Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode 209. Perasaan Nayla


__ADS_3

Nayla tak langsung menjawab pertanyaan sang suami, ia memilih berjalan menuju kursi yang ada di ruang tunggu pasien, lalu Afwi mengikuti sang istri duduk.


"Kamu belum jawab pertanyaan, Abang?" tanya Afwa saat sudah duduk di samping sang istri.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?, mengeluh dan meminta abang tak pulang larut pun percuma, meskipun abang berusaha untuk pulang cepat toh akhirnya tetap pulang malam juga. Apa aku harus sakit dulu baru abang benar-benar mau memperhatikan kondisiku. Sekarang jika aku menyesalpun tidak akan berguna, begitu bukan?" jawab Nayla dengan nada dingin membuat Afwi tertegun, seolah wanita yang sedang bicara dengannya ini bukanlah sosok Nayla istrinya.


"Jadi kamu menyesal menikah denganku?" tanya Afwi menuntut penjelasan.


"Aku berusaha untuk tak menyesal, aku hanya kecewa saja," jawab Nayla datar.


"Sekarang mau kamu apa, Dek?"


"Keinginanku tak muluk, hanya keinginan sederhana yang aku kira semua istri di penjuru dunia menginginkannya, yaitu sang suami busa menemaninya dan keluarga di saat sang mentari mulai pulang ke peraduan, minimal sebelum adzan magrib sang suami sudah di rumah, tapi aku rasa sekaya apapun aku, tak akan pernah mendapatkan keinginanku yang sederhana itu," ucap Nayla sendu, ungkapan perasaan yang sarat akan kekecewaan dan kesepian.


Mendengar ungkapan perasaan istrinya, Afwi memejamkan matanya, rasa sesak dalam dada tak bisa ia hindari. Ia sangat mencintai sang istri tetapi ia juga tak bisa meninggalkan tugas negara yang diamanahkan kepadanya, sungguh ini adalah dilema yang berat untuknya.


Perlahan Afwi menggeser posisi duduk Nayla agar menghadapnya, lalu ia menggenggam erat tangan sang istri.


"Sayang, maafkan abang, maaf jika abang tak peka terhadap perasaanmu, tetapi sungguh abang sangat mencintaimu dan juga menyayangi kamu, sebentar lagi kasus yang abang tangani segera selesai, abang harap kamu bisa lebih bersabar lagi. Setelah kasus ini selesai aku akan menemani kamu," ucap Afwa yang tak mendapat tanggapan apapun dari Nayla.


Ungkapan seperti itu sudah sering dia dengar dari sang suami, tapi lebih banyak melesetnya dari pada tepatnya.


"Abang tak perlu menjanjikan atau mengatakan hal yang indah-indah padaku jika akhirnya membuatku merasa di PHP, aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan, sekarang terserah abang mau melakukan apa, sekarang lebih baik kita tebus resepnya lalu pulang, aku sudah sangat lelah!" ucap Nayla kemudian beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju intalasi farmasi tempat penyerahan resep.


Afwi langsung mengikuti langkah sang istri sambil meraup wajahnya frustasi, dia benar-benar dilema, menghadapi istri yang sedang merajuk rasanya lebih sulit dari pada menangani kasus sulit yang sedang di tanganinya.


Selesai menebus obat, Nayla dan Afwi langsung berjalan menuju parkiran, tak ada lagi pembicaraan diantara sepasang suami istri tersebut, bahkan sampai mobil berjalan keluar area rumah sakit, hanya keheningan yang mendominasi.


"Mau makan apa, Sayang?" tanya Afwi saat mobil sudah melaju di jalan raya.


"Aku tak ingin makan apa-apa, aku ingin pulang saja," jawab Nayla dengan pandangan lurus ke depan, nada suaranya juga terdengar dingin.


Afwi menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban istrinya, ia rak tahu lagi harus bicara seperti apa.


"Sayang, jangan begitu, kamu habis sakit harus makan banyak dan bergizi, paling tidak lakukan ini sebagai bentuk rasa syukut kamu sama Allah yang sudah memberikan kamu tubuh yang lengkap dan sehat, di luar sana bahkan ada yang mengindap penyakit yang berbahaya sehingga tidak boleh sembarangan makan makanan ataupun minuman, sedangkan kamu hanya demam biasa masih bisa makan berbagai jenis makanan," ucap Afwi sambil mengemudi dan sesekali ia melirik ke arah sang istri.


Mendengar ucapan suaminya, hati Nayla sedikit tersentil, benar juga apa yang di katakan suaminya, paling tidak ia harus menjaga dirinya karena karunia Allah yang besar yaitu tubuh yang lengkap dan sehat.


