Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 155


__ADS_3

Afwi memilih pulang, ia tak ingin lembur lagi, berita hari ini cukup membuatnya sakit kepala, namun Afwi tak langsung pulang, ia mampir ke Aryana Hotel and Resto, ia ingin melihat resto sebentar barangkali lumpia buatan Nayla masih ada sekalian mengecek penjualan lumpia sang kekasih.


"Apa lumpia mbak Nayla masih?" tanya Afwi pada salah satu pelayan resto.


"Masih lima pak," jawab pelayan resto tersebut.


"Bungkus semua untukku!" pinta Afwi


"Baik, Pak, apa masih ada makanan yang anda inginkan?"


"Berikan aku red velvet lima potong!"


"Baik, tunggu sebentar?"


Setelah mendapatkan makanan yang ia inginkan, Afwi segera meninggalkan Aryana resto, Afwi berharap dengan makan lumpia buatan Nayla bisa mengobati rasa rindunya pada sang kekasih. Sampai di rumah ia langsung membersihkan diri, setelah itu ia menyeduh secangkir teh untuk menemaninya makan lumpia dan red velvet yang barusan ia beli.


"Andai kamu ada di sini, Dek, pasti semuanya akan lebih nikmat," gumam Afwi dalam hati sambil memakan lumpia buatan Nayla.


Keesokan harinya Afwi sudah berada di ruangan komandan Ardan untuk bertemu dengan pengusaha dan putrinya yang menjadi satu-satunya saksi kunci pembunuhan seorang pengusaha batu bara. Tak lama pintu ruangan sang komandan di buka oleh seseorang yang ternyata adalah sang pengusaha dan putrinya yang dinantikan kedatangannya.


"Selamat pagi komandan Ardan!" ucap sang pengusaha yang bernama tuan Adiguna Wijaya


"Selamat pagi pak Adi, silahkan duduk!" ucap komandan Ardan.


"Terima kasih, pak Ardan," ucap pak Adiguna.


"Oh ya pak Adi saya ingin menyampaikan bahwa untuk penjagaan saksi untuk putri anda yang kemarin di pegang oleh Ipda Priyadi akan digantikan oleh Ipda Afwi karena Ipda Priyadi akan saya beri tugas yang lain," ucap komandan Ardan sambil menunjuk Afwi yang duduk di sebelahnya.


"Saya tidak masalah pak Ardan, yang penting keselamatan nyawa putri saya terjamin, saya percaya pada pilihan anda," ucap pak Adi sambil tersenyum, ia juga diam-diam memindai pria muda berseragam polisi dengan tubuh atletis dan wajah ganteng paripurna, sang putri yang sedari tadi duduk di sebelah papanya itupun juga tak berhenti mengulas senyum tipis ketika mendapati pemandangan menyejukkan mata yang di depannya.


"Baiklah kalau begitu, Ipda Afwi sekarang perkenalkan dirimu dan sistem keamanan seperti apa yang akan kau terapkan untuk menjaga putri pak Adi!" pinta komandan Ardan.


"Siap!, perkenalkan nama saya Ipda Afwi Shakta Yudhatama, saya yang akan mengambil alih tugas Ipda Priyadi Kurniawan untuk menjaga nona Medina Aggelina Wijaya. Saya di sini saya akan menjaga nona Medina namun dalam hal ini saya tidak bekerja sendiri, saya punya tim untuk bertugas di lapangan, ada tiga anggota yang akan saya tugaskan menjaga nona Medina. Dua anggota laki-laki akan menyamar sebagai satpam dan tukang kebun, dan satu polwan akan menjadi art, sedangkan saya akan menjadi sopir, namun posisi saya juga akan kondisional, karena pada, situasi tertentu saya bisa bertukar posisi dengan tiga anggota saya. Selain itu saya memerlukan beberapa alat untuk menunjang tugas saya, daftarnya akan saya kirim pada pak Adi," ucap Afwi memberi penjelasan tentang taktik dan strategi yang akan ia gunakan.


"Ya saya mengerti, semuanya saya serahkan pada Ipda Afwi, tapi ngomong-ngomong anda belum berkenalan dengan putri saya, ayo Dina kamu harus kenalan dulu dengan Ipda Afwi meskipun Ipda Afwi sudah tahu semua informasi tentangmu!" pinta Pak Adi pada putrinya, sedangkan Medina terlihat malu-malu, sungguh pemandangan yang membuat Afwi jengah, namun ia hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Saya Medina Ipda Afwi, senang bertemu dengan anda," ucap Medina.


