
Kirana merasa lega, karen sang kekasih bisa pulang dengan selamat dan sebentar lagi ia akan di lamar secara resmi oleh. Setelah beberapa hari keluarga Kirana mendapatkan kabar baik dari Afwa yang akan datang ke rumahnya untuk acara lamaran resmi pada Kirana. Afwa mengirim salah satu pegawai butik bundanya untuk mempersiapkan baju yang akan dikenakan Kirana saat lamaran. Afwa juga mengirim WO untuk mendesain rumah Raka yang akan di pakai untuk lamaran, tetangga sekitar sampai terkagum-kagum melihat persiapan acara lamaran Kirana.
"Yud, apa putramu itu tidak berlebihan membantu acara lamaran di rumahku?" tanya Raka diseberang telepon.
"Kalau menurutku sih tidak, sejak awal Afwa sudah cerita tentang semua keinginannya, aku sih cuma mengiyakan saja, tapi kenapa justru lu yang bingung begitu?" jawab Yudha yang justru balik bertanya pada sohibnya itu.
"Ya nggak enak aja sama tetangga persiapannya sudah seperti orang mau mantu di hari H nya, ntar mereka kira aku korupsi uang negara buat mantu."
"Tenang saja, Ka, nggak usah pedulikan omongan orang lain yang nggak penting, sekarang kamu fokus saja buat penyambutan untuk kami besok!"
"Baiklah, makasih banyak, Yud, bantuannya."
"Sama-sama, Ka, kita sudah sahabatan sudah lama, dan sebentar lagi kita akan berbesanan."
Setelah itu, Yudha menutup sambungan teleponnya, ia melihat ke arah ruang tengah dimana sang istri sedang memeriksa barang-barang yang akan di bawa untuk lamaran Afwa.
"Sudah selesai, Sayang?" tanya Yudha setelah berada di samping istrinya
"Ehmm hanya kurang beberapa saja, nanti aku minta Vera melengkapinya," jawab Yasmin dengan tatapan masih melihat barang-barang seserahan untuk Kirana.
Merasa sang istri tidak melihatnya saat berbicara membuat Yudha kesal.
"Sayang...kamu kenapa nyuekin mas sih?, apa karena mas sudah tua dan tak menarik?" ucap Yudha merajuk membuat Yasmin langsung menghadap ke suaminya.
"Mas...ini bukan waktunya manja-manjaan, aku lagi mengecek barang-barang seserahan untuk Kirana, aku ingin tak ada kesalahan. Kirana sudah menunggu putra kita lama, ia juga sangat gigih mempertahankan cintanya untuk Afwa, jadi aku ingin memberi yang terbaik untuknya, mas nggak usah merajuk begitu, malu lho kalau dilihat cucu-cucu."
"Cucu-cucu kita sedang di negara Singa, mereka tak akan ta--"
Ucapan Yudha yang sedang mode merajuk terpotong karena mendengar suara teriakan anak-anak yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
"Opa....Oma....," pekik ketiga balita lucu yang berlari ke arah Yudha dan Yasmin.
Yudha dan Yasmin sontak terkejut melihat kedatangan empat cucunya yang tiba-tiba.
"Ka-kalian kapan datang?" tanya Yudha terkejut.
"Assalamualaikum, ayah, bunda," ucap Fahmi dan Aryana, keempat anak mereka juga mengucap salam meski masih cadel.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Yudha dan Yasmin.
"Kenapa tak kasih kabar kalau mau datang?" tanya Yasmin.
"Ini acara dadakan, waktu di kasih kabar kak Afwa juga mau lamaran kita ingin sekali datang, tapi aku sedang ujian akhir dan mas Fahmi ada meeting penting di Malaysia, tapi ternyata jadwal ujianku di majukan dan jadwal meeting mas Fahmi juga ternyata klien minta di majukan akhirnya kami bisa pulang ke Indonesia meski semua serba mendadak," jelas Aryana.
"Iya, kami sangat senang bisa hadir di lamaran Afwa, Allah memang Maha baik, kami tidak menyangka bisa berkumpul bersama keluarga di hari yang sangat membahagiakan," sambung Fahmi.
"Oh begitu ceritanya, Alhamdulillah kalian semua bisa hadir, Afwa pasti senang, ayo kalian beres-beres dulu, biar si kembar bunda dan ayah yang jaga!" pinta Yasmin.
Yudha dan Yasmin pun mengajak keempat cucunya duduk di karpet bulu di ruang televisi, keempat balita itu berceloteh bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing pada oma dan opanya. Tak lama Afwa turun ke lantai bawah karena mendengar suara berisik anak kecil, betapa terkejutnya Afwa melihat keempat keponakananya yang tinggal di negeri seberang tak ada angin tak ada hujan, sedang duduk di pangkuan oma dan opanya sambil bercerita dengan mengemaskan.
"Hai keponakan paman, yang cantik dan ganteng kapan datanga? kenapa tak kasih kabar hemm?" sapa Afwa sambil tersenyum ramah.
