
Hampir pukul enam sore, Yasmin baru bangun dari tidurnya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tapi ia tak menemukan suaminya. Pada saat Yasmin akan turun dari ranjang terdengar pintu kamar di buka, tampaklah sosok Yudha memasuki kamar yang mereka tempati.
"Sudah bangun, Sayang?"
"Sudah, baru saja, ayah dari mana?"
"Aku dari ruang keluarga bermain dengan cucu-cucu kita."
"Kenapa nggak ngajak bunda sih?"
"Bunda, habis ashar tidur lagi dan nampak lelah, jadi ayah tak tega membangunkan."
Yasmin kemudian segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karen setelah magrib rencananya ia dan Yudha akan balik ke rumah sakit. Waktu sudah menunjukkan waktu magrib, di negara Singa itu tak seperti di tanah air, bisa lima waktu terdengar adzan di seluruh penjuru di negeri Singa tersebut mereka hanya bisa mengandalkan jam. Setelah masuk waktu magrib, Yudha dan Yasmin melaksanakan shalat magrib berjamaaah di kamar, selesai melaksanakan keewjibannya beribadah, Yudha dan Yasmin keluar kamar menuju ruang tengah di sana sudah ada Aryana dan Fahmi beserta ke empat anaknya.
"Bunda sudah cukup istirahatnya?" tanya Aryana saat melihat kedua orang tuanya menghampiri mereka.
"Sudah, Sayang, maaf ya tadi bunda malah ketiduran lama," jawab Yasmin.
"Nggak apa-apa, Bunda, justru kami akan khawatir jika Bunda kurang istirahat apalagi sampai sakit di," ucap Aryana.
"Iya terima kasih atas perhatian kalian," ucap Yasmin kemudian pandangannya beralih pada ke empat cucunya yang sedang bermain.
"Eh, cucu-cucu oma yang cantik dan tampan, sedang main apa?" sapa Yasmin lalu ikut duduk bersama cucu-cucunya di karpet bulu.
"Cedang gambal, Oma," jawab Alya mewakili saudara-saudaranya yang semuanya sedang memegang pensil warna dan menggambar abstrak di atas kertas.
"Uluh-uluh, gambar apa sih?"
"Gambal olang," Alya.
"Atu ambal teng," Arsen
"Atu ambal obot," Arnan.
"Kamu gambar apa cantik?" tanya Yasmin pada Alesya yang tak segera menjawab pertanyaannya seperti yang lain.
"Esya ambal lumah ang becal," jawab cucunya yang mirip boneka cantik ini.
"Alesya buat rumah besar untuk siapa?" tanya Yasmin lagi.
"Uat papa, mama cama Esya."
"Lho kok cuma buat papa, mama dan Esya? Arsen, Arnan dan Alya tidak di ajak tinggal di rumah besar di gambar Esya?" tanya Yasmin merasa agak aneh dengan jawaban cucu angkatnya itu.
"Acen, Anan cama Alya bial buat endili," jawab Alesya lalu meneruskan gambaranya yang berbentuk kotak-kotak bersusus tak jelas yang klaim adalah sebuah rumah besar.
Yasmin dan Yudha saling pandang, begitu juga Fahmi dan Aryana yang tak mengerti jawaban aneh Alesya. Dalam kebingungan mereka atas jawaban si kecil Alesya, art memberi tahu bahwa makan siang sudah siap. Aryana kemudian mempersilahkan kedua orang tuanya untuk makan, sedangkan ke empat bocah itu di dudukkan ke kursi khusus untuk ikut makan di meja makan.
__ADS_1
Setelah makan malam bersama, Yasmin dan Yudha kembali ke rumah sakit dengan di antar Fahmi. Sebenarnya Aryana ingin sekali ikut tapi siapa yang akan mengawasi anak-anaknya di malam hari. Setelah menempuh perjalanan welama setengah jam, membelah jalan Singapura yang masih ramai, mobil Fahmi sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung ke ruang ICU dimana Afwi masih di rawat intensif dan belum sadarkan diri. Fahmi dan Yudha menemui dokter yang menangani Afwi untuk menanyakan perkembangan kondisi Afwi, sedangkan Yasmin duduk di ruang tunggu di depan ruang ICU.
"Bagaimana perkembangan kakak ipar saya, Dok?" tanya Fahmi pada dokter paruh baya yang ber tag name Albert.
"Kondisinya menunjukkan perkembangan yang bagus, saya perkirakan kakak anda akan segera sadar. Hampir saja peluru tersebut mengenai organ vitalnya, karena itulah kami harus sangat berhati-hati dalam menanganinya. Tindakan medis yang di lakukan di Indonesia sudah benar, kami hanya tinggal menambah sedikit saja. Kakak anda orang yang kuat, saya merasakan bahwa pak Afwi memiliki semangat hidup yang tinggi, harapan kami besok pak Afwi sudah sadar sehingga bisa mempercepat prosea pemulihan," ucap dokter Albert memberi penjelasan.
"Terima kasih dokter Albert, saya yakin anda bisa menangani kakak ipar saya dengan baik, kami percayakan kak Afwi pada anda dan tim," ucap Fahmi penuh harap dan terima kasih.
