Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 183. Ingin Membantu


__ADS_3

Selesai mengepak semua barang-barangnya ke koper, Kirana mengambil tas kecilnya. Afwa menyeret koper sambil tangan kirinya di gandeng mesra oleh istrinya. Hari ini mereka akan pulang bulan madu, sepasang pengantin baru itu akan langsung menuju rumah besar Yudha di kota K. Setelah perjalanan sekitar satu jam menaiki pesawat komersial namun dengan kelas eksekutif mereka sampai di bandara kota K, di sana mereka sudah di jemput supir keluarga.


Akhirnya di sinilah mereka sekarang, sampai di rumah keluarga Afwa, Yudha dan Yasmin sangat antusias menyambut anak dan menantunya.


"Assalamualaikum," ucap Afwa dan Kirana bersamaan saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Yasmin yang berada di ruang tamu.


"Bunda, apa kabar?" tanya Kirana yang lebih dulu menyapa ibu mertuanya.


"Alhamdulillah kabar bunda baik, bagaimana bulan madunya? dah berhasil buat cucu untuk bunda?" tanya Yasmin sedikit menggoda anak dan menantunya.


Kirana yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung wajahnya bersemu merah ia benar-benar malu dengan pertanyaan sahabat ibunya yang sekarang berubah status menjadi ibu mertuanya.


"Bunda..., jangan menggoda istriku begitu, tuh lihat wajahnya sudah merah!" ucap Afwa sambil menghampiri Kirana berdiri.


"Kirana ini sudah menikah dan kenal lama masih saja malu-malu begitu, bunda suka menggoda pengantin baru, ah bunda pingin jadi pengantin baru lagi," ucap Yasmin sambil tersenyum bahagia.


"Apa! Oh jadi bunda pingin jadi pengantin baru dan nikah lagi begitu?" pekik Yudha yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Eh bukan begitu, ayah, suka gagap paham deh kalau mikir," sangkal Yasmin.


"Terus tadi apa maksudnya jadi pingin seperti pengantin baru?" tanya Yudha kesal dan tentu saja hal itu membuat Afwa dan Kirana terkikik geli.


"Ya bunda bilang begitu hanya bercanda saja sama anak-anak."


"Tapi bercandanya nggak lucu, meski aku sudah kepala lima aku masih ganteng dan hot nggak kalah Afwa."


"Iya-iya percaya, ayah memang selalu hot, jangan salah paham lagi di hati bunda hanya ada ayah seorang," ucap Yasmin sambil bergelayut manja di lengan suaminya tak mempedulikan pasangan pengantin baru yang menatap aneh pada Yudha dan Yasmin.


"Ayah, Bunda, kalau mau bucin jangan disini!" ucap Afwa pura-pura kesal, padahal ia sangat senang orang tuanya masih saja bucin meski sudah berusia lanjut bahkan sudah memiliki cucu.


"Ah jadi lupa kalau ada menantu di sini, ayo masuk kalian pasti lelah, maafkan ayah ya, masih suka merajuk padahal kalau di perusahaan garangnya minta ampun," ucap Yasmin lalu mengandenga sang suami masuk ke ruang tengah diikuti Afwa dan Kirana.


Yasmin menyuruh Afwa dan Kirana untuk masuk ke kamar terlebih dahulu, sedangkan Yasmin mengajak sang suami ke taman belakang untuk bersantai.


Di dalam kamar, Kirana membuka koper dan mulai membereskan barang-barangnya, ia memilah-milah oleh-oleh yang akan di berikan pada keluarganya maupun keluarga Afwa.


"Kak kira-kira ayah, bunda dan Azka suka nggak ya sama oleh-oleh yang kita kasih?" tanya Kirana sambil memisahkan oleh-oleh ke dalam paper bag.


"Mereka pasti suka, Sayang, kamu katanya sudah mengeti karakter keluargaku, kenapa masih ragu begitu?"


"Tapi kan aku kasih sesuatu buat keluarga saat sudah berubah status menjadi istri kakak."

__ADS_1


"Sudahlah nggak usah inscure gitu ah, percaya deh keluargaku pasti suka sama pemberian kita, yuk keluar!, tadi bibi kasih tahu kalau kita ditunggu makan siang sama ayah dan bunda!"


