Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 45


__ADS_3

Tiga bulan setelah pertemuan Fahmi dan Aryana yang tidak disengaja itu, Fahmi dan Aryana akan bertunangan terlebih dahulu. Sebenarnya dari pihak Aryana mengusulkan setelah Aryana lulus SMA dulu tetapi Fahmi bersikeras untuk bertunangan sebelum Aryana lulus. Akhirnya dengan berat hati Yudha dan Yasmin mengijinkan Fahmi bertunangan dulu dengan Aryana. Pesta pertunangan diadakan sederhana saja di villa Yudha yang ada di Bandung dan acara tersebut digelar secara tertutup hanya di hadiri keluarga dekat dari kedua belah pihak dan pengurus RT setempat. Acara pertunangan diadakan setelah Aryana mengikuti ulangan semester satu, agar sang kakak Afwa yang berada di asrama bisa menghadiri moment bahagianya.


Malam ini Aryana terlihat sangat cantik dengan balutan gaun malam panjang yang tertutup warna silver, rambutnya ditata menyamping dengan hiasan bunga sederhana. Ya, Aryana belum siap berhijab seperti sang bunda, ia ingin menata hatinya terlebih dahulu dan Yasmin tak memaksakan itu, namun ia pun tak jemu mengingatkan sang putri tentang hijabnya.


"Ana, kamu sangat cantik malam ini, Om Fahmi pasti akan pingsan lihat kamu," puji sang bunda.


"Ah, bunda bisa aja," ucap Aryana malu-malu.


"Bener, lho Say kamu cantik pakai banget," ucap tante Mitha menimpali.


"Bund, maminya Om Fahmi datang nggak?" tanya Aryana sedikit takut.


"Ya hadir lah sayang, masa hari pertunangan anaknya nggak datang," jawab Yasmin.


"Ehmm, tapi Aryana masih takut bunda," ucap Aryana dengan raut muka sedikit takut dan menahan gugup.


"Tenanglah, tante Miranda sudah berubah, ayo hilangkan semua ketakutanmu, percayalah semua akan baik-baik saja," ucap Yasmin sambil mengelus lengan putrinya yang tertutup gaun malamnya.


Aryana berjalan diapit sang bunda dan tantenya Mitha menuju ruang tengah yang sudah disulap menjadi aula kecil untuk acara pertunangan. Semua mata tertuju pada tiga wanita beda generasi itu. Terutama Fahmi dia hampir tak berkedip melihat penampilan Aryana yang tampak cantik, anggun dan lebih dewasa dari umur yang sebenarnya.


"Woi, jaga pandanganmu pak dokter!" ucap Dika menggoda Fahmi sambil meletakkan telapak tangannya kedepan muka Fahmi.


"Ishh, apaan sih, calon istri gue juga, syirik aja sih Om," ucap Fahmi sambil menepis tangan Dika yang menghalangi pandangannya.


"Eh, apa pak dokter tadi bilang, Om?" tanya Dika tak terima.


"Lalu aku harus panggil kamu apa, kakak, mas atau kakek?" ucap Fahmi yang balik bertanya.


"Mas aja lah, kan kita umurnya hampir sama," jawab Dika.


"Nggak bisa dong, kan kamu kakaknya Yasmin jadi kalau aku nikah sama Aryana aku bukan panggil kamu Om tapi pakde, ya kan?" ucap Fahmi dengan masih tetap memperhatikan Aryana.


Perdebatan Fahmi dan Dika pun berakhir ketika MC sudah memulai memegang mike dan berbicara untuk memulai acaranya.


Acara pertama sambutan dari Yudha selaku tuan rumah, dilanjut ketua RT setempat kemudian masuk ke acara inti pertunangan. Fahmi maju ke depan di dampingi kakak angkatnya Rendy sedangkan Aryana di dampingi oleh tantenya yaitu Mitha. Mitha membimbing Fahmi dan Aryana saat akan saling bertukar cicin. Fahmi dengan pandangan penuh cinta menyematkan cicin bertatahkan berlian ke jari manis Aryana, kemudian berganti Aryana menyematkan cincin di jari manis Fahmi, secara reflek Fahmi langsung mecium kening Aryana setelah Aryana selesai menyematkan cicin di jari manis Fahmi. Sontak hal ini membuat Yasmin, Rendy dan semua tamu yang hadir terkejut.