"Aku pingin makan bebek goreng Mas Gembul," ucap Nayla dengan bibir yang di manyunkan membuat Afwi mengulum senyum.


"Oke, Sayangku," sahut Afwi gembira.


Setelah seperempat jam mereka sampai di rumah makan bebek goreng Mas Gembul, rumah makan sederhana namun tak pernah sepi dari.pembeli, Afwi sampai kesulitan mencari parkir mobil.


"Wah ramai sekali, Dek, tahu dari mana kamu tempat makan ini?" tanya Afwi sambil berjalan mengandeng Nayla masuk ke rumah makan.


"Dari mbak Kirana, kan om Raka tugas di Bandung, kita bahkan belum mengunjungi beliau selama di sini," jawab Nayla


"Astagfirullah, Abang sampai lupa kalau om Raka ada.di Bandung juga," ucap Afwi sambil menepuk jidatnya.


Afwi dan Nayla duduk di bagian samping agak pojok karena hanya tempat itu yang sedikit longgar. Nayla lalu memesan tiga porsi bebek goreng dan hal itu membuat Afwi heran.

__ADS_1


"Dek kok pesan tiga porsi, yang satu buat siapa?"


"Ya buat, Nay lah emang nggak boleh?" jawab Nay sewot.


"Boleh, tentu boleh, kamu mau sepuluh porsi juga boleh, mau beli rumah makan ini sekalian juga boleh tapi minta ijin ayah Yudha dulu, he...he...."


"Iiih Abang ada-ada saja, nggak usah ngaco!"


Mereka berdua akhirnya makan dengan lahap setelah pesanan mereka datang, Afwi hampir kenyang hanya dengan melihat istrinya makan, bahkan bebek goreng kedua sudah mulai disantap oleh sang istri.


"Dek, kamu sebenarnya lapar atau doyan sih?" tanya Afwi dengan pandangan heran terhadap selera makan istrinya.


"Habis enak sih, bener kata mbak Kirana meski rumah makan sederhana tetapi lezatnya nggak kalah sama restoran mewah," jawab Nayla sambil mencomot daging bebek gorenya.


"Mau pesan buat makan di rumah?" tawar Afwi.


"Boleh tapi yang ayam saja, soalnya bosan kan ini kita sudah makan bebek gorengnya," jawab Nayla yang membuat Afwi tertegun, tawaran isengnya di iyakan dengan sangat antusias.


"Kalau begitu Abang pesankan ya, mau berapa porsi?" tanya Afwi.


"Ehm, tiga potong ayam goreng kremes tapi nggak usah pakai nasi, nanti nasinya masak sendiri saja biar anget," jawab Nayla.


Afwi lalu memanggil seorang pelayan untuk menambah pesanannya, Afwi sudah selesai makan ia hanya tinggal menunggu istri cantiknya menghabiskan bebek gorengnya.


Setelah selesai makan di rumah makan Mas Gembul, Afwi dan Nayla segera pulang karena Nayla sudah tampak lelah dan juga kekenyangan. Selama perjalanan Nayla lebih banyak diam dan lama kelamaan Nayla malah tertidur, Afwi yang melihatnyapun hanya geleng-geleng kepala. Sampai rumah Nayla masih tertidur, karena tak tega, Afwi mengendong sang istri. Saat sampai di kamar Afwi langsung membaringkan tubuh Nayla ke tempat tidur dengan hati-hati, dipandanginya wajah cantik sang istri yang sedang terlelap, terselip rasa bersalah karena tugas negara yang ia emban kali ini benar-benar menyita waktunya bersama sang istri, saat sedang memandangi wajah Nayla yang terlelap ponsel Afwi berbunyi, terpampang nama rekan kerjanya di kepolisian.


"Hallo, ada apa, Vian?" tanya Afwi di seberang telepon.


"Di rumah baru saja, istri ku sakit jadi tadi aku bawa dia ke rumah sakit demam sejak semalam."


"Ada rapat darurat, Fi, cepat datang ke sini!"


"Baik, aku segera kesana."


Sambungan telepon terputus, Afwi mengusap kasar wajahnya, ia bingung bagaimana dengan istrinya, siapa yang akan menjaganya.


"Ya Allah bagaimana ini, istri hamba sedang sakit, dan tak mungkin ditinggal sendiri. Apa aku telepon bi Jumi saja ya, semoga ia tidak sedang terima job di luar," monolog Afwi kemudian menghubungi bi Jumi.