"Ayo!"


Afwa dan Kirana kemudian keluar dari kamar menuju ruang makan, tak lupa Kirana membwawa sekalian oleh-oleh dari Bali yang akan ia berikan pada Yudha, Yasmin dan Azka. Sampai di ruang makan, Yasmin menyambut mereka dengan senyuman yang hangat. Azka yang baru pulang dari rumah temannya pun juga sudah ikut bergabung di meja makan.


Setelah makan siang, mereka duduk bersantai di ruang tengah, Kiran dengan sangat hati-hati menyerahkan oleh-oleh dari Bali pada mertua dan adik iparnya.


"Ayah, Bunda, ini ada sedikit oleh-oleh dari Bali dan maaf kalau tidak sesuai selera ayah bunda dan ini juga ada buat dek Azka," ucap Kirana sambil menyerahkan dua paper bag ke Yasmin dan satu paper bag pada Azka.


"Waaahhh...aku dapat oleh-oleh juga, akhirnya ada yang perduli padaku," ucap Azka girang tanpa tau ia mendapat lirikan tajam dari Afwa.,",


"Terima kasih, Kirana, kamu seharusnya nggak udah repot-repot begini, kamu fokus saja sama honeymoon kamu, tapi ayah dan bunda suka kok sama oleh-olehnya," ucap Yasmin sambil tersenyum manis pada Kirana.


Bagi Yasmin dan Yudha, bukan harga dari oleh-oleh yang dibeli tapi sebuah bhakti dan Afwa dan Kirana untuk menyenangkan hati orang tua.


"Wah...ini kaos limited edition, keren abis, makasih lho kakak ipar," ucap Azka sambil merentangkan kaos oleh-oleh pemberian sang kakak.


"Hanya sama istriku saja makasihnya, aku nggak? yang dipakai beli adalah uang aku lho," ucap Afwa protes karena merasa sang adik hanya memuji Kirana, Yudha dan Yasmin geleng-geleng kepala melihat kejahilan Azka.


"Iya, Dek, uang yang dipakai buat beli oleh-oleh itu uang Kak Afwa, aku hanya bantu memilih barangnya saja, Alhamdulillah kalau kamu suka," ucap Kirana menengahi pembicaraan Afwa dan Azka.


"Kamu memang menantu yang baik, Kiran, bunda bangga jadi mertua kamu, dan bunda yakin bahwa Dinda pasti sudah mendidik kamu dengan baik," ucap Yasmin.


Mendengar penuturan istrinya, bibir Afwa menyungingkan senyuman, ia merasa bangga dan bahagia bisa menikah dengan gadis teman masa kecilnya yang ternyata begitu perngertian dan penuh perhatian dan secara refleks, Afwa mencium pipi Kirana yang duduk di sampingnya. Tentu saja hal itu membuat Azka langsung menutup matanya kemudian melayangkan protes pada sang kakak yang tak tau tempat menunjukkan kemesraan.


"Woi! Kak, jangan gitu dong, ini masih anak di bawah umur, main nyosor aja, membuat mataku ternoda!" protes Azka sambil menunjukkan kekesalannya.


"Biarin, udah sah juga," ucap Afwa tanpa dosa.


"Tapi tau tempat dong, Kak, tak kasihankah kau padaku, kalau aku pingin gimana?"


"Heleh, tadi aja bilang di bawah umur, sekarang ngomong kepingin, dasar nggak konsisten."


"Sudahlah, kalian ini benar-benar ya, kalau nggak ada aja nanyain melulu, giliran sudah ketemu malah ribut!, maaf ya Kiran beginilah kalau kakak adik pada ngumpul, ini belum ketambahan Afwi dan Aryana," ucap Yasmin sedangkan Yudha hanya tersenyum tipis melihat adegan di depannya itu.


"Ehmm, bunda, sampai dimana persiapan pernikahan Afwi dan Nayla?" tanya Kirana mengalihkan pembicaraan Azka tentang sikap absurd suaminya.