"Ya, saya mohon kerjasama yang baik dari nona Medina, dan tentang keberadaan kami di sekitar anda jangan sampai ada yang tahu, sekalipun itu keluarga anda sendiri karena kita tidak pernah tahu musuh akan menyerang dari sisi mana dan nama kami akan berganti saat kami bertugas," ucap Afwi pada pak Adi dan Medina dengan nada datar, juga terlihat sekali bahwa Afwi sangat tidak tertarik dengan Medina yang terbilang sangat cantik dan menarik untuk ukuran anak orang kaya.


"Lalu kapan Ipda Afwi dan tim akan mulai bertugas?" tanya pak Adi.

__ADS_1


"Ipda Afwi dan tim akan bertugas mulai hari ini," jawab komandan Ardan.


Mendengar jawaban komandan Ardan, Pak Adi dan Medina tersenyum sumringah, meskipun pembawaan Afwi dingin dan datar namun tak mengurangi kadar ketampanan dan kewibaan yang menghipnotis pak Adi juga Medina.


"Baiklah, pak Adi, nona medina, saya akan mempersiapkan tim saya untuk ikut anda pulang hari ini, agenda kami hari ini adalah mengecek semua semua bagian rumah anda dan juga semua alat yang sudah di pasang ipda Priyadi masih berfungsi dengan baik, jika ada kerusakan kami bisa segera memperbaikinya dan jika ada kurang maka kami akan menambahnya," ucap Afwi.


"Baik, dengan senang hati kami akan mengantar ipda Afwi dan tim untuk ke rumah saya," ucap pak Adi.


Setelah menganti seragamnya dengan pakaian biasa, Afwi ikut pak Adi ke rumahnya sedangkan tiga anggota lain menyusul di belakang dengan menggunakan sepeda motor dan pakaian bisa. Briptu Samsul dan Briptu Denis tertawa ketika melihat Briptu Kikan memakai pakaian bisa yang sangat sederhana terlihat sangat aneh, biasan Kikan selalu tampial wow dengan seragam yang menempel di tubuhnya dan meskipun Kikan memakai pakaian casual ia akan tetap menjaga penampilan agar tetap wow, namun sialnya tugas menyamar menjadi art di jatuhkan Ipda Afwi padanya. Semua costum penyamaran Afwi sendiri yang memilihkan jadi para anggotanya tak akan berani menolak. Untung saja Kikan sedikit bisa memasak dan tahu peralatan dapur.


Tak berapa lama Afwi sudah sampai di rumah Adiguna bersama timnya, namun mereka tak datang secara bersamaan untuk menghindari kecurigaan orang-orang suruhan penjahat yang mengincar Medina. Saat masuk ke dalam rumah Afwi dan timnya mulai memeriksa seluruh penjuru rumah. Afwi juga memeriksa semua CCTV dan hiden camera yang sebelumnya sudah di pasang Ipda Priyadi.


"Samsul, Denis, kalian siapkan tiga CCTV lagi dan dua hidden camera!" perintah Afwi.


"Siap!" ucap Samsul dan Denis.


"Saat kita dalam penyamaran jangan bersikap formal, bersikap biasa saja panggil namaku saja tak usah pakai embel-embel pangkat karena kita dalam penyamaran!" pinta Afwi yang diangguki oleh dua anggotanya itu.


"Jangan lupa kasih tahu Kikan! sambung Afwi.


Afwi di bantu Samsul dan Denis memasang semua peralatan sedangkan Kikan sedang membenahi laptop yang akan dipakai untuk kontrol.semua CCTV dan hidden camera. Tanpa mereka sadari pak Adi dan Medina melihat cara kerja empat anggota polisi itu dengan tersenyum.


"Mereka cekatan ya pa, lebih muda juga daripada polisi yang kemarin, apalagi Ipda Afwi ganteng banget pa," ucap Medina dengan tatapan penuh puja melihat Afwi yang sedang bertugas.


"Tapi laki-laki seperti itu justru menantang, Pa, bahkan Ipda Afwi tak tertarik melihatku padahal papa kan tahu setiap aku menemani papa jamuan dengan para pengusaha, banyak yang berusaha mendekatiku. Mungkin jika kasus ini sudah selesai, papa bisa menawarkan Ipda Afwi untul bekerja di perusahaan kita dari pada jadi polisi dengan gaji yang nggak seberapa yang di hadapi bahaya terus," ucap Medina mengusulkan posisi untuk Afwi.