Keempat balita langsung menghentikan ceritanya dan langsung melihat ke arah Afwa dengan tatapan menyeledik, keempat balita itu seperti sedang mengingat siapa yang menyapanya itu. Maklum mereka jarang ketemu Afwa karena Afwa jarang pulang ke rumah opa dan oma mereka, video call pun merekan juga jarang. Jadi keempat anak Fahmi dan Aryana itu merasa asing dengan sosok tampan yang menyapa mereka ramah.
"Oma ciapa Om anteng ini?" tanya Alya.
Mendengar pertanyaan Alya, Yudha tertawa, cucunya benar-benar genit di usia balita, sudah bisa tahu laki-laki ganteng. Afwa yang mendengar pertanyaan Alya pun tersenyum.
"Kita ndak seling ketemu Om jadi kita tak ingat, coalnya di Singapula juga anyak Om handcome," ucap Alesya yang membuat Yasmin tersenyum dan Yudha tergelak.
Afwa langsung menepuk jidatnya, dan lututnya terasa lemas, ternyata ia kalah saing dengan laki-laki di negara Singa menurut versi kedua keponakan perempuannya itu.
Saat Afwa seperti dibully keempat keponakannya itu, Fahmi dan Aryana sudah berada di bekakang Afwa.
"Apa kabar, Kak?" sapa Aryana yang otomatis membuat Afwa menoleh ke belakang.
"Aryana!" pekik Afwa terkejut lalu Ia langsung memeluk adik perempuannya yang sudah lama tidak berjumpa.
"Alahamdulillah, kakak baik, bagaimana kabarmu ?"
"Kakak bisa lihat aku, mas Fahmi dan keempat anak kami sehat, jawab Aryana setelah mengurai pelukkannya.
Saat mengurai pelukkannya, Afwa baru menyadari jika Fahmi juga berada di situ.
"Hai, kakak ipar!" sapa Fahmi ramah.
__ADS_1
"Hai Fahmi, kau makin tampan saja, pantas ke dua putrimu sangat centil bisa tahu cowok ganteng," ucap Afwa terkekeh.
"Iya, tentu saja, disana kami sering mengajak jalan-jalan yang notabene banyak cowok ganteng, kadang juga aku bawa mereka ke perusahaan, anak-anak bertemu asistenku yang tampan juga beberapa karyawan perushaan yang juga punyah paras mirip aktor ganteng tanah air," ucap Fahmi kemudian tertawa pelan kedua putrinya sungguh polos sampai bisa membuat Afwa yang tampan dan mapan inscure dengan dirinya sendiri.
Pada saat kakak beradik itu berbincang, Arsen berdiri lalu berjalan menuju Aryana.
"Mama, I am hungly," rengek balita tampan itu.
"Hungry?" tanya Aryana memastikan yang di jawab anggukan dari anak sulungnya itu.
Arsen memang suka sekali makan dan nyemil jadi dari keempat anaknya, Arsen yang punya tubuh paling gembul. Saat Aryana mengajak Arsen untuk mengambil makan, Fahmi ikut duduk bersama mertuanya dan anaknya yang lain, begitu juga dengan Afwa.
"Kapan lamaranya?" tanya Fahmi.
" Besok malam, tapi kita akan berangkat selepas ashar, kita akan transit di hotel DW group dulu," jawab Yudha.
Arnan duduk di pangkuan Fahmi Alya di pangkuan Yasmin dan Alesya di pangkuan Yudha. Melihat wajah Alesya yang agak berbeda dengan ketiga cucu kembarnya membuat Yudha merasa sesak. Bagaimana tidak Alesya hadir ke dunia tanpa di inginkan, ibunya meninggal saat melahirkan dan jantungnya diberikan pada putrinya. Yudha mencium Alesya dengan mata yang berkaca-kaca, membuat balita itu memandang sang opa dengan heran.
"What happen, Opa?" tanya Alesya dengan nada sedikit cedal.
"No, Opa baik-baik saja," jawab Yudha lalu memeluk Alesya.
Yasmin merangkul pundak sang suami, ia tahu bagaimana perasaan suaminya karena ia juga merasakan hal yang sama.
"Apa selama ini tak ada seseorang yang berusaha mencari kabar tentang Alesya?" tanya Yudha pada Fahmi.
"Tidak, kalaupun ada, ia tak akan mudah menemukannya, aku tak sudi dia menemui Alesya, sampai kapanpun Alesya adalah putriku," jawab Fahmi dengan nada sedikit emosi. Afwa yang duduk di sebelah Fahmi mengelus punggung adik iparnya itu.
"Sudahlah, yang penting Alesya baik-baik saja bersama kita, sekarang lebih baik, kita bahas tentang kado pernikahan apa yang akan kau berikan pada kakak iparmu ini," ucap Afwa tanpa dosa membuat Fahmi mendelik sebal pada kakak iparnya yang usianya jauh lebih muda darinya itu.
___________________________________________
Jangan marah ya readers, author baru bisa up, banyak kerjaan di dunia real 🙏
Please Like, Vote, Komentar, Rate, and Favorit
Thank You
__ADS_1