Afwi bernafas lega, karena ternyata bi Jumi tidak sedang terima job bekerja di luar, Afwi segera berganti pakaian seragam, setelah berganti pakaian ia menuliskan sebuah note yang ia letakkan di nakas.


"Sayangku, maaf Abang ada rapat mendadak di kantor, Abang sudah minta bi Jumi menemani kamu, I love you so much."


Afwi keluar kamar menuju lantai bawah, bertepatan dengan pintu rumah yang diketuk.dari luar. Afwi langsung menuju ruang tamu lalu membukakan pintu.


Ceklek


"Assalamualaikum, Den," ucap bi Jumi.


"Waalaikumsalam, silahkan masuk, Bi!" jawab Afwi.


"Maaf saya merepotkan bibi lagi, Nayla masih kurang sehat dan saya ada panggilan mendadak dari kantor, jadi saya minta bibi menemani istri saya," sambung Afwi.

__ADS_1


"Ndak apa-apa, Den, kebetulan hari ini kerjaan saya nggak banyak," ucap bi Jumi karena memang hari ini tidak ada yang meminta bantuannya membersihkan rumah orang atau membantu memasak di hajatan.


"Syukurlah, dan tolong bibi masak nasi ya tapi dikit saja karena saya tidak makan di rumah, tadi Nay beli lauk tapi nggak beli nasi!" pinta Afwi.


"Beres, Den, poknya Non Nayla aman kalau sama bibi."


"Makasih ya, Bi, titip istri saya," ucap Afwi kemudian segera berangkat ke kantor.


Sepeninggal Afwi, bibi Jumi langsung ke dapur untuk memasak nasi sesuai yang di perintahkan Afwi tadi. Selesai memasak nasi, bibi Jumi membersihkan dapur dan menyapu rumah.


Di kamar Nayla membuka matanya yang terasa berat, ia mencoba mengenali dimana ia berada sekarang.


"Eh bukannya tadi aku berada di mobil sama abang, kok sekarang bisa di kamar sih, apa aku ketiduran ya?" gumam Nayla sedikit bingung.


Nayla beranjak dari ranjang, namun matanya menagkap secarik kertas yang ada di atas nakas.


"Ada note."


Setelah membaca pesan tersebut bahu Nayla merosot, tersirat kekecawaan di sana.


"Katanya hari ini mau mengurusi aku, tapi lihat baru setengah hari sudah balik kerja lagi, huh!" gerutu Nayla kesal.


Nayla melihat jam di dinding kamarmya menunjukkan pukul satu siang, berarti sudah masuk waktu dzuhur. Nayla lalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu guna shalat dhuzur, ia berharap dengan shalat hatinya bisa lebih tenang. Selesai shalat Nayla keluar dari kamar menuju dapur, ia ingat kalau harus minum obat dari dokter.


"Siang, Non," sapa bi Jumi


"Eh, Bibi, siang," ucap Nayla sedikit terkejut.


"Maaf, Non, tadi bibi di telepon aden buat nemenin Non soalnya aden ada panggilan tugas dari kantor."


"Nggak apa-apa, Bi, saya justru senang bibi temani saya."


"Kalau Non mau makan, bibi sudah masak nasi, tadi Den Afwi yang suruh."


"Makasih, Bi, kalau begitu kita makan sama-sama ya, tadi saya beli lauk ayam goreng habis dari rumah sakit!" ajak Nayla.


"Ah tadi bibi sudah masak di rumah Non."


"Nggak apa-apa, Bi, ayolah, Nay malas makan sendiri, lagian abang pasti makan diuar dan pulang malam lagi!"


"Baiklah, Non," ucap bi Jumi tak bisa menolak ajakan Nayla, selain itu bi Jumi merasa kasihan dengan majikannya yang terlihat tak bersemangat.


Mereka kemudian makan siang berdua dengan ayam goreng yang di beli Nayla. Selesai makan bibi Jumi menceritakan betapa sayangnya Afwi pada Nayla.


"Non, jangan sedih terus, aden Afwi tuh sayang banget sama Non, kemarin malam waktu bibi kasih tahu Non sakit, langsung berlari menuju lantai dua, aden terlihat panik," cerita bi Jumi.


"Iya, Abang memang sangat sayang sama, Nay makanya Nau nggak mau kasih tahu kalau Nay lagi sakit, dan hal itulah yang membuat Nay berusaha buat sabar meski rasayanya nyeksek," ucap Nayla dengan suara parau dan hampir menangis.


Bi Jumi tak bisa berkata apapun lagi, ia rasanya juga pingin ikut nangis melihat majikan yang sudah ia angap keluarga sendiri itu meneteskan air matanya.


________________________________________

__ADS_1


__ADS_2