"Bagus juga idemu, sekalian saja papa jadikan ia mantu papa," ucap pak Adiguna yang di balas senyuman malu-malu dari sang putri.


Melihat Afwi dan teman-teman seprofesinya selesai memeriksa rumah dan memasang beberapa alat, Medina membuatkan minum untuk Afwi dan teman-temannya.


"Ipda Afwi dan semuanya silahkan di minum, kalian pasti lelah!" ucap Medina sambil menyguhkan minuman di ruang tamu.


"Terima kasih nona medina," ucap Afwi mewakili rekan-rekannya.


"Sama-sama Ipda Afwi," ucap Medina sambil pasang senyum manis berharap sang polisi ganteng di depannya kepincut olehnya, namun sayang, hati Afwi sudah harga mati hanya untuk Nayla seorang.


"Nona Medina, saya minta mulai sekarang anda memanggil kami dengan nama saja, jangan sertakan kepangkatan kami karena kami sedang dalam penyamaran!" pinta Afwi.


"Baikah tidak masalah, aku justru senang dengan panggilan nama saja, kita bisa jadi lebih akrab, kalau begita saya panggil mas Afwi saja, begitu juga dengan teman mas yang lain dan untuk polisi yang perempuan aku panggil mbak saja, bagimana?"


"Mas dan mbak juga nggak apa-apa nona," sahut Briptu Samsul

__ADS_1


"Kalau boleh tahu dimana nona akan menemptkan anggota di kami untuk beristirahat?" tanya Afwi.


"Oh ya maaf sampai lupa, mari saya antar!" ucap Medina kemudian mengantar Afwi dan teman-temannya ke kamar.


"Yang ini untuk mas Afwi dan yang ini untuk mas Samsul dan mas Denis sedangkan untuk mbak Kikan ada di kamar dekat dapur," ucap Medina.


Kikan yang mendapat kamar agak jauh dari teman-temannya hanya bisa merengut tak terima tapi ia bisa apa.


"Ehm, sebaiknya nama Kikan di ganti saja, nama Kikan terlalu mencolok untuk nama seorang pembantu," ucap Afwi yang membuat Kikan melotot tak percaya.


"Memang nama saya mau di ganti apa pak?" tanya Kikan.


"Nama samaran kamu Inah, dan Samsul nama kamu menjadi Samino, dan kamu Denis, nama kamu menjadi Diman, sedangkan saya menjadi Anan, ucap Afwi enteng tanpa dosa sedangkan tiga anggota yang diberi nama baru yang terdengar sangat udik itu mencebik kesal, tapi mereka tak bisa menawarnya jika Afwi sudah memerintah.


"Sekarang kalian istirahat namun ingat tetap waspada, pasang telinga kalian baik-baik, jangan remehkan pergerakan yang mencurigakan sekecil apapun!" titah Afwi pada ketiga anggotannya.


"Siap!" jawab ketiga anggotanya.


Seusai menerima arahan dari Afwi, ketiga anggota polisi tersebut masuk ke kamar mereka masing-masing karena hari sudah larut, sedangkan Afwi juga akan memasuki kamarnya, namun sebelum masuk kamar, Afwi memberikan sesuatu pada Medina.


"Nona Medina pakailah ini!" pinta Afwi sambil menyerahkan sebuah kalung berbandul liontin warna merah.


"Apa ini mas Afwi?" tanya Medina keheranan meskipun hatinya sudah berbunga-bunga.


"Itu adalah kalung yang di dalamnya terdapat alat pelacak otomatis, ketika kamu dalam bahaya kalung itu akan menyala dengan sendirinya," ucap Afwi membuat Medina makin terpesona oleh soaok Afwi.


"Oh terima kasih, kalungnya sangat bagus, tapi bagaimana jika aku mandi, apa tidak akan rusak alatnya?" tanya Medina.


"Tidak, kalung itu tahan air," jawab Afwi.


"Syukurlah, aku tak perlu melepasnya saat mandi, karena aku ini orangnya pelupa kalau memakai barang," ucap Medina.


"Ya sudah sekarang anda istirahat," ucap Afwi kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Setelah Afwi memasuki kamarnya, Medina juga bergegas menuju kamarnya sambil tersenyum sendiri dengan sebelah tangannya memegang kalung yang diberikan Afwi tadi.


____________________________________________


Kalau kerjaan author di dunia nyata sudah clear, autor usahakan bisa lebih sering up


Please Like, Vote, Komentar, Rate bintang 5 and Hadiah.

__ADS_1


Thank You


__ADS_2