketir, tubuhnya berkeringat dingin ketika melihat berita tentang penyerangan kelompok bersenjata pada anggota TNI sehingga terjadi baku tembak, perutnya tiba-tiba merasa kencang dan kepalanya sedikit pusing. Kirana mencoba meraih air minum di meja namun karena tangannya yang gemetar membuat gelas itu justru terjatuh.


Pyaarr...


"Nyonya Kiran!" pekik bik Nani yang langsung tergopoh-gopoh mendekati Kirana di ruang tamu.


"Astagfirullah, ya Allah Gusti, kenapa jadi begini? Ucap bik Nani lalu berusaha membersiihkan serpihan kaca dan meminta Kirana agar duduk saja.


"Maaf, bik tadi saya mau ambil gelasnya tetapi malah meleset dan jatuh," sesal Kirana sambil melihat bik Nani membersihkan lantai dari air dan pecahan gelas.


"Ndak apa-apa, Nyonya, namanya juga bala pecah, ya pasti bisa pecah," ucap bik Nani santai.


"Tapi perasaanku tidak enak setelah melihat berita tentang pasukan yang di kirim ke Papua, aku khawatir sama mas Afwa, dari tiga hari yang lalu juga nggak bisa di hubungi," ucao Kirana cemas.


"Nyonya tenang saja, berdoa memohon pada Allah untuk keselamatan tuan Afwa, kalu terjadi apa-apa sama tuan Afwa, pak komandannya pasti kasih tahu Nyonya, biasanya kan begiti kalau saya lihat di film" ucap bik Nani yang membuat Kirana bingung antara menangis atau tertawa. Bisa-bisanya membandingkan apa.yang ia rasakan sama adegan.di film.


"Bibi, ini saya lagi takut beneran malah ngelawak begitu, memang film militer apa yang pernah bibi lihat?" tanya Kirana malah penasaran dengan film militer yang ditonton bik Nani.


"Itu lho, Nyonya film Korea yang laki-laki tentara ganteng seperti tuan Afwa, dan yang perempuan dokter, judulnya saya lupa sudah lama nggak nonton."


"Oh film Korea yang sangat di gilai para ABG Itu?," ucap Kirana menangapi.


Sambil mengobrol, akhirnya bik Nani sudah selesai membersihkan pecahan gelas di ruang tamu, perbincangan unfaedah dengan bik Nani bisa sedikit menghiburnya.


Setelah lantai bersih, Kirana bangkit dari duduknya menuju kamar untuk mengambil ponsel. Kirana mau menelpon rekannya sesama persit yang suaminya juga di kirim ke Papua bersama Afwa.


Kirana


"Assalamualaikum, Bu Rifki."


Bu Rifki


"Waalaikumsalam, Bu Afwa ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Kirana


"Saya mau tanya, apa ibu sudah dapat kabar dari Letda Rifki tentang keadaan di Papua? soalnya sudah tiga hari ini ponsel suami saya tak bisa dihubungi dan baru saja melihat tayangan televisi tentang penyerangan kelompok bersenjata pada anggota TNI."


Bu Rifki


"Sama, Bu Afwa, suami saya juga belum bisa di hubungi, Bu Afwa jangan cemas, tetap tenang dan selalu berdoa untuk suami beserta anggota yang lain agar diberi keselamatan! selama tak ada pemberitahuan resmi dari komandan kesatuan yang bertanggung jawab disana tentang suami kita, InsyaAllah semua aman.".


Kirana


"Iya, terima kasih, Bu Rifki maaf menganggu, semoga suami kita dsn yang lain di beri keselamatan."


Bu Rifki


"Aamiin, Bu."


Kirana menutup sambungan telepon setelah selesai berbincang dengan ibu Rifki suami dari Letda Rifki, Bu Rifki yang berprofesi sebagai guru honorer itu memang selalu tampak tenang saat menghadapi masalah seperti ini, makanya Kirana merasa sangat nyaman ketika berbincang dengan Bu Rifki yang bernama asli Ainun Mahya bekerja di sebuah Sekolah Dasar. Setelah selesai menelpon, Kirana menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Isya, ya hanya doa yang bisa ia berikan untuk sang suami tercinta.


Selesai shalat dan berdzikir, Kirana bermunjat kepada Allah untuk keselamatan sang suami, karena hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk Afwa sang suami tercinta.


..."Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dosa suamiku dan orang tua kami, Ya Allah Ya Rabb Maha Mengetahui sesuatu, hamba mohon lindungilah suami hamba dan semua anggota TNI yang sedang bertugas di Papua kesehatan dan keselamatan, jagalah suamiku karena Engkaulah sebaik-baik pelindung,"...


Kirana kemudian melepas mukena lalu ke dapur untuk minum obat dan vitamin yang di resepkan dokter, segelisah apapun ia harus tetap memikirkan janin yang dikandungnya.


Entah kenapa Afwa merasa ia selalu saja merasa ada yang menjaganya secara tak kasat mata seharusnya dengan posisi saat baku tembak tadi Afwa terkena tembakan di dada namun entah kenapa seperti ada yang menariknya sehingga peluru hanya mengenai lengannya saja, dan sudah dua kali ini Afwa mengalami kejadian seperti ini.


"Anda sangat beruntung Letda Afwa peluru mengenai bagian lengan, sudah dua kali anda mendapatkan luka dengan posisi luka yang hampir sama," ucap seorang dokter militer yang ikut mendampingi pasukan TNI.