"Wo pak dokter belum halal main nyosor ponakanku aja!" seloroh Dika yang tak bisa megerem mulutnya dan karena tindakannya itu Siska sang istri mendaratkan cubitan padanya.


"Mas, Dika bisa diem nggak sih, malu-maluin aja!" ucap Siska kesal bercampur malu, sedangkan tamu yang lain terkekeh, ada juga yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Dasar anak muda, sukanya nggak sabaran, semoga aja nggak kredit duluan," seloroh pak RT.

__ADS_1


"Kredit apa ya pak RT, masa orang kaya beli barang kredit?" tanya pak Ujang selaku pak wakil RT menemani pak RT.


"Kredit bayi," jawab pak RT asal.


Pak Ujang yang mendengar jawaban pak RT, bingung sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Fahmi yang menjadi salah satu tokoh utama hanya bersikap biasa saja dengan tindakan spontan yang dilakukannya, berbeda dengan Aryana sudah bak kepiting rebus.


"Om, Fahmi kenapa pakai acara nyium kening sih, kan jadi malu," bisik Aryana.


"Habisnya kamu cantik, gemesin, jadi pingin halalin kamu sekarang," bisik Fahmi.


Mitha yang melihat adegan bisik berbisik itu berdehem.


"Ehemm, ayo ritual tukar cincinya sudah, sekarang kalian salami orang tua kalian berdua!" pinta tante Mitha.


Fahmi dan Aryana segera mendekat pada kedua orang tua mereka yang memang duduk di kursi bersebelahan. Fahmi menyalami dan memeluk papi dan maminya nya penuh haru seraya memohon restu.


"Pi, Mi, doakan Fahmi semoga, aku dan Aryana bisa sampai ke jenjang pernikahan tanpa halangan apapun lagi, dan maaf kalau Fahmi banyak salah sama papi dan mami," ucap Fahmi.


"Papi dan mami selalu mendoakan yang terbaik buat kamu, mami dan papi juga minta maaf sama kamu, kami selaku orang tua kamu juga banyak salah," ucap mami Miranda lalu memeluk sang putra.


"Sayang, ayo giliranmu, jangan takut!" pinta Fahmi.


Saat Aryana sudah di depan kedua orang tua Fahmi, mami Miranda langsung memeluk Aryana.


"Maafkan, tante Aryana, tante sudah berbuat baik tidak baik padamu tapi kamu malah mau menolong tante dengan mengorbankan keselamatanmu," ucap mami Miranda dengan posisi masih memeluk Aryana.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan tante, semua yang terjadi sudah kehendak Allah," ucap Aryana setelah mengurai pelukannya.


"Jangan panggil tante, sayang, panggil mami saja sama dengan Fahmi, ya kan Pi," ucap mai Miranda.


"Iya, Nak, mulai sekarang anggap kami seperti orang tuamu sendiri," ucap tuan Pratama.


Setelah mendapatkan perlakuan hangat dan doa restu dari kedua orang tua Fahmi, Arysna dan Fahmi beralih ke Yudha dan Yasmin. Melihat sang ayah, Aryana langsung memeluk ayahnya sambil menetaskan air mata.


"Ayah..., maaf Aryana sudah banyak membuat ayah sedih, kecewa dan marah juga sering menyusahkan," ucap Aryana.


Perlahan Yudha melepaskan pelukan Aryana, ia mengusap air mata di wajah cantik sang putri.