"Persiapan pernikahan Afwa sudah hampir selesai, kalau dari keluarga kita semua sudah ready, Sayang, semua sudah di urus oleh orang-orangnya ayah, jadi besok hari Kamis kita tinggal berangkat saja ke Semarang."


"Oh gitu ya, Bunda, padahal aku pingin bantu lho di pernikahan Afwi," ucap Kirana sedikit kecewa tak bisa membantu banyak di pernikahan Afwi karena memang Yudha sudah menyerahkan semuanya pada orang-orang kepercayaannya.


"Nggak usah sedih gitu, Kiran, kamu nanti di hari H juga pasti akan kebagian kerjaan membantu pernikahan Afwi," hibur Yasmin.

__ADS_1


"Pekerjaan apa itu, Bunda?" tanya Kirana penasaran.


"Ada deh nanti, tenang aja pekerjaannya nggak berat, lihat sikonnya nanti," jawabYasmin sambil tersenyum.


Pembicaraan Kirana dan keluarga Afwa yang sudah ia kenal lama bergulir dengan penuh kehangatan. Kirana sungguh bahagia akhirnya bisa menjadi bagian dari keluarga Dewantara, keluarga yang menjadi sahabat ibu dan ayahnya.


.


.


Di kota Semarang, tepatnya di rumah Kombes Mahendra terlihat semakin sibuk, meskipun resepsi pernikahan diadakan di gedung, namun rumah Kombes Mahendra juga di pasangi tenda pernikahan dan juga di hias dengan bermacam-macam bunga. Rencananya pada hari Jumat akan diadakan acara pengajian yang juga mengundang anak-anak panti asuhan pimpinan bunda Nana. Hari Sabtu malam minggu akan di adakan acara midodareni dan puncaknya adalah Minggu pagi pukul delapan akan di langsungkan acara ijab qobul dilanjutkan pukul sepuluh adalah resepsi pernikahan.


Waktu terus berjalan tibalah hari bahgian Afwa dan Nayla, Minggu pukul delapan pagi bertempat di rumah Kombes Mahendra Ijab qobul akan segera dilangsungkan. Keluarga Afwi sudah hadir sejak pukul setengah delapan pagi. Semua keluarga Yudha dan Yasmin sudah tiba di Semarang sejak Kamis sore, namun Aryana dan keluarganya baru tiba di Semarang Jumat sore karena masih ada meeting penting yang harus di hadiri Fahmi di Singapura.


"Afwi kau kenapa gelisah begitu?" tanya Afwa saat melihat adik kembarnya dari tadi.tak bisa diam.


"Aku gugup, Kak, kok jadi gini amat ya mau nikah," jawab Afwi yang duduk sambil menyatukan jari jemarinya.


"Santai aja, dibawa enak saja, anggap saja kau akan menemui tersangka dan mengintrogasinya, ha...ha...," ucap Afwa sambil bercanda agar sang adik tak tegang.


"Iya, benar kata Afwa, di bawa enak aja, masa polisi yang terkenal tegas dan berwibawa, jadi nervous gara-gara mau ngucap ijab qobul, nggak lucu ah," ucap Fahmi ikut menimpali.


"Huh, memang kalian dulu tidak.nervous apa waktu mau mengucap ijab qobul?" tanya Afwi sengit karena Afwa dan Fahmi terkesan mengejeknya.


"Nervous sih iya, tapi nggak sampai pucat kaya kamu gitu, nih minum teh manis dulu biar tenang!" ucap Afwa lalu menyodorkan satu gelas teh manis hangat pada Afwi.


Satu gelas teh itu akhirnya langsung habis di minum oleh Afwi, mungkin karena efek nervousnya itu ia sampai mengahabiskan satu gelas teh.


Tak lama kemudian Yudha memanggil Afwi agar segera ke meja ijab qobul karena penghulu sudah siap.


"Afwi ayo, pak penghulu sudah siap!" ajak sang ayah.


"Ayah, sebentar lagi ya, aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Afwa lalu langsung melengang pergi.


"Afwa, adikmu kenapa itu, mau ijab qobul kok seperti ketakutan gitu?" tanya Yudha.


"Afwi nervous, ayah," jawab Afwa dan Fahmi bersamaan.


"What!"


____________________________________________


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2