"Alhamdulillah, meski dua kali terkena tembakan saya masih bisa selamat," ucap Afwa pada dokter yang merawatnya.


"Iya, anda memang harus bersyukur banyak-banyak, doa keluarga sangat penting dalam segala situasi," ucap sang dokter menimpali.


"Bagaimana kondisi rekan saya yang lainnya, Dok?" tanya Afwa karena ia tahu ada beberapa rekannya yang terluka.


"Dua rekan anda masih di rawat intensif karena luka yang cukup parah namun yang satunya lagi dengan sangat menyesal kami tak bisa menyelamatkannya," ucap dokter itu dengan nada menyesal.


Afwa menghembuskan nafas kasar, tak menyangka bahwa salah satu rekannya akan gugur dalam tugas, meski hal seperti ini adalah sudah menjadi konsekwensi seorang prajurit namun tetap saja, Afwa merasa sangat kehilangan. Sertu Panji Widianto, sosok yang begitu bijaksana meskipun pangkatnya di bawah Afwa, namun usia Sertu Panji yang lebih tua membuat Afwa juga sangat menghormatinya. Baru kemarin Sertu Panji berbicara dengannya tentang keluarga, pengabdian bahkan menyingung tentang kematian. Tak ada yang menyangka bahwa perkataan Sertu Panji kemarin adalah sebuah pertanda namun tak ada yang menyadarinya. Sertu Panji sudah menikah dan memiliki satu istri dan satu orang putra bersusia enam tahun. Ya itulah kematian, adalah rahasia Illahi yang siapapun tak akan bisa memajukan atau memundurkannya barang sedetikpun, dan kita tak akan pernah tahu di bumi mana kita akan meninggal dan dengan cara yang bagaimana.


Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Surat Al-Lukman:34).

__ADS_1


Berita tentang baku tembak anggota TNI dan kelompok bersenjata yang mengakibatkan korban jiwa di pihak anggota TNI yang bertugas akhirnya tersiar lewat pemberitaan media masa. Kirana selaku istri Afwa juga diberitahukan secara resmi oleh pihak TNI bahwa suaminya menjadi salah satu korban baku tembak meski tak sampai meninggal dunia.


Hati Istri mana yang tak sedih mendengar hal seperti ini, meski tak parah namun sebagai seorang istri Kirana tetap saja khawatir. Yasmin dan Oma Dewi langsung menuju Semarang untuk memberikan dukungan moral pada Kirana, Nayla yang mendengar kabar tersebut juga meminta ijin pada Afwi untuk ke Semarang menjenguk


Kirana. Kali ini Afwi menyempatkan diri mengantar sang istri ke Semarang sekalian mengunjungi papa mertuanya.


"Assalamualaikum," terdengar suara salam dari luar rumah.


Kirana lah yang membukakan pintu karena bik Nani sedang di belakang menjemur pakaian.


"Waalaikumsalam, Bunda, Oma?"


"Iya, Sayang," Jawab Yasmin yang langsung mendapat pelukan dari Kirana.


Saat memeluk ibu mertuanya, Kirana tak.dapat membendung perasaannya, ia terisak sambil memeluk Yasmin.


" Kiran, ayo kita masuk dulu, tak enak dilihat orang!" ajak Yasmin sambil merangkul menantunya masuk ke dalam rumah.


Bik Nani yang baru saja menjemur pakaian terkejut melihat kedatangan Nyonya besar keluarga Dewantara.


"Nyonya, kapan datang?" tanya bik Nani sambil menyalami.Yasmin dan oma.Dewi.


"Baru saja, Bik," jawab oma Dewi.


"Bik bisa ambilkan air putih buat Kiran?" pinta Yasmin yang masih memeluk Kiran yang menangis.


"Bisa Nyah, sebentar saya ambilkan," ucap bik Nani.


Tak lama bik Nani, kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas teh hangat dan satu gelas air putih.


"Ini Nyah minumnya!"


"Terima.kasih, Bik."


"Kiran, minum.dulu ya biar tenang!" pinta Yasmin pada menantunya yang kedua matanya sudah bengkak karena terlalu banyak menangis.


""M-Mas Afwa, Bunda, hiks...hiks...."


"Sudah ya berhenti nangisnya kasihan anak di dalam kandunganmu, Afwa selamat, ia hanya sedikit terluka!" pinta Yasmin sambil membelai kepala Kirana yang tertutup jilbab instan di

__ADS_1


"Iya, Kiran Afwa.hanya terluka kecil, semua akan baik-baik saja, pada saat seperti ini ingatlah ketika kamu mengatakan siap mendampingi Afwa dalam keadaan apapun saat menghadap komandan Afwa. Hal seperti inilah yang paling membuat hati seorang persit siap.dalm kondisi apapun. Jadi istri abdi negara di bidang keamanan yang harus menjadi garda terdepan tak seindah yang di bayangkan orang di luar sana. Ada yang bilang jadi tentara enak di gajinya besar, belum tunjangan lain-lain tapi percayalah sebesar apapun gaji seorang prajurit, bahwa nyawa tak akan bisa di tukar dengan apapun karena kehidupan adalah langsung kehendak Allah, Dia lah yang menjadi penentu," ucap oma Dewi menimpali.


_______________________________________


__ADS_2