"Jangan menanggis, sayang nanti cantiknya hilang, kamu putri kebangaan ayah yang hebat, kamu kuat, kamu sama sekali tidak pernah menyusahkan ayah, kamu bidadari kedua ayah setelah bunda, berbahagialah Nak, meski ayah tak selalu bisa disisimu karena profesi ayah sebagai seorang prajurit tetapi dimanapun ayah berada, doa terbaik selalu ayah panjatkan untuk kebahagiaan semua anak-anak ayah juga bunda," ucap Yudha sambil tersenyum tulus.

__ADS_1


Kemudian Aryana beralih memeluk sang bunda, tak banyak yang Yasmin katakan, ia mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Yudha sang suami.


Sekarang giliran Fahmi yang berhadapan dengan Yudha, Fahmi merasa aneh ketika harus meminta doa restu dari calon mertuanya yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua darinya. Yudha hanya memandang seksama pria yang akan menjadi suami putri kesayangannya.


"Yudha, aku tak tahu aku harus memanggilmu apa, kalau hanya nama rasanya tak pantas, pakai pak kok rasanya aneh, kalau ayah lebih menggelikan lagi," ucap Fahmi yang membuat calon mertuanya ini menghembuskan nafas kasar.


"Terserah kau saja, yang penting buat putriku bahagia, seujung rambut saja kau sakit dia atau perasaannya aku bom kepalamu!" ucap Yudha penuh intimidasi dan ancaman.


"Siap komandan!" ucap Fahmi sambil mengankat tangan kanannya menempelkan ke pelipisnya tanda hormat.


Kemudian Fahmi bergeer ke depan Yasmin, wanita yang sempat mengisi hatinya di masa lalu dan di masa sekarang wanita itu akan menjadi ibu mertuanya, sungguh takdir yang aneh dan lucu.


"Yasmin, aku tak tahu harus memanggilmu dengan sebutan apa, takdir memang begitu aneh hingga kita harus diposisi seperti ini," ucap Fahmi.


"Panggil aku seperti biasa saja, kalau pakai embel embel pangilan malah aku merasa aneh!" pinta Yasmin.


"Ya baiklah jika itu maumu, tapi kamu merestui kami kan?" tanya Fahmi.


"Dasar pak dokter bodoh, kalau aku tak merestui buat apa kami mau mengelar acara pertunganmu dan Aryana, itupun karena kamu yang merengek seperti bayi ingin mempercepat acara tunagannya," ucap Yasmin


Mendengar perkataan Yasmin, Yudha dan Aryana terkekeh sedangkan Fahmi pasang muka cemberut karena Yasmin membuka sedikit kartunya.


"Iya, iya aku yang maksa buat mempercepat acara pertunangan kami, tapi itu semua aku lakukan karena aku benar-benar mencintai putri kalian dan takut kalian bawa kabur lagi seperti dulu," ucap Fahmi.


"Sudahlah lah Om jangan kesal begitu, Om ini mau minta doa restu dari ayah bunda atau berdebat, aku nggak tanggung jawab ya Om kalau kita nggak jadi me--," ucap Aryana terpotong karena jari telinjuk Fahmi sudah mendarat di bibirnya.


"Sayang jangan pernah katakan kalimat seperti itu lagi, oke?, kata adalah doa, aku takut ada malaikat lewat dan mengaminkannya!' ucap Fahmi lembut pada Aryana meski ada nada sedikit marah.


"Maaf..., Om," lirih Aryana.


Mendengar perkataan permintaan maaf Aryana membuat Fahmi tersenyum lalu membelai kepala Aryana penuh sayang, dan pemandangan tersebut membuat dua cowok kembar dengam wajah tampan paripurna yang berdiri tak jauh dari ayah bunda mereka memutar mata jengah, entah kata-kata aneh apa yang akan meluncur dari mulut calon adik ipar mereka yang berusia hampir sama dengan sang bunda meminta doa dari mereka sebagai seorang kakak.


__________________________________________


Maaf ya readers kalau up nya seringnya malam soalnya kalau nulis draftnya siang banyak sekali gangguan jadi kadang sering stuck ide.


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2