Memang tak di ragukan lagi kemampuan medis Singapura dalam dunia kesehatan, makanya beberapa selebriti dan pengusaha tanah air memilih pengobatan di negeri Singa ini, meskipun biaya yang harus di keluarkan tidak sedikit. Rumah sakit ME banyak memiliki dokter-dokter ahli dalam berbagai penyakit terutama penyakit yang cukup mematikan, seperti jantung, kanker, tumor, gagal ginjal dan sejenisnya.
Selesai berkonsultasi Fahmi dan Yudha kembali ke ruang tunggu dimana Afwi di rawat.
"Apa kata dokter, Yah?" tanya Yasmin penuh harap bahwa dokter akan mengatakan hal yang baik.
"Kata dokter Afwi sudah mengalami perkembangan cukup bagus, tinggal menunggu ia sadar, dokter memprediksi kemungkinan besok Afwi sudah sadar," jawab Yudha yang membuat sang istri sedikit lega.
Ponsel Yudha berdering, Yudha segera menggambil benda pipih itu dari sakunyam. Terpampang nama Refanda disana.
Refanda
"Assalamualaikum, Om."
Yudha
"Waalaikumsalam, ada apa, Refan?"
Refanda
Yudha
"Kasih tahu saja, tidak apa-apa."
Refanda
"Baiklah kalau begitu, ehm..., bagaimana keadaan mas Afwi sekarang, Om?"
Yudha
"Alhamdulillah, sudah ada perkembangan yang bagus, tinggal tunggu Afwi sadar, mungkin dengan adanya Nayla, bisa membuat si kulkas itu mau segera bangun."
Refanda
"Iya, Om, semoga mas Afwi segera sembuh, kalau begitu salam buat tante dan keluarga mbak Aryana di Singapura, Wasaalamualaukum."
Sambungan telepon ditutup, Yudha kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku secelananya.
"Telepon dari siapa, Yah?"
__ADS_1
"Dari Refanda."
"Ada apa Refanda telepon, apa perusahaan punya masalah yang besar sampai Refan menelpon ayah?"
Yudha tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, " Perusahaan baik-baik saja, Refan hanya meminta ijin apa boleh memberitahu dimana Afwi di rawat pada pak Mahendra, papa dari Nayla."
"Ya Allah, begitu saja harus telepon ayah, kenapa nggak langsung kasih aja," ucap Yasmin tak habis pikir dengan pemikiran keponakan suaminya itu.
"Refanda sudah benar, bund, tempat Afwi di rawat tak semua orang punya akses untuk tahu," ucap Yudha memberikan penegertian pada istrinya.
"Iya juga ya, Yah, maaf bunda lupa, saking senangnya, kalau Nayla ke sini, bunda jadi punya teman untuk mengobrol sesama wanita," ucap Yasmin.
Seusai mengantar mertuanya ke rumah sakit di dan berkonsultasi dengan dokter, Fahmi ijin untuk kembali ke rumah karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, meski Fahmi pulang lebih dahulu, Fahmi menugaskan seorang supir untuk tinggal di rumah sakit agar mertuanya bisa leluasa menunggui Afwi di rumah sakit.
Malam semakin larut Yasmin sudah terlihat lelah dan mengantuk, Yudha tak tega melihat istrinya seperti ini, mau tidak mau ia harus mengajak istrinya pulang dan menyerahkan Afwi pada pihak rumah sakit, karena Fahmi memiliki saham di rumah sakit ME tersebut maka Fahmi bisa lebih mudah saat meminta sedikit bantuan dalam merawat Afwi.
"Bund, ayo kita pulang saja, aku tak tega melihat bunda seperti ini!" ajak Yudha pada Yasmin yang sudah terpejam di pundaknya.
Yasmin mengerjab-ngerjabkan matanya, ia berusaha untuk memulihkan kesadaranya.
"Tadi ayah bilang apa?" tanyanya.
"Ayo kita pulang saja, ayah nggak tega lihat bunda tidur di rumah sakit, usia kita tak muda lagi, harus pandai-pandai jaga kesehatan!"
"Tapi Afwi bagaimana? siapa yang akan jagain dia? kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Semua sudah di urua oleh Fahmi, jadi bunda jangan khawatir!"
Mendengar penjelasan dan bujukkkan dari suaminya akhirnya Yasmin bersedia pulang ke rumah untuk beristirahat.
.
.
Keesokan harinya seorang gadis cantik melangkahkan kakinya di rumah sakit ME, ia bertanya pada resepsionis tentang letak ruang ICU dan pasien bernama Afwi.
Ya, gadis tersebut adalah Nayla, ia berangkat sendiri ke Singapura, pak Mahendra tak bisa mengantar karena ada tugas pengaman karena ada kunjungan para pejabat militer dari pusat, dan untungnya Nayla tak mempermasalahkan itu, karena Nayla jufa tak ingin merepotkan siapapun.
Nayla sudah sampai di ruang ICU, tapi belum jam besuk, jam besuk pasien masih jam setengah sepuluh sampai jam sebelas siangz sedangkan Nayla sampai di rumah sakit ME jam setengah sembilan pagi. Sambil menunggu jam besuk ruang ICU tiba, Nayla memainkn ponselnya, ia memberi kabar pada papanya, Nayla juga menghubungi Dio untuk memantau bisnis lumpianya. Saat Nayla masih sibuk dengan ponselnya, sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
"Nayla."
_________________________________________
Maaf baru up, meski tak enak badan beberapa hari, author usahakan tetap menulis meski upnya lama.
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You